Inspirasi Penghujung 2018

Ilhan Omar Buktikan Dirinya Muslimah Tangguh Amerika Serikat

| dilihat 873

STOLBERG mengungkapkan, kisah hidup Ilhan, dalam banyak hal, adalah orang Amerika yang unik, seorang imigran yang bekerja keras dan menjadi baik. Dia juga manifestasi arus lintas rumit di sekitar imigrasi, ras, dan agama yang mendominasi Washington di masa kepemimpinan Trump.

Ketika berusia 8 tahun, di negara asalnya, Somalia terjadi perang saudara.  Keluarga besarnya melarikan diri ke sebuah kamp pengungsi di Kenya. Di temnpat itu, mereka menghabiskan waktu selama empat tahun, sebelum mencari suaka di Amerika Serikat pada tahun 1995.

Ilhan dan saudara-saudaranya menetap pertama kali di Arlington, kemudian pindah Minneapolis, yang dihuni orang Somalai dalam populasi besar. Trump menyebutnya sebagai "bencana" bagi Minnesota.

Ayahnya seorang guru di Somalia, yang ketika pindah ke AS, bekerja sebagai sopir taksi. Lantas mendapatkan pekerjaan di kantor pos. Ibunya meninggal ketika Ilhan berusia dua tahun.

Ilhan mengatakan, ketika pertama kali datang ke AS, ia telah menghadapi "keanehan" sebagai orang kulit hitam dan seorang Muslim. Amerika bukan tanah emas seperti yang dia pernah dengar.

Tahun 2000, ketika usianya 17 tahun, dia memperoleh kewarganegaraan AS. Setelah serangan 11 September 2001, Ilhan memutuskan untuk mengenakan jilbab, sebagai deklarasi terbuka identitasnya sebagai seorang muslim.

“Saya memikirkan kembali orientasi yang saya lalui lebih dari dua puluh tahun yang lalu pada proses kepindahan kami ke negara ini," ungkap Ilhan.

Dia mengatakan dan dalam orientasi itu, mereka tidak memiliki orang-orang yang berempati kepada mereka yang kehilangan tempat tinggal. (Baca: Ilhan Omar Anggota Kongres AS Pertama Berjilbab)

Melalui proses orientasi, itu Ilhan mengatakan, para imigran hanya melihat, "Ada Amerika yang memperluas kebebasan dan keadilan bagi semua orang. Ada Amerika tempat kemakmuran dijamin tanpa memandang di mana Anda dilahirkan dan seperti apa penampilan Anda, siapa Anda dan bagaimana Anda berdoa, "katanya.

Tapi kehidupan nyata yang dia alami tidak demikian. " Saya tidak nyaman dengan kemunafikan itu," ungkapnya.

Perasaan itu yang menyebabkan dia harus melibatkan dirinya dalam organisasi politik, untuk itu dia memilih Partai Demokrat.

"Dia hampir seperti klise dari seorang warga Amerika baru yang berpikiran sipil," kata Larry Jacobs, seorang profesor di University of Minnesota yang mengajar Ilhan tentang kebijakan publik persekutuan.

"Dia akan mengutip Deklarasi Kemerdekaan, dan kemudian bertanya, mengapa dirinya -- seperti kebanyakan imigran kulit hitam lain -- sampai di pandang rendah?"

Di dalam Partai Demokrat itulah, Ilhan berproses menempa dirinya.

Sebagai seorang kandidat, dia mengumpulkan pemilih, orang-orang dengan upah minimum 15 dolar AS. Dia berbicara tentang kebijakan imigrasi yang lebih santai. Juga tentang Medicare (jaminan kesehatan) untuk semua dan berbagai agenda progresif lainnya.

Ilhan membuktikan dirinya sebagai pribadi perempuan muslim yang yakin dan tangguh, dengan bakat untuk retorika inspirasional - ciri-ciri yang dimiliki pendahulunya, seperti Keith Ellison, jaksa agung Minnesota yang sering mengaitkan jabatan dengan masa kecilnya di Somalia, sebagai putri dari keluarga pendidik yang kaya.

Ilhan memandang penting perasaan dirinya, yang kehidupannya dihancurkan oleh perang saudara. Peristiwa pahit yang menempatkan dia dalam posisi yang lantak, dimana di usia muda, dia harus pergi mengambil beras dari pekerja sosial untuk keluarganya.

Semua itu membentuk pribadinya. Dan ketika dia mengambil inisiatif ikut kontestasi pemilihan sebagai anggota legislatif di Minnesota -- dan kemudian Kongres AS -- pandangan dirinya lebih luas lagi.

Dia berfikir, bahwa mengikuti kontestasi untuk jabatan publik, berarti menjungkirbalikkan norma-norma gender dalam komunitas Somalia, dimana politik biasanya menjadi wilayah lelaki.

Hal ini juga memaksa Ilhan merumuskan rincian publik tentang kehidupan pribadinya yang rumit, yang menjadi 'santapan bullying' bagi para blogger konservatif, yang memanfaatkan pernikahan singkatnya dengan seorang warga negara Inggris, sampai mereka bercerai. Kemudian menikah dengan suaminya saat ini, Ahmed Hirsi, ayah dari tiga anaknya.

"Seperti semua keluarga, kami mengalami pasang surut," katanya, "tapi kami bangga telah melaluinya bersama."

Ilhan yang terpilih sebagai Legislator Amerika berdarah Somalia pertama di Minnesota tahun 2016, saat itu posisinya dianggap aneh oleh mitranya dari Partai Republik konservatif, ketika dia 'meneriakkan' soal ras, agama dan diskriminasi.

"Media liberal di Minnesota suka menggambarkan dirinya sebagai pahlawan mereka dan itulah yang telah mereka lakukan di majalah Time, semuanya disatukan," kata Legislator Steve Drazkowski, yang telah menyelidiki biaya kampanye Ilhan. Drazkowski mengatakan, Ilhan benar-benar dituduh dan sungguh mengendalikan perdebatan rasial."

Dan respon Ilhan yang hati-hati -- pada lintasan kampanye 2018 -- tentang Israel - dan klarifikasi pascapemilihannya bahwa dia mendukung boikot, divestasi dan gerakan sanksi - telah membuat beberapa pemimpin Yahudi risau.

"Saya pikir orang memandangnya sebagai sosok transformatif, tipe inspirasional. Bagi beberapa orang mungkin benar, tapi pada akhirnya dia adalah seorang politisi." kata Lonny Goldsmith, editor TCJewfolk, sebuah media nirlaba di Twin Cities.

Para pengagumnya melihat Ilhan sebagai simbol yang kuat, yang "kehadirannya diharap akan membantu mendidik orang Amerika tentang siapa wanita Muslim itu," kata Farhana Khera, direktur eksekutif Muslim Advocates, sebuah kelompok hak-hak sipil.

Sudah, dia telah bekerja dengan Jim McGovern dari Massachusetts, ketua Komite Aturan yang akan datang, untuk mengukir pengecualian religius terhadap aturan larangan. Dia menunjukkan gayanya dengan tanggapan lantang kepada Uskup E. W. Jackson, yang mengeluh bahwa "floor of house" - ruang sidang Kongres, akan terlihat seperti sebuah republik Islam.

"Yah, Sir," tangkis Ilhan melalui akun Twitter-nya, "floor Kongres akan terlihat seperti Amerika ... Dan Anda harus berurusan saya." | Bang Sem

Editor : Web Administrator | Sumber : The NewYorkTimes, dan berbagai sumber
 
Ekonomi & Bisnis
13 Agt 19, 10:55 WIB | Dilihat : 356
Inovasi dan Kerja Tangkas Hutama Karya Berbuah Laba
03 Agt 19, 11:23 WIB | Dilihat : 528
HKWay dan Lean Construction
08 Jul 19, 16:21 WIB | Dilihat : 778
BNI Syariah Istiqamah di Jalan Hasanah
19 Jun 19, 10:46 WIB | Dilihat : 964
Harapan Wirausaha Kreatif Malaysia di Bahu Dzuleira
Selanjutnya
Sporta
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 1370
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 1063
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
15 Jul 18, 07:53 WIB | Dilihat : 1057
Perancis vs Kroasia Berebut Keajaiban Piala Dunia 2018
Selanjutnya