Inspirasi Penghujung 2018

Ilhan Omar Anggota Kongres AS Pertama yang Berjilbab

| dilihat 792

ILHAN Omar sosok perempuan hebat, satu dari dua perempuan muslim pertama yang terpilih untuk menjadi anggota Kongres Amerika Serikat (AS).

Ahad, 30 Desember 2018, The NewYork Times, menurunkan artikel 'renyah dibaca dan sangat perlu,' yang ditulis Sheryl G. Stolberg.

Stolberg mengawali tulisannya dengan deskripsi dramatik, kala Ilhan Omar pada usia 12 tahun, sebagai pengungsi dari Somalia, mesti menyesuaikan diri dengan kehidupan di pinggiran Virginia.

Ilhan mesti menghadapi dan menangkis ulah lakulajak para pengganggunya, yang menempelkan permen karet pada syalnya. Atau, menjatuhkannya dan melompatinya ketika saat dia mengganti pakaian untuk kelas olahraga.

Dalam wawancaranya dengan Stolberg, Ilhan mengemukakan, ketika dia bercerita dengan ayahnya, sang ayah mengatakan, "Dengar.. Semua orang yang melakukan perbuatan tak menyenangkan itu, karena mereka tak suka kepadamu. Mereka merasa terancam dengan keberadaanmu."

Sekarang, Ilhan adalah anggota Kongres Amerika Serikat dari Partai Demokrat yang memenangkan pemilihan di daerah Minnesota. Ilhan masih mengingat kata-kata ayahnya, itu.

Ya.. Ilhan mengingat kata-kata ayahnya, itu ketika dia berhasil menjadi kader Partai Demokrat yang harus berkontestasi merebut suara kalangan orang muda, khasnya mahasiswa yang sangat beragam.

Perempuan muslimah ini pendatang baru yang paling dimuliakan sekaligus difitnah di Washington. Tapi dia tegar menghadapinya dengan keyakinan, dirinya merupakan untuk harapan jutaan Muslim dan kalangan lainnya yang tersentuh oleh kisah hidupnya. Sekaligus 'menantang,' semua orang yang merasa terancam oleh keberadaan dirinya.

Ketika Kamis (27/12/2018) dilantik sebagai anggota Kongres, Ilhan mencatatkan namanya dalam lembaran sejarah Amerika Serikat, sebagai salah dua perempuan Muslim pertama di Kongres itu. Tapi, dia adalah perempuan pertama yang mengenakan jilbab, di dewan perwakilan rakyat Amerika Serikat, itu.  

Keberadaan Ilhan dengan jilbabnya, merupakan ekspresi tuntutan pertama untuk mengubah aturan yang melarang headwear di "the house," itu yang sudah berlaku selama 181 tahun.

Konsistennya mengenakan jilbab, diadopsi oleh Partai Demokrat untuk mengubah aturan itu. Keberadaan Ilhan dengan jilbabnya, telah memantik reaksi seorang pendeta Kristen, yang memperingatkan, kini ruang sidang Kongres, " akan terlihat seperti Republik Islam."

Kehadirannya sebagai anggota Kongres AS terpilih, juga menggelisahkan para pemimpin Yahudi - AS. Terutama, karena selama berkampanye, Ilhan meneriakkan seruan boikot, divestasi dan gerakan sanksi untuk menekan Israel, agar memperbaiki perlakuan baik.

Ironisnya, sebuah surat kabar milik negara Saudi Arabia, baru-baru ini (selama masa kampanye) menyatakan bahwa Ilhan Omar merupakan bagian dari komplotan Islam untuk mengendalikan Kongres.

Ilhan telah mengalami beragam tekanan selama berkiprah di dunia politik. Rumahnya di Minnesota dikuntit. Sejumlah orang menuduh dia menikah dengan saudara laki-lakinya untuk tujuan imigrasi.

"Itu absurd dan ofensif," tangkis Ilhan menghadapi tuduhan yang dilakukan anggota Kongres AS dari Partai Republik konservatif di Dewan Legislatif. Lawan politiknya, itu juga menyerang dengan tuduhan, bahwa dia melanggar aturan keuangan kampanye.

Dewan Keuangan Kampanye Negara, menyelidiki dugaan itu.  Namun dalam karir politik llhan yang singkat, yang dimulai dua tahun lalu ketika dia memenangkan kursi Dewan Legislatif Minnesota, dan 'mencabut' kursi yang selama 44 tahun dikuasai kalangan Partai Republik konservatif.

Majalah Times mengangkatnya menjadi berita utama dan menampilkan wajahnya di cover dan memberi judul, "Perempuan yang Mengubah Dunia."

Ilhan juga tampil di acara gunemcatur (talkshow) di "The Daily Show." Di acara yang populer itu, Ilhan mengundang Presiden Trump untuk minum teh.

Ilhan tampil dalam film dokumenter tentang dirinya, bertajuk "Time for Ilhan," yang menjadi salah satu media kampanye dia. Di juga tampil menari dalam video musik Maroon 5.

Larycia Hawkins, dosen politik dan agama di Universitas Virginia, berkomentar tentang Ilhan, "Dia adalah lambang dari apa yang disebut mimpi Amerika, tetapi bagi banyak orang Kristen Amerika kulit putih, dia adalah mimpi buruk Amerika."

Gara-gara pernyataannya itu, Hawkins kehilangan pekerjaannya di sebuah perguruan tinggi evangelis, karena dianggap memberikan dukungan solidaritas kepada Ilhan, yang disebut perempuan muslim berjilbab.

Ilhan Omar, seorang muslimah berusia 36 tahun dengan suara lembut dan fitur halus, membayangkan dirinya sebagai suara untuk orang-orang yang kehilangan haknya, untuk orang-orang yang terpinggirkan dan untuk para imigran seperti dirinya, di Kongres - Washington.

Dia muncul di kancah politik sebagai pengorganisir komunitas, bekerja pada isu-isu seperti kelaparan dan ketidakadilan dalam sistem peradilan anak.

Ketika dia tiba di ibu kota untuk orientasi mahasiswa baru, dia bertemu dengan Legislator John Lewis, Demokrat Georgia dan ikon hak-hak sipil. Ilhan menangis.

“Saya berkata kepadanya, 'Tuan, saya membaca tentang Anda di sekolah menengah, dan Anda berada di sini secara langsung, dan saya akan menjadi kolega Anda," kenangnya, menguak lagi.

Ilhan menambahkan, "Ada saat - setiap menit - saya telah berada di sini di mana saya hampir ingin mencubit diri saya sendiri." (Untuk meyakinkan dirinya tidak sedang bermimpi). | Sem Haesy

 

Baca Artikel Lanjutan : Ilhan Omar Buktikan Dirinya Muslimah Tangguh  Amerika Serikat

Editor : Web Administrator | Sumber : NewYorkTimes dan berbagai sumber
 
Humaniora
13 Mar 19, 12:55 WIB | Dilihat : 418
Syafakilah Bu Ani Bambang Yudohoyono
11 Mar 19, 01:16 WIB | Dilihat : 360
LKB Telangkai Silaturrahmi
07 Mar 19, 10:55 WIB | Dilihat : 292
Cikgu Mad Selalu Mendoakan Prabowo Subianto dari Jiran
Selanjutnya
Energi & Tambang