Ihwal Kampanye Pilpres 2019

| dilihat 457

Bang Sem

Ini obrolan ringan kedai kopi. Topiknya, kegusaran terjadinya ketidakseimbangan arus informasi seputar Pemilihan Presiden – Wakil Presiden 2019.

Kegusaran itu mencuat, ketika pasangan kandidat Calon Presiden dan Wakil Presiden Jokowi – Ma’ruf Amin menetapkan Erick Thohir – salah satu media moghul Indonesia – menjadi Ketua Tim Pemenangan kubunya.

Keberadaan Erick yang akan mengurusi manajemen kampanye, diduga banyak kalangan, akan menimbulkan ketidakseimbangan arus utama pemberitaan. Apalagi, belakangan hari, sebagian besar petinggi media lebih nampak berkarib mesra dengan Jokowi, katimbang dengan oposisi.

Maknanya, rakyat akan berada dalam pusaran arus pemberitaan atau informasi mutakhir yang lebih menguntungkan kubu Jokowi – Ma’ruf Amin, katimbang pasangan Prabowo – Sandi. Bahkan, boleh jadi, pasangan Prabowo – Sandi akan menjadi obyek pemberitaan miring.

Melihat partai pengusungnya (Gerindra, PKS, PAN, dan Demokrat), pasangan Prabowo – Sandi akan menjadi bulan-bulanan berbagai aksi pemberitaan subyektif.

Pola rekacitra – pembentukan citra positif – kubu Jokowi – Ma’ruf Amin sudah bisa dibaca media, format, dan formulanya.

Pencitraan positif Jokowi – Ma’ruf Amin lewat media arus utama, akan berhadapan dengan arus media sosial, yang meskipun sudah pula dikuasai, masih membuka ruang besar bagi kubu Prabowo – Sandi. Khasnya untuk menghadirkan berita benar dan anti hoax yang mesti lebih intens dilakukan, dengan pola yang sama: penetratif – hipodermis.

Bila pada Pemilihan Presiden – Wakil Presiden, Prabowo menjadi bulan-bulanan informasi wadul (hoax), kali ini, yang nampaknya akan menjadi sasaran utama informasi wadul adalah Sandiaga Uno dan partai-partai pendukungnya. Polanya tak jauh dari serangan informasi wadul seperti pada Pilkada DKI Jakarta 2016.

Bila para petinggi partai politik dalam koalisi Jokowi – Ma’ruf masih bisa rileks dan bertemu sambil berkelakar, para petinggi partai pendukung Prabowo – Sandi, perlu menghidupkan suasana lebih cair. Musti ada kesepakatan untuk tidak bersikap jaim (jaga image) satu dengan lainnya.

Suasana yang lebih cair, dalam banyak hal akan lebih meringankan beban untuk menentukan cara mempengaruhi rakyat. Karena – seperti terbaca selama ini – kubu Jokowi – Ma’ruf akan lebih banyak mengemukan berbagai alasan pembenaran. Khasnya untuk beragam kebijakan yang ditempuh Jokowi selama lima tahun terakhir, yang berdampak pada kekecewaan rakyat.

Erick Thohir dan mitra kreatifnya, boleh jadi akan repot mengelola para juru bicara bermodal retorika dan pola pikir ‘menang-menangan.’

Pada momen-momen tertentu, para juru bicara Prabowo Sandi – yang sebagian besar – cerdas, santun, kalem, dan intelek justru dapat beroleh simpati dan empati lebih besar dari rakyat.

Dalam situasi masyarakat understress dan underpress pola komunikasi retoris, apalagi penetratif dan ‘menang-menangan’ tak akan mengundang empati dan simpati. Dalam konteks itu, agaknya, pola komunikasi Sandi yang cair, mudah dipahami, berakhlak, tidak dibuat-buat, dan karib, akan lebih mampu masuk ke relung hati rakyat.

Kecenderungan pola komunikasi berbasis intuitive reason, seperti menyalahkan orang lain, merasa diri sempurna, dan menguasai media - forum, pada skala tertentu justru akan menimbulkan distorsi, dan rakyat hanya akan mendapatkan informasi yang blur dan dubieus.

Kita berharap, arus komunikasi seputar Pemilihan Presiden – Wakil Presiden 2019, akan masih diambang batas kewajaran. Kita juga masih berharap, para pemimpin media masih menggunakan standar code of conduct profesional, baik Kode Etik Jurnalistik maupun Etika Penyiaran.

Kita juga berharap kedua kode punya komitmen yang sama untuk bersikap dan bertindak anti hoax. Dan, para jurubicara kedua kubu, bisa menghadirkan – melalui media – debat sesungguh debat – cerdas dan beretika.

Rakyat akan muak menyaksikan debat yang menghilangkan intelektualitas, mendahulukan kepandiran, dan ketidakmampuan mengelola nalar secara baik. Apalagi, bila debat hanya menjadi sekadar medium perbantahan untuk sesuatu yang sesungguhnya berbeda dengan realitas.

Sikap ksatria Prabowo dan Sandi dalam berinteraksi dengan realitas perlu dikembangkan dan perlu ditampakkan oleh para jurubicara-nya. Pasangan Jokowi dan Ma’ruf Amin – melalui jurubicaranya -- juga perlu menunjukkan bahwa mereka merupakan pasangan yang layak dan patut sebagai penerima amanat rakyat, lima tahun ke depan.

Meskipun menguasai media dan punya banyak jurubicara yang retoris dan menguasai dramaturgi, tidak mudah bagi pasangan Jokowi dan Ma’ruf Amin merekayasa citra kali ini. Jangan sampai di benak rakyat, khasnya emak-emak, berlaku pantun lama dalam Hikayat Malin Deman, “Dahulu sarung gadubang / Kini menjadi sarung golok / Dahulu tuanku nan tabilang / Kini menjadi olok-olok.” Dulu dipuja-puja, kini menjadi bahan kelakar. |
 

#Jumoyo, September 2019

 

Editor : Web Administrator
 
Lingkungan
03 Okt 18, 15:25 WIB | Dilihat : 535
Gunung Soputan Minahasa Tenggara Meletus
01 Okt 18, 17:02 WIB | Dilihat : 399
Mari Menanam Kebajikan di Donggilu
29 Sep 18, 09:58 WIB | Dilihat : 347
Bangun Solidaritas Sosial Bantu Korban Gempa Sulteng
Selanjutnya
Seni & Hiburan
24 Nov 18, 19:07 WIB | Dilihat : 262
AJP2018 dan Kaus Kaki Hesti
29 Okt 18, 22:01 WIB | Dilihat : 368
Hujan dan Emak Emak Suburkan Spirit Melayu di JMF 2018
29 Okt 18, 15:57 WIB | Dilihat : 281
Ibu Ajari Aku Menangis
Selanjutnya