Dialektika Kampanye Pilpres 2019

Ihwal Gagasan Sandiaga Uno Membangun Tanpa Utang

| dilihat 771

Opini Politik Bang Sem

Erick Thohir, Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi - Ma'ruf Amin (TKN), Erick Thohir menilai, janji calon wakil presiden Sandiaga Uno yang ingin pembiayaan proyek infrastruktur berjalan dengan menekan utang itu baik tapi perlu diperhatikan aspek rasionalitas (Viva.co.id., Ahad, 9/12/18)

Lebih jauh Erick mengatakan, "Kalau saya sebagai pengusaha biasanya dalam berbisnis itu ada modal dan ada utang. Cuma kalau dari Pak Sandi membangun sesuatu tanpa utang mungkin saya ingin ketemu juga, saya ingin belajar."

Erick ditemui juruwarta Viva, usai menghadiri pertemuan dengan relawan Bravo 5. Dia mengaku, sepanjang pengalamannya, Erick menyampaikan, membangun suatu bisnis perlu ada keseimbangan antara modal dan utang. Dalam pembangunan infrastruktur yang masif, kata dia, pemerintah pun menarik utang dalam porsi yang proporsional. 

Berita ini menarik disimak. Respon Erick akan memperkaya proses kampanye Pilpres 2019 -- bila jurubicara kedua kandidat Capres-Cawapres cerdas, dan paham dan intens berdiskusi dengan pencetus gagasan -- menjadi ajang diskusi atau debat yang mampu memicu gagasan kreatif di bidang ekonomi.

Dari pemberitaan itu dan komentar Erick, saya mendapat kesan, Sandiaga Uno memang entrepreneur sejati. Bukan sekadar seorang pengusaha. Gagasannya tangkas dan langsung menghunjam ke buhul persoalan, sehingga bisa memberi referensi kepada khalayak, seberapa jauh para pengusaha selebritas yang -- relatif -- muda itu sungguh enrepreneur atau sekadar pengusaha.

Erick tak salah, ketika mengatakan, dalam berbisnis modal dan utang. Tapi dalam konteks gagasan Sandiaga Uno, membangun sesuatu tanpa utang, Erick memang kudu belajar kepada Sandi.

Apa pasal? Sandi telah melakukan mindset business quantum. Gagasan Sandi jelas realistis, terutama sejak Doug Witt memperkenalkan model bisnis direct selling, dan menjadikan jutaan orang di dunia menjadi independent business owners (IBO).

Doug Witt menawarkan perubahan minda bisnis tentang modal dan asset yang tak hanya dalam bentuk uang dan hartanah, karena gagasan dan ide itu sendiri merupakan modal. Dalam konteks itu, gagasan Sandi (dan Anies Baswedan) yang paling sederhana tentang DP0 persen untuk perumahan rakyat, yang dilecehkan orang, ternyata mungkin dan dapat dilakukan. Bahkan, kemudian ditiru oleh banyak penentangnya.

Gagasan Sandi -- yang saya percaya bakal dilaksanakannya -- sebagai calon wakil Presiden, bukan sekadar lontaran isu untuk mendapat respon kompetitornya. Gagasan itu pasti sudah lebih dulu dibicarakan dengan Prabowo sebagai calon Presiden dan tim analis ekonominya, yang antara lain adalah ekonom dan mantan praktisi bank sirkulasi.

Dalam pendekatan imagineering, gagasan Sandi itu merupakan imajinasi yang sudah berubah menjadi salah satu focal concern. Artinya, sesuatu gagasan yang aplikatif, dapat direncanakan, dapat dikelola, dan dapat diwujudkan. Terutama ketika kita hadapkan dengan berbagai driving forces, kekuatan pendorongnya. Antara lain, konstitusi (UUD1945) yang sangat memungkinkan.

Sandi bisa menyatakan hal itu dan merencanakannya sebagai program, apabila dia terpilih, karena, sekurang-kurangnya, dia menentukan creativity kick off untuk melakukan creating value atas kebolehan-kebolehan yang dijamin oleh konstitusi. Paling tidak, Pasal 33 UUD45, yang tidak terjemahkan dalam konteks retorika, melainkan sebagai pondasi membangun perekonomian Indonesia ke depan.

Dalam konteks ini, memang terlihat, meski teman sejawat, sama bersekolah dan berkiprah di dunia bisnis, lompatan Sandi sebagai entrepreneur tak terbayangkan oleh Erick cum suis (mungkin juga oleh Rochsan - Ketua KADIN Indonesia, Luthfi - mantan Menteri Perdagangan dan Kepala BKPM, atau Bahlil - Ketua Umum HIPMI).

Bolehjadi karena Erick cum suis menghadapi beban yang tak ringan dalam berjuang memenangkan Jokowi - Ma'ruf, yang jelas berbeda dengan Sandiaga Uno yang lebih berdaya dengan fungsi directional atas tim-nya.

Sebagai Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi - Ma'ruf Amin, pernyataan Erick mengisyaratkan tipisnya kreativitas dan inovasi di dalam tim. Berbeda dengan Sandi yang setiap saat -- dari interaksi langsung dengan rakyat -- memperoleh begitu banyak energi untuk mengelola kreativitas - inovasi - dan invensi kebijakan kelak.

Erick cum suis memang perlu belajar lebih banyak, ketika Sandi mengeluarkan pernyataan programatik-nya sebagai Wakil Presiden tak lagi bicara sebagai pengusaha. Karena Sandiaga Uno, sejak resmi sebagai Wakil Presiden, ketika berbicara tentang ekonomi, tentunya dalam pengertian politik ekonomi dalam makna sesungguhnya.

Pernyataan Sandi menggambarkan, pasangan Prabowo Sandi sudah sangat siap dan paham apa yang akan mereka lakukan dalam melakukan berbagai perubahan kebijakan untuk mewujudkan visi adil makmur yang juga eksplisit dan tersurat di dalam konstitusi.

Terutama ketika kita melihat lebih jauh hal ihwal infrastruktur yang tak hanya sebatas pembangunan fisik dan nilai proyeknya, melainkan korelasi infrastruktur itu secara langsung dengan sebaran kemakmuran secara berkeadilan, yang berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat.

Muaranya adalah bagaimana Presiden dan Wakil Presiden ke depan menghadapi persoalan ekonomi (makro dan mikro) satu dasawarsa ke depan, ketika seluruh pembangunan infrastruktur yang dirancang sejak era Presiden Soeharto (Pelita V) dengan step-step eksekusinya sampai di era Presiden Jokowi sudah dibahas secara dinamis (sesuai dengan tantangan periodiknya).

Termasuk, misalnya korelasi antara pembangunan infrastruktur dengan sepuluh simpul perekonomian negara, mulai dari kebijakan energi, pariwisata, pangan, kehutanan, kelautan, manufaktur (dan industri substantif) berbasis teknologi dasar sampai tinggi, transportasi, logistik, industri keuangan, telekomunikasi. Tak terkecuali, korelasinya dengan industri jasa yang bertumpu pada layanan (services), industri kreatif dan industri budaya.

Setarikan nafas, pernyataan gagasan yang dilontarkan Sandiaga Uno, akan bermuara pada neraca keuangan negara, yang kelak akan terkait dengan beragam policy design tentang FDI (Foreign Direct Invesment), moneter, pajak, dan ikutannya.

Melihat gagasan Sandiaga Uno hanya dari sudut pandang proyek, bisnis primer, akan membuat Erick cumsuis mati angin. Belum lagi, ketika kelak dikaitkan dengan berbagai konvensi internasional yang sudah diratifikasi.

Dari sudut pandang politik, termasuk dalam konteks amat elementer, debat Pilpres 2019, masing-masing Tim Kampanye Nasional Jokowi - Ma'ruf Amin dan Badan Pemenangan Prabowo - Sandi, mesti sungguh menyiapkan juru kampanye dan juru debat yang menguasai masalah. Dengan begitu, praktik politik menjadi mendidik. Apalagi bila basisnya pengalaman.

Karenanya, tak ada salahnya dilakukan sesi debat di tataran Super Jurkam, misalnya antar Ketua Umum Partai Politik pengusung, antar Capres - Cawapres, melalui panel tingkat tinggi. |

Editor : Web Administrator
 
Humaniora
05 Okt 19, 22:25 WIB | Dilihat : 465
Lagu Soldier of Fortune Terdengar Lamat Lamat
12 Sep 19, 09:18 WIB | Dilihat : 1410
BJ Habibie Cermin Besar Kebangsaan
10 Sep 19, 00:10 WIB | Dilihat : 345
Hidup itu sederhana
25 Agt 19, 19:31 WIB | Dilihat : 292
Hantu Drum Roll di Rumah Mompesson
Selanjutnya
Lingkungan
03 Okt 19, 22:48 WIB | Dilihat : 189
Dengan Glamping Membaca Tapak Kekuasaan Ilahi
13 Sep 19, 23:21 WIB | Dilihat : 1305
Yeo dan Siti Segeralah Bertemu, Halau Asap
13 Sep 19, 21:15 WIB | Dilihat : 1311
Asap Menyergap Udara Pengap Petinggi Bersilang Cakap
Selanjutnya