Framing Kompas Dibalas Anies dengan Cerdas dan Arif

| dilihat 306

Berita Kompas (Kamis, 8/8/22) yang memasang foto Anies Rasyid Baswedan sebagai gambar utama untuk artikel bertajuk, Korupsi Bukan Lagi Kejahatan Luar Biasa, mengundang reaksi negatif khalayak. Media arus utama yang didirikan PK Ojong dan Jakob Oetama, itu dituding melakuklan framing buruk, kasar dan jahat terhadap Anies.

Berbagai pendapat yang berkembang di berbagai saluran media, terkesan mengandaikan, Anies Rasyid Baswedan, Gubernur Jakarta Raya yang akan mengakhiri masa jabatannya 16 Oktober 2022 mendatang, seperti pegas dan dinding squash.

Makin ditekan makin melejit. Makin diserang dengan aneka bully (risak, rundung) dan berbagai aksi jahat berpangkal presumsi politik, makin memantul dan merepotkan para pembulinya.

Peristiwanya sendiri, bermula pada Rabu (7/8/22). Anies dipanggil ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Kuningan, Jakarta - dan selama 11 jam memberikan penjelasan rinci terkait isu indikasi korupsi atas penyelenggaraan Formula E (Sabtu: 4/6/22) yang sukses.

Selama proses menuju dan setelah penyelenggaraan ajang Formula E -- yang mengharumkan nama Indonesia, dan dihadiri para petinggi negeri - mulai dari Presiden Jokowi -- itu politisi PDIP dan PSI di DPRD DKI Jakarta, terus menerus merisak dan merundung. Termasuk melontar isu presumtif soal korupsi.

Pada Rabu pagi itu, Anies datang ke gedung KPK sendiri. Dia datang dengan mengenakan seragam seorang Gubernur, putih biru lengkap dengan lencananya.

Anies melangkah menaiki tangga menuju lantai dua gedung KPK, dengan menenteng tas berisi dokumen terkait isu yang menjadi isu.

Sebelas jam beberapa menit jam kemudian, sekira pukul 20.00 lebih, Anies keluar pintu lobi gedung KPK. Dia menjumpai wartawan yang menantinya di depan tangga masuk, dan bicara singkat. Selepas itu, Anies memenuhi agendanya hari itu, menghadiri istighasah di salah satu rumah yatim piatu.

Segelintir orang di seberang jalan, berteriak-teriak sambil mengacungkan poster berisi tuduhan.  Di antara mereka, ada yang mengenakan kemeja kotak-kotak. Sejumlah buzzer lewat akun sosial medianya masing-masing, bernada sama. Merisak dan merundung dengan cara seperti biasa mereka lakukan.

Keesokan harinya (Kamis, 8/8/22) Harian Kompas, menurunkan berita terkait 23 narapidana (banduan) tipikor yang mengalami pembebasan bersyarat (antara lain bekas Gubernur Banten, Atut Chosyi'ah Hasan dan adiknya, Wawan).

Di ujung berita, ditulis peristiwa pemeriksaan Anies yang tak relevan dengan isi dan judul berita. Anehnya, foto yang dipergunakan dalam berita tersebut, bukan foto 23 banduan tipikor tersebut. Melainkan foto Anies.

Penempatan foto Anies yang tak relevan dan terkesan sebagai suatu kesengajaan menghadirkan citra buruk, itu segera mendapat respon negatif dari khalayak. Dalam respon khalayak tersebut, KOMPAS dituding telah melakukan framing buruk dan jahat.

Beragam analisis pun mengemuka. Lewat perbincangan dengan Hersubeno, Rocky Gerung dalam saluran Youtube Rocky Gerung Official, menyatakan, mestinya Kompas meminta maaf.

Menurut Rocky, apa yang terlihat di Kompas terasa ada insinuasi. Kalau (pimpinan) Kompas merasa hal itu merupakan kecelakaan editorial, tidak bisa (diterima). "Karena mereka tahu Anies ada dalam suasana dielu-elukan publik." Artinya, ketika berita itu diturunkan akan berhadapan dengan public outcry.

Di berbagai platform sosial media dan media digital, sejumlah tokoh menanggapi pemberitaan Kompas, itu dengan beragam ekspresi. Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, memasang emoticon sedih - menangis.

Mantan Wamenkumham - Denny Indrayana lewat KBAnews mempertanyakan: "Koq framing-nya kasar begitu?" Pada media yang sama, Hendri Satrio - pakar komunikasi politik Kedai Kopi menyebut penayangan foto Anies seorang diri dalam artikel itu menunjukkan ketidakobjektivan Kompas.

Geisz Chalifah, mantan aktivis kampus,  sahabat kritis Anies, yang sering tampil 'melawan' para perisak dan perundung dalam berbagai acara gunemcatur (talkshow) televisi, merespon lewat akun twitter-nya.

Di akun twitter-nya, itu Geisz menulis, "Selayaknya redaksi Kompas sebagai koran yang sudah sangat "DEWASA" membuat pernyataan maaf. Menayangkan berita dgn framing spt ini sangat tidak etis terlebih bila dilakukan oleh Kompas."

Anies sendiri, merespon dengan kearifan yang cerdas sebagai seorang pemimpin yang matang. Sebagai cendekiawan dan mantan aktivis kampus di zamannya, dan tokoh global, merespon sangat dewasa.

Begini Anies menulis di akun instagram dan facebook-nya:

"Kemarin, sehari sesudah memenuhi undangan KPK untuk memberikan keterangan terkait Formula-E, saya menerima banyak pesan memberitahukan tentang berita yg dimuat di Harian Kompas.

"Judul beritanya besar: Korupsi Bukan Lagi Kejahatan Luar Biasa. Isinya mayoritas ttg pembebasan bersyarat 23 narapidana tipikor. Terdapat pula kolom berisi daftar napi tipikor yg dibebaskan.

"Yang aneh: yg terpampang adalah foto Gubernur DKI. Tidak ada hubungan dgn topik yg ditulis di dalam artikel. Di bagian akhir artikel terdapat tiga paragraf kecil ttg kedatangan Gubernur DKI ke KPK, yg juga tidak ada hubungan dgn topik beritanya.

"Media memang memiliki kekuatan besar dalam membentuk persepsi, opini dan perasaan pembacanya. Karena memiliki kekuatan besar inilah maka media harus memiliki tanggung jawab yg besar pula.

"Media sebagai pilar demokrasi bukannya tidak boleh berpihak. Sebaliknya, ia justru harus berpihak, pada kebenaran, keadilan, dan objektivitas. Tanggung jawab media memang berat, karena risiko dampak salah langkahnya pun besar.

"Kemarin, beberapa pemimpin Kompas menjelaskan pada saya, bahwa penempatan foto itu adalah kelalaian, tak ada niat framing buruk. Memang disayangkan kesalahan mendasar seperti itu terjadi di media seperti Kompas yg pastinya memiliki mekanisme pengawasan berlapis.

"Hari ini, Kompas memasang berita baru yg menjelaskan secara lebih objektif terkait kedatangan saya ke KPK. Kompas hari ini memberi contoh kepada Kompas kemarin ttg bagaimana sebuah berita seharusnya ditulis.

"Dahulu, Kompas sebenarnya hendak diberi nama Bentara Rakyat. Namun Bung Karno memberi usul nama Kompas, karena kompas adalah penunjuk arah dan jalan.

"Kita berharap, filosofi nama Kompas ini terus dijaga. Apabila sebuah kompas berfungsi baik, maka kita lancar dan selamat mengarungi perjalanan. Apabila jarumnya terpengaruh oleh magnet (polar), maka ia tak lagi dapat menjadi penunjuk arah.

"Saya memilih mempercayai penjelasan pemimpin di Kompas dan, walau banyak yg menyarankan, saya memilih tidak membawa masalah ini kepada Dewan Pers. Namun, saya memilih tetap menyampaikan catatan ini pada publik agar bisa menjadi pengingat bagi kita semua dalam bernegara dan berdemokrasi." | masybitoch/ bangsèm

Editor : delanova | Sumber : berbagai sumber
 
Ekonomi & Bisnis
03 Des 22, 15:17 WIB | Dilihat : 41
Ginanjar Nilai Semua Investasi Jepang Lancar
15 Jun 22, 09:26 WIB | Dilihat : 361
Gobel : PMK Hewan Memukul Kedaulatan Pangan
Selanjutnya
Humaniora
06 Des 22, 14:02 WIB | Dilihat : 167
Mengeja Ferry Mursyidan Baldan
06 Des 22, 12:17 WIB | Dilihat : 24
In Memoriam Ferry Mursyidan Baldan
11 Nov 22, 22:45 WIB | Dilihat : 198
Jalan Ishlah Menghidupkan Apresiasi dan Respek
Selanjutnya