Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi Menuju Pilkada Jabar 2018

Deklarasi Politik Nasionalis Religius dan Berbudaya

| dilihat 1355

PESONA warna biru kuning mewarnai deklarasi Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi, pasangan calon yang diusung Partai Golkar dan Partai Demokrat di Sabuga (Sasana Budaya Ganesha) – Jalan Tamansari – Bandung – Jawa Barat, Selasa (9/1/18).

Pesona yang sama juga tampak saat kedua pasangan calon Pilkada Jawa Barat, itu mendaftarkan diri mereka ke Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Jawa Barat di Jalan Garut Bandung, setelah deklarasi berlangsung.

Deklarasi kedua pasangan calon ini berpesona budaya dan religius.

Lantunan ayat suci Al Qur’an dilantunkan oleh beberapa wori secara bersamaan, seperti mengumandangkan Adzan Pitu yang biasa dilakukan setiap salat Jum’at di Masjid Ciptarasa – Cirebon. Lagu Indonesia Raya dan Halo-Halo Bandung juga berkumandang gempita, memberikan spirit nasionalisme, disusul salawat yang mengekspresikan suasana religius yang menggetarkan. Suasana budaya Sunda juga terasa dengan beberapa atraksi, termasuk silat.

Sebelumnya, kedua pasangan calon ini disambut palang pintu dengan pantun khas Betawi, "Satu kali satu sama dengan dua kalau mau deklarasi buka dulu tuh palang pintu," ujar seorang pesilat pantun peraga palang pintu.

Semua itu sekaligus mencerminkan karakteristik budaya Jawa Barat yang meliputi wilayah budaya Sunda, Cirebon, dan Betawi. Atraksi budaya dengan semangat nasionalisme dan religius yang kental ini, memberi isyarat, bahwa kedua pasangan calon berkomitmen kuat membangun Jawa Barat yang multikultural dan beragam. Meliputi masyarakat Sunda Pituin dan Sunda Mukimin, seperti yang tersurat dan tersirat dalam hasil Dialog Sunda dan Dialog Jawa Barat 2000.

Deddy Mizwar menyampaikan pidato singkat dengan  pesona yang memukau. Retorikanya sangat terjaga dan menggambarkan penguasaannya terhadap Jawa Barat, selama lima tahun menjabat sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat bersama dengan Ahmad Heryawan.

Undangan dan seluruh yang hadir di Sabuga, termasuk Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, Hj. Ani Bambang, Hj. Gisela Deddy Mizwar, Nyonya Dedi Mulyadi, Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana, Bupati Bandung Dadang M. Naser, dan para petinggi kedua partai, termasuk Ceu Popong (Popong Oce Djundjunan), Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), Syarief Hasan, Amir Syamsudin, Dede Yusuf. Juga, Camelia Malik dan Jeane Shalimar

Sebelum deklarasi, kedua pasangan calon menjumpai SBY dan Ani Yudhoyono yang sedang sarapan di Café Halaman, didampingi para isteri pasangan calon dan pengurus kedua partai daerah Jawa Barat.

Sebelum menjumpai SBY, Dedi Mulyadi sempat mengajak pemulung kardus bernama Jajang, makan bersama. Bupati Purwakarta, itu menemui Jajang yang melewati jalan utama di depan Jotel House, Jalan Sangkuriang - Bandung.

Kepada Dedi, Jajang bercerita, dia menikah dengan seorang istri dan dikaruniai amanah empat anak. Seorang di antara mereka masih bersekolah SMP. Jajang mengaku kepada Dedi, penghasilannya hanya Rp30 ribu per bulan.

Deklarasi kedua pasangan calon, DEMI (Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi) ini, memilih jalan budaya dan kemanusiaan, dengan mengedepankan politik cerdas, bersih, dan santun, yang dimulai dengan komitmen koalisi tanpa mahar. Kendati kedua pasangan calon berkomitmen menggerakkan mesin partai untuk meraih kemenangan.

Kedua pasangan calon ini diusung oleh Partai Golkar yang meraih 17 kursi dan Partai Demokrat yang meraih 12 kursi di DPRD Jawa Barat.

Di tengah deklarasi beredar informasi, Partai Amanat Nasional (PAN) yang diklaim berkoalisi dengan Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bergabung pula dalam koalisi yang sementara disebut Sajajar (ekuit dan ekual) ini.

Pidato singkat Deddy Mizwar saat deklarasi sangat menggugah. Khalayak diam sesaat dan hening, ketika dia bercerita, bagaimana seorang lelaki tua memeluknya di kampung Cimaragang – Desa Ciseureuh salah satu kabupaten di Jawa Barat bagian Selatan, usai Deddy meresmikan sebuah jembatan yang menyambungkan dua desa terpencil.

“Kami bangun titian sederhana yang kokoh, dan lelaki tua itu mengatakan, sudah tujuh puluh tahun kami menunggu, akhirnya terwujud juga,” ujar Deddy menirukan kakek yang memeluknya itu. Titian itu, ungkap Deddy, dibangun hanya dengan biaya Rp30 juta.

Deddy mengutip itu, seolah ingin menjelaskan, bahwa meski berada paling dekat dengan ibukota Jakarta, masih ada persoalan semacam itu.

“Jawa Barat ini berpenduduk empat puluh juta jiwa. (Mungkin) dua kali lipat dari penduduk benua Australia. Karena itu, tidak mudah membenahi Jawa Barat,” ujarnya.

Jawa Barat, ungkap Deddy Mizwar memang penting dan strategis. Karenanya, sejumlah jenderal diturunkan dalam Pilkada ini. “Jenderal Sudradjat, Jenderal Hasanuddin, Jenderal Anton Charliyan, dan “Jenderal” Naga Bonar,” ungkapnya berseloroh, disambut tawa, sehingga deklarasi itu terasa segar dan gembira dengan tawa khalayak.

Deddy yang terkenal integritas pribadinya sejak belia, itu sangat serius dalam bekerja, mengabdikan dirinya untuk membangun Jawa Barat.

Di hari-hari sebelumnya, Deddy berulangkali mengatakan, dengan diusung Partai Demokrat dan Partai Golkar yang memberi tiket kepada Dedi Mulyadi dan dirinya, insyaAllah merupakan modal dasar yang baik untuk segera bekerja keras mengikhtiarkan kemenangan pada Pilkada Jawa Barat, untuk mengejawantahkan gagasan-gagasan Jawa Barat yang lebih maju, sejahtera dan adil.

Kepada akarpadinews, beberapa kali Deddy mengatakan, hanya mereka yang penuh seluruh hendak menjadikan Jawa Barat sebagai ladang amal dan kebajikan, yang dapat bersama rakyat mengubah keadaan menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

Karena itu, kesepakatan dirinya dengan Dedi Mulyadi, bukan kesepakatan transaksional, melainkan komitmen kebersamaan untuk menjadi bagian rakyat Jawa Barat, membangun provinsi yang diresmikan sejak 19 Agustus 1945 itu.

Sebelumnya, Dedi Mulyadi yang juga Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat, itu menjelaskan, "Ketika saya pertama kali bertemu, pak Deddy Mizwar bilang, saya (Demiz) sudah tua, Dedi saja jadi gubernur. Lalu saya ngomong terbalik, saya minta Pak Demiz saja jadi gubernur."

Dijelaskannya, mulanya, Deddy Mizwar menawarkan posisi calon gubernur kepada dirinya. Tetapi, Dedi kemudian menawarkan balik posisi orang nomor satu di Jawa Barat itu kepada Deddy. 

“Saya sadar, Partai Demokrat hanya mempunyai 12 kursi, jadi saya tawarkan posisi jabatan Gubernur kepada Dedi Mulyadi yang diusung Partai Golkar yang mempunyai 17 kursi,” ungkap Deddy Mizwar, tentang hal itu.

Hal itu, menurut Dedi Mulyadi, mencerminkan, keputusan tentang konfigurasi nama calon gubernur dan wakil gubernur itu sekaligus melahirkan tradisi baru, dimana pasangan calon melakukan musyawarah mufakat. Inilah demokrasi khas Indonesia, musyawarah dan mufakat.

Keduanya sepakat, seperti yang dialami Deddy Mizwar selama ini, bahwa posisi wakil gubernur bukan pelengkap. Ada ekuitas dan ekualitas. Keduanya sama bertanggung jawab terhadap pelaksanaan visi dan misi.

Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat, ini, ungkap Hery – dari Sumedang, yang hadir dalam deklarasi itu, yang sebenarnya terlihat nyunda, nyakola, nyantri, dan nyantika. Suasana deklarasi itu, juga menepis anggapan sebagian kalangan yang keberatan atas pasangan ini, lantaran dianggap berada pada dua titik berbeda dalam menjalankan prinsip-prinsip keagamaan dan budaya seperti dieksplorasi oleh media sosial.

Satu hal yang penting juga, Deddy Mizwar terus menjalin silaturrahmi dengan beragam kalangan, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tokoh budaya. | Kay Widya

Editor : sem haesy | Sumber : berbagai sumber
 
Sainstek
19 Jul 18, 09:52 WIB | Dilihat : 1002
Volante Vision, Visi Kendaraan Udara Aston Martin
20 Feb 18, 12:07 WIB | Dilihat : 1882
Tragedi Archimides di Tangan Serdadu
10 Jan 17, 15:25 WIB | Dilihat : 608
Honda Kembangkan Teknologi Motor Pintar
23 Des 16, 05:31 WIB | Dilihat : 575
Menanti Kehadiran Penghasil Listrik Berteknologi Nano
Selanjutnya
Lingkungan
25 Jun 18, 16:31 WIB | Dilihat : 1744
Perlawanan Budaya Warga Sempur Bogor
24 Jun 18, 11:58 WIB | Dilihat : 692
Kreativitas Anak Betawi dalam Toponimi Jakarta
19 Jun 18, 11:09 WIB | Dilihat : 546
Merawat Hutan Memelihara Peradaban
Selanjutnya