Cut Meutia Adrina, Perjuangkan Hak Emak-emak Aceh via Partai Gerindra

| dilihat 486

2003. Saya lupa tanggalnya, selepas magrib. Saya datang ke ballroom sebuah hotel di kawasan Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. 

Saya datang ke situ diundang salah satu partai politik menyampaikan materi tentang skenario plan. Baru kali itu, di Indonesia, ada partai yang memikirkan skenario plan.

Di depan para pimpinan dan pengurus partai dengan beragam latar belakang ideologi, tetapi mengacu pada semangat kebangsaan yang kuat itu, saya perhatikan seorang perempuan. Rada tomboi. Matanya tajam. Nada bicaranya aksentuatif.

Pada sesi tanya jawab dia mengacungkan jarinya. Lalu berdiri. Menyebut namanya dan mengajukan berbagai pertanyaan tajam dan realistis. Saya masih ingat dia bertanya, apa yang kudu dilakukan pimpinan dan pengurus partai untuk mengalirkan platform partai yang sudah mereka susun, menjadi aksi politik yang nyata di lapangan.

Alasan yang dia kemukakan menarik. Adalah fakta, partai politik (itu) dari segi pendanaan sangat bergantung kepada Ketua Umum dan dua orang pimpinan partai yang pengusaha dan sudah selesai dengan diri mereka.

“Terus terang, kami ragu dan kuatir. Bisa jatuh miskin pak Ketua Umum, kalo harus mengongkosi kami dan seluruh gerak partai ini,” cetusnya.

Saya suka dengan cara befikir perempuan, yang kemudian saya ketahui bernama Cut Meutia Adrina. Dia cenderung selalu mencari ‘kausa’ di balik realitas yang nampak di permukaan. Dia cerdas. Struktur logikanya menarik. Dia, agaknya terbiasa menangkap sesuatu dari satu titik pandang, kemudian menilainya dengan cara pandang yang berbeda.

Dugaan saya tak meleset. Ketika ngobrol, berdiskusi muncul pemikiran-pemikirannya yang segar. Misalnya, soal kuota perempuan di parlemen.

“Mengapa harus diatur dengan kuota? Bukankah yang harus dilakukan adalah mengingatkan seluruh partai dan institusi pemerintah untuk mendidik kaum perempuan, sehingga dapat diperoleh sebanyak-banyaknya kader perempuan yang mumpuni sebagai wakil rakyat. Bukan sekadar menjadi aksesoris atau trigger saja?” ungkap Cut, suatu ketika saat saya berjumpa lagi di forum yang berbeda.

 Boleh jadi karena struktur logikanya yang semacam itu, sikapnya menjadi lugas. Tetapi, Cut tidak asal bersikap luas. “Kecuali buat lawan yang memang pas-pasan aja cara berfikir dan aksinya,” ujar dia sambil tersenyum.  

Belakangan, saya memperhatikan Cut sangat aktif dalam sosial media. Setiap membuka facebook, saya nyaris tak pernah tak melihat statusnya yang update, menyikapi peristiwa aktual yang terjadi di masyarakat, dan sering terabaikan oleh media.

Cut salah seorang emak militan, yang aksinya bisa agresif. Namun, sebagai emak-emak aksinya terukur. Saya melihat, dia sosok lain dari Ratna Sarumpaet yang juga saya hormati. Potensi kecerdasannya, mengasyikan ketika melihat dia bersilang pikir dengan lawan diskusi atau lawan ‘debat’ yang seringkali masih dikelola dengan cara pro-kontra.

Di luar itu, saya melihat, Cut bagai petinju di atas ring, yang lincah bergerak, hit and run, tapi tiba-tiba menggebuk dengan hook yang telak.

Belakangan, saya paham, mengapa dia piawai seperti itu. Perempuan Aceh dari Sigli – Kabupaten Aceh Pidie, yang terkenal sebagai salah satu daerah tempat banyak dilahirkan tokoh tangkas di dunia politik. Misalnya, Buya Ismail Hasan Meutareum mantan Ketua Umum PB HMI dan Ketua Umum PPP yang amat disegani di zamannya. Pemimpin dengan kepribadian utuh dan berintegritas.

Saya melihat Cut mempunyai integritas seperti yang diwariskan dari para orang-orang tua Sigli – Pidie di hari kemarin. Terlihat pada sikapnya, mengalir kental prinsip ikue han ek ta hila, konsistensi, istiqamah dan toleran secara proporsional kepada lingkungan sekitar.

Setarikan nafas, dalam kehidupan sehari-hari, Cut terbuka dengan perbedaan, namun tak akan memberi peluang kepada siapapun untuk mempengaruhi atau mengubah pendiriannya.

Cut juga konsisten dalam memperjuangkan hak dasar rakyat, termasuk kaum perempuan, khasnya kesadaran berpolitik sangat menonjol. Karenanya, jangan heran, bila dia tak pernah mundur menghadapi segala hal yang menghalangi hidupnya hak politik dan demokrasi rakyat. Dan dia gigih memperjuangkan hal itu.

Suatu ketika saya pernah katakan kepadanya, kelak dia mau berjuang sebagai wakil rakyat di Senayan. Cut setuju dan pekan lalu dia kontak saya. “Aku jadi caleg bang, dari Partai Gerindra, di Daerah Pemilihan Aceh I,” katanya.

Saya rada tersentak. Daerah Pemilihan I sangat luas secara geografis, meliputi Aceh Selatan, Aceh Tenggara, Aceh Barat, Aceh Besar, Pidie, Simuleu, Aceh Singkil, Aceh Barat Dayo, Gayo Lues, Aceh Jaya, Nagan Raya, Pidie Jaya, Kota Banda Aceh, Kota Sabang, dan Kota Subulussalam. Selain untuk memperebutkan 1 dari 7 kursi DPR RI, kompetitornya juga banyak.

Dengan nomor urut 7, seperti nomor urut partainya, dia mesti kompetisi dengan dua kader perempuan Gerindra, masing-masing Hj. Zulhafah dan Ainal mardiah. Kompetitor dari partai lain tidak saya kenal, kecuali Desi Fitriani – reporter MetroTV – yang dicalonkan Partai Nasdem.

Dia terkekeh ketika saya bilang dia bertarung di medan tempur yang sangat luas. “Doain aja Bang. Itu kan berjuang di kampung sendiri. Bantuin dong, komunikasikan dengan sahabat dan kerabat abang di Sabang, Banda Aceh, Pidie, Sinabang, dan di Gayo,” ujarnya.

Saya suka dengan spirit perjuangannya. Saya yakin dia tak akan pernah lelah berjuang.

Cut ulet, bekerja keras, bekerja cerdas, bekerja ikhlas, bekerja tuntas seolah tanpa batas waktu. Dia berpegang teguh pada prinsip, “meunyoe tatep bak useuha dak han kaya udep seunang, meuhan tatem bak useuha pane atra rhoet dimanyang.” Kesungguhan, keuletan, keteguhan, dan kerja keras merupakan modal dasar untuk mewujudkan kehidupan sejahtera, tidak hanya untuk diri sendiri, melainkan untuk banyak orang.

Dia berjuang sesuai dengan prinsip, “hairun naas anfa’uhum lin naas.” Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat luas bagi manusia lain.

Cut juga sadar, seluruh upaya dan ikhtiarnya menjadi wakil rakyat Aceh di DPR RI memang tidak mudah. Dia sudah perhitungkan segala dampak dan tantangan yang harus dia hadapi.

Dia pun yakin, tak semua aksi dan tindakannya akan berhasil dengan mulus, karena pasti akan ada hambatan dari pihak lain. Tetapi, dia optimistis, meskipun manusia tak pernah tahu apa yang akan terjadi pada dirinya. “Tajak ukeu kalon u likoet tak jak lampeungeuh kalon lam supoet.”

Seperti namanya, Cut punya keberanian Tjoet Njak Dhien, punya visi Cuet Meutiah. “Saya do’akan, kamu dalam Pemilu 2019 ditakdirkan Allah menjadi anggota DPR RI di Senayan. Menjadi anggota parlemen perempuan yang sesungguhnya, mewakili suara emak-emak, dengan the power of emak-emak. Bukan sekadar asesoris parlemen. Bismillah…,” kata saya. Dia menjawab dengan shalawat nabi.

 Maju dan bergeraklah Cut. Berjuanglah di Senayan, supaya parlemen sungguh memperjuangkan nasib rakyat, terutama nasib perempuan. Saya ingin melihat kamu memperjuangkan nasib rakyat di mimbar parlemen. | Bang Sem

Editor : Web Administrator
 
Energi & Tambang
14 Des 18, 10:48 WIB | Dilihat : 111
Surya Darma Sahabat Terbarukan
25 Nov 18, 12:33 WIB | Dilihat : 329
Nicke Widyawati di Tengah Arus Transformasi Pertamina
24 Nov 18, 08:44 WIB | Dilihat : 151
Menjaga Marwah Jurnalis Via AJP2018
01 Agt 18, 13:45 WIB | Dilihat : 2763
Mendulang Kemandirian di Blok Rokan
Selanjutnya
Seni & Hiburan
24 Nov 18, 19:07 WIB | Dilihat : 268
AJP2018 dan Kaus Kaki Hesti
29 Okt 18, 22:01 WIB | Dilihat : 373
Hujan dan Emak Emak Suburkan Spirit Melayu di JMF 2018
29 Okt 18, 15:57 WIB | Dilihat : 289
Ibu Ajari Aku Menangis
Selanjutnya