Cogan Lampau Politik Lepau Malaysia

| dilihat 199

catatan bang sém

Malaysia bak kapal Lancang Kuning berlayar malam menuju lautan dalam, tercabar patah kemudi, di tengah hantaman topan dan ribut (storm und drang).

Sesetengah petinggi berusia di atas 65 tahun telah hilang peluang menjadi negarawan (statesman) dan orang bijak (wiseman).

Mereka sibuk bertelagah di atas pentas drama politik bertajuk 'Calit Atok,' saling membaling aib sesamanya. 

Mereka saling tikam, tak lagi paham, ditinggal rakyat, yang bersama Yang Dipertuan Agong dan para Sultan memelihara harapan menaklukkan wabah ganas nanomonster Covid-19.

UMNO (United Malay Nation Organization) sebagai partai tertua yang dibentuk dan dibina untuk mengabdi kepada bangsa Melayu dan kejayaan umat Islam Malaysia, 75 tahun lalu, telah kehilangan marwah.

Setelah teruk pada Pilihan Raya Umum (PRU) ke 13 (2013) ketika dipimpin Tun Abdullah Badawi (Pak Lah) yang sangat cinta dengan angka 13, UMNO dipimpin Dato' Seri Muhammad Najib Tun Razak hilang kuasa pada PRU ke 14 (2018). Kejayaan UMNO dan sekutunya dalam Barisan Nasional (BN) sirna dan selesai, setelah berkuasa selama 65 tahun.

Pakatan Harapan (PH) -- koalisi Parti Keadilan Rakyat (PKR - Anwar Ibrahim), Democratic Action Party (DAP - Lim Kit Siang), Parti Pribumi Bersatu Malaysia (Bersatu - Tun Mahathir Mohammad), dan Parti Amanah Negara (Amanah - Mat Sabu) -- yang memenangkan PRU ke 14,  9 Mei 2018 hanya mampu berkuasa 24 bulan.

Tun Dr. Mahathir Mohammad (Tun M) yang memecahkan rekor dunia - kembali menjabat sebagai Perdana Menteri (kedua kali) dalam usia 92 tahun, mengundurkan diri pada 24 Februari 2020, setelah kemelut internal dalam PH dan di dalam Parti Bersatu yang didirikannya bersama Tan Sri Muhyiddin Yassin (MY).

Anwar Ibrahim kembali berenang di lautan fantasi dan obsesinya untuk beroleh peluang sebagai Perdana Menteri (PM) ke 8, ketika Sultan Abdullah menunjuk Tun M sebagai PM interim.

Sultan mengundang seluruh anggota parlemen dan berdialog satu persatu untuk menunjuk siapa patut menjabat PM ke 8. MY - Presiden Parti Bersatu, yang populer dipanggil Abah - beroleh suara dukungan mayoritas tipis, dan naik kuasa mengambil kursi hanyut yang diimpikan Anwar.

Anggota parlemen dari UMNO, PAS (Parti Al-Islam Se-Malaysia - pimpinan Tuan Guru Dato' Seri Abdul Hadi Awang) dan beberapa petinggi PKR, berkontribusi suara kepada MY. Perikatan Nasional terbentuk sebagai koalisi pemerintahan, meskipun UMNO dan PAS sebelumnya telah membentuk perikatan Muafakat Nasional (MN). PN kemudian didaftarkan sebagai partai politik.

Dari senarai nama jama'ah Menteri dalam kabinet MY, nampak jelas formasi dukungan UMNO, PAS, dan Bersatu, selain dukungan dari kalangan profesional. Tapi, malang tak dapat ditolak.

Belum lagi seumur jagung, pemerintahan MY terhalang serangan pandemi nanomonster Covid-19 yang menaklukkan sikap takabur penguasa-penguasa di dunia. Topan dan ribut krisis kesehatan dan resesi ekonomi telah menimbulkan krisis politik di berbagai belahan dunia. Termasuk Malaysia.

Tun M (yang panjang usia berkat politik), Anwar Ibrahim, Lim Kit Siang, Lim Guan Eng, Mat Sabu, juga Zahid Hamidi, Najib Razak, dengan kepentingannya masing-masing tak lelah berlakon di pentas politik, ketika rakyat sedang menderita. Tun M dan sejumlah pengikut setianya memilih sebagai anggota parlemen independen (bebas). 

Pilihan Raya Negeri Sabah 2020 digelar pada 26 September 2020, dan dimenangkan secara 'mayoritas mudah' oleh persekutuan PN + BN + PBS (Parti Bersatu Sabah - Joseph Pairin Kitingan), mengungguli Parti Warisan. Bonusnya? Jumlah penduduk Malaysia yang terpapar nanomonster Covid-19 bertambah bilangannya.

MY dan Parti Bersatu menjadi musuh bersama PH dan BN. Tun M mendirikan Parti Pejuang, tapi gugur sebelum bertunas, tidak diterima pendaftarannya sebagai partai politik. MY mengusulkan 'keadaan darurat,' tapi ditolak oleh musyawarah para Sultan.

Anwar dan sekutunya,  seolah serempak dengan Tun M,  serta Zahid Hamidi cum suis - beroleh angin peluang untuk menghembuskan topan dan ribut. Mereka mulai menyerang dan menerjang MY dari penjurunya masing-masing. Tapi Tuan Guru Hadi Awang dengan PAS berada di belakang MY. Belakangan, bahkan, beberapa anggota parlemen dari PH memberikan dukungan kepada MY.

Sultan Abdullah memperingatkan seluruh petinggi politik yang rata-rata sudah tua mengutamakan rakyat dan mendahulukan stabilitas politik. Para politisi tua itu paham, tapi tak mau mengerti.

Anwar Ibrahim sibuk berenang dalam mimpinya dalam telaga fantasi kekuasaan. Zahid Hamidi, didukung Najib Razak (bekas Presiden UMNO/PM Malaysia) dan Tengku Adnan (bekas sekretaris jendral UMNO) sibuk cari peluang untuk membebaskan dirinya dari dakwaan mahkamah untuk kasus rasuah (korupsi). Tun M kembali menjadi kakek cerewet (grandpa chatty).

Sultan Perak, Sultan Nazrin Muizzuddin Shah sebagaimana halnya Sultan Selangor, Sultan Sharafuddin Idris Shah Alhaj, gusar melihat tingkah politik para politisi tua yang terus bertelagah.

Ketika melantik dan mengambil sumpah Datuk Saarani Mohamad sebagai Menteri Besar Perak Ke-14, di Istana Iskandariah (Kamis, 10/12/20), mengingatkan setiap mereka yang diberi kuasa untuk tidak leka dalam menjalankan amanah. Mereka harus konsisten menegakkan amar ma'ruf nahi munkar.

Senin (11/01/21) MY menghadap Sultan Abdullah di Istana Negara - Kuala Lumpur, dan keesokan harinya (Selasa, 12/01/21) menyampaikan Proklamasi Darurat, terkait penanganan Covid-19 dengan sekaligus menghentikan sementara persidangan di Parlemen Malaysia. Para politisi gaek yang selalu bergaduh, merespon dengan berbagai pendapat, tapi mereka tertakluk pada Sultan.

Pada hari dan tanggal yang sama ( Selasa, 12/01/21) saat melantik Majelis Urusan Agama dan Adat Melayu, anggota Komite Fatwa, dan Jaksa Syar'ie di Dewan Al Ghazali - Kompleks Islam Darul Ridzuan, Ipoh, Sultan Nazrin mengingatkan rakyat, untuk tidak memberikan kepercayaan atau menyerahkan tanggung jawab kepada mereka yang memiliki citra jahat dan munafik, dengan moralitas rendah, tercemar oleh korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan, serta tidak dapat dipercaya dan tidak tulus.

Titah Sultan Nazrin ini dipahami sebagai ekspresi rasa jengkel kepada perilaku para politisi gaek yang terus bertikai. Titah itu sekaligus sindiran telak terhadap Zahid Hamidi dan para petinggi UMNO yang mendukungnya. Terutama karena melihat Zahid memainkan politik licik terhadap pemerintahan dan cenderung memantik instabilitas politik di Malaysia.

Zahid untuk dan atas nama UMNO dan selalu mengklaim suara akar umbi (rakyat di lapisan bawah) selalu menyerang MY, tak mau berkoalisi dengan PN, namun tak menarik para politisi UMNO yang sedang mengemban amanah sebagai menteri dalam kabinet MY.  Mimik dan gestur Zahid yang 'tak sedap dipandang mata,' itu mencerminkan sikap mendua kepemimpinannya. Termasuk tindakannya memecat Anuar Musa, Menteri Wilayah Persekutuan dari posisinya sebagai Setia Usaha Utama (Sekretaris Jendral) UMNO yang selama ini terkenal konsisten, vokal, dan bersikap proporsional obyektif dalam politik.

UMNO terhanyut dalam pusaran instabilitas politik dan Zahid Hamidi tak mampu mengendalikan dirinya. Ia mudah lupa telah mengungkapkan kepada Anuar Musa, mengisyaratkan hasratnya menjadi Timbalan Perdana Menteri, seperti ketika UMNO dan Najib berkuasa.

Zahid tak sadar dia membuka 'padang seteru' dengan dua seniornya, MY dan Anuar Musa, seperti dia tak sadar gaya dan taktik politiknya tak lagi senada seirama dengan zaman.

Zahid masih memainkan retorika politik 'cogan lampau' - semboyan-semboyan masa lampau -- untuk membangun citra, seolah-olah dia dan UMNO masih seperti dulu, sungguh berkhidmat kepada rakyat.

Cogan lampau, itu terucap lagi ketika dia menyampaikan pidato utama (ucapan dasar) sebagai Presiden UMNO dalam Perhimpunan Agung (General Assembly) UMNO, Ahad - 28 Maret 2021 di Pusat Dagangan Dunia milik UMNO di Kuala Lumpur. Zahid tersirat dan tersurat melakukan rekayasa citra.

Cogan lampau terhambur dalam pidatonya, bahwa UMNO memahami keresahan dan kerisauan rakyat, UMNO kekal menjadi tempat rakyat mengadu nasib. DNA UMNO adalah perjuangan rakyat, yang terus diperkuat dengan memperkukuh patriotisme ekonomi (economic patriotism).

Zahid tak lagi nampak sebagai pemimpin tertinggi partai tertua kaum melayu di Malaysia. Dia seolah 'pemalu' (petinggi masa lalu), ketika menyatakan, "UMNO perlu memimpin, kestabilan UMNO membawa kestabilan negara."

Cogan itu macam ungkapan politik di lepau, kedai kopi atau kedai nasi kandar. Terutama, ketika diikuti secara taqlid oleh para petinggi UMNO di berbagai lapisan, tanpa tinjuan obyektif dan kritis.

Dengan cogan lampau politik lepau yang kerap mengemuka dari mulut dan perilaku para politisi gaek, akankah Malaysia terus berjaya? Tentu tidak. Karena zaman sudah berubah, serangan topan dan ribut pandemi nanomonster Covid-19 belum pulau mampu dihalau.

Transformasi Malaysia diperlukan, dan para Sultan menghadapi cabaran berat, memangkas satu generasi, untuk menjawab cabaran alaf baru. Apalagi para politisi gaek dalam banyak hal berlomba masuk dalam fantacy trap.

Membiarkan mereka terus berlakon di saat kapal sedang berlayar malam menuju lautan dalam, di antara topan dan ribut, kelak kapal akan patah kemudi. Sengsara juga yang akan dirasa oleh rakyat Malaysia. |

Editor : eCatri | Sumber : berbagai sumber
 
Energi & Tambang
29 Mar 21, 20:15 WIB | Dilihat : 176
Pertamina Jamin Pasokan BBM Aman
28 Jan 20, 13:31 WIB | Dilihat : 1042
Komitmen Budaya pada Reklamasi Pertambangan
22 Okt 19, 12:46 WIB | Dilihat : 1251
Sinergi PHM dengan Elnusa Garap Jasa Cementing di Rawa
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
14 Mar 21, 23:46 WIB | Dilihat : 234
Sindroma Ambivalensia
16 Des 20, 07:56 WIB | Dilihat : 401
Peta Bank Syariah di Indonesia Berubah
09 Okt 20, 21:01 WIB | Dilihat : 397
Mengharap Garuda di Langit
03 Okt 20, 19:40 WIB | Dilihat : 336
KAMI Tolak Bailout Jiwasraya 22 Triliun Rupiah
Selanjutnya