Bukan Sandiwara Erick Thohir

| dilihat 518

Opini Ki Sabrang

Erick Thohir - Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi - Ma'ruf, di Hotel Acacia, Salemba, Jakarta Pusat (Kamis, 13/12/18), menyeru, "Pemilu ini memilih pimpinan yang biasa memajukan bangsa Indonesia yang bisa membuat bangsa ini bersih dari korupsi, sejahtera, keadilan untuk semua bukan sandiwara atau sinetron."

Sebelumnya, salah seorang juru bicara TKN Jokowi - Ma'ruf, Ace Hasan menuding Sandiaga Uno telah melakukan 'playing victim' kala berkunjung ke Pasar Pinang - Labuan Batu, Sumatera Utara.

Secara konotatif, pernyataan Erick tentu diarahkan kepada temannya, Sandiaga Uno yang posisinya lebih oké, sebagai Calon Wakil Presiden.

Omongan Erick tak salah. Lima tahun ke depan kita memang tak memerlukan pemimpin dan pimpinan yang suka bersandiwara. Tentu, omongan Erick ditujukan tak hanya ke kubu lawan. Omongan itu juga, pastinya, ditujukan ke kubunya sendiri, atau siapa saja yang suka berkarib-karib dengan sandiwara. Baik dalam pengertian harafiah maupun dalam makna lain.

Tentu, termasuk pemimpin yang gemar menggunakan kostum yang biasa dipakai dalam pentas sandiwara, termasuk ketoprak. Termasuk kostum baginda raja atau gatokaca, dan yang sejenisnya.

Kita tidak mengatakan Erick sedang bersandiwara juga. Karena panggung realita kehidupan kita sehari-hari kini, sudah lebih kompleks dan lebih dramatik dari sandiwara. Bahkan lakon sandiwara tak cukup mampu menandingi realitas kehidupan sehari-hari kita, yang sudah terlampau banyak dengan adegan tragedi sampai komedi.

Para pelakon dalam kehidupan nyata empat tahun terakhir ini, sudah lebih piawai dibandingkan dengan para pemain sandiwara dalam memainkan peran apa saja. Termasuk sandiwara politik.

Kendati demikian, ada juga pelakon dan penatalaku yang tak cukup pandai dalam berlakon. Itu sebabnya, ada Bupati yang dicokok Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), selepas menggiring khalayak (lewat Ketua RT/RW) untuk memilih pasangan Jokowi-Ma'ruf.

Bukan sandiwara, kala rakyat merayakan operasi tangkap tangan (OTT) atas sang Bupati, dengan syukuran dan kenduri. Ini bukan adegan ironi di atas panggung sandiwara, tetapi realitas pertama dalam kehidupan nyata yang menandai, rakyat sungguh tak suka dengan aneka sandiwara yang dihadapkan kepada mereka secara penetratif hipodermis lewat layar televisi dan pemberitaan media.

Jelang peristiwa politik Pemilu Serentak 2019, banyak sekali terjadi konvergensi adegan dari panggung sandiwara ke dunia nyata.

Lihatlah bagaimana gempitanya duplikasi segak pesona persona prajurit TNI dan Polri yang diduplikasi begitu saja oleh sekelompok orang di suatu ormas, yang tahu dirinya bukan prajurit tapi tak pernah paham, mengapa harus mengenakan seragam dan meniru-niru segak prajurit?

Lihatlah bagaimana tercecernya begitu banyak kartu è-KTP di berbagai belahan wilayah negeri ini, bahkan tak jauh dari Ibukota Jakarta (Bogor dan Bekasi). Dalam sandiwara, bisa jadi dan mungkin ada properti dalam bentuk è-KTP, sebagaimana adanya wardrop berupa kostum raja dan gatotkaca.

Cucu saya bertanya: "Njit.. adakah Prabowo - Sandi bersandiwara politik?"

Saya jawab dengan senyuman. "Menurutmu gimana?" tanya saya. Cucu saya menggeleng.

Saya tanya balik dia, kenapa menggeleng? Tangkas cucu saya menjawab, beberapa kali mencuat isu yang digoreng oleh lawan politiknya, disebabkan oleh slip of the tounge Prabowo, meski di lingkungan internalnya. Misalnya, soal 'Muka Boyolali,' yang hanya didengar, direkam, dan dipahami secara harafiah, sehingga lepas jauh dari konteks.

Pun, begitu dengan peristiwa Sandiaga Uno di Pasar Pinang atau di beberapa tempat yang dirinya ditolak oleh sekelompok orang yang tak menghendaki kehadirannya, tetapi ada lebih banyak orang yang menghendaki kehadirannya.

Prabowo tidak perlu bersandiwara sebagai prajurit berpangkat Letnan Jenderal, karena dia memang prajurit dan terakhir, berpangkat seperti itu. Dia tidak perlu bersandiwara seolah-olah menjadi garda depan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), karena dia melakukannya. Bahkan bertarung nyawa untuk itu.

Pun demikian dengan Sandi. Dia tidak pernah menjadi seorang saudagar kaya, karena dia memang saudagar dan kaya. Dia tidak akan berpura-pura seolah-olah menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK), karena dia pernah mengalaminya. Karenanya, kekayaan tidak menjadi penting buat Sandi.

Dan saya sangat percaya, ketika Sandi mengatakan,  "Allah telah begitu baik dengan memberikan rezeki berlebih kepada saya. Mungkin memang ini jalan yang ditunjukkan oleh Allah agar saya bisa menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang banyak."

Kalau ada pemimpin yang perlu melakukan pencitraan sesuai dengan arahan image bulders, termasuk jaringan pencipta dan pemelihara image berbayar yang juga senang mencerca dengan akun-akun palsu, Prabowo - Sandi tak memerlukan itu.

Karena keduanya bukan pemain sandiwara. Keduanya punya hak dan kewajiban yang sama dengan Jokowi - Ma'ruf. Misalnya, hak dipilih dan hak memilih, serta kewajiban berkontribusi dan mengabdikan diri kepada rakyat.

Rakyat sangat paham dan tahu, siapa pemain sandiwara yang sesungguhnya di alam nyata.. Karenanya, coba pahami lagu Panggung Sandiwara - GodBelss yang liriknya ditulis penyair Taufiq Ismail :

Dunia ini panggung sandiwara /  Ceritanya muda berubah / Kisah mahabarata atau tragedi dari Yunani / Setiap kita dapat satu peranan / Yang harus kita mainkan / Ada peran wajar ada peran berpura-pura / Peran yang kocak bikin kita terbahak-bahak / Peran bercinta bikin orang mabuk kepayang / Dunia ini penuh peranan / Dunia ini bagaikan jembatan kehidupan / Mengapa kita bersandiwara / Mengapa kita bersandiwara.. //

 

Editor : Web Administrator
 
Budaya
Sporta
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 1081
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 789
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
15 Jul 18, 07:53 WIB | Dilihat : 793
Perancis vs Kroasia Berebut Keajaiban Piala Dunia 2018
Selanjutnya