Jalan Berliku Utusan Melayu (2)

Buah Peluh Tanpa Keluh Bangsa Melayu

| dilihat 582

Bang Sèm

Surat Kabar Utusan Melayu  yang ketika terbit pertama kali 29 Mei 1939 menggunakan aksara pegon Jawi, merupakan publikasi penting. Inilah surat kabar Melayu pertama yang sepenuhnya dimiliki, dibiayai, dan dikelola orang Melayu.

Keberadaannya menandai kebangkitan dan kemajuan orang melayu sebagai suatu bangsa, sekaligus ras. Surat kabar ini terbit untuk melayani watan, bangsa, dan agama bangsa Melayu.

Penegasan itu menjadi penting, karena sebelumnya (1876-1895), surat kabar Melayu dikendalikan oleh imigran Arab dan India,  yang menerbitkan surat kabar Jawi Peranakan. Surat kabar ini diperuntukan bagi komunitas Melayu, tetapi dimiliki oleh muslim dari India Selatan.

7 November 1907, The Singapore Free Press, menerbitkan Utusan Malayu yang terbit tiga kali dalam seminggu. Lantas, terbit setiap hari, dari tahun 1915 hingga tahun 1921.

Berbeda dengan Jawi Peranakan, Utusan Malayu, menggunakan campuran aksara Jawi dan Rumi sebagai media bahasa. Romanisasi sebagian konten media ini, mempertimbangkan aspek pasar, khasnya pembaca Selat China.

Di paruh awal abad ke 20 (1930-1941), seorang sayid, Arab Ba'alwi, Assegaff memiliki dan menerbitkan Warta Malaya, yang kemudian menjadi surat kabar terkemuka pada masanya. Surat kabar ini, tak lagi terbit, setelah Utusan Melayu terbit selama dua tahun.

Utusan Melayu yang diterbitkan oleh Utusan Melayu Press Limited dengan demikian, menjadi surat kabar kedua dengan nama sangat mirip, setelah Utusan Malayu.

Joshua Chia Yeong Jia dan Nor-Afidah Abd Rahman, menulis, Eunos Abdullah adalah editor Utusan Malayu, yang terkait dengan kedua surat kabar dengan nama yang mirip, (Utusan Malayu dan Utusan Melayu) itu. Tahun 1926, Eunos mendirikan dan menjadi Presiden (pertama) Kesatuan Melayu Singapura, sebuah organisasi politik Melayu yang mempromosikan dan berkhidmat bagi kemajuan bangsa Melayu.

Organisasi ini berkembang pesat dan merupakan wadah utama kaderisasi kepemimpinan Melayu, yang kemudian memimpin Kesatuan Melayu Singapura. Mereka memotivasi bangsa Melayu untuk menghimpun modal dan mulai menerbitkan surat kabar yang sepenuhnya milik bangsa Melayu.

Tak kurang dari 20 orang dari pemimpin Melayu , pada tahun 1939, itu memproduksi dan menerbitkan surat kabar Melayu yang sepenuhnya dimiliki, dibiayai dan dikelola oleh orang Melayu secara murni. Mereka menunjuk Yusof bin Ishak, yang ketika itu berusia 27 tahun, memimpin dan mengatur pembentukan Utusan Melayu. (Baca: Utusan Melayu itu pun Akhirnya Ditalqinkan)

Yusof ditugasi mencari dana dan pelanggan dari lingkungan bangsa Melayu, di seantero Singapura dan Johor selatan, mulai dari petani, supir taksi, dan orang Melayu biasa lainnya untuk memiliki (dengan membeli saham) Utusan Melayu.

Tugas sangat berat itu dilakukan Yusof, sehingga berhasil menjual 400 saham dengan nilai total $ 4.000. Haji Ambo dan Daud menutup sisa modal yang diperlukan.

Ada peluh tanpa keluh yang bersublimasi dengan semangat bangsa Melayu mempunyai surat kabar sendiri, secara murni, di hari-hari dan jelang terbitnya Utusan Melayu. 

Dari 64 Queen Street di Singapura, surat kabar Utusan Melayu mengunjungi rumah-rumah orang Melayu, mengisi minda, ghirah dan gairah bangsa Melayu. Sekaligus menyerukan spirit perjuangan kemerdekaan bangsa Melayu untuk berdiri tegak, menggumamkan sumpah Hang Tuah, "Tak Melayu Hilang di Dunia."

Selain mengelola aspek bisnis Utusan Melayu, Yusof juga mencari jurnalis dan editor, mencari sumber pendapatan lain dari pengiklan, termasuk mendapatkan peralatan kantor dan percetakan yang diperlukan.

Selain Yusof bin Ishak, pendiri Utusan Melayu adalah adalah Yahya Abdul Rahman, Yunos Haji Daim, Osman Hassan, Haji Ambo Sooloh, Sudin Abdul Rahman, Abdullah Abdul Ghani dan Daud bin Md Shah.

Abdul Rahim Kajai menjadi editor pertama surat kabar yang diusahakan dengan modal awal $ 12.500, dimana $ 2.000 dikumpulkan pertama kali dan digunakan untuk mendaftarkan surat kabar ke registrar Perusahaan Gabungan.

Para pendiri Utusan Melayu, ini juga melakukan perjalanan -- road show -- ke Johor, Pahang, Trengganu, Selangor, dan Kelantan untuk mempromosikan dan menyebarkan surat kabar Utusan Melayu, sekaligus menghimpun respon bangsa Melayu atas surat kabar ini.

Usaha mengucur peluh ikhtiar tanpa keluh itu, berbuah baik. Pada 29 Mei 1939, surat kabar Utusan Melayu diluncurkan di tengah upacara yang terbilang megah di masanya.

Untuk pertama kalinya, Utusan Melayu dicetak sebanyak 1.000 eksemplar. Dengan pertimbangan bisnis dan respon konsumen, kemudian  dicetak 700, kemudian 600 eksemplaar. Terutama karena karena persaingan yang ketat dari Warta Malaya (1930-1941), surat kabar lain yang juga diterbitkan dalam naskah Jawi.

Utusan Melayu bergerak lebih maju dan berkembang, sehingga pada tahun 1941, telah mencapai sirkulasi harian sebanyak 1.800 eksemplar, yang dijual dengan harga 10 sen per eksemplaar, dan uang langganan tahunan sebesar $ 30,20.

Tanggal 5 November 1939, Utusan Melayu Press Limited penerbit Utusan Melayu, menerbitkan pula Utusan Zaman, satu produk media yang memuat artikel informatif dengan sketsa lucu, satire, disertai kartun.

Perkembangan Utusan Melayu menarik perhatian bangsa Melayu, karena surat kabar ini sebagian besar menerbitkan berita lokal, berkomitmen kuat pada keprihatinan perjuangan menjunjung maruah, serta menjaga kepentingan Melayu, terutama di bidang pendidikan.

Utusan Melayu tak henti memotivasi dan menggerakkan semangat bangsa Melayu, pembacanya, untuk meningkatkan kualitas sumber manusia, untuk berpartisipasi aktif dalam semua bidang kehidupan, seperti pertanian, perdagangan dan pertambangan, guna meningkatkan status sosial ekonomi mereka.

Utusan Melayu menebar kesadaran kolektif bangsa Melayu untuk maju dan berdaulat secara politik, maju secara ekonomi, dan konsisten dalam memperjuangkan nilai-nilai asasi budaya Melayu. Inilah kemudian yang menghidupkan kesadaran kebangsaan yang berdiri di atas pilar kemelayuan, keislaman, dan keilmuan.

Utusan Melayu pun berkembang menjadi ruh perjuangan politik bangsa Melayu, sekaligus menempa para insan Melayu dalam percaturan politik kebangsaan. Ini juga yang menempa kualitas kepemimpinan bangsa Melayu dalam percaturan politik berbilang kaum.

Utusan Melayu juga mengalirkan energi kebangsaan dan gencar menghidupkan gagasan Melayu Raya, tak hanya sebatas hanya di Semenanjung Malaya, meski kemudian tak bertemu 'gayung dengan tempayan,' sehingga Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, 17 Agustus 1945.

Situasi politik bergerak dinamis di jalannya sendiri. Singapura terpisah dengan Malaya. Kelak, Yusof bin Ishak yang ditugaskan memimpin Utusan Melayu, menjadi Yang di-Pertuan Negara (Kepala Negara) Singapura (1959), dan kemudian menjadi Presiden pertama Republik Singapura pada tahun 1965. Dan dia, sebagaimana halnya Utusan Melayu, terus menjadi bagian penting 'wajah' Melayu |

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Polhukam
10 Okt 19, 12:06 WIB | Dilihat : 583
Buah Peluh Tanpa Keluh Bangsa Melayu
09 Okt 19, 09:40 WIB | Dilihat : 455
Utusan Melayu itu pun Akhirnya Ditalqinkan
05 Okt 19, 07:44 WIB | Dilihat : 332
Tak Perlu Berharap Kepada Anggota (Baru) Parlemen
03 Okt 19, 19:22 WIB | Dilihat : 78
Komisaris Vijay dan Tuan Takur dalam Cermin Demokrasi
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
09 Okt 19, 08:57 WIB | Dilihat : 418
Langkah HK Membentang Masa Depan di Sumatera
04 Okt 19, 22:49 WIB | Dilihat : 180
Suap Menyuap Direksi BUMN
10 Sep 19, 14:32 WIB | Dilihat : 368
Atmosfir Pelayanan di Hutama Karya
08 Sep 19, 20:57 WIB | Dilihat : 220
Perkuat Nilai Tukar Rupiah, BI Akselerasi Pasar Keuangan
Selanjutnya