Bertarung Kata dengan Data di Debat Publik Pilkada Jabar

| dilihat 1980

Catatan N. Syamsuddin Ch. Haesy

DEBAT publik pertama Pilkada Jawa Barat 2018, Senin (12/3) malam yang digelar di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) atas kerjasama KPUD (Komisi Pemilihan Umum Daerah) dengan Kompas TV, menarik.

Acara yang dikemas Rossy Silalahi, itu mampu meramu dengan baik aspek informasi – edukasi – hiburan (entertainment) dalam satu tarikan nafas. Dimulai dan ditutup dengan penampilan apik Saung Mang Ujo dan secara langsung menjawab kekuatiran lebai sejumlah kalangan soal situasi panas dan keamanan di Jawa Barat.

Seperti pernah diungkapkan Deddy Mizwar, ketika sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat menerima berbagai komunitas rakyat Jawa Barat, Pilkada Jabar 2018 harus menyenangkan, menggembirakan dan berdimensi pendidikan politik bagi rakyat.

Suasana debat berlangsung baik. Pola perdebatan, berlangsung di atas nilai budaya Sunda. Tidak hantam-hantaman, tapi bergaya sisindiran. Suasana debat laiknya delapan orang berlainan kampung, ngawangkong – bergunemcatur – berbincang, membahas bagaimana membangun Jawa Barat ke depan.

Kendati demikian, khalayak dapat melihat dan menilai, dari empat pasangan kandidat (Ridwan Kamil & Uu, Hasanuddin & Anton, Adjat Sudradjat & Syaikhu, dan Deddy Mizwar & Dedi Mulyadi) yang tampil, siapa sesungguhnya yang paling layak dan patut memimpin Jawa Barat, sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur pada periode 2018-2023.

Pilkada Jabar 2018 itu sendiri penting, karena merupakan pemilihan pemimpin untuk menuntaskan fase akhir Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJP) - Jawa Barat 2025.

Debat itu sendiri istimewa, karena melibatkan sejumlah intelektual dan guru besar dari berbagai perguruan tinggi ternama di Jawa Barat (UNPAD, ITB, IPB, UI, UIN, UNPAR, UNPAS), dan lainnya.

Format acara debat juga menarik, karena tim kreatif Kompas TV menghadirkannya sebagai one topic show yang terdiri dari beberapa segmen dengan variasi titik pandang, sudut pandang, dan cara pandang kandidat yang beragam.

Dari keempat pasang kandidat, yang sangat siap tampil (secara dimensional) adalah pasangan Ridwan Kamil & Uu dan Deddy Mizwar & Dedi Mulyadi. Pasangan Hasanuddin & Anton dan Adjat Sudradjat & Syaikhu terkesan sangat diformat oleh tim kampanye-nya.

Ridwan Kamil & Uu sangat terlihat memainkan peran sebagai steering atas tim kampanyenya. Semua gagasan, jawaban, pertanyaan, dan beberapa snapshot pemikiran dialektis yang dikemukakannya, menggambarkan hal semacam itu. Berkutat pada sistem dan instrumentasi untuk ‘mewawar’ alias mengabarkan keunggulan-keunggulan kompetensional. Kesannya, ‘sangat Ridwan Kamil.’

Ridwan Kamil mengalami split thinktive – intuitive, ketika terjebak soal disharmoni Gubernur – Bupati – Walikota, kala menyatakan konsepnya : merangkul via WhatsApp Group, tapi dalam satu tarikan nafas menjanjikan ancaman mengurangi anggaran bantuan kepada Bupati dan Walikota yang tidak patuh.

Hasanuddin & Anton, boleh jadi terlampau sibuk ke lapangan, dan tidak matang secara konsepsional masuk ke dalam ajang debat. Anton Charlian yang ketika memangku jabatan di divisi Humas Mabes Polri mempunyai proksimitas dengan media, pada sesi debat publik pertama ini, nyaris kehilangan daya kompetensinya. 

Hasanuddin berkutat dengan leadership tanpa  aksentuasi titik berat kelemahan kepemimpinan Jawa Barat selama ini. Pola dan struktur bicaranya, khas anggota parlemen : “lontarkan dan biarkan publik merespon, yang penting nomor dan judul undang-undang dibunyikan.”

Anton, rada kikuk dengan istilah dan terminologi yang dubieus, seperti molototdotcom. Lantas main di area yang tak dikuasainya dengan baik, seperti soal Meikarta dan kasus intoleransi di Tasikmalaya. Kendati begitu, soal intoleransi berhasil memancing split of intuitive reason Uu yang segera melempar kambing persoalan kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tasikmalaya.

Hal yang sama juga dialami pasangan Adjat Sudradjat & Ahmad Syaikhu yang terlihat gamang dalam melontar gagasan-gagasan baru. Kecerdasan Adjat yang pernah menjabat Duta Besar RI di Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Kadispen Mabes ABRI, dan Direktur Jenderal di Departemen Hankam, tak nampak.

Pun demikian halnya dengan Syaikhu yang sebenarnya punya pengetahuan dan pengalaman sebagai auditor, anggota DPRD Jawa Barat, Wakil Walikota, Hafidz, dan pemimpin Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Barat.

Adjat nampak berjarak dengan persoalan substantif Jawa Barat. Syaikhu leupat akal – membanting dirinya, kala menyoal tentang pohon disarungkan di Purwakarta (hal yang sama juga dilakukan Ridwan Kamil di Bandung), dan terhempang ketika Dedi Mulyadi, balin meminta data kongkret ihwal anak-anak tak bersarung di wilayah itu.

Deddy Mizwar & Dedi Mulyadi terkesan, cukup prepare sebelum turun panggung debat. Keduanya terkesan dan tanpa beban, dan terasa kerap berdialog dan berdiskusi dengan tim kampanye. Deddy Mizwar sangat menguasai data dan sempat melakukan punch, mengoreksi soalan moderator (Rosi) soal kesenjangan sosial Jabar berbanding nasional.

Punch telak dilakukan dengan data akurat dengan taktik ciamik gaya domino effect ke arah pasangan Ridwan Kamil & UU. Dengan strategi debat yang ‘menggoda’ lawan debat, Deddy Mizwar & Dedi Mulyadi yang sangat menguasai medan – dan beberapa kali beroleh kesempatan memungkas debat -- berhasil  menunjukkan kapasitasnya sebagai pemimpin yang laik dan patut bagi Jawa Barat.

Pasangan Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi, terasa berbagi peran : siapa mengungkap apa, siapa pula ‘menekuk’ siapa. Dengan begitu, pasangan ini terkesan menguasai waktu bicara. Kendati Deddy Mizwar yang beberapa kali mengambil pause act saat turun dari kursi untuk berdiri, relatif memakan jatah waktu. Akibatnya, ketika hendak memungkas dengan pantun, waktu sudah habis.

Karena bicara dengan data, misalnya soal Meikarta, Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi bisa melontar balik pertanyaan Anton dan Hasanuddin yang ingin mendulang ‘curiga’ khalayak soal pemberian izin. Menangkap pertanyaan dan pernyataan itu, Deddy &Dedi justru diuntungkan, karena bisa segera menggunakan pola dialog penetratif ke benak khalayak.

Dari sisi image engineering – reka citra melalui debat publik, sekaligus untuk menjangkau daya nalar – naluri – dan dria khalayak – khasnya konstituen Jawa Barat,  tim kampanye Hasanuddin & Anton dan Adjat & Syaikhu, nampaknya perlu berfikir keras untuk menguasai medan dengan data.

Ridwan Kamil & Uu dan Deddy Mizwar & Dedi Mulyadi tentu akan berkompetisi menunjukkan kompetensi, serta kemampuan mengulik dan memberikan solusi atas ragam persoalan yang akan muncul dalam Debat Publik II kelak.

Bila Ridwan Kamil & Uu masih bermain hanya pada tataran sistem dan berkutat pada persoalan yang lebih cenderung urbanized, tentu akan mengundang Hasanuddin & Anton dan Adjat & Syaikhu ‘mencuri’ ruang promotif. Tentu, apabila tim kampanye kedua pasangan ini jeli melihat substansi.

Akan halnya Deddy & Dedi perlu menambah porsi dialog (dengan pendekatan intellectual excercise) dengan tim kampanye-nya untuk memperkuat kemampuan pola debat yang lebih penetratif hipodermis. Terutama, karena debat publik ditayangkan secara live oleh siaran televisi.

Secara keseluruhan, dengan debat publik yang segar semacam ini, kita sangat yakin, Pilkada Jawa Barat 2018 memang berpotensi mencerdaskan.  Apresiasi besar untuk Rosi sebagai moderator : smart, fresh, dan tepat ! Piawai mengelola kata untuk menggali fakta dan data. |

Editor : sem haesy
 
Budaya
18 Okt 18, 13:42 WIB | Dilihat : 189
Majelis Adat Bamus Betawi Mesti Kembangkan Kebudayaan
06 Okt 18, 10:24 WIB | Dilihat : 536
ISBI Bandung Garda Depan Transformasi Budaya
15 Sep 18, 01:15 WIB | Dilihat : 301
Di Tengah Pusaran Zaman Fitan
13 Sep 18, 13:36 WIB | Dilihat : 296
Isfahan - Shiraz dan Suara Hati Penyair Fatemeh Shams
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
21 Sep 18, 09:06 WIB | Dilihat : 321
Giliran Direksi Pelindo III Dirombak
20 Sep 18, 12:28 WIB | Dilihat : 550
Matamu Itu !!!
18 Sep 18, 14:31 WIB | Dilihat : 419
Kwik Kian Gie Penasihat Prabowo Sandi
Selanjutnya