Belajar dari Kiprah Gubernur Pancasilais

| dilihat 858

Opini Bang Sem

SEBERAPA sulit menghayati dan mengamalkan Pancasila? Ini pertanyaan suka hati yang disampaikan seorang sahabat, usai mengikuti upacara Peringatan Hari Kelahiran Pancasila di kampusnya.

Saya jawab bersungguh hati, sesulit membuktikan pernyataan, "Aku Pancasilais dan Aku Indonesia," tanpa pernah menyelami dan merenangi dasar sekaligus esensi Pancasila sebagai ideologi bangsa dan Indonesia sebagai bangsa, tanpa pernah merenangi sejarah yang benar dan jujur tentang Indonesia dan proses panjang pergulatannya sebagai bangsa dan negara.

Menghayati dan mengamalkan Pancasila sesulit menegaskan komitmen tentang kejujuran sebagai nafas kehidupan dan keadilan sebagai cara melayani insan sesama, sesulit memahami bahwa berkuasa itu bukan memerintah, melainkan melayani. Karenanya melayani itu mulia dan memerintah itu tak bernilai.

Seberapa mudah menghayati dan mengamalkan Pancasila di masa kini? Semudah Anies Rasyid Baswedan - Gubernur DKI Jakarta menempatkan dirinya sebagai pelayan rakyat - warga ibukota dan membuktikan sikap konsisten dan konsekuen memenuhi janji yang pernah disampaikannya saat kampanye Pilkada DKI Jakarta 2016. Janji untuk mendahulukan rakyat kebanyakan dalam mewujudkan sesanti berat: "Maju Kotanya, Bahagia Warganya."

Menghayati dan mengamalkan Pancasila dari perspektif praktik Anies Baswedan mengemban amanah rakyat bukan sesuatu yang rumit. Yaitu:

Menghayati dan mengamalkan Pancasila adalah berjuang secara kongkret mewujudkan kata-kata menjadi realita. Wujudnya? Melanjutkan dan menuntaskan perjuangan para gubernur-gubernur sebelumnya, sehingga terlihat gerak dinamika kepemimpinan kota yang kontinu. H. Ali Sadikin mewujudkan DKI Jakarta sebagai kota yang maju, modern, sehat, dan setara dengan kota lain di dunia, minimal di Asia; melanjutkan perjuangan H. Tjokropranolo mewujudkan kehidupan warga yang religius sosialistic, yang diisyaratkan dengan kesalehan personal yang jelma menjadi kesalehan sosial secara nyata; Melanjutkan perjuangan R. Soeprapto menjadikan DKI Jakarta yang tertib dan berdisiplin; Melanjutkan perjuangan Wiyogo menjadikan DKI Jakarta sebagai kota yang bersih, manusiawi, dan berwibawas; Melanjutkan perjuangan perjuangan Soerjadi Soedirja menjadikan DKI Jakarta sebagai kota yang tertib, tangguh, bersih, dan nyaman (teguh beriman) dan seterusnya;

Menghayati dan mengamalkan Pancasila adalah berjuang secara kongkret menempatkan seluruh proses pembangunan sebagai gerakan kebudayaan, yang memberi ruang proporsional dan harmonis bagi nalar, naluri, rasa dan dria. Tegas dalam menerapkan punishment, rendah hati dalam memberikan reward, teguh tegas dan berani dalam menerapkan regulasi, dan gembira dalam menyediakan ruang-ruang komunikasi untuk mewujudkan nilai dasar pancasila melalui musyawarah dan mufakat. dan konsisten mewujudkan tegaknya keadilan.

Anies Baswedan tak pernah (dan saya yakini tak akan pernah) menyatakan pada dirinya, "Aku Pancasila, Aku Indonesia." Karena Pancasilais dan patriot Indonesia sejati tak perlu 'tepuk dada tanya selera,' dalam mewujudkan nilai-nilai idiil sekaligus nilai-nilai idiologis yang terkandung di dalam Pancasila. Terutama karena dia paham bagaimana membaca sejarah dan menempatkan diri sebagai pembuat sejarah di masanya.

Karenanya, sebagai pemimpin, dia tak akan melambung terbang kala disanjung, tak pula terhuyung tumbang kala dihujat dan dibulli. Dia tahu persis bagaimana memanifestasikan sila Ketuhanan yang Mahaesa dalam laku pribadi (akhlak) dan aksi kebijakan resmi pemerintahan, seperti dia merespon sikap segelintir pimpinan DPRD DKI Jakarta yang sibuk menyoal saham Pemprov DKI Jakarta dalam bisnis bir. Anies mendahukukan air minum sehat bagi warganya sebagai prioritas. Menentang lembaga politik formal bernama DPRD? Tidak. Anies hanya melapor kepada rakyat - pemilik sah kedaulatan (les véritables détenteurs de la souveraineté populaire), bahwa para wakil yang mereka pilih melalui Pemilihan Umum lebih mendahulukan kepentingan menggunakan dana pemerintah untuk sesuatu yang lebih besar mudharatnya.

Dia mewujudkan secara kongkret bagaimana semayam di hati warga, setiap kali terjadi musibah dan petaka, menyiapkan fasilitas kesehatan, dan memuliakan warga korban petaka, antara lain dengan memikul keranda (hal ini tak akan pernah bisa dipahami oleh mereka yang miskin akalbudi). Itulah salah satu bagian sederhana dari prinsip Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

Dia membuka ruang dialog dengan siapa saja, memuliakan semua warga, tak peduli pituin atau mukimin, untuk hidup bersama dan berkontribusi kebaikan dan kebajikan di Jakarta, tanah rantauan yang berpengharapan. Merangkul semua kalangan tanpa memandang suku, agama, ras, dan golongan. Melayani semua warga, termasuk mereka yang tak mendukung, tak memilih, dan mencercanya. Sejak era Ali Sadikin, baru di era Anies, Gubernur DKI Jakarta, memastikan "tidak akan ada operasi yustisi selepas lebaran."

Dimensi kerakyatan, tak hanya diwujudkan melalui beragam program formal pemerintahan yang terumus-uraikan dalam Rencana Kerja Pemerintah - baik tahunan maupun jangka menengah (RPJMD). Tapi melalui aksi dialog dengan semua lapisan masyarakat yang diserap dan dikelola menjadi policy design. Bermusyawarah, bermufakat dalam menyerap dan menyeleksi aspirasi dan mengubahnya sebagai inspirasi. Apapun bentuknya. Tapi, ketika ada kalangan yang memaksakan kehendak untuk kepentingan dan tujuan tertentu yang merugikan kepentingan rakyat, sikapnya jelas: tegas, tegas, tegas! Seirama dengan jargon jawara: "lu jual, gue borong."

Anies Baswedan sadar, persoalan asasi Jakarta adalah ketimpangan sosial, jauhnya jarak rakyat dengan keadilan, meski proses pembangunan dengan seluruh atmosfirmya sangat dekat dengan mata dan telinga.

Di mata saya, kalau ada pemimpin yang sungguh Pancasilais kini, Anies Baswedan contoh yang nyata, yang hidup dalam lingkungan yang sungguh menghayati dan mengamalkan Pancasila. Tanpa jargon. Tanpa sesumbar. Kaum Pancasilais pasti akan memberikan dukungan kuat kepadanya menjalankan amanah rakyat, sebaliknya kaum yang Anti Pancasila pasti tak akan bosan mengganggu dan menghambatnya.

Belajar dari kiprah Gubernur Anies Baswedan memimpin DKI Jakarta dengan segala prestasi (silakan baca di beragam media), menghayati dan mengamalkan Pancasila itu, ternyata bukan sesuatu yang pelik. Sepanjang semua orang bertekad ikhlas, menempatkan kehidupan sebagai ibadah. Selebihnya adalah konsisten dan konsekuen dengan tujuan pembangunan sebagai gerakan kebudayaan: maju kotanya, bahagia warganya.

Naik kereta di stasiun gambir
Boleh turun di Pasar Minggu
Jangan serapah simpan di bibir
 
Hidup nyaman tak saling ganggu

Hadiri kenduri duduk bersila
Hati gembira makan bersama
Hayati amalkan Pancasila
 
Paduan nilai bangsa dan agama !!

(Bintaro, 1 Juni 2019)

 

Editor : Web Administrator | Sumber : foto-foto istimewa
 
Budaya
21 Agt 19, 15:14 WIB | Dilihat : 339
Tilik Literasi Betawi
07 Agt 19, 20:46 WIB | Dilihat : 571
Berguru pada Sejarah, Transformasi Elang
22 Jul 19, 16:15 WIB | Dilihat : 502
Dimensi Kaum Betawi
Selanjutnya
Lingkungan