Becermin pada Hatta

| dilihat 278

Bang Sem

Tahun 1928 tak hanya melahirkan Sumpah Pemuda yang menjadi komitmen asasi bagi bangsa ini untuk hanya menyatakan tanah air, bangsa, dan bahasa Indonesia, yang mencerminkan kesadaran patriotik, kebangsaan, dan kebudayaan. Pada tahun itu, rakyat juga mempunyai kitab perlawanan bertajuk Indonesië Vrij.

Salahdua Proklamator Indonesia, Dr. Mohammad Hatta, menyebut hal ini pada artikelnya bertajuk :”Demokrasi Asli Indonesia dan Kedaulatan Rakyat,” di media Daulat Rakyat No. 12  (10 Januari 1932).

Tiga hal dikemukakan dalam kitab perlawanan itu yang disiapkan sebagai asas kebangsaan Indonesia Merdeka, itu.

Pertama, cita-cita persatuan yang hidup dalam sanubari rakyat Indonesia yang tak pernah luput dari zaman ke zaman;

Kedua, cita-cita pergerakan rakyat (massa-protest) sebagai hak rakyat untuk membantah dengan cara umum segala peraturan negeri yang dipandang tidak adil. “Inilah yang menjadi dasar tuntutan kita, supaya mendapat kemerdekaan bergerak dan berkumpul bagi rakyat!”

Ketiga, cita-cita tolong menolong melalui kooperasi sebagai dasar perekonomian Indonesia.

Hatta mengemukakan, karena dasar-dasar demokrai bergerak mengikuti perkembangan zaman, maka berlaku teori dan prinsip Kedaulatan Rakyat.. Kata kuncinya adalah opbouwend, kehendak kolektif untuk memperbaiki keadaan.

Sepanjang perjalanan sejarah sampai Indonesia Merdeka, kita memahami, perjuangan kebangsaan didasari oleh tiga keunggulan yang pernah dimiliki. Yaitu: Cita-cita yang memotivasi perjuangan secara lurus;  Logika yang bernas untuk berinteraksi dengan perubahan, sehingga tangkas dalam menentukan cara menggerakkan perubahan ke arah lebih baik; dan, Nurani kebangsaan yang arif dalam memberi hak kepada rakyat di segala ruang, termasuk hak untuk mengkritik dan melawan.

Dalam konteks itu, demokrasi berorientasi kedaulatan rakyat, bukan merupakan alasan untuk berebut kekuasaan, melainkan bagaimana cara untuk mencapai harmoni kebangsaan. Basisnya adalah musyawarah mufakat, dengan kesadaran utama, seluruh negarawan, politisi, dan pemimpin rakyat beraksi untuk mewujudkan tanggungjawab: mendidik rakyat.

Karenanya, kemerdekaan Indonesia mendahulukan tiga hal pokok yang belum kesampaian secara paripurna untuk mengusung Indonesia Raya. Yaitu : kecerdasan rakyat yang setara, kemakmuran yang berkeadilan, dan ketangguhan menghadapi perubahan (mulai dari perubahan cepat – revolusi, perubahan dramatik – transformasi, dan perubahan lamban – reformasi).

Meski sudah 73 tahun merdeka, kita masih membuat bangsa ini, belum sungguh mencerminkan apa yang dikemukakan Bung Karno dalam konteks Triçakti : berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi, dan unggul dalam peradaban.

Para petinggi partai politik dan pemerintahan, belum sungguh menjadi negarawan yang sama berkomitmen kuat melakukan transformasi demokrasi, dan masih sibuk dengan konsolidasi demokrasi. Belum mampu ‘mengukur baju di badan.’

Apa pasal? Kita belum mempunyai kecerdasan dan kearifan berdemokrasi, karena kesadaran kita berdemokrasi, masih tereduksi oleh persoalan amat praktis pragmatis (yang selalu mengundang politik transaksional). Masih sibuk dalam polarisasi kalah – menang, lantas saling tuding soal salah – benar.

Peristiwa demokrasi, seperti Pemilihan Umum (baik legislatif maupun eksekutif) masih sibuk dengan urusan beradu kuat dalam mempengaruhi rakyat. Bukan beradu kebajikan yang berdampak langsung pada kemakmuran rakyat.

Para petinggi partai politik dan politisi, masih sibuk berkutat dengan urusan-urusan elementer soal bagaimana mempertahankan dan merebut kekuasaan. Kita nyaris abai, bahwa kaki sudah berjejak di abad ke 21, dan anak-anak kita (kaum millenial) sudah terasuh oleh nilai global.

Kita nyaris tak pernah sadar, akan tiba arus besar perubahan nilai yang dibawa generasi baru dalam asuhan emak-emak yang berkesadaran politik tak terbayangkan.

Emak-emak yang melihat perubahan tidak lagi harus melalui layar televisi, melainkan perubahan asasi yang terjadi setelempap ruang bernama dapur, kamar mandi, dan kamar tidur. Ruang-ruang privat dan domestik yang menjadi indikator ekonomi dan mengusik kesadaran untuk menilai kecakapan pemerintah menggerakkan politik ekonomi negara.

Dalam konteks itulah, menjemput momen pemilihan pemimpin nasional, melalui Pemilihan Umum serempak (Pemilihan anggota legislatif dan Pemilihan Presiden Wakil – Presiden) 2019, kita harus mengubah minda (tata pikir).

Becermin pada pandangan Hatta, tiba masa kita berfikir – bersikap - bertindak : bagaimana menentukan cara memperbaiki kondisi bangsa, dan bukan bagaimana mencari alasan pembenaran atas ketidakmampuan mengatasi persoalan bangsa, yang terasa hingga ke dapur dan kamar mandi. |

 

#Jumoyo, September 2018

Editor : Web Administrator
 
Energi & Tambang
01 Agt 18, 13:45 WIB | Dilihat : 2609
Mendulang Kemandirian di Blok Rokan
05 Des 17, 20:09 WIB | Dilihat : 643
Kelola Sumberdaya Alam secara Efisien
19 Des 16, 10:43 WIB | Dilihat : 1078
Perlu Kesadaran Kolektif untuk Efisiensi Energi
Selanjutnya
Sainstek
19 Jul 18, 09:52 WIB | Dilihat : 1002
Volante Vision, Visi Kendaraan Udara Aston Martin
20 Feb 18, 12:07 WIB | Dilihat : 1883
Tragedi Archimides di Tangan Serdadu
10 Jan 17, 15:25 WIB | Dilihat : 609
Honda Kembangkan Teknologi Motor Pintar
23 Des 16, 05:31 WIB | Dilihat : 575
Menanti Kehadiran Penghasil Listrik Berteknologi Nano
Selanjutnya