Bara Semangat Kebangsaan Adinegoro dari Talawi

| dilihat 1908

Catatan Bang Sem

KUNJUNGAN Presiden Joko Widodo (Jokowi) -- beserta ibu negara dan sejumlah menteri -- ke sebuah rumah gadang di Talawi - Sawah Lunto – Sumatera Barat, Kamis (8/2/17), pukul 14.30 wib dalam rangkaian peringatan Hari Pers Nasional 2018, punya makna khas.

Di rumah gadang itu lahir dan dibesarkan dua tokoh nasional yang punya makna sangat khas pula dalam sejarah Republik Indonesia, yaitu Mohammad Yamin dan adik seayahnya, Adinegoro.

Muhammad Yamin dalam perspektif imagineering, adalah satu dari sedikit imagineer yang berperan besar dalam menggerakkan visioneering Indonesia. Beliau adalah salah satu dari sedikit pejuang Indonesia yang terlibat dalam proses perumusan gagasan dasar negara bersama Ir. Soekarno dan Dr. Soepomo, yang kemudian menjelma dalam Pidato Bung Karno 1 Juni 1945 tentang Pancasila, di penghujung persidangan pertama BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

Muhammad Yamin juga yang menjadi salah seorang pelopor Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928 yang mempengaruhio pemikiran tentang Persatuan Indonesia, yang kelak menjadi sila ketiga dalam rumusan Pancasila. Satu-satunya sila dari lima sila yang menggunakan awal per untuk menegaskan realitas Indonesia yang plural dan multikultur.

Akan halnya Adinegoro, adik seayahnya adalah tokoh pejuang Pers Indonesia, yang menegaskan pers Indonesia sebagai pers perjuangan. Adinegoro, menurut cucunya, Medrial Alamsjah – mantan aktivis mahasiswa dan pengamat kebijakan publik yang sangat kritis – bernama aseli Djamaluddin Datuk Maharajo Sutan.

Adinegoro adalah nama samaran yang dikenakannya, ketika masih sebagai mahasiswa Stovia untuk beragam karya tulis yang dilahirkannya.

Nama samaran Adinegoro itu dipakai, karena Djamaluddin dilarang mengungkapkan pemikiran dan sikapnya melalui tulisan yang dipublikasikan melalui media.

Kala itu, nama samaran menjadi salah satu cara pejuang republik untuk bersiasat menghadapi represi pemerintah Hindia Belanda.

Kata Adinegoro sendiri bermakna negara utama, artikulasi lain dari Madinatul Munawwarah buah pikir Al Farabi yang mendunia itu. Dari Adinegoro lahir berbagai karya monumental yang menggugah dan memotivasi anak bangsa. Antara lain : Darah Muda, Asmara Jaya, dan Melawat ke Barat.

Adinegoro kemudian hijrah ke Berlin dan mengenyam pendidikan selama empat tahun di sana. Di Berlin, Adinegoro mendalami ilmu jurnalistik, sekaligus mempelajari ilmu kartografi, geografi, politik, dan geopolitik. Dari keragaman ilmunya ini, Adinegoro menjadi pembuat atlas Indonesia pertama.

KETIKA masih menjadi mahasiswa di Jerman, Adinegoro sudah menjadi koresponden Pewarta Deli (Medan), Bintang Timur, Panji Pustaka, dan Cahaya Hindia.

Kembali ke tanah air, Adinegoro terus berkiprah sebagai jurnalis, dan bergabung di Panji Pustaka, lalu memimpin majalah itu selama enam bulan. Kemudian, pindah ke Pewarta Deli – Medan dan menjadi pemimpin media itu, selama sepuluh tahun (1932-1942). Selepas itu, sempat memimpin Sumatra Shinbun, tetapi ditinggalkannya.

Lalu, bersama Dr. Soepomo – Adinegoro memimpin majalah Miumbar Indonesia (1948-1950), setahun kemudian Adinegoro memimpin Yayasan Pers Biro Indonesia. Terakhir, Adinegoro menjadi jurnalis di Kantor Berita Nasional yang kemudian terkenal sebagai Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, bersama Adam Malik. Adinegoro juga memimpin surat kabar Kedaulatan Rakyat.

Perjuangan berat dan kehidupan ekonomi yang pas-pasan, didampingi isterinya Alidar – temannya sesama mahasiswa Stovia, puteri Sulit Air - Solok  --, yang dinikahinya pada 25 Agustus 1932, Adinegoro melahirkan dua karya momumentalnya berbentuk roman: Darah Muda dan Asmara Jaya.

Karya jurnalistik Adinegoro, sangat tajam dan elegan. Lewat tajuk Pewarta Deli, Adinegoro sudah menyoroti tentang kolonialisme, perjuangan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia, juga tentang pendidikan nasionalisme.

Kelincahannya menggunakan bahasa, membuat Adinegoro selalu mampu lolos dari perangkap pemerintah Hindia Belanda, termasuk hatzai artikelen yang mudah memerosokkan siapa saja ke penjara. Artinya, meski pandangan kritisnya yang tajam selalu terpublikasi, belanda tak bisa menjeratnya dengan pasal-pasal Persbreidel Ordonantie.

Lewat tulisan-tulisannya, Adinegoro yang selalu diawasi pemerintah kolonial Belanda, itu terus menyerukan gerakan kebangsaan, mendorong rakyat Sumatera mengambil alih pemerintah dari Jepang dan memekikkan proklamasi kemerdekaan. Terutama, karena Adinegoro ditugaskan sebagai kepala Komite Nasional Sumatera di Bukittinggi, selepas proklamasi kemerdekaan.

Adinegoro juga mendirikan Penerbit Djambatan yang menerbitkan berbagai buku, selepas Konferensi Meja Bundar (KMB) di DenHaag, 1949.

Masyarakat Indonesia beroleh pencerahan dari tulisannya tentang Irian Barat, laporan jurnalistiknya dari Sidang Umum PBB di New York – Amerika Serikat (1957) yang khusus membahas tentang hal itu.

Sebagai sasterawan, menurut Ajip Rosidi, Adinegoro merupakan sastrawan Indonesia yang berani melangkah lebih jauh menentang adat lama perkawinan, seperti tercermin dalam karyanya Darah Muda dan Asmara Djaja.

Dalam Polemik Kebudajaan, Adinegoro juga terlibat. Dalam tulisannya bertajuk Kritik atas Kritik, itu Adinegoro memandang bahwa suatu budaya tidak dapat dipindah-pindahkan, karena di setiap bangsa telah melekat tabiat khas yang tak dapat ditiru bangsa lain. Amsalnya yang paling beken adalah, “Pohon rambutan tak kan berbuah mangga.”

KUNJUNGAN Presiden Jokowi disambut gembira para ninik mamak dan keluarga besar Adinegoro, termasuk putera almarhum (Adi Warsita Adinegoro) dan cucu beliau (Medrial Alamsjah).

Menurut Medrial, seperti diberitana berbagai media, Jokowi satu-satunya presiden yang melakukan kunjungan ke kediaman yang bersejarah itu. Sangat membanggakan bagi keluarga, ninik mamak dan masyarakat Talawi umumnya.

Tapi, Medrial berharap, kunjungan tersebut tidak hanya sekedar seremoni. Keluarga besar Adinegoro berharap pemerintah dan insan pers memahami dan menjalankan makna yang terkandung dari nama Adinegoro.

Di dalam nama itu, ungkap Medrial, tersimpan simbol independensi, kebebasan, kreativitas dan semangat perjuangan kebangsaan.

Semangat itu yang terus dipelihara keluarga dan untuk menebar semangat itu kepada masyarakat, kepada Presiden Jokowi, putera almarhum, Adi Warsita Adinegoro menyerahkan 500 buku karya almarhum.

Keluarga almarhum berencana mengubah rumah gadang tempat kelahiran dan masa kanak-kanak Adinegoro menjadi museum, supaya masyarakat luas beroleh informasi dan pencerahan yang jelas dan terang benderang tentang pejuang pers Indonesia itu.

Kalangan pers Indonesia sendiri, setiap tahun melakukan pemilihan karya terbaik (sesuai dengan standar jurnalistik dan dampak baiknya kepada masyarakat) penulisan jurnalistik untuk memperoleh Penghargaan Adinegoro.

Darah pejuang Adinegoro yang kritis dan tegas, tercermin pada sikap Medrial, yang dalam beragam pemikiran dan tulisannya menunjukkan integritas dirinya yang independen, merdeka, dan berani memanifestasikan tanggungjawabnya terhadap bangsa dan negara.

Akun facebook Medrial tak pernah luput menyikapi dan menyoroti secara kritis berbagai fenomena dan kebijakan pemerintah untuk satu komitmen yang juga terang benderang : meluruskan yang bengkok, menjernihkan yang keruh. Medrial yang wajahnya mirip dengan wajah kakeknya, itu terbilang salah seorang intelektual yang mandiri dan tangkas menyikapi perubahan.

Bara semangat kebangsaan dari Talawi, yang terpancar dari beragam pemikiran, sikap, dan tindakan Adinegoro masih sangat relevan dan diperlukan, di era ketika kebebasan pers mulai mengalami kontaminasi. Terutama karena dominannya pengaruh industrialisasi pers, dengan formasi: multiplatform, multimedia, dan multichannel.

Para jurnalis Indonesia kini dan nanti, perlu banyak mendalami semangat perjuangan kebangsaan, kepiawaian jurnalistik, dan keteguhan sikap dari Adinegoro, untuk tetap mampu merawat Indonesia di jalannya yang benar.

Dekat berjarak dengan penguasa. Cerdas bijaksana dalam bersikap. Lantang dan kritis dalam menyuarakan keberpihakan kepada rakyat. Dan.. jangan berhenti menulis. Bukan jurnalis, tanpa menulis. |

Editor : sem haesy | Sumber : berbagai sumber
 
Humaniora
19 Feb 18, 14:03 WIB | Dilihat : 19602
Anies Memang Harus Dihadang untuk Turun
14 Feb 18, 12:10 WIB | Dilihat : 1319
Politik Hijab di Iran
03 Feb 18, 11:29 WIB | Dilihat : 1103
FORHATI : Berantas LGBT Cegah Kerusakan Bangsa
28 Jan 18, 00:02 WIB | Dilihat : 1294
Sendiri
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
14 Jan 18, 20:51 WIB | Dilihat : 1019
Quo Vadis Politik Pangan Nasional
26 Des 17, 12:32 WIB | Dilihat : 523
Kelola Sendiri Terminal 3 Bandara Soekarno - Hatta
01 Nov 17, 17:04 WIB | Dilihat : 1220
Jalan Panjang Pengaturan Transportasi Online di Indonesia
06 Okt 17, 14:55 WIB | Dilihat : 1315
Sistem dan Keunggulan
Selanjutnya