Ayang-Ayang Gung di Pilkada Jawa Barat 2018

| dilihat 803

PILKADA Jawa Barat 2018 menjadi sangat dramatik. Dinamikanya bergerak begitu cepat, selepas Partai Golkar menarik dukungan kepada Ridwan Kamil, dan mengalihkannya kepada Dedi Mulyadi – Ketua DPD Partai Golkar yang juga Bupati Purwakarta.

Ridwan Kamil yang belum memutuskan bakal pendampingnya sebagai bakal calon Wakil Gubernur, masih memperoleh dukungan dari Partai Nasdem, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang semula mengusung Deddy Mizwar, menarik diri dan mencalonkan Mayjend (TNI-Purn) Sudrajat. Deddy Mizwar yang masih menjabat Wakil Gubernur Jawa Barat, saat ini diusung Partai Demokrat untuk maju sebagai Calon Gubernur.

Presiden PKS, Sohibul Iman, ketika mengumumkan pasangan Calon Gubernur Jabar Sudrajat – Syaikhu, Rabu (27/12/17), mengklaim, Partai Amanat Nasional (PAN) juga berkoalisi mendukung pasangan calon gubernur dan wakil gubernur mereka.

Belakangan, pernyataan Sohibul Iman, ditepis oleh Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), Zulkifli Hasan. Saat menyampaikan Refleksi Akhir Tahun 2017 di hadapan wartawan parlemen di Jakarta (Jum’at, 29/12/17) Zulkifli yang juga Ketua MPR, itu memastikan PAN belum mengambil keputusan resmi soal dukungan kepada bakal calon kepada daerah di Pilkada Jawa Barat 2017.

Namun, Zul menegaskan, sejak awal dia sudah jatuh hati dengan Deddy Mizwar yang diusung Partai Demokrat. Walaupun sudah berjumpa dengan Sudrajat, Zul menyatakan, sejak awal dia sudah mendeklarasikan diri mendukung Deddy Mizwar dan Ahmad Syaikhu, sebagaimana Partai Demokrat.

Dukungan Grerindra dan PKS kepada Sudrajat dan Syaikhu, itu menimbulkan masalah. Menurut Zul, kedua partai itu tidak mencapai kesepakatan dengan Deddy Mizwar, tanpa menjelaskan, apa kesepakatan yang tak berhasil dicapai itu.

Zul bisa memahami Gerindra menarik dukungan, karena Deddy Mizwar adalah kader Partai Demokrat. Karena Syaikhu kader PKS yang kemudian dipasangkan dengan Sudrajat usulan Gerindra, normal saja kalau PKS juga menarik diri dan bersekutu dengan Gerindra.

Bagi Zul, tak ada masalah. PAN, katanya, mengusung Deddy Mizwar sebagai calon gubernur Jawa Barat dalam Pilkada Serentak 2018, tanpa syarat. PAN hanya meminta, kesungguhan Deddy bekerja untuk melayani rakyat Jawa Barat. Deddy Mizwar siap untuk itu. Soal mahar politik, Zul berkelakar menyebut, sebotol air zamzam dan satu kilogram kurma.

Kendati demikian, Zul juga menjelaskan, PAN tidak bisa mengusung sendiri, sehingga harus berkoalisi dengan parpol lainnya. Ketika mendeklarasikan usungan dan dukungan kepada Deddy Mizwar di kedai makan Raja Sunda – Jalan Djundjunan – Bandung (Rabu, 25/10/17).

Ketika itu Zul lantang menyatakan, “Hari ini kita umumkan calon gubernur PAN untuk Pilkada Jawa Barat adalah Deddy Mizwar.” Deklarasi itu sendiri dilakukan setelah terjadi gentlemen agreement antara Zul dengan Deddy Mizwar.

Ketika itu juga Zul menyatakan, usungan dan dukungan PAN kepada Deddy Mizwar, karena banyak ulama dan organisasi kemasyarakatan yang mendesak PAN untuk mencalonkan Deddy Mizwar. Zul menyatakan, sejumlah tokoh masyarakat memberikan masukan kepadanya, yang menilai Deddy Mizwar adalah sosok yang disukai masyarakat.

Kini, tentu Zul harus mempertimbangkan secara matang sikap politik partainya. Sikap PAN, ketika itu spontan mendapat respon dari banyak kalangan yang menyebut PAN sebagai partai jantan, yang berani mengambil sikap ketika belum banyak partai lain bersikap.

Tentu, PAN tak akan menghianati ulama, tokoh masyarakat, dan ormas-ormas yang telah menyalurkan aspirasi dan mendesaknya mencalonkan Deddy Mizwar.

Ketika PAN tetap konsisten mendukung Deddy Mizwar, akan membuat PAN kian ‘kinclong’ sebagai partai yang tidak mencla-menclé dan sungguh-sungguh merupakan partai modern yang hanya punya kepentingan melayani dan mendidik rakyat.

Hubungan Deddy Mizwar sendiri dengan PAN bukanlah baru. Deddy pernah mengarahkan langsung bersama Joko Santoso HP (kreator logo PAN) dalam pembuatan iklan kampanye PAN dalam Pemilu 2004.

Afni Ahmad, Mantan pengurus PAN dan anggota DPR RI dari PAN menilai, partai-partai yang menarik dukungan dari Deddy Mizwar sebagai partai pemburu kekuasaan semata.

“Mereka kurang peka melihat realitas politik yang ada di lapisan akar rumput, yang dibina dan berinteraksi dengan Deddy Mizwar selama beberapa tahun terakhir,” ujar Afni.

Salah seorang pendiri Perkumpulan UMA (Usaha Memajukan Anakbangsa), ini menduga, partai-partai itu berfikir, seakan-akan kemenangan Anies – Sandi yang mereka usung di Jakarta, sepenuhnya karena mereka. Lantas mereka ingin ‘memaksakan’ hal itu di Jawa Barat, kemudian dengan mudah mengingkari kesepakatan.

“Saya kira mereka salah duga. Kemenangan Anies – Sandi di Jakarta karena kuatnya gerakan politik ekspresif yang melihat figur Anies sebagai tokoh yang mampu menyalurkan aspirasi dan layak menerima amanat politik mereka,” ujar Afni.

Afni mengemukakan, Deddy Mizwar itu tokoh dan sudah menjadi ikon yang mampu menyerap gerakan politik ekspresif, itu. Bila Deddy berpasangan dengan Dedi Mulyadi (realitas paling obyektif), memang harus ada kerja keras yang harus dilakukan Deddy Mizwar. Antara lain, menguatkan komitmen religiusitas yang lurus dan normal-normal saja.

Dalam Pilkada, figur itu penting. Lapisan akar rumput pendukung Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi memang tak sama, ibarat rel kereta api. Di sini, posisi PAN menjadi penting.

Terutama menjadi telangkai, karena Partai Demokrat dan Partai Golkar juga harus menahan diri untuk tidak menurunkan orang-orang yang dalam Pilkada DKI Jakarta lalu, tak memperoleh simpati dan empati umat.

PAN juga akan punya peluang strategis, bila ada gejala PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) hengkang dari koalisi Ridwan Kamil, bila Walikota Bandung itu tidak mengakomodasi aspirasi PKB yang mencalonkan Imanulhaq sebagai calon Wakil Gubernur.

PDIP sendiri, yang bisa melenggang sendiri tanpa koalisi, dapat menentukan calon Gubernur dan Wakil Gubernur sendiri. Irjen Pol Anton Charlian – mantan Kapolda Jabar dan Iwa Karniwa - Sekda disebut-sebut masuk dalam bursa. Tapi, PDIP agaknya akan memainkan perannya menjelang batas akhir pendaftaran Calon Gubernur dan Wagub ke KPUD Jawa Barat, pekan kedua Januari 2018.

Boleh jadi, drama politik Pilkada Jabar 2018, akan seperti lirik lagu Sunda: Ayang Ayang Gung, dengan sedikit mengubah lirik: Ayang ayang gung / Gung goongna rame / Menak ki mas tanu / Nu jadi wadana // Naha maneh kitu / Tukang olo-olo / Loba anu giruk / Ruket jeung kumpeni / Niat jadi pangkat / Katon kagorengan / Ngantos kanjeng dalem / Lempa lempi lempong / Ngadu pipi jeung nu ompong / Jalan ka Pakuan ngemplong // | Catatan Bang Sem

Editor : sem haesy | Sumber : berbagai sumber
 
Sainstek
19 Jul 18, 17:47 WIB | Dilihat : 178
Volante Vision, Visi Kendaraan Udara Aston Martin
20 Feb 18, 12:07 WIB | Dilihat : 1815
Tragedi Archimides di Tangan Serdadu
10 Jan 17, 15:25 WIB | Dilihat : 544
Honda Kembangkan Teknologi Motor Pintar
23 Des 16, 05:31 WIB | Dilihat : 519
Menanti Kehadiran Penghasil Listrik Berteknologi Nano
Selanjutnya
Polhukam
19 Jul 18, 02:01 WIB | Dilihat : 195
Karena Kita Adalah Rakyat
26 Jun 18, 08:14 WIB | Dilihat : 1133
Jadikan Suara Pemilih Pilkada Berarti
24 Jun 18, 00:18 WIB | Dilihat : 566
Pilih Yang Paling Siap Melayani Rakyat Jawa Barat
Selanjutnya