Tinjauan Khas LDP Jepang

Audit Budaya Parpol dan Ormas

| dilihat 285

Catatan Jeehan

Organisasi apapun, termasuk partai politik dan organisasi kemasyarakatan, perlu secara berkala melakukan audit budaya. Terutama bagi organisasi yang sudah berusia di atas dua dasawarsa.

Terutama ketika organisasi tersebut tak lagi beroleh respon positif dari khalayaknya, dan menghadapi persoalan kepercayaan. Organisasi yang menghadapi krisis kepercayaan, bahkan dari lingkungan anggota atau masyarakatnya sendiri, akan mengalami jalan buntu.

Apalagi, ketika organisasi itu hanya menjadi sekadar alat memperebutkan kekuasaan dan terombang-ambing oleh persoalan amat elementer : dukung-mendukung para kandidat politik.

Organisasi (politik atau kemasyarakatan) mesti melakukan audit budaya untuk menanamkan integritas dan marwah organisasi yang akan berdampak jauh pada independensinya. Meski harus memilih jalan yang tak populer.

Hanya organisasi yang punya budaya pemenang yang mampu melakukannya. Dan budaya pemenang, hanya akan mungkin terjadi dan mewujud, bila selalu ada kesadaran dari pemimpin dan pengurusnya, bahwa melahirkan, merawat dan mempertahankan budaya pemenang itu penting.

Harvard Management merekomendasikan audit budaya sebagai salah satu cara jitu mengubah cara pemimpin, pengurus, dan anggota suatu organisasi (khasnya organisasi kemasyarakatan) berfikir tentang organisasinya, kemudian mengubah perilaku kebiasaan (community habit) mereka.

Audit budaya diperlukan untuk memahami keunikan dan nilai yang kuat, sekaligus mengakar pada organisasi tersebut, sekaligus menyegarkan ingatan seluruh pemangku kepentingan organisasi tersebut tentang apa yang menjadi alasan dan tujuan organisasi itu (organisasi politik dan organisasi kemasyarakatan) itu dibentuk. Sekaligus menemukan kembali warisan baik yang pernah dicapai oleh organisasi itu.

Audit budaya memandu pemimpin, pengurus, dan anggota organisasi menemukan kembali nilai-nilai dasar perjuangan yang hilang dari mereka.

Kemudian menghidupkan, lalu mengembangkan nilai dasar perjuangan itu melalui beragam diskusi dan riset yang mendalam secara internal.

Audit budaya dilakukan dengan menilai kembali korelasi visi dengan tujuan organisasi, lalu menemukan faktor-faktor yang menjadi vision killer (pembunuh visi) dalam suatu kurun waktu tertentu.

Audit budaya akan memandu pemimpin, pengurus, dan anggota organisasi menemukan kembali dan menghidupkan ikon budaya organisasi, termasuk pernyataan visi organisasi. Tak terkecuali wawasan yang dilahirkan oleh suasana batin, ketika organisasi didirikan.

Tentu, audit budaya dilakukan untuk menemukan faktor - faktor yang membuat terjadinya kelemahan dalam menerapkan budaya organisasi tersebut. Sekaligus mengidentifikasi beragam kelemahan yang membuat organisasi tersendat. Bahkan mengalami rintangan besar ketika harus melakukan perubahan dramatik (transformatif).

Melalui audit budaya akan ditemukan kembali ruh atau jiwa organisasi. Aksi audit budaya dilakukan oleh Liberal Democratic Party (LDP) - Jepang, usai mengalami kekalahan pada Pemilihan Umum 2009, yang merupakan kekalahan terburuk pada sejarah Jepang Modern. Tahun itulah, LDP terpaksa harus melakukan transfer kekuasaan politik kepada DPJ (Democratic Party of Japan).

Sebelum kekalahan itu, sebagai partai yang berkuasa LDP berhasil membangun Jepang sebagai negara yang sangat layak diperhitungkan sebagai negara berpengaruh dalam percaturan internasional. Pemerintahan yang dibentuk LDP berhasil mempertahankan kemakmuran negara, kendati perekonomian mengalami masa suram.

Tapi, mengapa DPJ mampu menumbangkan dominasi LDP? Koalisi partai penantang ini, berhasil mengintip celah LDP yang mengalami persoalan internal. Khasnya, ketika faksi-faksi yang berada di dalamnya saling unjuk taring dan berebut 'naik angin.'  Mereka tak belajar banyak pada kekalahan tahun 1993, karena berhasil memulihkan dominasi mereka melalui konsolidasi selama hampir setahun kemudian. Tapi kemenangan balik itu justru membuat kompetisi antar faksi secara internal makin jadi.

DPJ sebagai penantang tak pernah henti menanamkan budaya pemenang, menitikberatkan pada disiplin berpartai dan loyalitas penuh terhadap partai dan pemimpin yang mereka pilih secara demokratis. DPJ melakukan perubahan sistem secara internal dan terus-menerus secara tanpa henti, membuktikan semua kritik mereka terhadap pemerintahan LDP, benar menurut rakyat dan bukan benar menurut para pemimpin, pengurus dan anggota partai.

Hasilnya? LDP tumbang, hanya berhasil mencapai 119 kursi dari 480 kursi yang tersedia.

Hasil audit budaya yang dilakukan oleh LDP, mendapatkan berbagai persoalan budaya organisasi yang sudah lumayan parah.  Kelemahan budaya yang mendasar adalah abai melihat persoalan internal dan sulit membangun soliditas. Terutama ketika perilaku dan budaya politik para pemimpin dan pengurus partai yang pro Amerika Serikat dan pro bisnis yang berisiko terhadap perang dingin, jauh dari aspirasi rakyat.

Perilaku pemimpin dan pengurus dan gerakan partai yang lari dari budaya dasarnya yang berbeda dengan perubahan asasi dalam budaya politik Jepang, mendorong berbagai organisasi non partai dan organisasi kemasyarakatan, bergerak intensif dan serempak, memperlihatkan buruknya budaya LDP. Terutama ketika dengan kekuasaannya, mereka mengubah tradisi yang keberpihakan kepada rakyat.

Peluang ini berhasil diambil oposan, DPJ. Terutama, ketika LDP lengah pada pertengahan dekade 1990-an yang menyerukan reformasi sistem demokrasi yang tak sesuai dengan budaya Jepang. Audit budaya akhirnya menemukan penyakit kultural yang parah, yakni para pemimpin dan pengurus lari dari nilai-nilai dasar perjuangan yang menjadi budaya partai sejak 1955. Yakni, membangun "segitiga besi"  antara politisi - birokrat - dan bisnis yang berbahaya bagi Jepang keseluruhan.

Apalagi, akibat "segitiga besi" itu muncul persoalan besar yang bertentangan dengan aspirasi rakyat Jepang kala itu, yakni : pembiayaan murah untuk bisnis besar, kontrak kerja formalistik untuk perusahaan konstruksi - yang menyebabkan pembiayaan pembangunan ionfrastruktur tidak efisien dan menghambat kelancaran mobilitas barang - jasa dan orang. Lantas, terkuranginya lapangan pekerjaan untuk rakyat, dan dikuranginya subsidi untuk petani, serta tidak bergeraknya mesin partai secara proporsional dan fungsional.

Spirit yang tersimpan dalam budaya organisasi LDP - yang dikenal dengan Spirit 15 November 1955, hoshu godo sebagai perekat aliansi konservatif, yang menjadi ruh LDP, terabaikan.

Kemakmuran rakyat yang berhasil diciptakan LDP, lantas seperti tak berarti, karena tergerus oleh budaya partai yang mengalami kontaminasi. LDP yang punya supremasi dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi tingkat tinggi yang secara historis belum pernah terjadi sebelumnya, justru tak mampu lagi meningkatkan standar hidup rakyat di dalam negeri. LDP sibuk membuat Jepang menjadi anggota penting dari komunitas internasional.

Para pemimpin, pengurus dan anggota LDP -- setelah melakukan audit budaya -- akhirnya sadar, bahwa perubahan tanpa henti adalah satu-satunya yang diabaikan. Terutama, karena LDP keluar dari track-nya.  Apalagi, ketika itu, kewajiban dan tanggung jawab Jepang dalam komunitas internasional, ditambah dengan perubahan tren dalam kondisi ekonomi dan sosial negara, mengharuskan tanggapan kebijakan baru, dan tak mungkin direspon.

LDP kehilangan budayanya memahami dan memanifestasikan prinsip dasar demokrasi yang dianutnya, dan kehilangan kreativitas. Apalagi, ketika Perdana Menteri dan para pengurus partai lebih kerap sibuk dengan pencitraan diri. Abaik menutup celah yang memungkinkan mereka terperosok ke kubangan fantasi.

Audit budaya telah memandu pemimpin, pengurus, dan rakyat melihat dengan jelis sistem yang dihasilkan faksionalis LDP akhirnya bergantung kepada kondisi tertentu yang sangat mempengaruhi ketahanannya. Itulah kemudian yang menjadi fokus pemimpin LDP kemudian.

Dalam konteks Indonesia, kita boleh bertanya, seberapa jauh PDI P, Partai Golkar, PPP, PKB, dan Nasdem telah melakukan audit budaya internal partainya. Lantas bagaimana friksi dengan partai-partai baru dalam koalisi, khasnya PSI dan Perindo punya pengaruh terhadap ketahanan koalisi mereka kini? Pun demikian denga ormas-ormas yang sejalan dengan mereka.

Akankah mereka memenangkan Pemilu Raya 2019? |

Editor : sem haesy | Sumber : Harvard Management, LDP, dan sumber lain
 
Humaniora
06 Des 18, 12:07 WIB | Dilihat : 186
Reuni Mujahid 212 Referensi Relasi Rakyat dengan Media
05 Des 18, 00:03 WIB | Dilihat : 199
Seonggok Batik Berwiru
04 Des 18, 10:28 WIB | Dilihat : 236
Gairah dan Ghirah Mujahid Mujahidah 212
24 Nov 18, 23:10 WIB | Dilihat : 308
Qanaah dalam Berkeluarga
Selanjutnya
Polhukam
10 Des 18, 16:18 WIB | Dilihat : 45
Ihwal Gagasan Sandiaga Uno Membangun Tanpa Utang
06 Des 18, 09:43 WIB | Dilihat : 217
Anies Baswedan Pemimpin Pas di Masa Sungsang
06 Des 18, 00:08 WIB | Dilihat : 170
TNI Mesti Tumpas Pemberontak Papua Merdeka
Selanjutnya