Asa di Akhir Kekuasaan Obama

| dilihat 257

WASHINGTON, AKARPADINEWS.COM | PRESIDEN Amerika Serikat (AS), Barack Obama, tak lama lagi akan meninggalkan Gedung Putih. 20 Januari 2017, posisinya sebagai orang nomor satu di negeri Paman Sam, digantikan Donald Trump.

Di sisa waktu yang singkat, Obama tak lagi bisa menginisasi terbitnya kebijakan-kebijakan baru yang strategis. Namun, dia memiliki kesempatan untuk memoles citranya sebelum jabatannya berakhir lewat serangkaian langkah populis.

Jelang lengser dari kursi kekuasaan, beberapa langkah populis dilakukan Obama. Misalnya, dia berjanji akan membalas tindakan Moskow yang dituduh meretas sistem jaringan komputer Komite Nasional Demokrat (DNC) dan email pribadi Ketua Kampanye Hillary Clinton, John Podesta.

Hasil penyelidikan FBI menyebut, Rusia diduga berupaya mempengarui hasil pemilihan Presiden AS dan memenangkan Donald Trump, yang bersaing dengan calon presiden yang diusung Partai Demokrat, Hillary Clinton. FBI membeberkan sampel-sampel kode komputer yang digunakan intelijen Rusia untuk melakukan peretasan.

Lantaran itu, Obama mengusir 35 diplomat Rusia dan menerapkan sanksi ke badan intelijen Rusia. Langkah Obama itu diamini senator dari Republik maupun Demokrat. John McCain, senator Republik menilai, AS perlu mengambil tindakan lebih tegas karena Rusia melancarkan serangan terhadap AS.

Namun, juru bicara Donald Trump, Sean Spicer, membantah tuduhan tersebut. Dia menegaskan, tidak ada bukti yang menunjukan keterlibatan Rusia dalam mempengarui hasil Pemilihan Presiden AS yang digelar 8 November 2016 lalu.  

Trump juga menganggap terlalu dini tuduhan itu diarahkan kepada Rusia. Dia mengaku tidak mengetahui sehingga tidak bisa memastikan kebenaran laporan intelijen yang menyebut Rusia melakukan peretasan.

Di bawah kendali Trump, Pemerintah AS nampaknya akan menurunkan tensi konfrontasi dengan Rusia. Trump sendiri mengapresiasi kepemimpinan Presiden Rusia, Vladimir Putin. Berbeda dengan era Obama. Hubungan diplomatik AS-Rusia, terus memburuk. Dalam berbagai isu, kedua negara itu seringkali saling tuding. Dalam pusaran konflik di Suriah misalnya. AS-Rusia berada pada posisi yang saling berhadapan.

Pejabat AS pernah menyebut Rusia bertanggungjawab atas serangan terhadap kendaraan yang mendistribusikan bantuan makanan dan obat-obatan untuk warga sipil yang terjebak di Kota Aleppo. Dua pesawat Rusia, Sukhoi SU-24, dilaporkan terbang di atas konvoi bantuan.

Moskow membantah telah melancarkan serangan. Kementerian Pertahanan Rusia menganggap, tuduhan itu menebar kebencian dan memicu kemarahan. Moskow mengklaim, belasan truk yang mengangkut bantuan kemanusiaan itu dibakar oleh militan yang dipersenjatai dengan mortir berat.

Langkah populis Obama juga adalah mendorong perdamaian antara Palestina dan Israel. Lewat Menteri Luar Negeri John Kerry, Pemerintah AS mengutuk Israel yang membangun permukiman di Tepi Barat karena merusak upaya perdamaian yang diinsiasi sekian lama oleh AS.

*****

AS menyerukan Israel dan Palestina hidup berdampingan sebagai dua negara berdasarkan wilayah yang diduduki sebelum Perang Enam Hari Tahun 1967. AS juga ingin Yerusalem diakui sebagai ibu kota kedua negara dan menyerukan internasional untuk tidak mengakui Israel sebagai negara Yahudi.

Pemerintahan Obama nampaknya frustasi lantaran ikhtiar yang dilakukan untuk mendamaikan Palestina-Israel, dihadapi jalan buntu. Bahkan, nyaris diambang bahaya. "Kami selama bertahun-tahun sekuat tenaga telah berusaha (mendamaikan). Kini (Palestina-Israel) dalam bahaya serius," kata Kerry. "Kita menyaksikan harapan perdamaian sirna."

Berbeda dengan awal kali Obama berkuasa. Dia menegaskan, AS dan Israel memiliki hubungan yang tak terpisahkan. Kedua negara pun membangun kerjasama militer, dan membentuk US-Israeli Joint Political Military Group dan Defense Policy Advisory Group, serta meningkatkan jumlah kunjungan petinggi militer antar kedua negara.

Obama juga mendorong Kongres mengalokasikan anggaran untuk mendanai program Kubah Besi sebagai respon terhadap serangan roket Palestina ke Israel. Di tahun 2011, AS juga pernah memveto resolusi DK PBB yang mengutuk pembangunan permukiman Israel. Di era Trump, AS diharapkan tetap melakoni peran mediasi guna mendamaikan Palestina dan Israel.

Mengampuni Snowden

Hal lain yang diharapkan pada Obama adalah memberikan pengampunan pada dua whistleblower, Edward Snowden dan Chelsea Manning, yang membongkar skandal spionase yang dilakukan Badan Intelijen AS (NSA). Jika pengampunan itu diberikan, maka akan menjadi warisan yang selalu dikenang dari Obama.

Snowden, mantan kontraktor NAS, diketahui membocorkan informasi seputar program intelijen AS. Dia didakwa mencuri informasi pertahanan nasional secara tidak sah. Snowden kini mendapat suaka di Rusia. Dia menolak untuk diadili di AS karena dijerat Undang-Undang Spionase 1917.

Snowden telah meminta Obama untuk mengampuninya. Petisi yang ditandatangani ratusan ribu orang juga menyuarakan pengampunan terhadap Snowden juga telah diajukan ke Obama. Namun, Gedung Putih menolak petisi itu. Snowden mengaku mencintai AS dan keluarganya. Snowden dinilai tidak layak menghadapi hukuman penjara yang panjang, apalagi hukuman mati.

Sementara Manning yang telah 35 tahun bertugas menyediakan dokumen pemerintah, dituduh membocorkan informasi ke WikiLeaks. Bekas prajurit yang disebut sebagai penghianat negara itu divonis 35 tahun penjara atas tuduhan membocorkan 700 ribu dokumen rahasia, termasuk kabel diplomatik dan file intelijen militer ke Wikileaks.

Mantan Jaksa Agung Eric Holder menilai, tindakan Snowden adalah bagian dari pelayanan publik. American Civil Liberties Union (ACLU), Human Rights Watch (HRW), Amnesty International dan mantan direktur kebebasan sipil untuk Gedung Putih juga menyerukan agar Snowden dan Manning diberikan pengampunan demi kemanusiaan dan keadilan. Apalagi, Manning diketahui mencoba bunuh diri dua kali. Pelapor khusus PBB juga menyebut perlakuan terhadap Manning sangat tidak manusiawi dan merendahkan martabat manusia.

Dengan mengampuni Snowden dan Manning, termasuk pejabat lainnya yang dituduh membocorkan informasi kepada wartawan, maka Obama mewarisi preseden penting di penghujung kepemimpinannya.

Pengampunan terhadap Snowden dan Manning, diharapkan sedikit menghapus "dosa" soal skandal kegiatan spionase yang dilakukan intelijen AS yang memicu kemarahan dunia.

Aksi mata-mata itu diungkap Snowden dengan mempublikasikan dokumen rahasia tentang program Planning tool for Resource Integration Synchronization and Management (PRISM) kepada wartawan The Guardian dan The Washington Post saat kunjungannya ke Hongkong, 6 Juni 2013.

PRISM yang dibentuk tahun 2007 sebenarnya warisan pemerintahan Presiden George W Bush. Namun, bisa dikatakan, Obama terkena getahnya lantaran aksi mata-mata itu terbongkar. Dari laporan Snowden, terungkap jika AS melakukan kegiatan mata-mata di lebih dari 38 kantor kedutaan di seluruh dunia, di antaranya Turki, Italia, Jepang, Prancis, Meksiko dan Korea Selatan. AS juga menargetkan Uni Eropa (UE) yang menjadi sekutu utama AS.

Salah satu kantor delegasi UE yang dibidik adalah Yunani dan Prancis, termasuk kantor perwakilan UE di Washington dan New York. Intelijen AS juga memata-matai Kantor UE di Brussels, Belgia, guna mengetahui informasi yang dirundingkan negara-negara yang menjadi anggota UE. Snowden menyebut kegiatan spionase terhadap UE itu dilakukan sejak tahun 2010.

Caranya, dengan membajak mesin fax dan menyusup ke jaringan komputer kantor UE di Washington lewat program yang disebut Dropmire. Aksi spionase itu kemudian berlanjut ke kedutaan besar beberapa negara di UE seperti Jerman, Italia, Yunani dan Prancis. Jerman adalah negara yang paling diincar. Tidak kurang dari 20 juta sambungan telepon dan 10 juta data internet dari Jerman diakses setiap harinya oleh NSA lewat PRISM. AS juga melakukan pengintaian terhadap lalu lintas internet, terutama di Kolombia, Venezuela, Brazil, dan Meksiko.

Pengampunan terhadap Snowden dan Manning juga perlu dilakukan lantaran ada kekhawatiran jika Trump tergoda untuk menyalahgunakan kekuasaan dengan memanfaatkan kegiatan intelijen. Trump juga pernah melayangkan penghinaan kepada pers sehingga penting bagi Obama membuat pernyataan tegas akan pentingnya kebebasan pers di AS.

Perlindungan Imigran Muda

Di tahun 2012, Obama pernah mengeluarkan kebijakan untuk melindungi sekitar 750 ribu imigran muda yang tidak memiliki dokumen agar tidak dideportasi. Imigran muda yang dijuluki dreamers itu masuk ke AS secara ilegal, bukan karena kesalahannya.

Usai berakhirnya jabatan Obama, mereka dihantui ancaman deportasi. Pasalnya, sebagai presiden, Trump bisa membatalkan perintah eksekutif sebelumnya. Meski demikian, Obama setidaknya bisa memberikan jaminan penangguhan deportasi seperti kebijakan penangguhan kedatangan imigran anak (DACA).

Pihak Demokrat telah meminta Obama untuk memberikan perlindungan karena konstitusi tidak membatasi Presiden memberikan pengampunan pada seseorang yang melakukan tindak pidana.

Bahkan, Mahkamah Agung memutuskan, kongres tidak dapat menggunakan cara apapun jika presiden menggunakan kekuasaannya untuk memberikan pengampunan. Itu berarti Obama bisa melindungi imigran muda dari setiap pelanggaran hak-hak sipil.

Hal itu sekaligus memberikan ruang bagi kubu Republik di Kongres untuk memperbaiki secara permanen jalur pengurusan status kewarganegaraan bagi para migran muda. Selama delapan tahun berkuasa, Obama telah mendeportasi banyak imigran, dengan jumlah yang lebih besar daripada presiden sebelumnya. Karenanya, di akhir masa kekuasaannya, melindungi para dreamers dari deportasi adalah langkah yang akan menuai apresiasi.

Desakan perlindungan terhadap imigran muda ilegal juga disampaikan sejumlah wali kota di AS. Mereka mendesak Trump mempertahankan kebijakan yang mempertahankan imigran muda ilegal agar tetap bisa tinggal dan bekerja di AS. Jika kebijakan itu dihapus, maka dapat membahayakan ekonomi AS.

Wali Kota Chicago, Rahm Emanuel dalam surat yang juga ditandatangani Wali Kota New York, Los Angeles, dan Houston menyebut, sekitar US$9,9 miliar pendapatan pajak akan hilang selama empat tahun dan sekitar US$433,4 miliar GDP akan habis dalam 10 tahun jika Trump menghapus kebijakan yang diwarisi pemerintahan Obama. Di AS, ada lebih dari 700 ribu imigran muda di AS yang tidak memiliki dokumen. Mereka mendapat tempat di AS lewat kebijakan DACA.

Namun, kemenangan Trump di Pemilihan Presiden, menguburkan mimpi para imigran yang ingin hidup sejahtera di AS. Trump yang alergi dengan imigran, menyebabkan banyak imigran yang mengurungkan niatnya ke negeri Paman Sam.

Di bawah kepemimpinan Trump, Pemerintah AS memperketat kontrol dan menindak tegas imigran yang berstatus ilegal, apalagi yang memiliki rekam jejak sebagai penjahat.

Dalam wawancara dengan CBS, Trump berjanji akan mendeportasi, bahkan memenjarakan tiga juta imigran ilegal di awal memimpin AS. Para imigran yang ditargetkan adalah mereka yang tercatat dalam kejahatan seperti anggota geng dan pengedar narkoba.

Menurut catatan kongres AS, ada sekitar 178 ribu imigran ilegal yang memiliki catatan kriminal di tahun 2010. Trump juga akan merealisasikan rencananya membangun dinding yang membatasi AS dengan Meksiko.

Diperkirakan, 11 juta imigran gelap tinggal di AS, yang sebagian besar berasal Meksiko. Trump pun berjanji akan mengontrol secara ketat wilayah perbatasan. Dan, saat kampanye, Trump berjanji membatalkan amnesti yang diberlakukan Obama.

Tersedianya lapangan pekerjaan, menjadi alasan para imigran berbondong-bondong ke AS. Motivasi itu sering dimanfaatkan pelaku kejahatan penyelundupan manusia. Para pencari kerja juga kerap dipalak dengan biaya sekitar U$4 ribu per orang untuk mendapat tiket menuju AS.

Imigran dari Meksiko misalnya. Mereka berduyun-duyun melintasi perbatasan AS-Meksiko. Menurut surat kabar El Universal Meksiko, ada satu juta orang melintasi kawasan perbatasan. Sekitar 400 ribu mobil dan 15 ribu truk, setiap hari melintasi kawasan perbatasan.

Dari tahun ke tahun, jumlah imigran dari Meksiko ke AS yang meningkat, menyisahkan persoalan yang menghantui warga AS seperti kejahatan, penyalahgunaan narkotika, pengangguran, konflik, pembunuhan, pemerkosaan, hingga munculnya gang-geng kekerasan.

Pemerintah AS telah jauh hari menyadari persoalan tersebut. Karenanya, di tahun 1951, dibangun dinding pembatas di perbatasan. Dinding perbatasan itu berdiri, dengan panjang 2.000 mil (3.200 km), ketinggian 25 kaki, tebal, yang mengikuti medan berbatu dari barat dan timur kota.

Di luar dinding pembatas di sisi wilayah AS, terdapat kamera dan sensor. Dengan begitu, aparat dapat melacak dari jarak jauh pergerakan para imigran. Aparat imigran AS juga aktif berpatroli.

Meski dibatasi dinding pembatas dan kontrol yang ketat, banyak imigran gelap mampu menembusnya. Mereka dapat menuju California, Arizona, New Mexico, dan Texas. Para imigran ilegal dapat menyusup lantaran bantuan para penyelundup (coyote) yang mengetahui jalur-jalur tikus untuk menghindari jerat aparat imigrasi. Karenanya, ada pula imigran yang tidak peduli dengan ancaman Trump yang akan mendeportasi, bahkan memenjarakan imigran.

Hal penting lainnya adalah meninjau kerjasama nuklir proliferasi dengan Rusia. Setelah Rusia menginvasi dan mencaplok Crimea pada tahun 2014, Pemerintahan Obama menangguhkan kerjasama dengan perusahaan energi nuklir Rusia, Rosatom.

Langkah itu dilakukan karena tidak ada jaminan dari Rusia jika bahan-bahan nuklir yang berbahaya itu tidak akan beralih ke kelompok teroris. Karenanya, menjadi tepat jika kerjasama scientist to scientist Departemen Energi AS (DOE) dan Rosatom ditinjau ulang.

Warisan Obama

10 Januari nanti, Obama akan menyampaikan pidato perpisahan, sekaligus merefleksikan perjalanan delapan tahun kekuasaannya. Dia akan menyampaikan pidato itu di kota asalnya, Chicago.

Obama telah memastikan transisi kekuasaan berjalan dengan lancar, meski dirinya berada dalam posisi yang berseberangan dengan Trump. 11 November 2016 lalu, Obama dan Trump menggelar pertemuan sekitar 90 menit di Ruang Oval di Gedung Putih, yang menjadi sentral kekuasaan pemerintahan AS itu.

Usai pertemuan yang terkesan canggung itu, Trump menilai Obama sebagai orang yang baik. Dia pun mengajak Obama untuk bekerjasama. Trump kerap menuding Obama yang dikesankan lemah dalam memerangi terorisme. Sebaliknya Obama menyindir Trump yang nihil pengalaman dan pengetahuan di bidang hukum dan pemerintahan.

Obama menganggap Trump lebih berpengalaman mengurusi kontes ratu kecantikan sejagat (Miss Universe). Trump, politisi berlatarbelakang pengusaha itu memang lebih memahami bisnis properti, hiburan, pariwisata, hingga perjudian.

Delapan tahun berkuasa, Obama mewarisi banyak hal untuk negaranya. Setelah dilantik sebagai Presiden AS ke-44, 20 Januari 2009 lalu, Obama mengeluarkan sejumlah perintah eksekutif dan memorandum presiden. Misalnya, perintahnya agar dilakukan penarikan militer AS dari Irak dan penutupan kamp penahanan Teluk Guantanamo.

Dia juga mendorong parlemen mengesahkan Undang-Undang yang mereformasi layanan kesehatan. Produk legislasi itu diarahkan untuk memperluas cakupan asuransi kesehatan, membatasi kenaikan premi, dan memberikan jaminan kepada masyarakat usai berhenti atau berganti pekerjaan. Pemerintahan Obama juga menganggarkan US$900 miliar selama 10 tahun dan membuat rencana asuransi pemerintah untuk bersaing dengan sektor asuransi swasta, dengan tujuan menekan biaya pelayanan kesehatan.

21 Maret 2010, The Patient Protection and Affordable Care Act atau lebih dikenal Obamacare, disetujui Senat. Kebijakan itu menjadi landasan hukum bagi pemerintah memperluas cakupan pelayanan kesehatan dan memberikan insentif untuk perusahaan yang menyediakan tunjangan layanan kesehatan.

Anggaran Obamacare ditopang dari pajak, retribusi, pajak Medicare untuk orang-orang berpendapatan tinggi, pemotongan anggaran program Medicare Advantage, dan penalti pajak untuk warga yang tidak memiliki asuransi kesehatan, kecuali yang berpendapatan rendah. Dengan Obamacare, biaya pelayanan kesehatan di AS yang dikenal sangat mahal, menjadi lebih terjangkau.

Di era kepemimpinan Obama, kehidupan warga AS pun makin baik. Apresiasi warga AS itu terekam dari hasil jajak pendapat lembaga survei terkemuka, Gallup. Padahal, saat Obama terpilih menjadi presiden di akhir tahun 2008, perekonomian AS tengah terpuruk. Pesimisme menguat kala itu terhadap kepemimpinan Obama. Hasil survei Gallup menunjukan, sebanyak 62 persen responden mengapresiasi kepemimpinan Obama lantaran berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Obama juga menuai apresiasi warganya setelah CIA, berhasil mengakhiri hidup Osama bin Laden. Osama dianggap sebagai dalang teror 11 September 2001 lalu. Dia tewas dalam penggerebakan yang dilakukan tim khusus yang dikerahkan AS, di tempat tinggalnya, di Abbottabad, Pakistan, 2 Mei 2011 lalu.

Warga AS seakan berpesta mendengar kabar kematian Osama yang hampir satu dekade menjadi buronan AS dan sekutunya. Mereka berkumpul di luar Gedung Putih dan di New York City Times Square untuk merayakan kematian Osama.

Osama dituding sebagai pihak yang paling bertanggungjawab atas serangan 9 September 2001, yang menurut tim investigasi 911, menewaskan sekitar 3.000 jiwa. Obama menganggap, kematian Osama sebagai bentuk penegakan keadilan. Meski ditegaskannya, AS tidak menyatakan perang terhadap Islam, hanya melawan pelaku pembunuhan massal.

John Brennan, Direktur CIA, dalam pernyataannya mengklaim, operasi intelijen itu terbesar sepanjang sejarah. CIA telah mengantongi informasi jika jejak Osama di Abbottabad sejak Agustus 2010.

Meski Osama telah tiada, Al-Qaeda, jaringan teroris yang dibentuknya, telah berhasil menciptakan sebuah busur jihad yang membentang dari Afrika Barat sampai Asia Tenggara. Organisasi itu memiliki jaringan di 60 negara. Al-Qaeda menjadi garda terdepan, gerakan para jihadis yang memerangi pemerintahan yang dianggap murtad.

Obama juga berhasil memulihkan hubungan AS dengan Kuba yang selama 54 tahun terputus. Obama telah bertemu dan Presiden Kuba, Raul Castro, untuk membicarakan pemulihan hubungan diplomatik kedua negara.

Upaya rujuk itu menunjukan arah positif. Itu terlihat dari kebijakan Pemerintah Kuba yang mengizinkan Pemerintah AS membuka kembali Kedutaan Besar di negaranya. Obama dan Raul Castro kali pertama bertemu saat menghadiri pemakaman tokoh anti apartheid di Afrika Selatan, Nelson Mandela, di Stadiun First National Bank (FNB) di Johannesburg, 11 Desember 2013 silam. Saat menuju podium guna menyampaikan pidato, Obama menyalami Raul Castro. Jabat tangan kedua pemimpin itu disaksikan sejumlah pemimpin dunia lainnya yang hadir di acara pemakaman Mandela itu dan jutaan penghuni dunia. Pertemuan itu menebar sinyal persahabatan antara Obama dan Raul Castro.

Kesepakatan dengan Kuba menandai prestasi besar bagi Obama yang telah dikritik lemah dalam mengimplementasikan kebijakan luar negerinya, terutama di Timur Tengah, khususnya terkait perjanjian nuklir dengan Iran. Paus Fransiskus disebut-sebut berperan penting dalam mencairkan hubungan AS-Kuba.

Meski menunjukan ada upaya pemulihan hubungan, namun ada sandungan yang bakal menggajal. Kuba masih dianggap AS sebagai negara yang mensponsori terorisme. Belum lagi keputusan politik kubu Konservatif di Kongres AS yang menolak keinginan Obama agar mencabut embargo terhadap Kuba yang telah berlangsung selama 53 tahun.

Namun, AS memiliki kepentingan menjaga keamanan, khususnya terkait pangkalan Angkatan Laut AS di Kuba, Guantanamo Bay, yang pernah digunakan sejak tahun 1903. Sedangkan Kuba menginginkan 45 mil persegi (116 km persegi) dari garis pantai menjadi wilayah kedaulatannya. Di era kepemimpinan Obama, Pemerintah AS mencabut kebijakan pembatasan larangan berpergian bagi warganya, termasuk pengiriman uang ke Kuba. Rakyat Kuba menyambut positif kebijakan Obama tersebut. | M. Yamin Panca Setia

Editor : M. Yamin Panca Setia | Sumber : Reuters/AFP/CNN
 
Sainstek
10 Jan 17, 15:25 WIB | Dilihat : 152
Honda Kembangkan Teknologi Motor Pintar
23 Des 16, 05:31 WIB | Dilihat : 272
Menanti Kehadiran Penghasil Listrik Berteknologi Nano
16 Des 16, 07:34 WIB | Dilihat : 390
Oasis, Mobil Unik dengan Kebun Mini
11 Nov 16, 14:21 WIB | Dilihat : 877
Motochimp, Si Mungil yang Unik
Selanjutnya
Sporta
12 Okt 17, 09:39 WIB | Dilihat : 939
Golf Memadupadan Olah Raga dengan Olah Rasa
12 Okt 17, 06:56 WIB | Dilihat : 462
Perkumpulan UMA Gelar Unity Golf Tournament 2017
16 Jan 17, 11:59 WIB | Dilihat : 762
Tim Elit Membidik Lallana
05 Jan 17, 10:12 WIB | Dilihat : 165
Laga Pembuktian Si Rubah
Selanjutnya