Menilik Drama Politik September Malaysia (1)

Anwar Ibrahim Sang Aktor

| dilihat 166

Bang Sém

ANWAR Ibrahim memang piawai menjadi aktor politik yang pandai juga memberi penghiburan. Lagi, dia mainkan opera sabun politik bulan September.

Pada masanya, ketika masih aktif di ABIM (Angkatan Belia Islam Malaysia) Anwar merupakan sosok kader pemimpin Malaysia yang 'menjanjikan' harapan.

Ide-denya cemerlang. Dia berkolaborasi dengan sejumlah aktivis dan kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) - Indonesia, lantas mendirikan Perhimpunan Mahasiswa Islam Asia Tenggara (Permiat).

Dia menilik sistem perkaderan HMI dan meraciknya dengan model-model kaderisasi partai politik Barat yang lebih relevan dengan kebutuhan Malaysia.

Ketika itu, dia melirik Partai Al-Islam Se-Malaysia (PAS) sebagai jalur untuk menapaki karir politik. Tapi, Anwar hanya memanfaatkan sebagai panggung belaka.

Mahathir Mohammad melihat potensi dia, lalu merekrutnya masuk ke dalam UMNO (United Malay Nation Organization), partai kaum Melayu yang sedang memerlukan gerakan aksi ke-Islam-an yang lebih kontemporer.

Sebagai politisi muda, kala itu, Anwar menunjukkan kecerdasannya dan wawasannya yang luas.

Dia 'pelahap' aneka buku dan pengetahuan (politik, ekonomi, sosial, buyaya dan agama), dan piawai mengartikulasikannya. Kemampuan retorikanya luar biasa. Pertemanannya dengan sejumlah aktivis HMI, memungkinkannya karib dengan sejumlah tokoh Islam Indonesia yang juga berpengaruh di Malaysia.

Karir Anwar melejit sampai menjadi Wakil Perdana Menteri Malaysia merangkap Menteri Keuangan II, mendampingi Mahathir Mohammad sebagai Perdana Menteri (PM).

Kala itulah, ambisinya menjadi Perdana Menteri (PM) menggebu, dengan posisinya, dia bersiasat untuk dirinya sendiri. Termasuk menjalin hubungan politik dengan koleganya di Eropa dan Amerika Serikat.

Dia juga memperkuat jaringannya dengan kalangan pengambil keputusan di lingkungan Bank Dunia dan International Monetary Fund (IMF).

Ia berselisih paham dengan politisi senior Malaysia, Abdul Ghafar Baba dan banyak kalangan.

Di dalam negeri, Anwar ketika berkuasa, menguatkan pengaruhnya atas media. Dia berteman dengan tiga jurnalis senior, yang kemudian dikenal dengan "3 budak Melayu," yang memainkan peran mengendalikan Utusan Melayu (yang berubah menjadi Utusan Malaysia), New Strait Times dan TV3.

Tapi, ketika ketiga koleganya terkena punishment politik oleh Mahathir, Anwar lepas tangan.

Anwar  menempa kader-kader muda militan yang kemudian menjadi 'anak-anak ideologis'-nya seperti Ezam M. Nor dan Azmin Ali. Keduanya menjadi anak-anak ideologis yang taat dan bahkan taqlid, sampai Anwar terpental, dipecat dari Partai UMNO dan pemerintahan (2 September 1998).

Terutama karena berbeda pandangan yang tajam dengan Mahathir Mohammad dalam menghadapi krisis ekonomi 1996-1998.

Di luar pemerintahan, bersama anak-anak ideologis-nya, yang menyiapkan 'anak-anak politis'-nya melalui berbagai NGO (baca: LSM) untuk mengadopsi gerakan reformasi di Indonesia dalam Gerakan Keadilan Rakyat  (GERAK) Malaysia.

Arus gerakan reformasi kemudian menyatu dalam Pergerakan Keadilan Sosial (ADIL), lantas mengambil partai kecil Ikatan Masyarakat Islam Malaysia (berdiri sejak 1990), yang kelak bertumbuh menjadi Partai Keadilan Nasional (dideklarasikan 4 April 1999).

Anwar dan koleganya, seperti Raja Petra (kini bermukim di London, Inggris) juga berhasil mempengaruhi aktivis Partai Rakyat Malaysia atau Partai Ra'ayat Malaysia (PRM) yang beraliran sosialis (berdiri sejak 11 November 1955) yang dipimpin Mohammad Hashim bin Saaludin. 

Partai Keadilan Nasional dan Partai Rakyat Malaysia bergabung dan menjadi Partai Keadilan Rakyat (PKR) yang disahkan oleh mahkamah pada 3 Agustus 2003.

Anwar berulang kali dipenjarakan karena kasus pribadinya (kebenaran kasus yang sebenarnya hanya Wan Azizah Wan Ismail - isterinya, Anwar Ibrahim sendiri dan Allah Subhanahu wa Ta'ala saja yang tahu).

Penahanan Anwar menjentik sisi sentimental rakyat Malaysia yang cenderung melodius.

Para propagandis partai, semacam Ezam Nor yang mempunyai logika dan gaya retorika model Anwar Ibrahim berhasil menghidupkan simpati, empati, dan respek terhadap perjuangan reformasi partai yang dipimpin oleh Wan Azizah Wan Ismail.

Lewat penetrasi hipodermis dengan fokus di Permatang Pauh (Penang), basis pemilihan Anwar Ibrahim, PKR berhasil mengantarkan Wan Azizah ke parlemen. Berbagai aksi dramatik dengan dramatisasi yang terjaga di halaman mahkamah, selepas pengadilan Anwar, kian membesarkan simpati PKR.

Para anak ideologis Anwar juga menyiapkan anak biologis Anwar, Nurul Izza yang juga terlatih dengan situasi, dan piawai menggetarkan emosi dan perasaan rakyat.

Lewat daerah pemilihan Lembah Pantai, Kuala Lumpur, Nurul Izza berhasil melangkah ke parlemen sebagai anggota Dewan Rakyat, mengalahkan lawannya, Shahrizat Abdul Jalil - Menteri Pembangunan Wanita dan Keluarga dari UMNO, pada Pilihan Raya Umum (PRU) XII - 2008.

Kemenangan Izza  mengakhiri karir politik Shahrizat, karena pada PRI XIII, Izza masih memenangkan hati rakyat di Lembah Pantai, ini.

PRU XII mengguncang perpolitikan Malaysia.

PKR yang ketika itu membentuk Pakatan Rakyat bersama DAP (Democratic Action Party) pimpinan Lim Kit Siang dan PAS pimpinan Hadi Awang, mengalahkan Barisan Nasional (UMNO, MCA, MIC, Gerakan) pimpinan Abdullah Badawi. 5 dari 9 Negeri jatuh ke tangan Pakatan Rakyat.

Pulau Penang berhasil mereka rebut dan mendudukkan Lim Guan Eng sebagai Ketua Menteri di sana, yang kemudian menyingkirkan dan mempersempit ruang gerak kaum melayu.

Anwar Ibrahim sendiri keluar dari penjara dan memperoleh hak politik lagi. Dia beroleh peluang dari Wan Azizah, istrinya yang mundur dari parlemen.  

Pilihan Raya Kecil (PRK) bersifat lokal berlangsung di Permatang Pauh, pada Agustus 2008. Anwar memenangkan pemilihan itu dengan mengalahkan rivalnya Mazlan Ismail (UMNO/BN) dan Abdullah Zawawi Samsudin (BEBAS).  Anwar kembali ke parlemen.

Hari pertama mengikuti persidangan Anwar sudah melontarkan berbagai isu panas. Ketika itu saya menulis artikel tentang performanya kembali ke parlemen, bertajuk "Tupai Jatuh di Lompatan Pertama."

Anwar pandai memainkan isu, termasuk Opera September, ketika dia memaklumkan bakal menjadi Perdana Menteri di jelang pergantian Perdana Menteri, kala Abdullah Badawi (Pak Lah) terus menerus didesak mundur oleh sejumlah politisi muda BN/UMNO, dipelopori Mukhriz Mahathir.

Pak Lah, lantas, digantikan Mohd Najib Tun Razak, anggota parlemen dari Pekan - Pahang, Wakil Perdana Menteri yang berhasil mempertahankan posisinya dan BN/UMNO di beberapa cawangan.  

Najib menjabat PM dengan wakil Muhyiddin Yassin.

Kemudian, Najib mengadopsi sejumlah 'anak ideologis' dan 'kawan ideologis' Anwar Ibrahim dengan memberinya berbagai posisi. Ezam M. Nor diangkatnya menjadi Senator di Dewan Negara, beberapa lainnya diberikan porsi jabatan secara proporsional, termasuk sebagai Duta Besar.

Mahathir Mohammad memainkan peran sebagai "grandpa chatty in our homes" bagi BN/UMNO dan tak pernah berhenti 'ngomel' menyerang PM Najib secara berkelanjutan. Serangan Mahathir menimbulkan friksi dan kemudian konflik di dalam BN/UMNO, sampai kemudian dia keluar.

PRU XIII - 2013, BN masih memerintah. Sebagai PM, Najib didampingi Muhyiddin Yassin yang menjabat wakilnya.

Pakatan Rakyat dan Mahathir, terus menggempur Najib dengan berbagai isu panas, khasnya pada kasus rasuah (korupsi) 1MdB yang menjadi skandal terbesar sepanjang sejarah Malaysia.

Anwar kembali masuk penjara di Sungai Buluh untuk kasus pribadinya setelah dinyatakan bersalah oleh mahkamah.

Wan Azizah terus bergerak bersama Lim Kit Siang (DAP). PAS memisahkan diri dari Pakatan Rakyat.

Di tubuh UMNO, friksi antar para petinggi menghadap berbagai isu mutakhir tak terhindarkan. Najib lebih suka mendengar omongan Sekretaris Jendral UMNO, Tengku Adnan Tengku Mansor.

Muhyiddin dicopot Najib dari posisi sebagai Wakil Perdana Menteri dan melantik Ahmad Zahid Hamidi menggantikannya.

Kondisi di dalam UMNO/BN makin goyah dan rapuh.

Muhyiddin keluar dari UMNO/BN dan mengkritik Najib, isu 1MdB yang memang hot.

Mahathir sebagaimana halnya Wan Azizah dan Lim Kit Siang, berkolaborasi dengan anak-anak muda berbilang kaum yang menggerakkan aksi demonstrasi massal besar-besaran di Kuala Lumpur (Bersih 1.0 sampai Bersih 3.0). |

Editor : Sem Haesy | Sumber : berbagai sumber
 
Energi & Tambang
Seni & Hiburan
06 Okt 20, 11:37 WIB | Dilihat : 238
Warkah Pelangi di Ujung Cakrawala
03 Sep 20, 21:13 WIB | Dilihat : 341
Cerita Seputar Alterasi Seni Rupa - Seni Tari
26 Agt 20, 09:04 WIB | Dilihat : 381
Tilik Indonesia Gaya Bu Tedjo
25 Jul 20, 17:36 WIB | Dilihat : 632
Butong Tak Bisa Pisah dengan Akordeon
Selanjutnya