Anies – Sandi Role Model Kepemimpinan Politik

| dilihat 1074

Catatan Bang Sem

KEPEMIMPINAN Anies – Sandi dalam kapasitasnya sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, bagi saya merupakan teladan baik yang perlu dicontoh.

Lebih dari tiga bulan memimpin ibukota negara ini, tak hanya keduanya memenuhi janji-janji politik yang dikemukakan selama masa kampanye. Lebih dari itu, membuat ibukota yang semula panas, berangsur sejuk.

Prinsip kepemimpinan: melayani itu mulia, sangat terasakan, kendati masih ada segelintir orang yang tak pernah henti mencari-cari sisi lemah keduanya.

Di lingkungan saya tinggal, dampak kepemimpinan yang ‘memuliakan manusia,’ itu terasa dengan berkembangnya inisiatif dan gagasan-gagasan baru.

Bila pada mulanya, Ketua dan pengurus Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW) sibuk menggunakan bimbit (telepon seluler) untuk melamporkan ini dan itu, lantaran ingin mendapat imbalan bantuan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Kini tak lagi.

Ketua dan pengurus RT menggunakan bimbitnya untuk menyerap aspirasi dan gagasan kreatif warga mengatasi masalah dengan solusi kongkret.

Misalnya: mengolah sampah menjadi kompos dan secara perlahan menggerakkan warga untuk menanami halaman rumah, meski hanya setelempap, dengan pepohonan, termasuk sayur mayur dan tanaman obat.

Ketua dan pengurus RT juga kerap mengontak warga, dan memberi perhatian khas untuk mereka yang berusia di atas 60 tahun, janda dan duda. Bertanya kabar tentang kesehatan, sekaligus mengingatkan petugas keamanan, untuk rajin menyambangi para gold society yang tinggal sendirian di rumah.

Petugas kebersihan berseragam oranye, setiap pagi datang mengangkut sampah, sambil mengingatkan warga untuk memelihara lingkungan.

Setiap kumpul warga, tak jarang, Lurah hadir dan berbagi informasi dengan warga. Termasuk melakukan dialog, menyerap aspirasi.

Bila kemarin-kemarin, warga lebih banyak melontarkan keluh kesah kepada Ketua RT/RW dan Lurah, kini lebih banyak menyampaikan gagasan. Misalnya, menjadikan sungai yang tak jauh dari rumah sebagai bagian dari beranda depan.

Termasuk gagasan menanami bantaran sungai dengan tanaman keras dan pohon-pohon buah. Ini adalah bagian dari partisipasi aktif dan kritis warga untuk menguatkan bantaran sungai tanpa harus melakukan penetrasi melalui betonisasi yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta sebelumnya.

Dalam pertemuan rutin, sebagian besar waga termasuk para pendukung lawan politik Anies – Sandi, tak lagi merasa kikuk dalam berkomunikasi. Semua kembali normal.

Ada resonansi sosial yang mengemuka. Antara lain dengan pandangan-pandangan kritis terkait pemulihan hutan kota – yang tak jauh dari tempat saya tinggal – yang memang menjadi bagian dari kewajiban Pemprov DKI Jakarta untuk merawatnya.

Saya tidak peduli dengan partai politik yang mengusung Anies – Sandi, karena di mata warga, yang penting dan utama adalah Anies – Sandi itu sendiri sebagai figur.

Dan,.. ini yang mengemuka: tidak serta-merta partai-partai pendukung Anies – Sandi akan beroleh dukungan politik dalam Pemilu legislatif dan Pemilihan Presiden 2019 mendatang.

Anies – Sandi sebagai figur jauh lebih utama dan keutamaan itu, tak serta merta menyertai sikap dan dukungan politik warga kepada partai politik pengusung keduanya.

Ada jarak yang sangat jauh antara figur dengan partai politik. Persepsi warga terhadap Anies – Sandi berbeda dengan persepsi rakyat atas partai-partai politik pengusungnya.

Pemberitaan media seputar perilaku pemimpin partai-partai politik pengusung Anies – Sandi di berbagai daerah dalam konteks Pilkada serentak 2018, dalam banyak hal membuat jarak warga (rakyat) kepada partai-partai politik itu tak terhindarkan.

Meskipun tidak digolongkan ke dalam partai dhirar, partai-partai pengusung Anies – Sandi mesti bekerja lebih baik untuk beroleh dukungan rakyat di Pemilu 2019 mendatang. Kecuali, mereka mengikuti jejak Anies – Sandi : berani memenuhi janji politik secara kongkret, dan mampu melayani rakyat.

Dan.. partai-partai politik yang berseberangan dengan Anies – Sandi dalam Pilkada DKI Jakarta lampau, jangan terlalu berharap besar untuk beroleh dukungan besar di Pemilu 2019.

Boleh jadi, realitas di DKI Jakarta, bisa dipelajari lebih seksama untuk mengelola strategi pemenangan partai politik yang sudah sangat dipengaruhi oleh kapasitas dan kualitas kadernya.

Dalam konteks ini, yang penting dan utama adalah bagaimana partai politik mengenali betul medan kontestasi mereka di Pemilu dan Pilpres 2019 mendatang.

Jangan mudah percaya dengan hasil survey aneka lembaga survey, jangan pula berharap berbagai acara temu bual (talkshow) televisi ataupun radiotalk dapat memberi pengaruh kepada warga.

Pola-pola komunikasi politik para petinggi partai politik yang masih berlangsung kini, sudah merupakan pola komunikasi politik yang usang.

Rakyat perlu keteladanan. Perlu contoh aksi memenuhi janji dan bukan bagaimana menciptakan serta mengelola janji.

Jangan terlalu banyak memproduksi janji, bila janji itu tak mampu diwujudkan dalam realitas pertama kehidupan rakyat.

Jangan terlalu sibuk dengan strategi komunikasi politik dan kemasan brand politik, karena – sekali lagi – kualitas figur dan resonansi politik rakyat kepadanya, yang akan banyak menentukan.

Apalagi, ketika Panitia Pemungutan Suara (PPS) dalam seluruh rangkaian proses penyelenggaraan Pemilihan Umum, semakin sadar, kenakalan mereka dapat menimbulkan bencana besar.

Anies – Sandi pantas jadi role model dalam menempatkan figur sebagai subyek politik |  

Editor : sem haesy
 
Energi & Tambang
01 Agt 18, 13:45 WIB | Dilihat : 2648
Mendulang Kemandirian di Blok Rokan
05 Des 17, 20:09 WIB | Dilihat : 676
Kelola Sumberdaya Alam secara Efisien
19 Des 16, 10:43 WIB | Dilihat : 1111
Perlu Kesadaran Kolektif untuk Efisiensi Energi
Selanjutnya
Humaniora
16 Okt 18, 09:07 WIB | Dilihat : 213
Reduksi Peran Universitas
04 Okt 18, 16:52 WIB | Dilihat : 447
Bantuan Terus Berdatangan dan Listrik Menyala Lagi
04 Okt 18, 11:21 WIB | Dilihat : 414
Prabowo Evaluasi Tim Pemenangan
03 Okt 18, 18:25 WIB | Dilihat : 444
Di Mana Kamu
Selanjutnya