Anies Mendayung di Antara Kemanusiaan dan Keadilan

| dilihat 148

Bang Sém

Pada saat bagaimana rakyat harus melihat kualifikasi pemimpinnya? Jawaban spontan atas pertanyaan yang diajukan seorang teman, ini adalah saat petaka datang melanda, dan ancaman kebangkrutan (minimal carru' - melarat).

Di saat situasi tidak normal, dikepung petaka, rakyat dengan kasad mata dan mata hati dapat menyeleksi, siapa sungguh pemimpin, siapa petinggi, siapa pemimpin kelontong (kitsch leader) produk kemasan dan nasib baik.

Tak seorangpun yang bisa membebaskan dirinya dari proses alamiah ini, karena Tuhan dan semesta menguji mereka dengan proses seleksi yang ketat. Terutama, karena manusia -- setidaknya dalam pandangan subyektif - personal saya -- tak bisa membebaskan dirinya dari fenomena jagad besar (makrokosmis) - dunia di dalam dirinya dan jagad kecil (mikrokosmis) - dunia di luar dirinya. Sebagian besar kalangan berpandangan makrokosmis berada di luar diri manusia dan mikrokosmis berada di dalam diri manusia.

Dalam filosofi Mandar dikatakan, alawe membolong di nawang, nawang membolong di akkeadang, akkeadang membolong di alawe, alawe membolong di atuang, atuang membolong di alawe. Manusia bagian dari alam, alam bagian dari diri manusia, diri manusia bagian dari budaya masyarakatnya, budaya bagian dari manusia, diri manusia bagian dari diri pribadinya sendiri yang merupakan bagian dari dimensi kedalaman dirinya, depth humanity. Terutama, karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang diberikan instrumen lengkap (nalar, naluri, rasa, dan dria) oleh Allah yang menciptanya.

Pemimpin yang baik datang dari kualitas keseimbangan nalar, naluri, rasa, dan dria yang baik, harmonis, sehingga mampu berpijak pada tiga kesepakatan alamiah insaniah: mikke'de' di attonganan; mippalingutti' di assamaturuang; dan missulekka di ammemasang. Kesepakatan insaniah untuk berdiri tegak di atas kebenaran, bertekuk lutut pada komitmen kebajikan, dan bersila pada kesatuan (kemanusiaan dan keadilan setara).

Filosofi bugis Mandar mengingatkan, "Rupa tau anna’ attonganan da mupasisara’i anna da tau tuo sisara-sara." - Manusia dan kebenaran tak terpisahkan, agar hidup tidak tercerai berai, terintegrasi dalam kesatuan langkah dalam mewujudkan tujuan hidup, "bahagia di dunia dan di akhirat, bebas dari petaka (baik di dunia maupun di akhirat)."

Dari sudut pandang ini dan berbagai sudut pandang lain (yang saya ungkap di berbagai artikel lain), saya melihat Gubernur Jakarta, Anies Rasyid Baswedan - dengan segala keterbatasan manusiawi dan otoritasnya, merupakan pemimpin yang baik. Dan dalam situasi seperti saat ini, ketika nanomonster COVID-19 menerjang, sebagai rakyat Jakarta, saya menempatkan Anies sebagai prime leader, pemimpin utama. Dialah panutan yang harus saya ikuti, bukan yang lain.

Sejak awal kepemimpinannya sebagai Gubernur Jakarta, sampai saat ini, di mata saya tak seorangpun yang pantas dan patut saya ikuti sebagai pemimpin, kecuali dia. Sebagai rakyat, saya wajib 'melindungi' - karena dia bertegak pada kebenaran, konsisten melaksanakan komitmen -- tidak mèncla mènclè -- dan gerak langkahnya berorientasi pada prinsip ekuitas dan ekualitas.

Saya berpegang pada prinsip, "Mua' to parua amasei mau na sappamera'na sallambar." Lindungi orang yang benar, meski hanya dengan selembar daun. Hal itu terlihat pada perilaku kepemimpinan Anies -- yang dalam konteks kebenaran, "mesa tau iya mappahangi anna mesa tau iya mappannassai." Paham tentang hakikat kebenaran -- mau dan mampu mewujudkannya -- dan mampu menjelaskannya kepada rakyat. Untuk itu, Anies tidak perlu kumpulan orang pandir untuk menjadi buzzer dan cyber warrior, dan politisi sampah yang sedang mengeja 'politik belah bambu,' yang sangat pandir dalam membedakan kritik dan makian. Kaum pandir, yang opini buliannya menjelaskan siapa diri mereka sesungguhnya.

Kualitas prima kepemimpinan Anies dalam konteks petaka COVID-19 tampak jelas. Mulai dari kemampuan membaca isyarat bahaya kemanusiaan dari virus nanomonster, ini kala merebak di Wuhan, China yang dilanjutkan dengan langkah antisipasinya untuk segera berpikir tentang cara melindungi rakyat yang dipimpinnya - yang serta merta diolok-olok oleh komunitas petinggi pandir dan dianggap berlebihan.

Kualitas kepemimpinan Anies juga terlihat, ketika ia menebar memetika - virus akal budi -- membangun kesadaran kolektif di lingkungan pemerintah Provinsi Jakarta yang dipimpinnya un tuk bersama melawan COVID-19. Lantas antusias memimpin 'perang terhadap rebakkan virus yang lantas dinyatakan sebagai pandemi global oleh organisasi kesehatan dunia - WHO (World Health Organization). Antusiasme berjuang, karena menyadari ancaman yang ditimbulkan virus ini adalah ancaman kemanusiaan.

Tak berhenti di situ saja, ketika kemudian Jakarta menjadi episentra Covid-19 di Indonesia - akibat kelalaian para petinggi yang bermain-main dengan kebimbangan, shock, dan terlambat menyadari keliru nalar karena terbuai auforia kekuasaan -- Anies cepat bergerak menggelorakan simpati dan empati sosial yang kemudian teresonansi oleh begitu banyak kalangan (termasuk yang memanfaatkan untuk kepentingan politik praktis). Tak hanya berhenti di situ, Anies bergerak menghidupkan apresiasi kepada para pejuang kemanusiaan (petugas sosial) yang mulai mendapatkan kendala sosial ironis dari lingkungan sosialnya masing-masing.

Kesemua itu bisa dan mampu dilakukan Anies, karena dia menghidupkan respek yang besar kepada seluruh kalangan -- petugas kesehatan, petugas pemerintah, inisiatif masyarakat, dan para korban serbuan virus ini -- sebagai bagian dari cinta murninya kepada warga (rakyat), tak hanya warga Jakarta, tetapi seluruh rakyat Indonesia yang mengais peruntungan di Jakarta.

Anies memberikan pelajaran amat berharga, bahwa "melayani rakyat itu mulia." Anies tidak melihat hal lain -- apalagi urusan cèmpèng kekuasaan. Beberapa sikap dan langkah Anies dalam bentuknya yang lain, kemudian terlihat pada sikap Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil,  Gubernur Kalimantan Selatan H. Syahbirin Noor, dan beberapa Gubernur / Kepala Daerah lainnya. Anies dan para koleganya, itu memanifestasikan prinsip lindo maririo na nacanringo'o pa'banua. Buat saja sesuatu yang baik dengan ikhlas, rasa cinta yang ditawarkan kepada rakyat, akan berpulang sebagai cinta juga.

Anies dan sejumlah koleganya, juga nampak berteguh dengan sikap, "andiangi parallu tau laeng mapatongan paummu, iya tia mupaui iya anu muatappa'i tonganna." - Tidak penting bagaimana sikap orang lain (membenarkan atau melecehkan pandanganmu), yang penting katakan sesuatu yang benar dan diyakini benar. Hal itu tercermin dalam postingan Anies yang saya baca di akun Instagram, wawancara podcast, acara gunemcatur Indonesia Lawyers Club (ILC), dan lainnya.

Anies mau dan mampu bersikap demikian, karena -- dari interaksi dengannya selama bertahun-tahun -- dalam berfikir, bersikap, dan bertindak, dia sesuai dengan prinsip, da ta' lewa'-lewa' mappikiri anu kaiyang, iya tia pikkirri anu parua. Tidak terlalu dalam memikirkan hal-hal yang besar, akan tetapi selalu memikirkan hal-hal yang benar.

Itu tercermin dalam banyak sikapnya, mulai dari merespons aktif aksi menghidupkan kembali tradisi kaum Betawi, menderas (mengaji) selepas maghrib, menggunakan hotel bintang lima milik Pemprov Jakarta, sampai mengunjungi (dan kemudian memikul kurung batang) Rahmat Hidayat - pemuda 15 tahun yang patah tulang lehernya, yang ditemuinya di RSUD Pasar Minggu - (Ahad, 17 Mei 2020). Tak terkecuali kunjungannya ke Kebon Binatang Ragunan, dan apresiasinya atas segala bentuk kreativitas virtual untuk terus menggelorakan optimisme di tengah situasi petaka saat ini.

Anies tak tergoda untuk berfikir dan bersikap lain, ketika sejumlah petinggi kehilangan nalar dan nurani, melakukan berbagai hal yang lebih mengutamakan kepentingan buthun (perut, ekonomi) katimbang nyawa dan keselamatan jiwa rakyat, dengan berbagai pernyataan dan kebijakan yang menyesakkan dada -- terutama petugas kesehatan yang berada di garda depan perlawanan terhadap serangan nanomonster COVID-19. Karena, bagi sebagian petinggi, boleh jadi, kematian mereka adalah keniscayaan dan risiko profesi belaka. Karenanya, dengan mudah melonggarkan kebijakan tentang PSBB (pembatasan sosial berskala besar) dengan risiko tinggi -- menggerakkan kembali kurva korban tepa virus, pasien yang dirawat, dan kematian kumulatif. Apalagi, DPR RI sudah pula mengesahkan Perpu No.1/2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Corona Virus Deisease (COVID-19) sebagai Undang Undang.

Saya melihat termanifestasikannya prinsip dotai tipalappis lette’ dadi tia natipalappis lila (lebih baik tergelincir kaki daripada tergelincir lidah) dalam kehati-hatian Anies memberikan pernyataan. Prinsip yang tercermin terang benderang dan nyata dalam konteks bantuan sosial bagi penduduk Jakarta. Suatu responsibilitas sosial yang dilandasi oleh kasih sayang pemimpin kepada rakyatnya. Aksi kepemimpinan yang dilakukan Anies, merefleksikan kesadaran diri, sebagaimana tercermin dalam nasihat orang-orang tua yang berasal dari Mandar.  Mua’ cappu’ di sayammu siri’mu mbei, mua’ siri’ balala tomi diang dua-a rakke’mu lao di Puang (Andai kasih sayang telah habis sampai kering, tolong jemput rasa malu, bila rasa malu pun telah tiada, semoga masih punya rasa takut kepada Allah).

Karenanya, sangat terkesan, dalam hal pemberian bantuan sosial, dia tetap menyerukan seluruh kalangan untuk memperkuat KSBB (Kontribusi Sosial Berskala Besar), karena kemiskinan (kultural dan struktural) yang sedang melanda, sudah sampai pada tingkat mengubah masyarakat dalam kualifikasi kefakiran sailin dan mahrum. Seruan Anies untuk menghidupkan solidaritas dan soliditas sosial, ta'awwanu alal birri wat taqwa, kolaborasi di jalan ketaqwaan, dengan sangat berhati-hati dan teliti, sesuai prinsip kultural - pesan leluhur para pemberani, "ingga'e mie' mattulung to parallu nitulung." (Mari kita menolong yanbg perlu kita tolong).

Anies terus bergerak menerapkan PSBB di wilayah otoritasnya, sebagai episentra COVID-19 yang bisa mengancam keselamatan di seluruh wilayah Indonesia. Terasa semangat ikhtiar optimistik yang terus terpelihara, mencerminkan sikap, "Maui pole lembong tallu sitonda talippurus, sumombal toa’ ma’itai dalle’ iya hallal." (Walaupun gelombang - ombak gulung gemulung diiringi badai, tetap bergerak berikhtiar di jalan yang baik dan benar). Hal itu terlihat, antara lain pada pemusatan isolasi mandiri dengan tenda di Gedung Kesenian Tanah Abang.

Anies konsisten, sejak kecil ayah dan ibunya sudah mendidik dia dengan nilai pencapaian kualifikasi manusia, urip iku urup. Hidup mesti mencerahkan insan sesama. Hairunnaas anfa'uhum lin naas - sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama manusia (seluas-luasnya). Karena, bagi pemimpin sejati berlaku kewajiban nilai bersikap konsisten dan konsekuen, "da kaondo-ondoong mua’ diang mujama, malai tu’u sapupala’ capparanna." Jangan mèncla mènclè, karena (ketidakteguhan) akan mengakibatkan kesia-siaan.

Itu sebabnya, motivasi melakukan atau tidak melakukan sesuatu, mesti lurus ke tujuannya. Termasuk dalam menentukan prioritas. Menghidupkan kolaborasi, sinergi, mendahulukan kepentingan membuat kebajikan, menghindari hal lain, apalagi yang membuka lubang bagi terjadinya penyimpangan yang dapat berakibat pada merebaknya kejahatan. Kolaborasi dan sinergi sosial antar manusia untuk mewujudkan hakikat kemanusiaan dengan bersikap adil: "Inggai situlu-tulung lao di apiangan, mappepondo’i inggannana adaeang, alesei adaeng, tinro’i apiangan, situlu-tulung paratta rupa tau."

Kerja kebaikan, seperti yang dilakukan Anies dan aparatus dan masyarakat yang menabung kebajikan di tengah ramadan dalam kepungan petaka COVID-19, seperti mendayung di antara Keadilan dan Kemanusiaan. Membuang sifat senang 'melempar kambing,' melempar tanggungjawab dan kerumitan kepada orang lain. Sesuai nasihat budaya, "Sara dao pappetandoang panra’ di tau laeng, andiang tu’u melo’ na dipanrai’i." - Jangan pernah melemparkan tanggungjawab dan kerumitan kepada orang lain. Karena tak ada orang yang rela disusahkan, terutama para pejuang kemanusiaan.|

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Sporta
22 Okt 19, 13:15 WIB | Dilihat : 1016
Pertamax Turbo Ajak Konsumen ke Sirkuit F2 Abu Dabi
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 1856
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 1550
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
Selanjutnya
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1193
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 1584
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 775
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 1196
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
Selanjutnya