Anies Baswedan di Tengah Korban Banjir

| dilihat 401

Bang Sèm

Bencana, termasuk banjir, mempertontonkan kepada banyak manusia dengan kecerdasan nalar dan kearifan naluri. Mereka menghadirkan sosok sejati kepemimpinan seseorang yang beroleh amanat dari rakyat.

Mata rakyat akan menyaksikan dengan sendirinya, mana yang pemimpin, mana juga yang bukan.

Pemimpin sejati, tak akan menunda waktunya barang sekejap. Dia akan turun ke tengah rakyatnya. Dia tak akan meninggalkan rakyatnya untuk urusan apapun. Apalagi sekadar menyalurkan kegemaran tertentu.

Langkahnya digerakkan oleh kesadaran, entusiasme, simpati, empati, apresiasi, dan rasa cintanya kepada rakyat.

Kesadaran untuk menentukan tindakan prioritas.

Entusiasme untuk menggerakkan seluruh pihak bersinergi melakukan tindakan prioritas, menyelamatkan korban bencana dari situasi yang tak bisa diatasi oleh aksi apapun.

Simpati dan empati kepada korban dan seluruh slagorde yang ambil bagian menyelamatkan korban dari situasi bencana. Termasuk menghibur korban untuk tetap mampu mengelola nalar, naluri, perasaan dan indria mereka.

Apresiasi kepada seluruh petugas dan kalangan yang menunjukan kepedulian nyata, dan tak terjebak dalam situasi menjadi penyebab bencana lebih besar, yakni bencana sosial (seperti yang dilakukan para pencerca, penista, dan kaum yang sering memanfaatkan bencana untuk kepentingan sesat sesaat mereka). Karenanya tidak ikut terseret sikap saling tuding dan salah menyalahkan.

Respek kepada rakyat yang mengalami musibah. Mendekatkan hatinya kepada hati rakyat. Laksana seorang ibu yang hadir untuk terus menghidupkan optimistisme. Laksana seorang ayah yang melakukan aksi cepat mengendalikan situasi.

Pemimpin mesti ada di tengah rakyat yang mengalami derita bencana. Bukan ke tempat lain yang ada di hilir persoalan.

Bencana banjir yang menggenangi berbagai wilayah di Jawa bagian Barat dan bagian Selatan Sumatera dan beberapa bagian wilayah Indonesia, telah memperlihatkan kepada kita, rakyat: siapa pemimpin sesungguhnya.

Bencana banjir, itu juga memperlihatkan dengan jelas dan gamblang, siapa yang sungguh menjadi masalah dalam kehidupan sehari-hari di tengah riuh gaduh kehidupan politik.

Bencana banjir di persinggahan waktu antara 2019 - 2020 yang lalu, bagi saya, menunjukkan, Anies Baswedan sebagai sosok pemimpin sejati.

Dia lahir dari rahim seorang ibu yang menjadi bagian dari proses pencerdasan rakyat, di tengah rakyat, yang pada dirinya menitis darah pejuang kemerdekaan yang mendahulukan rakyat katimbang dirinya.

Boleh jadi, karena itulah Anies menjadi tumpuan beragam harapan dan kecemasan.

Mereka yang punya harapan akan teresonansi untuk ikut mengambil bagian menyelamatkan korban bencana. Sebaliknya, mereka yang cemas dengan kepemimpinan Anies, bersukacita mencerca Anies.

Bencana banjir yang baru kita alami, hanyalah awal rangkaian bencana yang sudah antre untuk menghampiri kita bergantian.

Apa pasal? Terlalu banyak kebijakan yang mengundang bencana. Pembiaran atas pelanggaran tata ruang (tak konsisten dalam menjaga keseimbangan dalam pembangunan, antara konservasi dan budidaya), alih fungsi lahan, bad practise mining - tata kelola penambangan yang buruk, pengabaian atas amdal (analisis mengenai dampak lingkungan) hanya untuk kepentingan investasi, pembangunan infrastruktur yang tak karib dengan lingkungan, dan berbagai hal lagi.

Cercaan, caci maki, dan arus rekayasan opini untuk menyalahkan dan menyudutkan Anies, bagi pelakunya, boleh jadi merupakan cara untuk 'menenggelamkan' Anies dalam 'bencana yang mereka kehendaki.'

Bencana banjir justru memberikan peluang bagi Anies untuk menunjukkan komitmen, konsistensi, dan konsekuensi kepemimpinan dia sebagai pemimpin yang selalu hadir di tengah rakyat. Kemudian memberikan solusi cepat atas persoalan yang dihadapi dan dirasakan rakyat.

Dalam hal solusi jangka menengah (sampai habis masa jabatan Anies) dan jangka panjang, sebagai pemimpin yang paham dan concern terhadap terwujudnya keadilan sosial, Anies tahu persis apa focal concern keseluruhan konteks kepemimpinannya (penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, dan pemuliaan rakyat). Dia juga tahu dan paham, bagaimana melihat driving forces-nya (mulai dari aspek politik, sosial, ekonomi, dan lingkungan).

Tak kan Anies tenggelam dalam bencana banjir, seperti yang dikehendaki para berudu yang sukacita berenang dalam masalah dan menjadi bagian dari masalah.

Saya mengikuti irama Anies, yang tak berusaha menanggapi segala cerca, karena yang paling utama baginya adalah bagaimana pemimpin mendahulukan rakyat, mengutamakan pembangunan berkeadilan.

Urusan cerca dan nista para berudu, biarkan mereka hanyut bersama sampah yang mereka ciptakan.

Urusan Anies dan kita, adalah berkontribusi menyelamatkan korban bencana.

Nasib korban bencana tak akan selesai dengan meluahkan hobi mengendarai choper berkeliling kota dan meninjau (hanya satu) waduk buatan di jeda hujan.

Nasib korban bencana tak akan selesai dengan mengabaikan tanggungjawab fungsional seorang menteri lantas lempar kambing kepada Gubernur Jakarta di hadapan kamera media.

Nasib korban bencana hanya dapat dikurangi, ketika pemimpin hadir di tengah rakyat dan merasakan derita mereka, sehingga paham bagaimana mesti memberi solusi.

Anies lah pemimpin itu. Dia contoh, bagaimana pemimpin mesti bersikap di tengah bencana.|

 

Editor : Web Administrator
 
Ekonomi & Bisnis
14 Jan 20, 20:51 WIB | Dilihat : 196
Epos Perubahan Berbasis Modal Insan
14 Jan 20, 13:20 WIB | Dilihat : 146
Produktivitas Tak Lepas dari Iptek dan Manusia
06 Jan 20, 11:46 WIB | Dilihat : 184
Menggambar Gajah Membayangkan Ular
03 Jan 20, 21:48 WIB | Dilihat : 98
Langkah Awal Transformasi
Selanjutnya
Energi & Tambang
22 Okt 19, 12:46 WIB | Dilihat : 441
Sinergi PHM dengan Elnusa Garap Jasa Cementing di Rawa
03 Okt 19, 12:21 WIB | Dilihat : 178
Pertamina Bersinergi dengan PLN di Bisnis Kelistrikan
04 Okt 19, 12:21 WIB | Dilihat : 196
Sekolah Percaya Diri Pertamina
Selanjutnya