Anies Baswedan dan Kaum Amburadulian

| dilihat 154

Bang Sém

Tak sulit mendeskripsikan apa yang terkandung dalam kata 'amburadul.' Kamus Besar Bahasa Indonesia mempadankan pengertian 'amburadul' dengan centang perenang, berantakan dan porak poranda.

Pada masanya, Jakarta memang amburadul. Gubernur Ali Sadikin, melibatkan partisipasi mahasiswa (Dewan Mahasiswa se Jakarta) dalam merancang Rencana Pembangunan 25 Tahun Kota Jakarta, lantas membangun Gelanggang Mahasiswa Kuningan. Sejumlah penataan dilakukan, bahkan dengan cara yang keras, termasuk mencanangkan Jakarta sebagai kota yang mahal.

Upaya Ali Sadikin tak berhasil dipelihara secara berkelanjutan oleh mereka yang kemudian menjabat sebagai Gubernur Jakarta. Meski masing-masing mempunyai gagasan yang bagus.

Tjokropranolo, mencanangkan Jakarta sebagai kota yang sosialistik relijius, Suryadi menegaskan Jakarta sebagai kota yang tertib tangguh bersih indah dan nyaman. Wiyogo mencanangkan Jakarta sebagai kota yang Bersih, Manusiawi dan Berwibawa.

Sutiyoso tak pernah usai dengan kesah tentang perluasan Jakarta dan memikirkan perluasan kota gaya van Mook, dengan melansir Jabodetabek Punjur (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak, Cianjur), dan menyisakan dua bengkalai : tiang-tiang pancang monorail yang menodasi wajah Jakarta, sekali meninggalkan solusi pelik transportasi meniru gaya Bogota, busway. Fauzi Bowo relatif fokus membenahi remah-remah keamburadulan, sambil meninggalkan Pusat Budaya Betawi Setu Babakan.

Joko Widodo, Basuki Tjahja Purnama, dan Djarot Saiful Hidayat, lebih meninggalkan kesan 'visual' tentang gorong-gorong, infrastruktur transportasi berbasis rel - mass rapid transportation, reklamasi pantai utara Jakarta, sentak sengor, penggusuran, betonisasi sungai, dan kota yang riuh.

Anies Baswedan bersama Sandiaga Uno, menerima realitas Jakarta sebagai kota yang centang perenang, gaduh, dan dalam banyak hal menawarkan begitu banyak tantangan. Perlahan dan pasti, dia melakukan proses transformasi visioneering.

Perkara-perkara Abad 21

Merumuskan dengan pasti focal concern Jakarta untuk menemukan sumber problem generator Jakarta dan konteksnya dengan perkembangan perubahan peradaban dari budaya terestrial dan budaya kertas ke budaya digital, dari budaya memproduksi alasan dengan perencanaan kota yang cenderung bersifat intuitive reason, ke basis pemikiran modern, bahwa pembangunan merupakan gerakan kebudayaan.

Anies mengembalikan pemahaman asasi pembangunan itu, sehingga berbagai aspek pembangunan, seperti sosial, ekonomi, politik, hukum, dan sebagainya didudukkan secara proporsional sebagai sub sistem budaya. Fokusnya jelas: memajukan kota, membahagiakan warganya. Objektif dan goalnya juga jelas: adil dan sejahtera.

Orientasi berfikirnya, tidak lagi memproduksi alasan. Secara substantif dia mengubah perspektif dan orientasi dari intuitive reason ke realize way, bertumpu pada cara untuk menemukan dan memperoleh cara menyelesaikan masalah. Anies nampak menyadari betul untuk membenahi segala hal yang amburadul diperlukan cara yang sistemik dan keilmuan.

Karenanya, Anies melibatkan partisipasi para akademisi yang sungguh cendekiawan -- independen, berintegritas, bukan pemburu posisi, dan tak terbeli -- dengan berbagai ilmuwan berbagai disiplin keilmuan dan kompetensi dari berbagai universitas dan lembaga pendidikan berkualitas (berkelas dan diakui dunia internasional).

Dia seolah-olah mempraktikan nasihat Franklin D. Roosevelt, Presiden Amerika Serikat ke 32 ,"If civilization is to survive, we must cultivate the science of human relationships - the ability of all peoples, of all kinds, to live together, in the same world at peace." Jika (ingin) peradaban bertahan hidup, kita harus mengembangkan ilmu hubungan manusia - kemampuan semua orang, dari semua jenis, untuk hidup bersama, di dunia yang sama dalam damai.

Konsep pembangunan partisipatif dilakoni, bahkan dalam dimensi ruang dan waktu, Anies berpegang pada prinsip kontiniti dan sustainabilitas. Dia menggunakan masa lalu sebagai pijakan untuk mengelola realitas hari ini sebagai bagian dari ikhtiar mempersiapkan masa depan.

Dia, dalam pandangan saya, menemukan cara-cara baru, termasuk cara-cara out of the box dengan menerapkan prinsip-prinsip imagineering, untuk melihat substansi masalah yang menjadi sentra kepedulian transformasi, menghadapkannya dengan berbagai kekuatan pendorong (driving forces) dan menyiangi - pemilihan dan pemilahan -- secara tegas: mana ilusi, fantasi dan imajinasi, mana jebakan fantasi - mana pula visi, lantas apa saja konstruksi misi yang mesti menjelma dalam program prioritas, program menengah dan program jangka panjang.

Dihadapkan dengan perkara-perkara abad ke 21 yang diisyaratkan James Martin (Oxford University, 2007), saya melihat, langkah-langkah Anies mentransformasi Jakarta (dengan tetap berpegang pada prinsip Lao Tze), jelas sekali, tidak sembarang melakukan perubahan.

Dia mencari tahu lebih dulu, mengapa dan bagaimana kota ini dibangun. Apa fungsi utama kota ini dan siapa yang paling utama harus diprioritaskan dalam konteks menjadi kota sebagai sentra peradaban.

James Martin mengisyaratkan, semua negara dan bangsa menghadapi tantangan : (1) Mengelola alam - lingkungan dalam konteks merawat bumi yang mewujud dengan keputusan tegas Anies, menyetop pembangunan pulau buatan yang merusak ekosistem;  (2) Membalik kemiskinan - dengan kebijakan gubernur, mengembangkan perluasan berusaha, meluaskan komitmen warga tentang entrepreneurial, serta menegaskan fungsi intermediasi bank yang berada di bawa kewenangannya; (3) Stabilisasi dan redistribusi penduduk, dan Anies menegaskannya dengan kemauan dan kemampuan mengelola proyeksi demografis, melalui perubahan pemikiran tentang human capital - human investment yang melihat manusia sebagai subyek, bukan lagi human resources - sumberdaya manusia - karena manusia diberi nalar, naluri, rasa, dan indria oleh Tuhan. Human capital - human investment akan berkembang menjadi social capital - social investment. Supaya bonus demografi tidak menjadi petaka demografi di masa depan.

Memperluas Potensi Manusia

Sejak Januari 2020, ketika berita awal nanomonster Covid-19 meletik di Wuhan - China, Anies sudah merespon - yang tidak direspon baik oleh Pemerintah Republik Indonesia. Prediksi Anies tepat, akhirnya Jakarta menjadi central cluster penularan virus. Momentum ini dikelola oleh Anies -- yang kemudian didamping A. Riza Patria - sebagai Wakil Gubenur, menjawab tantangan yang diisyaratkan Martin, yakni (4) Menaklukkan pandemi dan epidemi, yang mesti direspon oleh institusi pendidikan tinggi untuk menciptakan sensor yang dapat mendeteksi keberadaan virus berbahaya di udara dan prosedur medis pencegahannya.

Perkara yang tak mudah, (5) Mencapai Gaya Hidup Berkelanjutan - dilakukan Anies dan pemerintah provisi Jakarta dengan mengembalikan pemahaman esensial tentang transportasi, mulai dari kaki, sepeda, transportasi umum dan transportasi pribadi dengan mengurangi beban terhadap lingkungan. Pun begitu halnya dengan (6) Melindungi biosfeer; (7) Mencegah Friksi dan Konflik Sosial; (8) Menolak Terorisme - yang sudah melebar sampai ke penyebaran berita hoax, fitnah, cerca dan buli, bahkan pembunuhan karakter secara sistemik; (9) Menghadapi Globalisme secara efektif - melalui program 'langit biru Jakarta' dan tata kelola air, meski perlu waktu menata sungai berbasis kecerdasan dan kearifan budaya lokal; (10) Pengembangan budaya kreativitas, dengan mengendalikan Teknologi yang mengarah pada era kreativitas ekstrim. Karena mimpi anak muda yang diperlukan di hari esok adalah menjadi wirausahawan. Bukan menjadi pemburu kerja, melainkan mereka yang piawai mengelola rantai pasokan -- kehidupan -- baru dan bisnis yang terhubung secara elektronik akan membawa nilai.

Anies dan pemerintah provinsi Jakarta, sangat peduli dan serius menjawab perkara (11) Memperluas Potensi Manusia, sesuai arah peradaban ke-21, mengembangkan kemampuan laten setiap orang dengan memanfaatkan teknologi canggih yang mempercepat potensi belajar. Termasuk mengendalikan (12) Singularitas alias reaksi berantai kecerdasan komputasi - teknologi, dengan mengimbangi kecepatan perubahan yang benar-benar mesti dikontrol. Karena singularitas memungkinkan banyak teknologi  berkembang menjadi "tak terbatas ke segala arah."

Anies dan pemerintah provinsi Jakarta juga terlihat dengan jelas dan gamblang, merespon perkara (13) Menjelajahi Transhumanisme, merespon teknologi akan memungkinkan kita untuk hidup lebih lama, belajar lebih banyak, dan mendapatkan kemampuan untuk terhubung ke objek nanoteknologi dan superkomputer untuk menghubungkan otak manusia ke perangkat eksternal lainnya.

Menurut Martin, transhumanisme akan menjadi sangat kontroversial dan . akan meningkatkan argumen etika utama. Kita mungkin kehilangan beberapa kualitas yang sekarang kita lihat merupakan faktor utama yang  menjadikan kita "manusia." Termasuk perbedaan ekstrim antara mereka yang memiliki teknologi dan mereka yang tidak. "Kita perlu melakukan perubahan tanpa menderita konsekuensi negatif secara keseluruhan. Transhumanisme dapat membimbing kita untuk membangun peradaban yang jauh lebih maju daripada saat ini," ungkap Martin.

Bila cerdas melihat kiprah Anies, ketika kini kita melewati 'lorong gelap tanpa ujung' persoalan kebangsaan, sesungguhnya Anies sedang membuka ruang kesadaran untuk menjawab perkara (14) Merencanakan Peradaban Lanjutan. Karena menurut Martin, "Mesin cepat atau lambat akan melakukan semua pekerjaan dan akan terjadi peningkatan besar dalam kekayaan nyata. Karena transhumanisme dan singularitas, perubahan akan menjadi lebih ekstrim daripada yang bisa dipahami kebanyakan orang. Anies sering menyadarkan kita untuk bertanya seperti pertanyaan Martin, "Peradaban macam apa yang akan kita bangun jika kita bisa melakukan apa saja?" Mestinya, ini yang menjadi fokus bagi universitas berbasis ilmu kependidikan dan agama.

Dalam keseluruhan konteks pembangunan Jakarta, setidaknya yang nampak secara fisik, kini Jakarta salah satu kota terdepan di dunia dalam menjawab perkara (15) Memodelkan Sistem Planet, karena kita perlu memastikan bahwa kita tidak melampaui titik di mana pemanasan global tidak dapat dibalik, sistem bumi harus dimodelkan dengan sains secara teliti dan pemantauan harus tepat. Untuk akhirnya, menjawab perkara (16) Menjembatani Kesenjangan Keterampilan dan Kearifan, untuk mampu menghadapi (17) Risiko eksistensial sebagai masyarakat - bangsa beradab unggul.

Ketika Otak Dipenuhi Isu Pragmatik

Menurut para futurolog termasuk James Martin, masalah serius saat ini adalah kesenjangan antara keterampilan kita dan kearifan kita. Sains dan teknologi meningkat dengan cepat, tetapi kearifan tidak.

Hari ini, ungkap Martin, refleksi mendalam tentang keadaan masa depan kita dihalangi oleh sikap dan aksi terburu-buru membangun teknologi dan memproduksi gadget yang lebih cepat, lebih murah, lebih pintar, lebih efisien untuk meningkatkan keuntungan bisnis. Kesenjangan keterampilan-kearifan diperbesar.  Dan Indonesia, ceruk terbesar gadget.

Anies dan kita, kini sedang menghadapi situasi, ketika otak terbaik masyarakat dipenuhi dengan isu-isu pragmatis dan sampah secara tanpa henti yang menjadi lebih kompleks, daripada merenungkan 'mengapa kita melakukan ini dan apa konsekuensi jangka panjangnya.'  Akibatnya nalar kita sungguh amburadul dan tak bisa melihat suatu realitas dengan jernih dan tepat.

Kepentinghan politik pragmatis dan transaksional, merusak tatanan otak kita menjadi amburadul, sehingga nalar, naluri, rasa dan indria tidak seimbang. Desakan kepentingan perut dan syahwat (terutama syahwat politik) mendominasi diri, mengabaikan naluri dan nalar.  Maka hadirlah dihadapan kita kaum amburadul atau amburadulian, yang memainkan jemari dan teknologi mereka untuk merusak peradaban.

Ketika kita bergerak ke masa depan, kaum amburadulian menggerakkan arus ambivalensia budaya (fisik sudah berada di abad 21, cara berfikir tertambat di abad ke 16, dan senang berkemul dengan kebanggaan paruh pertama abad ke 20). Anies dan kita menghadapi para amburadulian, yang tersirat dalam puisi Rendra, Maskumambang, sebagai : angkatan pongah, besar pasak dari tiang //.

Aksentuasi puisi Rendra ini menggambarkan, kini kita hidup dalam kepungan kaum amburadulian, yang menyebabkan kita memproduksi banyak sarjana dan akademisi, tetapi miskin cendekiawan; kita surplus petinggi dan politisi, tapi miskin pemimpin dan negarawan; kita banyak pejabat, tapi miskin pelayan rakyat yang sungguh paham hakikat civil servant dan civic mission.

Diam-diam, kita menggumamkan larik berikut puisi ini sambil membayangkan wajah cucu:  Cucu-cucuku / negara terlanda gelombang zaman edan / cita-cita kebajikan terhempas batu / lesu dipangku batu / tetapi aku keras bertahan / mendekap akal sehat dan suara jiwa / biarpun tercampak di selokan zaman |

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Polhukam
29 Nov 20, 04:03 WIB | Dilihat : 100
Hindari Jabatan Ekstra dan Celah Korupsi
28 Nov 20, 08:04 WIB | Dilihat : 139
Anies Pegas Sang Juara
13 Nov 20, 10:04 WIB | Dilihat : 155
Anies Baswedan dan Kaum Amburadulian
10 Nov 20, 08:35 WIB | Dilihat : 147
Demokrasi Amerika Serikat di Punggung Perempuan
Selanjutnya
Budaya
30 Nov 20, 11:25 WIB | Dilihat : 120
Buku Adalah Subversif?
26 Nov 20, 21:50 WIB | Dilihat : 134
Mencuci Piring Melatih Pikiran
25 Nov 20, 07:25 WIB | Dilihat : 125
Merenung Jarak Budaya
19 Nov 20, 21:00 WIB | Dilihat : 160
Dinamika Ronggeng di Tengah Transisi Masyarakat
Selanjutnya