TIMUR TENGAH

Amerika Tak Mudah Prediksi Serangan Balik Iran

| dilihat 168

Zeinab, puteri Mayor Jenderal Qassem Soleimani bicara lantang di mimbar (Senin, 6/1/20) di hadapan ribuan orang yang berhimpun di Teheran. "Jangan berpikir semuanya sudah berakhir dengan kemartiran ayahku!," katanya.

Ungkapan bergelora, itu disampaikannya, menyusul kemartiran ayahnya dalam serangan drone Amerika Serikat, (Jum'at, 3/1/20). Sudah berulangkali Zaenab menyampaikan seruan itu.

"Amerika dan Zionis harus tahu bahwa kemartiran ayahku, akan membangunkan front perlawanan.. dan itu, akan membawa hari-hari gelap bagi mereka," katanya dalam pidatonya yang disiarkan di televisi Iran, pada kesempatan penghormatan kepada mendiang ayahnya.

Donald Trumph dinilai miskalkulasi dalam mengambil keputusan menyerang Qassem dan pasukannya yang hadir di Bagdad untuk memenuhi undangan perundingan yang difasilitasi Perdana Menteri Irak, Adel Abdel Mahdi.

Siasat licik Amerika Serikat yang merekayasa 'serangan teror' di kota Kerman, bertepatan dengan momen pemakaman Jenderal Qasem, tidak meluruhkan Iran untuk balas dendam, seperti dikemukakan Jenderal Hossein Salami.

"Jika Amerika Serikat mengambil tindakan lain terhadap Iran, hal itu akan membakar tempat-tempat yang disukainya ...," ungkap Salami kepada media.

Belasan korban yang tewas oleh aksi teror yang terkoneksi dengan Amerika Serikat, bahkan tambah memicu gelora semangat Iran melawan Amerika Serikat. Termasuk mengusik para sekutu Iran di negara sekitarnya, untuk bergerak melakukan serangan balik.

Amerika Serikat salah menghitung, memilih Soleimani yang merupakan tokoh pemersatu di Iran dan kawasan sekitarnya. Tokoh yang dengan tangkas berhasil melumpuhkan gerakan Islamic State (kemudian berkembang menjadi ISIS), bonekanya. Sejak  Al-Baghdadi memproklamasikan kekhalifahan dari Mosul.

Iran melakukan serangan balik permulaan, dengan meluncurkan rudalnya ke pangkalan militer Amerika Serikat di Irak, sepanjang Selasa malam dan Rabu (7-8/1/20). Serangan Balik Iran tak mudah diprediksi.

Bagi Iran, bukan berapa banyak korban yang jatuh di pangkalan Amerika Serikat, karena yang utama adalah menunjukkan kepada dunia, bahwa Iran memenuhi janjinya melakukan serangan balik. Sekaligus menunjukkan kepada Amerika Serikat yang mereka juluki 'setan besar' itu, mereka bisa membalas.

Serangan balik itu dimungkinkan berlangsung sangat cepat, karena kemartiran Soleimani, telah menyatukan seluruh faksi di Iran. Walifaqih (Pemimpin Tertinggi Iran) Ayatollah Ali Khameini, Presiden Iran (Hassan Rouhani) dan Parlemen, kompak memgambil keputusan,  menyerang balik dan perang kepada Amerika Serikat.

Pakar geopolitik Perancis, Pascal Boniface, yang juga pendiri dan direktur IRIS (Institute for International and Strategic Relations), mengemukakan, Iran tidak sendirian.

Selain pasuka al Quds, menurutnya, milisi pro-Iran di Irak dan Libanon siap menerkam. Belum lagi, tewasnya Jendral Soleimani, membuat penganut Syi'ah dan Sunni, untuk dan atas nama bangsa, bersatu dan bangkit.

Pemimpin Syiah Irak Moqtada Sadr mengaktifkan kembali milisinya sendiri, dan mengancam Amerika Serikat dengan spirit  "Vietnam" yang baru.

Ini yang kurang dihitung oleh Trumph dan Pentagon.

Amerika Serikat sekali lagi menjadi "Setan Besar"  dan musuh bersama bagi pemerintah Iran dan semua milisi paramiliter pro-Iran yang berperang di Irak, Lebanon, dan Suriah.

Presiden Hassan Rohani yang moderat, dari Teheran, bahkan berjanji: "Iran dan negara-negara bebas lainnya di wilayah itu akan membalas dendam terhadap penjahat Amerika."

Di Baghdad, komando tinggi Hachd al-Chaabi, koalisi militer pro-Iran, menyerukan pasukannya untuk "mengusir pasukan asing keluar dari Irak." Maknanya, pasukan Amerika Serikat (termasuk pasukan tambahan sekitar 3.500 persinil) yang ditempatkan di sana akan menjadi sasaran bersama.

Di Lebanon, Hassan Nasrallah, pemimpin gerakan Hizbullah Syiah, berjanji, memberikan "hukuman yang adil" bagi Amerika Serikat sebagai "pembunuh kriminal".

Milisi yang dipimpin Hassan Nasallah pernah membuat pasukan Israel termehek-mehek. Dan dia, menyimpan dalam benaknya, dalam kasus tewasnya Jendral Soleimani, di dalamnya Israel ikut terlibat.

Israel,  di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, merespon keputusan Donald Trump, dengan mengatakan bahwa ia dan Israel, telah bertindak "dengan kecepatan, kekuatan, dan tanpa ragu-ragu."

Negara Ibrani, itu sejak Jumat (3/1/20) lalu, telah menutup akses ke Mont Hermon, di perbatasan Lebanon, sangat ditutup. Kawasan strategis ini menaungi bagian dari perisai anti-rudal Israel.

Kim Ghattas dari Carnegie Endowment for International Peace, mengemukakan, saat ini seluruh pasukan Iran dan milisi pro-Iran belum bergerak. Tetapi, menurutnya intervensi bersenjata sekecil apapun, akan memercikkan risiko besar dan bakal memicu eskalasi. "Segalanya bisa terjadi. Perang besar atau surut..," ungkapnya.

Menurutnya tidak ada yang benar-benar tahu, apakah akan terjadi perang yang meluas atau akan ada perkembangan baru yang lebih menenangkan dunia, di kawasan kaya minyak dan gas bumi dan merupakan destinasi investasi berbagai negara, itu.

" Tidak ada yang benar-benar tahu, baik di wilayah ini, maupun di Washington, karena ini belum pernah terjadi sebelumnya," ungkap Ghattas.

Yang pasti adalah, banyak kelompok bersenjata yang akan mendukung dan melayani Iran untuk melancarkan serangan dan pertempuran terbuka melawan tpasukan Amerika yang dikerahkan dari Irak dan Suriah.

Dalam situasi ini, Kedutaan Besar Amerika Serikan dalam situasi sangat rawan, karena harga kerhormatan dan kedaulatan Amerika Serikat ada di keduataannya.

Kemungkinan lain yang tak akan terduga, berlangsungnya operasi senyap untuk melakukan aksi di Amerika Serikat sendiri, dan negara-negara sekutunya, seperti Arab Saudi dan Israel. Meski, sasaran utamanya, tetap Pangkalan-pangkalan militer Amerika Sserikat di Negara-negara Teluk sebagai target potensial. Tak terkecuali, kapal tanker dan kapal dagang yang berlayar di dekat Selat Hormuz.

Diperkirakan, pasukan Amerika Serikat di seluruh Timur Tengah, sebenarnya sekira 60.000 orang. Meskipun, yang ditempatkan di Pangkalan Militer di Irak sebagai tambahan, hanya sekira 3.500 tentara darat. Mereka adalah bagian dari kekuatan reaksi cepat dari Divisi Lintas Udara ke-82, yang disiagakan segera setelah serangan terhadap Kedutaan Besar Amerika Serikat di Baghdad oleh ribuan orang pro-Iran pada 31 Desember 2019.

Tewasnya Soleimani, merupakan kehilangan yang pedih bagi Iran. Ia digambarkan sebagai tokoh yang berhasil memperluas pengaruh Iran jauh melampaui perbatasannya dengan mengembangkan "kebijakan pertahanan canggih."

Mendiang Soleimani berhasil melakukan rekrutmen pasukan dan kekuatan proksi jauh di luar perbatasan Iran, untuk mencegah serangan langsung di tanah Iran. Dia adalah arsitek utama yang selalu mempunyai analisi tajam dan rinci tentang pertahanan Iran. Dialah yang telah mengembangkan koneksi dan jaringan mendalam di seluruh wilayah, dari Libanon ke Irak, ke Suriah, ke Yaman, ke Afghanistan.

Amerika Serikat tak hanya akan menghadapi Iran, karena Rusia sudah siap masuk gelanggang, untuk dan atas nama pengamanan investasinya di kawasan konflik itu. | Jeehan

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Ekonomi & Bisnis
14 Jan 20, 20:51 WIB | Dilihat : 196
Epos Perubahan Berbasis Modal Insan
14 Jan 20, 13:20 WIB | Dilihat : 147
Produktivitas Tak Lepas dari Iptek dan Manusia
06 Jan 20, 11:46 WIB | Dilihat : 184
Menggambar Gajah Membayangkan Ular
03 Jan 20, 21:48 WIB | Dilihat : 98
Langkah Awal Transformasi
Selanjutnya
Humaniora
19 Jan 20, 12:54 WIB | Dilihat : 152
Chairul Montir Terbang dari Pinrang
15 Jan 20, 12:30 WIB | Dilihat : 224
Cinta adalah Kedalaman Nurani
13 Jan 20, 16:27 WIB | Dilihat : 262
Civitas Akademika ITB Jangan Berhenti Menebar Inovasi
12 Des 19, 14:29 WIB | Dilihat : 166
Harmoni
Selanjutnya