Peringatan 72 Tahun Himpunan Mahasiswa Islam

Akbar Undang Jokowi, Alumni HMI Persoalkan Independensi

| dilihat 340

Sejumlah alumni HMI lintas generasi mendesak Majelis Nasional KAHMI (Korps Alumni HMI) untuk menindak siapapun alumni yang menyeret dan atau mengatasnamakan KAHMI ke jalur politik praktis pragmatis terkait dengan Pemilihan Presiden/Wakil Presiden RI 2019-2024.

Desakan itu dikemukakan dalam pernyataan sikap yang dibacakan Sysfery Datuk Gonjong, alumni HMI Cabang Jakarta, di Gedung Pertemuan Majelis Nasional KAHMI - Kebayoran Baru, Jakarta, Selasa (5/2) malam.

Para Alumni HMI, antara lain Mantan Ketua HMI badko Jabar, Komaruddin dan mantan Ketua HMI Cabang Jakarta, Martunus Harris, itu menyatakan, semua kalangan, baik alumni maupun pengurus HMI, wajib menjaga independensi HMI dan tidak melakukan manuver politik, yang seolah-olah memberi kesan, bahwa HMI dan KAHMI mendukung Joko Widodo.

Pertemuan yang dihadiri alumni HMI dari sejumlah daerah (Jakarta, Manado, Bandung, Bogor, Aceh, dan Makassar) itu, merespon kritis Peringatan 72 Tahun HMI & Syukuran Lafran Pane, di kediaman Akbar Tandjung, yang digelar pada Selasa (5/2/19) malam.

Sekretaris Jenderal Majelis Nasional KAHMI menjelaskan posisi dirinya yang diperkenankan oleh Presidium Majelis Nasional KAHMI untuk ikut hadir dalam pertemuan dengan Jokowi, guna menjaga agar, KAHMI secara organisatoris tidak terjebak dalam manuver dukungan politik.

Atas laporan Manimbang, Koordinator Presidium Majelis Nasional KAHMI, Hamdan Zoelva melakukan konfirmasi ke kediaman Akbar Tandjung, Jum'at (1/2/19). Dalam kesempatan itu, Hamdan meminta, agar pada acara di kediaman Akbar tandjung (Selasa, 5/2) tidak dilalukan deklarasi dukungan padea Capres tertentu, apalagi mengatasnamakan organisasi KAHMI.

Acara peringatan 72 tahun HMI dan Syukuran Lafran Pane di kediaman Akbar Tandjung tersebut menimbulan reaksi dari berbagai kalangan alumni HMI, sejak Arief menyebarkan vlog bersama Presiden Jokowi, ketika bersama Akbar Tandjung diterima di Istana Merdeka, penghujung Januari 2019.

Pada pertemuan di kediaman Akbar Tandjung, Jl. Purnawarman - Kebayoran Baru, hadir Presiden/Calon Presiden Joko Widodo, dan sejumlah alumni. Acara di kediaman Akbar Tandjung, itu dimotori Akbar Tandjung dan mantan Ketua Umum PB HMI (2013-2015), M. Arief Rosyid Hasan.

Selain itu, peringatan hari jadi (yang biasa disebut Dies Natalis) HMI di kediaman Akbar, juga banyak disoal karena diselenggarakan secara personal. Padahal Dies Natalis merupakan agenda Pengurus Besar HMI.

Dikabarkan, dalam acara yang digelar di kediaman Akbar Tandjung, itu hadir salah seorang Ketua DPP PDIP yang juga mantan Menteri Kelautan dan pernah dicokok KPK (30/11/2006) Rohmin Dahuri, Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, Mendikbud Muhadjir Effendy, Menkominfo Rudiantara.Mantan Menteri Perdagangan Muhammad Luthfi - yang ayahnya juga salah seorang aktivis HMI di dekade 60-an, dan sejumlah Alumni HMI yang masih menjabat sebagai petinggi.

Seperti diberitakan media, pada acara tersebut, terlihat dua anggota Presidium Majelis Nasional KAHMI, yang hadir sebagai pribadi, masing-masing Dolly Kurnia dan Sigit Pamungkas. Koordinator dan anggota Presidium Majelis Nasional KAHMI lainnya (Hamdan Zoelva, Harry Azhar Azis, Sitti Zuhro, Viva Yoga, Ahmad Reza Patria dan Herman Haeron) dan Sekretaris Jendral Manimbang Kahariadi, tidak hadir dalam acara tersebut.

Afni Achmad, pengundang dalam acara temu alumni lintas generasi menyatakan, para alumni lintas generasi, mendukung sikap tegas Koordinator Presidium Majelis Nasional KAHMI yang konsisten menjaga independensi dan marwah organisasi.

"Kita akan pertahankan independensi ini dan tak seorang pun boleh mempermainkannya," tegas Afni, yang sekaligus memimpin acara pernyataan pendapat dan pemikiran alumni tentang independensi KAHMI dalam situasi mutakhir.

Dalam acara yang disertai dengan pembacaan puisi spontan, itu Afni mengemukakan, HMI sebagai organisasi mahasiswa yang didirikan oleh Lafran Pane dan kawan-kawan pada 5 Februari 1947, itu juga harus mempertahankan diri sebagai organisasi kader yang mendidik anggotanya mempunyai integritas dan tidak mudah diombang-ambil oleh manuver politik sejumlah alumninya.

Dari Semarang dikabarkan, Ferry Mursidan Baldan - Ketua Umum PB HMI (1990-1992) dan Menteri Agraria & Tata Ruang (2014-2016) menghadiri peringatan Dies Natalis dan Pelatihan Kader HMI di Semarang, bersama Ketua Majelis Wilayah KAHMI Jawa Tengah Wahid Dasuki.

Saat memberikan ceramah, Ferry yang juga Direktur Relawan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Sandi, menyatakan, independensi HMI merupakan harga kehormatan yang tak bisa ditawar dan dicederai oleh siapapun.  

Akan halnya Dr. Sulityowati, seorang alumni yang juga pengacara, dalam surat terbukanya kepada Akbar Tandjung mempertanyakan motif penyelenggaraan acara Peringatan 72 Tahun HMI & Syukuran Lafran Pane dengan mengundang Jokowi di kediaman Akbar. Di ajuga bertanya, "Apakah betul (kehadiran Jokowi dalam acara tersebut) tidak terkait momentum Pilpres saat ini."

Acara di kediaman Akbar itu juga dipertanyakan oleh Komunitas Alumni Peduli HMI, yang dimotori oleh Zulkifli Ali (Sekjend PB HMI 1997-1998), MHR Sikka Songge (Ketua Umum HMI Cabang Yogyakarta 1992-1993), M. Muslih (Ketua Umum Badko HMI Jateng 2003-2004), Sabaruddin (Wasekkum HMI Cabang Jakarta 1997-1998), dan Kurniawan Zaein (Anggota Balitbang PB HMI 2003-2004).

Komunitas ini mendorong PB HMI dan Presidium Majelis Nasional KAHMI untuk tetap menjalankan politik kebangsaan, sebagai perekat kesatuan dan persatuan bangsa; menjaga integritas dan independensi organisasi, dengan tidak berpihak dan tidak terlibat dalam arus pusaran fragmentasi politik praktis dengan memberikan dukungan politik kepada salah satu pasangan Capres.

Komunitas ini juga mendorong Presidium KAHMI tetap menjaga netralitasorganisasi dari fragmentasi dukungan terhadap salah satu pasangan Cappres dan tidak mengintervensi kebijakan organisasi PB HMI. Sekaligus mendorong PB HMI dan Majelis Nasional KAHMI secara aktif mengawasi proses pemilihan umum berdasarkan prinsip-prinsip elektoral justice dan electoral integrity.

"Gara-gara manuver Bang AT, alumni HMI bergaduh. Ini tentu berdampak buruk buat siapa saja yang terkait dengan acara peringatan di rumah Bang Akbar yang tidak lazim itu," cetus Bung Karmin, alumni HMI yang juga pimpinan Sarbumusi (Sarikat Buruh Muslimin Indonesia).

"Ini tak akan terjadi kalau Bang Akbar sebagai senior paham situasi dan bersungguh-sungguh memelihara independensi HMI - KAHMI," tambahnya. | Delanova

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Ekonomi & Bisnis
25 Mar 19, 12:00 WIB | Dilihat : 632
Lompatan Kutu Anjing
25 Mar 19, 11:49 WIB | Dilihat : 560
Jangan Untung Jadi Buntung
12 Mar 19, 00:36 WIB | Dilihat : 417
Pesawat Boeing 737 Max Dikandangkan Sementara
22 Jan 19, 07:19 WIB | Dilihat : 463
Siasat Wohlstandspolitik
Selanjutnya
Budaya