Jangan Hiraukan Angin Kompressor

Aceh - Sumbar - Jabar dan Garis Nasab Prabowo Subianto

| dilihat 710

Menyatakan Aceh, Sumatera Barat, Jawa Barat di masa lalu sebagai daerah-daerah berbasis Islam garis keras hanya karena memberikan dukungan luar biasa kepada pasangan Prabowo - Sandi, adalah sikap gegabah. Siapapun yang menyatakannya.

Boleh jadi yang menyatakan itu, 'kurang gaul' atawa kumpeu (berpikir, bersikap, bertindak sesuka hati untuk kepentingan pribadi). Apalagi sekadar melintas dalam pikirannya, bahwa di ketiga daerah itu pernah terjadi pergolakan tak henti secara tegas menghadapi penjajah Belanda dan Jepang di masa lalu.

Pernyataan itu juga konyol, bila hendak dihubungkaitkan dengan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) yang juga terjadi di Sulawesi Selatan - RM Kartosuwiryo - Abu Daud Beur'eh - Kahar Muzakkar, dan PDRI - PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) Sjafroeddin Prawiranegara, tanpa melihat akar masalah, disharmoni antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah, serta perbedaan sikap dan pandangan para tokoh tersebut dengan Soekarno.

Faktanya adalah PDRI menyelamatkan kedaulatan Republik Indonesia dengan penerbitan Orida (Oeang Republik Indonesia Daerah) di Banda Aceh atas perintah Sjafroeddin Prawiranegara dari Bukittinggi, yang direspon oleh R.M Margono Djojohadikoesoemo - Direktur Utama Bank Negara Indonesia (ketika itu merupakan bank sirkulasi) dan Mashudi - Kepala BNI Cabang Garut (di kemudian hari menjabat Gubernur Jawa Barat).

Ketika Presiden RI Soekarno dan Wakil Presiden RI Hatta ditangkap Belanda bersamaan didudukinya Yogyakarta oleh Belanda, dan Panglima Besar Jendral Sudirman memilih jalan perjuangan gerilya, satu-satunya jalan yang ditempuh untuk mempertahankan eksistensi kedaulatan RI adalah dengan mempertahankan kedaulatan moneter. Inilah yang dilakukan Sjafroeddin Prawiranegara.

Aceh, Sumatera Barat dan Jawa Barat yang sejak awal perjuangan revolusi sudah berkontribusi bagi kemerdekaan RI mengambil sikap tegas dalam mempertahankan kemerdekaan RI, sikap tanpa kompromi terhadap Belanda. Berbeda jalan dengan sikap dan pandangan lain yang memilih jalan kooperatif dan menerima Republik Indonesia Serikat (RIS).

Bila sengaja dikait-kaitkan dengan Prabowo Subianto, secara gen dan DNA (deoxyribonucleic acid)  patriotisme, tentu terkait langsung. Prabowo Subianto bernasab dengan RM Margono Djojohadikusumo, yang di masa mempertahankan eksistensi RI (1946-1949) berada di garda depan menjaga kedaulatan moneter.

Di masa kritis itu, selaku Presiden Direktur BNI, RM Margono Djojohadikoesoemo (kakek Prabowo Subianto) terus bergerak, membuka cabang-cabang.

Yang paling unik adalah pembentukan cabang Garut, yang dipercayakan kepada Mashudi (terakhir berpangkat Letnan Jendral, sempat menjadi Gubernur Jawa Barat, kemudian Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka). Uniknya adalah, alasan utama mengangkat Mashudi sebagai Kepala Cabang BNI Garut merupakan anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) Bandung dan anggota Keamanan Daerah.

Pada 18 Agustus 1945, Mashudi di hadapan rapat pemuda Jawa Barat, mengusulkan kepada pemerintah pusat  untuk membentuk Lembaga Bank Milik Negara, yang dapat mencetak uang untuk kepentingan perjuangan.

Mashudi berfikir, Bandung dianggap telah memadai, karena di wilayah tersebut sudah terdapat percetakan dan bahan-bahan yang diperlukan (pabrik kertas Padalarang, Letjes), dan sejumlah cat yang disimpan di gudang TELS (perusahaan kabel asing) di Bandung Utara.

Mashudi sempat menyelamatkan benda-benda tersebut ketika Bandung Utara diduduki sekutu dan kemudian terjadi pertempuran hebat, Bandung Lautan Api.

Mashudi segera bergerak. Ia mengumpulkan para tokoh perbankan, termasuk bekas karyawan De Javasche Bank, seperti Bakang (Abu Bakar), Sulaeman, Surya, Sobana, dan Warsoma. Hadir juga wakil dari Wascompto Bank.

Dalam pertemuan itu disepakati, Sulaeman sebagai pemegang kas sementara. Kantor Cabang menggunakan gedung milik PTG (Pabrik Textil Garut) di jalan Talaga Bodas, dan diresmikan langsung oleh RM Margono Djojohadikoesoemo, didampingi Mr. A. Karim. Wilayah operasional cabang ini sampai ke Banten.

BNI Cabang Garut beroperasi tanpa peralatan, bahkan lemari besi yang dipakai merupakan pinjaman dari Kementerian Kehutanan. Untuk menjalankan operasinya, Mashudi mengambil dana dari kantor pusat BNI di Yogyakarta.

Berpeti-peti uang ORI (Oeang Repoeblik Indonesia) diangkut melalui gerbong tertutup, tanpa pengawalan ketat, kecuali oleh Mashudi sendiri, sampai ke stasiun Cibatu.

Kelak, pada masa Agresi I dan II peran BNI cabang Garut sangat besar. Terutama, membantu pemerintah Republik Indonesia mendapatkan dana perjuangan untuk melawan Belanda.

Atas inisiatif Mashudi juga, barang-barang berharga berupa lempengan emas dari pertambangan emas Cikotok, dikirim ke Yogya melalui jalan Gabung yang dibuat Kolonel Kawilarang (kemudian terkenal menjadi Jalan Kawilarang) sampai ke Pameungpeuk (pantai Selatan Garut).

Sebelumnya, lempengan emas dari Cikotok untuk dana perjuangan Jawa Barat yang selamat diterima Letnan Kolonel Sadikin, Komandan Resimen Sadikin.

Dari Pameungpeuk, itulah lempengan-lempengan emas bercap BNI diangkut dengan pesawat Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) ke Yogyakarta pada malam hari.  Karena belum berpenerangan listrik, sebelum take off, sepanjang landas pacu puluhan bola karet dibakar menjadi obor besar.

Pengangkutan itu harus dibawa malam hari, karena pengalaman buruk sebelumnya. Pesawat yang membawa lempengan emas untuk keperluan Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Bukittinggi (yang dikirim Residen Banten Kyai Achmad Khatib bin Wasi' bersama Kyai Sam’un pemimpin Badan Keamanan Rakyat Banten), ditembak jatuh oleh pasukan Belanda di atas kota Palembang.

Sejumlah cabang BNI harus ditutup karena situasi itu.

Hanya beberapa cabang yang masih eksis dan terus bergerak, seperti dicatat CF Scheffer menulis, “.. reeds bij de eerste polietieke actie moesten echter een antal kantoren worden gestolen, terwijl bij de tweede de sluiting van de overige voldge. Bij deze laatste actie werden bovendien in Djogdja alle in kluis en brandkasten van de BNI aangetroffen geld, waardepapieren, goud en sieraden zowel van de bank als van haar clientele in beslag genomen..” Sudah sejak aksi polisional pertama beberapa kantor cabang terpaksa ditutup. Pada aksi kedua, uang, kertas-kertas berharga, emas dan perhiasan, baik yang dimiliki bank, maupun milik para nasabah disita dari lemari besi BNI Yogyakarta.

Agresi Belanda I (21 Juli 1947) dan II (19 Desember 1945) berhasil menaklukan Yogyakarta. Akibatnya kegiatan BNI terganggu.

Selain BNI Cabang Garut yang masih eksis dan aktif adalah BNI Cabang Kutaraja – Aceh. Bahkan, BNI Cabang Kutaraja ini juga yang masih bertahan ketika BNI Cabang Garut tak lagi bisa melakukan operasi sehari-hari.

BNI Cabang Kutaraja terus berperan sebagai bank sentral/bank sirkulasi, selain sebagai bank umum. M. Adam dan Potan Arif Harahap mempertahankan eksistensi BNI Cabang Kutaraja, dan tunduk kepada Sjafroedin Prawiranegara, selaku Presiden Pemerintah Persatuan Republik Indonesia yang dikenal sebagai Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI), berkedudukan di Bukittinggi.

Atas perintah khusus PDRI, BNI Cabang Kutaraja mencetak dan mengedarkan Oeang Repoeblik Indonesia daerah Aceh (ORIDA) kepada rakyat Indonesia di kawasan Sumatera.

BNI Cabang Kutaraja mencetak pecahan Rp2,50,- selama satu bulan. Selanjutnya, dicetak oleh Atjeh Drukkerij atas persetujuan Sjafroedin, ditanda-tangani oleh M. Adam dan Moeid, Kepala Kantor Berndahara Negara.

Sejalan dengan itu, RM Margono Djojohadikoesoemo juga sibuk mencari dana bagi keberangkatan Perdana Menteri Sjahrir dan Menteri Luar Negeri Agus Salim ke Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, untuk menjelaskan kemerdekaan RI dalam forum PBB.

Margono meminta bantuan Soemitro Djojohadikoesoemo (ayah Prabowo Subianto), memborong vanili berkualitas utama dari Temanggung dan Magelang. Vanili itu diangkut ke Singapura dengan pesawat yang membawa Sjahrir dan Agus Salim.

RM Margono Djojohadikoesoemo juga menyelamatkan persediaan emas batangan yang tersimpan di lemari besi BNI Yogyakarta, yang berasal dario Cikotok. Emas-emas itu atas persetujuan Wakil Presiden Mohammad Hatta dan Menteri Keuangan Max Maramis, juga diungsikan dengan pesawat Skymaster yang dipiloti John Coast ke Macao.

Untuk mengangkut ke lapangan terbang Maguwo, emas batangan itu diangkut dengan cikar dan truk, ditutupi blarak (sabut kelapa kering).

Peristiwa yang dialami BNI Cabang Kutarja, bukanlah peristiwa biasa.

Ketika Sjafroedin Prawiranegara menyerahkan kembali pemerintahan kepada Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta, selepas mereka keluar dari penjara, BNI merupakan satu-satunya bank yang berhasil menjamin eksistensi Republik Indonesia.

Kedaulatan RI di bidang moneter, tak pernah mati karena BNI (sebagai bank sirkulasi masa itu) yang dipimpin RM Margono Djojohadikoesoemo mempertahankannya, meski hanya dengan satu cabang aktif.

Semangat RM Margono Djojohadikoesoemo itu mengalir di dalam jiwa Prabowo Subianto, sampai kini. Dalam keterbatasannya melakukan kampanye Pilpres 2019, Prabowo tak pernah mundur. Sikap ini yang menimbulkan simpati, empati, apresiasi, respek, dan akhirnya cinta dari rakyat. Ditunjukkan dengan bantuan 'saweran' rakyat mulai dari Aceh sampai ke seluruh pelosok Indonesia.

Perjuangan Prabowo Subianto - Sandiaga Uno kini berbeda dengan zaman perjuangan RM Margono Djojohadikoesoemo, Sjafroeddin Prawiranegara. Tetapi, spirit kebangsaan yang dihidupkan oleh jiwa keindonesiaan dan keislaman dalam nasionalisme religius yang utuh, beroleh respon dari rakyat di Aceh, Sumatera Barat, Jawa Barat, Banten, Sulawesi dan berbagai daerah lain di Indonesia.

Spirit Indonesia menang. Saweran rakyat sebagai sumbangan kepada Prabowo Sandi, saya amsalkan sebagai isyarat, agar kelak Prabowo - Sandi sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia tak pernah lengah menjaga kedaulatan RI, tak terkecuali kedaulatan moneter.

Isyarat itu penting, karena ke depan, persoalan utama yang harus segera dijawab adalah membalik kemiskinan dengan menegakkan keadilan berkemakmuran dan makmur berkeadilan.

Jangan hirau dengan hembusan angin kompresor yang tak seberapa dengan gelombang perubahan (wave of transformation) gerakan rakyat yang semakin sadar politik. Saya yakin, Tuhan sedang menggerakkan takdir dengan cara-Nya, yang tak pernah kita ketahui.

Siapa berpaling, akan terbaling. Siapa teguh, akan tangguh. Jangan membuang keluh, menikmati hakikat di balik peluh. | Bang Sem

Editor : Web Administrator | Sumber : Menggerakkan Transformasi BNI - N. Syamsuddin Ch. Haesy
 
Sainstek
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 567
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
19 Jul 18, 09:52 WIB | Dilihat : 1387
Volante Vision, Visi Kendaraan Udara Aston Martin
20 Feb 18, 12:07 WIB | Dilihat : 2289
Tragedi Archimides di Tangan Serdadu
10 Jan 17, 15:25 WIB | Dilihat : 992
Honda Kembangkan Teknologi Motor Pintar
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
27 Mei 19, 13:43 WIB | Dilihat : 32
Sang Pemandu
16 Mei 19, 11:03 WIB | Dilihat : 293
Utang Negara dan Pembangunan Sosial
25 Mar 19, 12:00 WIB | Dilihat : 768
Lompatan Kutu Anjing
25 Mar 19, 11:49 WIB | Dilihat : 623
Jangan Untung Jadi Buntung
Selanjutnya