360 Jam Tersedia bagi Prabowo Sandi Menjemput Indonesia Menang

| dilihat 1034

Catatan N. Syamsuddin Ch. Haesy

Pusaran transformasi kebangsaan sedang bergerak di tanah negeri tercinta, Indonesia. Sungguh saya takjub.

Bukan karena ribuan orang memadati lokasi-lokasi kampanye terbuka atau tempat-tempat yang dikunjungi Prabowo Sandi.

Massa sebagai kerumunan orang yang disatukan oleh perasaan akan selalu berhimpun di ruang-ruang yang mempertemukan ekspresi mereka.

Saya takjub justru oleh gerakan emak-emak atau kaum perempuan di balik gerakan massa yang bersimpati kepada Prabowo-Sandi.

Jelas bukan emak-emak biasa. Puluhan dari mereka saya kenal secara fisik, teman-teman dari kalangan profesional, penggiat majelis taklim, dosen, guru, artis, motivator dan trainer.

Faktor lain yang membuat saya takjub adalah terhimpunnya focal concern yang senafas seirama di setiap lokasi: akal sehat yang melampaui intelektualisme, kesadaran spiritual menggerakkan energi perubahan, aspirasi tentang sosial ekonomi berkeadilan, dan kerinduan rakyat atas kepemimpinan yang mempertemukan populis modes dan leadership mindset.

Ribuan massa dari ujung Barat sampai ujung Timur Indonesia, mengacungkan jari melambangkan "L" - Lambda. Ini adalah simbol untuk panjang gelombang (dalam sains dan teknik). Saya memaknainya pula sebagai simbol lambda calculus (λ-calculus) yang merupakan simbol dari sistem dalam logika matematika untuk mengekspresikan komputasi berdasarkan abstraksi fungsi dan aplikasi menggunakan pengikatan dan substitusi variabel.

Secara subyektif saya membaca ribuan massa yang terhubung dari satu spot satu ke spot lain, sebagai the wave of transformation, gelombang perubahan transformasi yang dramatis. Membuncah dan terkristalisasi akal sehat tak terduga yang terintegrasi dengan kepekaan naluri, kesamaan perasaan, dan ekspresi dria yang memadukan jiwa dan raga dalam satu kesatuan gerak ekspresif.

Dalam situasi itu begitu, manuver-manuver yang menyerang Prabowo-Sandi : cerita usang tentang pelanggaran hak asasi manusia dan seolah-olah terjadi kumulasi radikalitas dalam dikotomi - paradox Pancasila dan Khilafah, akan mental dengan sendirinya dan menjadi boomerang. Apalagi isu-isu usang, itu seolah lagu lama yang dinyanyikan ulang dengan nada sumbang.

Segala isu negatif dan kampanye hitam yang dilontarkan ke arah Prabowo-Sandi ibarat komputasi dengan berbagai substitusi variabel (ideologi, politik, dan agama) berhadapan dengan realitas persoalan sosial dan ekonomi.

Apa yang tersurat dan tersirat melalui media dengan dua varian besar: media mainstream dan media sosial, mengisyaratkan, segala cerita buruk dalam kampanye hitam yang dilontarkan ke Prabowo Sandi, termasuk tudingan tentang produksi perwadulan (hoax)adalah jebakan fantasi para pecundang yang menyeret dirinya sendiri.

Bersama beberapa teman, apa yang nampak dalam pusaran arus pergerakan ribuan massa, kami uji konfirmasi di lapangan, ke beberapa desa di Kabupaten Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung Barat, Subang, Indramayu, Cengkareng, Tangerang, Pandeglang, Lebak, Wonosobo, Purworejo, dan Magelang. Hasilnya? Apa yang terekspresikan di lokasi-lokasi kampanye dan kunjungan Prabowo - Sandi, seirama.

Prabowo - Sandi, bahkan menjadi 'lambda' transformasi itu sendiri. Pasangan ini menjadi katarsis berpengharapan, justru ketika rakyat dibombardir aneka isu tentang kecemasan atas keduanya.

Fenomena unik ini pernah terjadi pada Pemilu 2004, ketika Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Jusuf Kalla (JK) masuk gelanggang Pemilihan Presiden RI secara langsung untuk pertama-kalinya, yang hanya diusung oleh tiga partai kecil (Partai Demokrat, Partai Keadilan Persatuan, dan Partai Bulan Bintang). Iramanya yang berbeda.

SBY - JK menjadi simpul simpati dan empati sebagai pasangan yang terzalimi secara melodius. Prabowo-Sandi menjadi simpul empati dan simpati sebagai pasangan yang terzalimi secara ritmik.

Saya tidak tahu persis metodologi yang dipergunakan lembaga survey yang sibuk mengurusi tentang persepsi publik dan elektabilitas, sehingga posisi Prabowo-Sandi selalu jauh lebih rendah prosentase bilangannya dibandingkan dengan Jokowi - Ma'ruf Amin. Strategi komunikasi politik a la 'Si Kabayan' di panggung debat, pun tak terbaca.

Boleh jadi, karena lebih banyak bermain-main dengan statistik dan bilangan-bilangan, hasil survey lembaga-lembaga survey tersebut lebih banyak berkutat dengan bilangan mati. Tidak mampu menyerap perubahan orientasi nalar, naluri, rasa, dan dria rakyat. Akibatnya berbagai indikator keunggulan Prabowo Sandi dalam komunikasi massa, tentang awareness, enthusiastic, appreciation, dan respect yang bermuara pada love, tidak tersigi.

Di sisi lain, ada sesuatu yang terjangkau empirisma, ketika secara empiristik langsung berada dalam even antara Prabowo Sandi dengan para pendukungnya. Mungkin hanya larik puisi Chairil Anwar yang bisa mewakili perasaan : "Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan / atau tidak untuk apa-apa, / Kami tidak tahu, / kami tidak lagi bisa berkata / Kaulah sekarang yang berkata  // Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi  / Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak" (Chairil Anwar, Antara Karawang dan Bekasi - dibacakan Prabowo di hadapan ribuan massa di Karawang).

Saya rasakan, ada energi di luar empirisma manusia yang menggerakkan ribuan energi dari ribuan massa untuk berhimpun, dekat, karib, dan berkomitmen mewujudkan Indonesia Menang. Itu juga yang teresonansi, kala menyaksikan video pertemuan Prabowo-Sandi dengan rakyat di Sorong, Merauke, Manokwari, Kotamobagu, Sidrap, Bandung, Banten, Jakarta, Bogor, Sumenep, Bengkulu, Pekanbaru, Dumai, Palembang, Pontianak, Samarinda, Padang Sidempuan, Lampung, Padang, Bukittinggi, Lombok, Bali, Sidoarjo, Lamongan, Garut, Tasikmalaya,  Banjarnegara, Purwokerto, Tegal, Pekalongan, Sleman, dan lainnya.

Secara empiris, Prabowo Sandi unggul. Bahkan dalam konteks mendulang simpati dan empati, ketika rakyat, termasuk tukang cendol sampai pengusaha, mengeluarkan uang receh hasil jualan sampai tabungan mereka untuk dikontribusikan untuk perjuangan pasangan ini. Tak terbayangkan, hal itu terjadi sekarang, ketika pragmatisme politik dan politik transaksional bagi-bagi uang dan bingkisan - sekaligus jual beli kursi jabatan dan suap sedang menjadi tren.

Mengapa ini terjadi? Secara spesifik dari berbagai informasi melalui dialog dengan anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo - Sandi, termasuk ketika saya hadir -- dan bicara dalam salah satu diskusi di sekretariat BPN -- saya beroleh gambaran, strategi komunikasi dan penguatan jejaring relawan Prabowo - Sandi, termasuk Rumah Sandiaga Uno, berhasil melakukan transformasi awal. Melakukan reposisi dari program centric ke people centric.

Mulai dari mencermati dan mengenali rakyat secara fokus dan clear, menyerap aspirasi mereka, dan dari serapan aspirasi rakyat itulah visi, misi, dan program kerja disusun - dirumuskan. Bukan menawarkan program kandidat kepada konstituen, melainkan menyerap aspirasi konstituen menjadi program kandidat.

Dalam konteks ini, ketika kompetitor menganalisis gerakan Prabowo-Sandi dengan pendekatan analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) - melihat kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan, Prabowo - Sandi justru menempuh pendekatan logika lain - rasionalitas yang bersesanding dengan realitas: TOWS (Threats, Opportunities, Weaknesses, dan Strenghts) - melihat tantangan lebih awal, peluang, kelemahan, dan kekuatan. Itulah yang terekspresikan dalam orasi Prabowo-Sandi dan terhimpun dalam sesanti visi : Indonesia Menang.

Di sisi lain, melihat rangkaian driving forces yang dihadapi, mulai dari ideologi, demokrasi politik, sistem nilai dan budaya, potensi sumberdaya alam, kondisi obyektif modal insan, kondisi eksisting pertumbuhan ekonomi, sampai budget (financial) viabilities dengan konsentrasi isu tentang keadilan, penegakan hukum, penguatan akses rakyat terhadap modal dan jaminan sosial, boleh jadi sangat besar kemungkinan rakyat memberikan mandatori melalui pemilihan 17 April 2019.

Masih ada waktu selama 360 jam ke depan bagi seluruh tim dan pendukung Prabowo - Sandi untuk memelihara momentum, sekaligus menyatukan pikiran dan hati menjemput Indonesia Menang. Termasuk mengawal suara sampai ke perhitungan final Komisi Pemilihan Umum (KPU). Dan selama masa itu, tak boleh seorang pun bicara soal power sharing.

Jangan kecewakan rakyat dengan persoalan kotoran gigi. Kerahkan seluruh tenaga dan pikiran untuk mengawali perjuangan panjang, memenuhi janji kampanye dan melayani seluruh rakyat Indonesia. Termasuk melakukan rekonsiliasi nasional, bagi Indonesia Raya dan Jaya |

(Bintaro, 20419)

Editor : Web Administrator
 
Ekonomi & Bisnis
19 Jun 19, 10:46 WIB | Dilihat : 205
Harapan Wirausaha Kreatif Malaysia di Bahu Dzuleira
27 Mei 19, 13:43 WIB | Dilihat : 196
Sang Pemandu
16 Mei 19, 11:03 WIB | Dilihat : 336
Utang Negara dan Pembangunan Sosial
25 Mar 19, 12:00 WIB | Dilihat : 816
Lompatan Kutu Anjing
Selanjutnya
Lingkungan