Banjir

Siapa Mampu Lawan Rezim Angin

| dilihat 136

Catatan Syienna

“La pluie tombe toujours plus fort sur un toit percé.”

Pepatah Perancis ini selalu melintas di benak saya, acapkali musim penghujan mulai datang.

Pepatah itu bermakna, "Hujan selalu turun lebih deras di atap yang tertusuk duri."

Begitu hujan turun melimpah ruah dan masuk ke rumah-rumah, yang segera bermunculan di media sosial, bukanlah solidaritas atau gotong-royong (seperti yang sering diucapkan petinggi negeri) untuk bereaksi cepat menolong siapa saja yang terkepung banjir. Tapi cercaan, makian, dan ekspresi kebencian kaum yang kehilangan akal budi.

Apalagi hujan sangat lebat yang menggenangi berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Jakarta, 'merampas mereka' untuk meluahkan hasrat bersenang-senang di malam pergantian tahun.

Saya suka sikap Anies yang lebih mendahulukan menggerakkan aparatus Pemprov DKI Jakarta, daripada menanggapi serapah para penghujat.

Sebagai ksatria, Anies sudah menunjukkan marwah kepemimpinannya sebagai Gubernur Jakarta. Dia bertanggungjawab 'menyelamatkan' warganya, tentu sebatas kemampuan dan wilayah kerjanya.

Anies menunjukkan kemampuan 'melayani, tanpa kehilangan integritas.' Ini yang penting.

Ketika rezim angin sedang menunjukkan kuasa Tuhan, siapa mampu melawan?

Musim hujan adalah fenomena musiman dari rezim angin yang terus -menerus berembus di wilayah-wilayah intertropis yang luas, dari lautan ke daratan.

Gumpalan awan yang 'mengangkut' uap air dari laut didorong angin ke darat, ke wilayah dataran tinggi. Lantas mencair dan berubah menjadi curah hujan yang sangat deras.

Fenomena musim hujan, terkait erat dengan variasi sesuai posisinya ekuator meteorologi relatif terhadap ekuator geografis, mengikuti pola konvergensi intertropis.

Wilayah intertropis merupakan wilayah yang 'mempertemukan' laut dengan daratan yang luas dengan variasi suhu yang kelak akan menentukan limpahan volume curah hujan.

Pulau Jawa, khasnya kota-kota di pesisir utara yang banyak mengalami alih fungsi lahan, yang semula merupakan kantung-kantung air, akan menerima limpahan air yang tak terkendali.

Apalagi wilayah-wilayah konservasi terpangkas oleh ulah manusia yang lapar lahan, merampas hak air atas bumi.

Ketika sungai-sungai mengalami betonisasi, tentu tak akan pernah mampu menampung arus besar air yang menggelontor begitu saja dari hulu. Terutama, karena di hulu, hutan sebagai 'zona air bermukim' juga telah dipangkas dan dihabisi oleh manusia.

Dalam rumpaka Sunda, banjir tak bisa dihindari, ketika terjadi pemangkasan atas bukit, apalagi dengan cara yang tidak berakhlak, karena sekaligus memangkas hutan: gunung-gunung dibarubuh, tatangkalan dituaran, cai ca'ah babanjiran, bhuwana marudah montah.

Musim hujan identik dengan monsun atau sebaliknya, monsun (yang berasal dari kata Arab, "mausim."  Tapi, monsun kerap digeneralisasi ke dalam sistem angin musiman, yang basah di musim panas, dan dingin di musim kering.

Kehadiran musim hujan mesti disyukuri. Bila musim hujan tak tiba atau datang terlambat, akan terjadi kekeringan dan menimbulkan kosekuensi ekonomi dan manusia secara dramatis.

Bila hujan datang dengan volume yang sangat besar dan melimpah ruah, manusia yang berakal budi dan ber-Tuhan, akan bermuhasabah diri. Mereview ulang berbagai tindakan dan aksi manusia selama ini atas bumi. Termasuk ketidakmampuan manusia mengendalikan hawa nafsu menguasai lahan.

Dalam konteks ini, pemimpin negara memainkan peran sangat strategis dan mulia. Yaitu, mengendalikan kebijakan yang berorientasi pada keseimbangan ekologis dan ekosistem. Kebijakan yang semestinya mengharmonisasi korelasi manusia dan alam.

Termasuk memanfaatkan sains dan teknologi memelihara atmosfer untuk mengembangkan respons yang koheren terhadap perubahan kecil pada suhu permukaan laut dan gradiennya. Termasuk mengidentifikasi struktur laut kritis sebagai penyebab gangguan atmosfer skala besar, dan dengan mekanisme yang mampu berkontribusi pada variabilitas iklim. Mulai dari berkembangnya disharmoni semesta, ketergantungan antara variabilitas laut dan keadaan rata-rata, sampai pemblokiran variabilitas musiman, dan lainnya.

Para petinggi negeri di Indonesia, mestinya paham, bagaimana mengambil kebijakan untuk menggunakan teknologi terkait dengan redistribusi panas dan garam zona dan meridian dalam pemeliharaan gradien dan eksplorasi suhu di wilayah khatulistiwa. Antara lain dengan analisis komparatif atas mekanisme sirkulasi dan ventilasi di samudera Hindia, Samudra Hindia dan Atlantik.

Salah satu tugas petinggi negara adalah mengambil keputusan dan kebijakan yang ketatm dimulai dengan memperdalam deskripsi variabilitas wilayah khatulistiwa untuk menentukan variabilitas ini dan evolusi koneksi antara wilayah yang berbeda. Lantas memanifestasikannya dalam beragam kebijakan pembangunan.

Musim hujan adalah salah satu iklim paling dramatis di planet ini. Terutama, karena ditandai oleh berbagai mekanisme fisik yang menghasilkan angin musiman yang kuat, musim panas yang basah dan musim dingin yang kering. Karena hal ini, berhubungan dengan pengenalan atas sejumlah fitur unik yang akan menimbulkan monsun Samudera Hindia - Indonesia yang paling kuat di dunia.

Samudera Indonesia yang menjadi sabuk wilayah tanah air tak hanya mengisyaratkan fenomena meteorologis, karena sekaligus mempengaruhi nilai budaya, tradisi, dan relasi alamiah dalam merespon hujan.

Hujan yang turun di pergantian tahun 2019-2020, adalah hujan tidak biasa, sehingga menimbulkan  banjir. Bukan sebagai bencana, melainkan sebagai isyarat, ada yang keliru dalam mengelola tata ruang. Karena ruang untuk manusia, telah merampas ruang untuk air.

Bagi yang sadar dan paham, hujan berkaitan dan menentukan kualitas hidup, terutama dinamika ekonomi seperti pertanian. Di sinilah pentingnya institusi negara memprediksi secara jujur dan akurat prediksi hujan. Sekaligus bersiaga merespon bencana yang akan menyertai, akibat keserakahan manusia. |

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Seni & Hiburan
10 Jan 20, 11:34 WIB | Dilihat : 369
Kesenian Menghaluskan Akal Budi
05 Jan 20, 00:26 WIB | Dilihat : 233
Mengenang Gugum Gumbira Sang Maestro dan Inspirator
03 Jan 20, 20:35 WIB | Dilihat : 150
Membuka Topeng Via Lenggok Kepayang Risyani
24 Nov 19, 14:03 WIB | Dilihat : 681
Puisi Novita dan Kefasihan Agustian Jelma Distraksi
Selanjutnya
Lingkungan
07 Jan 20, 09:55 WIB | Dilihat : 191
Naturalisasi Sungai Pilihan Tepat Respon Banjir
03 Jan 20, 12:11 WIB | Dilihat : 146
Buruk Akhlak Manusia Penyebab Air Murka
02 Jan 20, 14:54 WIB | Dilihat : 137
Siapa Mampu Lawan Rezim Angin
Selanjutnya