Putri Duyung Ancol Berkemben

| dilihat 4471

Catatan Bang Sèm

Ada yang berubah di Ancol. Tak hanya kumandang adzan yang menggema, mengingatkan mayoritas pengunjung yang beragama Islam telah tiba waktu salat.

Tak sengaja, Kamis (21/2/19) selepas hadir dalam acara salah satu pelatihan di Gedung Candi Bentar - Putri Duyung Cottage, saya lihat patung Putri Duyung yang menjadi ikon cottages yang nyaman untuk rehat dari dinamika ibukota Jakarta, itu sudah berkemben. Tak lagi bertelanjang dada.

Kain warna kuning emas, menutupi bagian dada patung itu. Menarik.

Kain 'kemben' warna kuning emas, itu boleh jadi hanya dua meter saja panjangnya, tapi memberi lompatan minda (mindset leap) yang jauh. Selembar kain itu, memberi aksentuasi lebih dalam terkait citra sekaligus brand bagi cottage terlama di kawasan Taman Impian Jaya Ancol, itu sebagai tempat yang aman dan nyaman bagi keluarga tanpa kehilangan dimensinya sebagai cottage di pusat rekreasi.

Perubahan memang tak harus dilakukan dengan pendekatan megalomania, perubahan bisa dilakukan dengan cara sederhana, namun berdampak luas. Termasuk mengubah posisi sarana dan prasarana di situ yang sepenuhnya untuk tujuan wisata keluarga.

Pada selembar kain itu tersimpan pesan tentang artistika, estetika, sekaligus etika. Melengkapi keramahan petugas keamanan sebagai bagian dari ekspresi pelayanan.

Rika Lestari, komunikasi korporat Pembangunan Jaya Ancol menginformasikan, ide menutup patung Putri Duyung dengan kain 'kemben' warna kuning keemasan itu, datang dari Komisaris Utama Jaya Ancol, Rene Suhardono Canoneo.

Putri Duyung Cottages terlihat sedang direnovasi. Menurut Komisaris Geisz Chalifah, di beranda resto yang berbatasan langsung dengan pantai, akan dibangun kolam renang. Posisi resto juga akan ditinggikan, sehingga dapat memberikan view pengunjung yang lebih karib dengan pantai.

Semua itu dilakukan dalam keseluruhan konteks pelayanan kepada costumer. "Melayani itu mulia, tanpa harus kehilangan integritas," ungkap Geisz. Laksana kemuliaan matahari yang melayani manusia secara konsisten dengan sinarnya.

Sambil memandang putri dutung yang ditutup kemben, itu di benak saya melintas cerita Christian Andersen yang mengubah realitas duyung menjadi kisah fiksi yang memikat dan dramatik.

Pada salah satu penggal ceritanya tentang Putri Duyung, Andersen menulis, "... kini mentari terbit dengan anggun, seolah menyeruak dari laut. Sinarnya yang lembut dan hangat, jatuh di tubuh puteri duyung , sehingga ia tak merasakan kematian.., dia melihat matahari yang cerah, dan di atasnya aneka peri menggerutu menyaksikan geliat kehidupan baru.. Para peri melayang digerakkan cahaya, dan putri duyung merasa dirinya memiliki tubuh yang sama seperti para peri yang melayang itu, sambil menyaksikan layar putih kapal di laut lepas..."

Boleh jadi, geliat renovasi Putri Duyung Cottages yang diungkapkan Geisz memberi aksentuasi ide sederhana Rene yang berdampak besar. Perubahan untuk menghadirkan Putri Duyung bergerak mengikuti perkembangan zaman, yang membawa serta perubahan selera dan hasrat costumers yang akan berlibur ke situ.

Dalam kisah Putri Duyung yang ditulis Andersen, melalui narasi dan diksi yang merasuk dalam memori anak-anak hingga orang dewasa, menawarkan ilusi dan fantasi, juga imaji baru tentang hidup yang aman dan nyaman, penuh cinta.

Andersen menulis, Putri Duyung dalam kisahnya, mengembara ke alam fantasi yang terjaga, mengarungi laut dengan gelombang tenang, bersentuhan dengan kehidupan samudera dan pesona laut dengan aroma dan keindahan yang mampu memikat Pangeran yang dicintainya. Samudera dengan gelombangnya yang tenang, membuat Putri Duyung melepaskan diri dari derita dan mendapatkan kembali jiwa baru yang membuatnya berubah dalam kehidupan penuh kesegaran.

Kenyamanan laut menyembuhkan luka batinnya, dan cinta menyembuhkan batinnya, karena sukacita abadi.. Mentari dan laut, seolah berkata pada Putri Duyung, "Lupakan kemalangan yang pernah menimpa dan tak terencana kamu alami. Kamu dengan sepenuh hati telah mencari yang baik seperti yang kita miliki, kini kamu telah bangkit ke dunia yang nyaman. Rawatlah cintamu dengan kemaafan, dan biarkan Pangeran-mu berada dalam kehidupan dan kebisingan di kapalnya, rayakan cintamu dengan buih yang menari di atas gelombang. Jangan bersedih. Kelak dari awan akan turun idaman hatimu dihantar hujan rinai."

Saya tak lagi bisa menghitung berapa kerap saya ke Putri Duyung Cottages sejak penghujung dekade 80-an. Anak-anak saya, kerap saya ajak berlibur ke sini. Sekarang, anak-anak saya mengajak cucu-cucu saya berlibur ke sini, ketika mereka sedang libur sekolah.

Maklum, mereka tinggal di luar kota.

Pada musim liburan penghujung tahun lalu, ketika berlibur ke sini, saya berkesempatan memanfaatkan waktu rehat dari kesibukan bercerita tentang Putri Duyung pada cucu-cucu saya yang kritis. Terutama cucu yang kini berusia lima tahun.

Kisah fiksi Andersen, menjelma jadi fantasi dan memungkinkan dia berinteraksi ketika berkunjung ke SeaWorld. Saya perhatikan bagaimana dia 'berdiskusi' dengan abangnya, selepas menonton pertunjukan King of The Sea vs Monster Sampah.

Atraksi ini lebih dimintai cucu saya yang laki-laki, karena berkisah tentang perjuangan Raja Laut melawan monster sampah yang mengotori lautan. Sedangkan adiknya, masih terpengaruh dengan cerita tentang Putri Duyung. Ayah dan ibunya mengalihkan cerita, menikmati berbagai fasilitas yang edutainment yang disajikan SeaWorld. Tak hanya pada akuarium utama, tetapi juga di wahana lain.

Ketika masih terus nyerocos soal Putri Duyung, ayah-ibunya membawa ke Ocean Dreams Samudera, dengan fantacy leap yang lebih terbatas jangkauan nalar - nalurinya. Tapi, di sini dia bisa menikmati tentang lumba-lumba, dan beroleh informasi edutainment tentang lumba-lumba dan singa laut. Sekaligus menyerap informasi ihwal keunggulan Ancol yang menjadi pusat studi konservasi dolphinarium.  

Kembali ke Putri Duyung Cottages, sebagai destinasi wisata sekaligus tempat rehat untuk beroleh atmosfir lain keluar dari hiruk pikuk Jakarta. Di kawasan cottages ini, anak-anak bisa bergerak ke mana saja, sekaligus saya ajak jalan sehat pada pagi hari.

Selepas sarapan, bisa kembali duduk datau berdiri di bebatuan, sambil memandang jauh ke pantai dan laut Jawa.

Almarhumah isteri saya, paling sering mengajak anak-anak berlibur akhir pekan ke sini. Karena pengaruh sosio budaya campuran budaya gunung dan budaya pantai, kami lebih kerap ke sini.

"Di sini, kita bisa membuka cakrawala anak-anak tentang laut sebagai bagian dari kehidupan, karena di dalam dirinya mengalir darah dan budaya orang pantai," ujar almarhumah yang masih terngiang. Selain itu, kemacetan yang terjadi setiap akhir pekan di daerah wisata Puncak, membuat anak-anak enggan bergerak ke selatan. Begitu juga cucu-cucu saya kini.

Tak sempurna tempayan bila tak ada gayung

Belum lengkap liburan ke Ancol bila tak rehat di Putri Duyung |

Editor : sem haesy
 
Budaya
26 Feb 21, 10:56 WIB | Dilihat : 106
Alor, Aku Berguru Kepadamu
11 Feb 21, 09:24 WIB | Dilihat : 152
Allah Menyapa
01 Feb 21, 00:45 WIB | Dilihat : 252
Adzan Maghrib Kali Ini
09 Jan 21, 00:30 WIB | Dilihat : 602
Berpegang Adab dan Etika Hidupkan Kolaborasi
Selanjutnya
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1710
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 2075
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 1235
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
Selanjutnya