Naturalisasi Sungai Pilihan Tepat Respon Banjir

| dilihat 191

Bang Sém

Saya ingin mengulang sedikit cerita. Suatu hari di tahun 2013, Menteri Pekerjaan Umum Joko Kirmanto datang berkunjung ke kantor. Sejumlah Direktur Jendral, termasuk Basuki (Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, sekarang) dibawa serta.

Beliau datang dalam kerangka media visit yang biasa dilakukan patra petinggi negeri untuk memperlihatkan kinerjanya. Masa itu sedang berkembang pameo, "Kinerja mesti ditampilkan kepada khalayak ramai. Diam saja tidak cukup."

Berbagai pencapaian disampaikan oleh beliau. Terutama yang berkaitan dengan pembangunan infrastruktur dalam beragam konteks. Termasuk untuk mengurangi ketimpangan wilayah. Mulai dari tindak lanjut pembangunan TransJawa, academic exercise, rancang induk pembangunan TransSumatera dan TransSulawesi, sampai pembangunan embung dan waduk.

Saya menyimak. Tiba giliran bertanya, saya ajukan pertanyaan sederhana saja. "Kapan dilakukan perencanaan menenggelamkan separuh Jakarta?"

Pertanyaan saya tak berjawab, karena direspon dengan balik pertanya, "Mengapa pertanyaannya seperti itu."

Saya jawab dengan cara sederhana juga.

Sejak berabad lalu, setidaknya di awal abad ke 19, kala Batavia mengalami banjir bandang, secara geologis terjadi penurunan permukaan tanah akibat beban yang berat sebagai konsekuensi logis dari pembangunan gedung pencakar langit. Tentu, dengan disertai penyedotan air tanah dalam bilangan sangat besar.

Saat bersamaan terus berkembang sikap inkonsisten kita terhadap kepatuhan terhadap rencana tataruang wilayah. Alihfungsi lahan besar-besaran terjadi untuk kepentingan ekonomi. Setelah otonomi daerah berkembang, penataan wilayah antara Jakarta dengan wilayah bufferzone sebagai konurbasi, tak lagi sesuai dengan rencana.

Kawasan-kawasan yang di masa Emil Salim menjabat Menteri Lingkungan Hidup dan Kependudukan ditetapkan sebagai kawasan konservasi, tak lagi berlanjut. Sebagian wilayah Kabupaten Bogor, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Lebak, dan Kabupaten Tangerang yang semestinya menjadi wilayah tangkapan air, tak bisa lagi dipertahankan.

Kantung-kantung serapan air berubah kompleks perubahan dengan pembangunan properti besar-besaran, yang tidak hanya vertikal (karena masyarakat Indonesia secara budaya tidak mengenal pola permukiman semacam ini), tetapi melebar secara horisontal.

Sejalan dengan itu, setidaknya sampai tahun 2013, tak ada aturan atau kebijakan di wilayah pantai utara Jakarta, khususnya Tangerang - Jakarta - Bekasi - Karawang sampai Cirebon yang mewajibkan saluran 'tanam air' pada pembangunan gedung bertingkat.

Pola pikir penampungan air, relatif masih menggunakan cara-cara abad ke 16 sampai 18: membangun waduk, embung, setu, dan sejenisnya, karena dianggap multifungsi terkait dengan energi untuk memenuhi kebutuhan pasokan listrik.

Pemeliharaan sungai, juga tak seperti yang direkomendasi yang datang dari kantor Kementerian Lingkungan Hidup semasa dipimpin Emil Salim. Sungai lebih kerap dinormalisasi dengan betonisasi. Padahal, tradisi budaya Indonesia, pemeliharaan sungai dilakukan dengan cara menanam tanaman keras dan tanaman produktif buah-buahan.

Betonisasi sungai hanya menyalurkan gelontoran air dan tidak memberi ruang bagi air untuk semayam di dalam tanah sepanjang aliran sungai. Lantas merebak aksi massal membuat lubang biopori, tapi luasan kawasan yang mengalami biopori tak sebanding dengan luasan alih fungsi lahan hutan. Terutama di kawasan bufferzone Jakarta, seperti Kabupaten Bogor, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Lebak, dan Kabupaten Tangerang.

Bersamaan dengan itu berkembang pula gagasan tentang reklamasi pantai utara Jakarta, karena reklamasi yang berlangsung di Sampur dan Ancol dianggap berhasil, memperluas wilayah. Dampaknya, seperti banjir yang selalu setia mengepung Kelapa Gading dan sekitarnya, dianggap biasa.

Diskusi menguap begitu saja, karena Menteri Joko Kirmanto, ketika itu mengatakan, "Saran baik, akan kami pertimbangkan sebagai masukan." Lantas banjir besar terjadi lagi. Di Gelanggang Remaja Jakarta Timur, di dalam tenda Posko Banjir, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ketika itu, menginstruksikan pembangunan sodetan - kanalisasi - dari Cungai Ciliwung ke Kanal Banjir Timur.

Pertanyaan saya bukan tanpa sebab. Dari sudut pandang imagineering, dalam konteks penataan kota yang berkaitan dengan padu padan perspektif geologi dan planologi, salah satu hal yang mesti dipertimbangkan adalah terjadinya persimpangan jalan dalam mengelola bumi, yang disebut géocarrefour. Pertimbangan ini merupakan bagian dari perencanaan masa depan, setidaknya untuk seabad atau dua abad ke depan.

Para ahli geografi sudah lama mempelajari hal ini, setidaknya bagi mereka yang karib dengan Revue de géographie de Lyon, yang mengulas tata kelola geografi di Lyon, Perancis. Suatu bahasan yang melampaui multidisiplin keilmuan (terutama pengetahuan dan metode) dengan perspektif pada cara berfikir (mindset orientation) yang lebih baik tentang hubungan kota, manusia dan lingkungannya, terutama sungai. Muaranya, meminjam pandangan Jacob - Rousseau (2009), adalah membangun harmoni pemikiran multi perspektif tentang konflik para aktor di sekitar sungai-sungai kota. Kemudian menentukan pilihan kemungkinan konvergensi dengan geografi.

Jakarta mempunyai sejarah panjang dalam menangani sungai. Mulai dari pengembangan wilayah perdikan di seluruh aliran sungai masa Padjadjaran (setidaknya sampai masa kepemimpinan Surawisesa). Terutama dalam mengelola tiga sungai besar yang berkaitan dengan Jakarta (Citarum, Ciliwung, Cisadane).

Pemerintahan Hindia Belanda lantas membangun kanal-kanal sedang dan kecil, seperti Mookevart di Barat, Kali malang - antara Manggarai - Angke, sodetan Pasar Baru - Pasar Ikan, kanal Menteng (kali Gresik dari Cikini sampai Kali Malang.

Pertimbangannya jelas, seperti pandangan Blache (1959) adalah bagaimana sungai dikelola baik, karena air merupakan elemen vital dalam kehidupan masyarakat kota. Sungai juga merupakan faktor penting dalam kehidupan ekonomi perkotaan dan kehidupan sehari-hari penduduk kota.

Paruh kedua abad ke 19 (dekade 1850-an) pengelolaan sungai, selain untuk kepentingan sosio ekonomi, juga untuk mengurangi intensitas banjir di kota. Terutama ketika industri berkembang pesat dan tumbuh kota-kota industri di kawasan konurbasi permukiman.

Sejak mengalami banjir pertama Jakarta (dekade 1960-an) sampai banjir 1 Januari 2020, saya berpandangan, sepanjang masa itu, belum ada pemikiran baru dalam menangani sungai dan air di Jakarta dan sekitarnya. Akibatnya terjadi evolusi liar dengan penderitaan persisten akibar banjir yang terulang.  Sepanjang masa itu, pemikiran yang muncrat setiap kali banjir tiba, selalu bagaimana membangun teras untuk menyelamatkan kota.

Selebihnya, setelah banjir berlalu, pemerintah hanyut dalam rutinitas dan nyaris tak peduli, ketika sungai telah dikorbankan, lenyap dari landskap kota yang kian metropolis. Sungai direhabilitasi dan banjir dipahami sebagai warisan masa lalu.

Saya puji Anies Baswedan, yang melakukan lompatan pemikiran bersama sejumlah ahli hidrologi untuk 'menanam air' dan membuat palung penyimpan air di sungai-sungai, dengan terminologi naturalisasi. Tentu mesti dengan gerakan menanam bantaran sungai dengan tanaman keras produktif.

Ini pilihan terbaik dibandingkan dengan menenggelamkan sepertiga atau sebagian wilayah Jakarta untuk masa lima puluh tahun atau seabad mendatang.

Di sini, konteks visioneering pembangunan menjadi penting, bukan hanya sebagai rangkaian kalimat yang menjadi fantacy trap. Melainkan, pernyataan yang harus mampu diwujudkan secara akseleratif, dengan rencana induk dan kebijakan berorientasi kini dan masa depan. |

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Lingkungan
07 Jan 20, 09:55 WIB | Dilihat : 192
Naturalisasi Sungai Pilihan Tepat Respon Banjir
03 Jan 20, 12:11 WIB | Dilihat : 147
Buruk Akhlak Manusia Penyebab Air Murka
02 Jan 20, 14:54 WIB | Dilihat : 137
Siapa Mampu Lawan Rezim Angin
Selanjutnya
Seni & Hiburan
10 Jan 20, 11:34 WIB | Dilihat : 372
Kesenian Menghaluskan Akal Budi
05 Jan 20, 00:26 WIB | Dilihat : 234
Mengenang Gugum Gumbira Sang Maestro dan Inspirator
03 Jan 20, 20:35 WIB | Dilihat : 150
Membuka Topeng Via Lenggok Kepayang Risyani
24 Nov 19, 14:03 WIB | Dilihat : 684
Puisi Novita dan Kefasihan Agustian Jelma Distraksi
Selanjutnya