Merawat Cinta Keluarga di Ancol

| dilihat 411

Catatan Bang Sem

Imajinasi Bung Karno mengembara. Boleh jadi dia ingin melihat Ibukota Jakarta sebagai mercu keunggulan manusia Indonesia. Membumikan ucapan retorisnya tentang mimpi.

Untuk itulah, lewat keputusan formal di pengujung Desember 1965, sebagai Presiden Republik Indonesia, Bung Karno memerintahkan dr. Soemarno - membangun Ancol menjadi semacam dreams land, sebagaimana Disneyland California Park dibangun dan diresmikan pada 17 Juli 1955, di atas bekas kebun jeruk tua, seluas 73 hektar di Orange County, sekitar 30 kilometer dari Los Angeles.

Ancol sebagai kawasan pantai indah sejak abad ke 17 dengan rumah peristirahatan Gubernur Jendral Hindia Belanda, Adriaan Valckenier, memiliki rumah peristirahatan sangat indah di tepi pantai utara Batavia.

Posisinya bersejajar antara pelabuhan tua Sunda Kelapa dan pelabuhan Tanjung Priok yang dibangun pada 1630 yang berjarak 9 kilometer dari Sunda Kelapa, dan zand poort alias gerbang pasir yang lebih dikenal sebagai Sampur, lokasi wisata kaum pribumi.

dr. Soemarno tak sempat mewujudkan pembangunan dreams land yang diimpikan Bung Karno, itu. Pembangunan Taman Impian Jaya Ancol baru mewujud ketika Ali Sadikin menjabat Gubernur DKI Jakarta.

Jenderal KKO (Korps Komando Operasi) Angkatan Laut asal Sumedang, itu menugaskan perusahaan daerah milik pemerintah DKI Jakarta, Pembangunan Jaya yang dipimpin Ir. Ciputra dan Eric Samola mengubah kawasan Ancol yang sempat terbiarkan lama, menjadi sentra wisata ibukota.

Ir. Ciputra menempuh langkah yang sama dengan Disneyland, dengan membentuk tim imagineering (rekacita) yang memadu harmoni imajinasi (imagine) dan teknik (engineering).

Taman Impian Jaya Ancol inilah yang pertama kali di Asia Tenggara menerapkan metode imajinering dalam pembangunannya. Terutama karena posisi Ancol memang tidak menguntungkan, karena berada di antara dua pelabuhan laut dan dikepung (kala itu) oleh slum area. Kendati posisinya dekat dengan kota tua.

Bisa dibayangkan posisi Ancol mirip dengan Nice - Antibes - LeCannet - Cannes di Perancis Selatan, terutama ketika pemerintah membangun bandar udara internasional Soekarno-Hatta, dan bandar udara Kemayoran tidak difungsikan lagi.

Apalagi, antara Sunda Kelapa dengan kawasan Ancol, pemerintah Hindia Belanda membangun benteng, di sebelah timur kawasan ini, juga terdapat bangunan Kelenteng  An Xu Da Bo Gong Miao, yang diyakini, dibangun pengikut Laksamana Cheng Ho.

Meskipun kawasan pantai Ancol merupakan kawasan endapan lumpur erosi Sungai Ciliwung dan tak terjaga lingkungan permukimannya selama beberapa masa, kawasan ini relatif aman dari kemungkinan tsunami, kendati pernah terjadi gempabumi besar  pada paruh kedua abad 17.

Ancol terlindungi oleh kawasan Pulau Seribu. Ketika Jepang menduduki Tanjung Priok, paruh pertama abad ke 20, sebagian rawa Ancol yang sudah ditinggalkan, menjadi kawasan pembantaian orang-orang Eropa korban pendudukan Jepang.

Berangkat dari catatan historis, kondisi eksisting dan proyeksi pengembangan visioner 15 tahun ke depan, proses pembangunan Taman Impian Jaya Ancol dimulai dengan membenahi kawasan pantai yang diberi nama Pantai Bina Ria.

Bersamaan dengan industri radio Tjawang, menyusul temuan teknologi transistor oleh Jepang, sekaligus terjadi perubahan besar di industri rekaman dan jagad musik Indonesia. Khasnya ketika Rhoma Irama menggerakkan musik dangdut.

Pantai Bina Ria populer karena diabadikan Rhoma Irama ke dalam salah satu lagu hitnya. Ancol mulai menjadi impian masyarakat Indonesia dan kemudian menjadi daerah tujuan wisata.

Kawasan ini kian menarik sebagai destinasi wisata, kalangan menengah atas, tak hanya dari Jakarta, tapi juga Singapura, ketika beberapa spotnya, sesuai pola rancang ruang berbasis imagineering menyediakan Copacabana, Hailai, Hotel Horison, dan Putri Duyung Cottages.

Pada paruh kedua dan terakhir dekade 70-an Ancol yang kemudian dikelola oleh PT Pembangunan Jaya Ancol (kini perusahaan terbuka), ini dilengkapi dengan fasilitas baru, Teater Mobil yang membuat getun para orang kaya baru. Pada masa itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia melesat di atas rata-rata 7 persen pertahun.

Perkembangan ini ikut mengubah perubahan kawasan Pekojan, Kemayoran, Gunung Sahari, Sunter, Pademangan, dan lain-lain. Sebagai destinasi wisata, Ancol memberikan 'pengalaman pertama dan baru' bagi masuarakat Indonesia yang sedang berubah.

Awal dekade 1980-an, hasil proses imagineering Ancol dilengkapi dengan Dunia Fantasi, menyusul pembangunan Pasar Seni yang menjadi oase kreatif, menampung para pelukis yang semula berkespresi di sekitar Gedung Kesenian dan Kantor Pos Pasar Baru.

Dunia Fantasi menguatkan pengalaman baru berwisata dengan ragam atraksi, seolah berpacu dengan kawasan wisata baru Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Masyarakat mulai mempunyai pilihan tujuan wisata yang saling menguatkan. Ada rasa 'Disneyland' di Ancol dan 'Madurodam' di TMII.

Ancol berpacu lebih cepat, bergerak ke masa depan, ketika TMII lebih banyak mengabadikan masa lampau (dengan aneka museum). Proses imagineering Ancol terus berkembang. Pada 1995, ketika memperingati 50 Tahun Indonesia Merdeka, atas dukungan Menteri Sekretaris Negara Moerdiono, Camelia Malik dan kawan-kawan, termasuk saya di dalamnya, menggelar perhelatan dengan panggung musik dangdut melebihi panggung musik Bon Jovie.

Peristiwa itu kami beri tajuk Semarak Dangdut Indonesia Emas, yang menghadirkan Rhoma Irama, Elvie Sukaesih, Mansyur S, Hamdan ATT, GodBless, sekaligus memperkenalkan penyanyi dangdut belia: Iis Dahlia, Evie Tamala, Manis Manja Grup, dan lain-lain. Acara itu, sekaligus memberi ruang bagi musisi dangdut Moneta dari Surabaya, untuk menggebrak panggung musik nasional.

Keunikan pergelaran itu adalah diawali pembacaan puisi oleh Deddy Mizwar, Dewi Yull, dan saya. Sukses pergelaran ini, diikuti dengan pergelaran keliling Indonesia Lhang Lhang Buwana. Boy Rivai, Deddy Mizwar, Allahyarham Chairul Umam sempat melanjutkan dengan gelar baca puisi oleh Sutardji Calzoum Bachri, Ikranagara, Allahyarham Hamid Djabbar dan beberapa penyair lain (serta aktris Yenny Rachman) di Pasar Seni.

Ketika itu, Ancol sudah dilengkapi dengan Gelanggang Renang serta Gelanggang Samudera, yang kemudian direvitalisasi masing-masing direvitalisasi menjadi Atlantis Water Adventure (2005) dan Ocean Dream Samudera (2006), termasuk pembenahan Padang Golf Ancol yang dialihfungsikan menjadi Ocean Ecopark pada tahun 2011 dan proyek instalasi air bersih Reverse Osmosis sebagai upaya mewujudkan pemenuhan kebutuhan air bersih dengan penyulingan air laut.

Ancol terus berbenah sesuai perkembangan zaman dengan menguatkan komitmen pada konsep pembangunan berkelanjutan, tanpa kehilangan aksi korporasi yang bermuara pada profit dan benefit. Manajemen PT Pembangunan Jaya Ancol, juga merambah bisnis MICE (Meeting, Incentive, Conferenceand Exhibition) sejak 2012 dan industri kreatif melalui pendirian Ecovention untuk mengakomodasi kegiatan konferensi maupun pameran. Termasuk melakukan inovasi dengan menambah kawasan baru “Indoor Dunia Fantasi,” termasuk wahana baru untuk pengembangan kreatif dan menarik untuk keluarga dan anak-anak, seperti Ice Age bekerja sama dengan 20th Century Fox, pun Hello Kitty Adventure bekerjasama dengan Sanrio Company, Ltd. Jepang.

Sejak 2016 beberapa kali saya hadir lagi di Ancol yang kian menghijau dan modern. Tiga kali, karena ikut cawè-cawè dalam Jakarta Melayu Festival (JMF) yang dirintis Anies Baswedan, Geisz Chalifah, Ferry Mursidan Baldan, cumsuis. Sekali karena diundang dalam diskusi tentang Betawi (pulang ke pantai). Sekali menyaksikan pameran Toponimi Betawi, dan beberapa kali mengantar cucu. Dan, sekali ketika hendak bertandang ke Pulau Pramuka.

Banyak hal yang berubah dan bertambah baik. Tak hanya karena bertambahnya sarana, seperti skyline dan akomodasi, terutama karena adzan yang berkumandang di seantero kawasan ini.

Selepas subuh, 28 Oktober 2018, lepas jalan kaki sepanjang pedestrian dari Putri Duyung Cottage, ada sesuatu yang melekat di benak. Ancol cukup pantas sebagai tempat merawat cinta keluarga, supaya cinta terus tersemai dan tak lekang.

 Atmosfirnya, memungkinkan untuk itu. |

(Bagian Pertama dari beberapa tulisan)

Editor : Web Administrator
 
Polhukam
18 Jan 19, 10:33 WIB | Dilihat : 149
Terbayang Pamplet Rendra Usai Debat Capres-Cawapres 2019
16 Jan 19, 13:21 WIB | Dilihat : 176
Refleksi Realitas Pahit Derita Rakyat
16 Jan 19, 08:34 WIB | Dilihat : 215
Seruan Kebangkitan Memilih Cara Perubahan Bangsa
09 Jan 19, 10:39 WIB | Dilihat : 573
Tuah Jempol dan Telunjuk Anies Baswedan
Selanjutnya
Budaya