Membaca Makna di Sebalik Nama Jalan Tokoh Betawi di Jakarta Raya

| dilihat 313

Catatan Bang Sém

SENIN (20/6/22) petang di Perkampungan Budaya Betawi (PBB) - Setu Babakan, Gubernur Jakarta Raya, Anies Rasyid Baswedan meresmikan perubahan nama sejumlah jalan dan kampung di Jakarta dengan nama-nama tokoh Betawi.

Peresmian tersebut dilakukan dalam suasana gembira Jakarta Hajatan 495 Tahun.

Sejumlah nama pejuang, ulama, cendekiawan, wartawan, seniman, dan berbagai tokoh dengan dimensi eksistensi dan kesejarahannya masing-masing, dipilih untuk mengganti sejumlah nama di jalan di enam wilayah kota dan Kepulauan Seribu.

Perhelatan peresmian nama-nama jalan tersebut, dihadiri oleh begitu banyak tokoh Betawi dari berbagai latar profesi dan konstelasi sosial, terutama dua figur orang tua yang amat dihormati: May. Jend (Purn), Dr (H) Eddy Marzuki Nalapraya dan H. Nuri. Tentu, hadir keluarga ahli waris dari para tokoh yang namanya dipergunakan sebagai nama jalan.

Ketua Forum Kajian dan Pengembangan Perkampungan Budaya Betawi, Brig.Jend (Purn) dr. Abdul Syukur, selaku tuan rumah, menyambut baik dan berterima-kasih kepada Gubernur Anies Rasyid Baswedan.

Tak hanya memilih nama para tokoh Betawi sebagai nama jalan dan kampung, jauh dari itu, kata Abdul Syukur, Gubernur Anies R. Baswedan telah memantik pembelajaran sejarah kaum Betawi. Khasnya, ihwal bagaimana mempelajari dan menciptakan sejarah, serta bagaimana melakukan kerja-kerja kongkret dalam kehidupan sehari-hari.

Menegaskan hakikat, "sebaik-baiknya manusia adalah yang banyak bermanfaat bagi banyak orang," termasuk keluarga dan kaum Betawi keseluruhan.

Kaum Betawi sangat wajar menyambut baik penamaan berbagai tersebut. Khasnya, karena sepanjang sejarah kota ini, relatif sedikit nama sosok prominen kaum Betawi yang dipilih sebagai nama jalan di kota raya ini.

Juga karena untuk mencapai penamaan dan penggantian nama jalan tersebut melalui proses yang panjang dan memikul aspirasi masyarakat, kaum Betawi sebagai masyarakat inti kota ini.

Momentumnya pas, ketika Jakarta berhari-jadi dan di saat banyak kalangan ramai membincangkan Jakarta paska terbitnya Undang Undang No.3 / 2022 tentang Ibu Kota Negara dan perubahan Undang Undang No. 29/2007 tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perubahan yang tak mudah dan wajib mendengar aspirasi kaum Betawi sebagai masyarakat inti kota raya ini.

Gubernur Anies Rasyid Baswedan dalam sambutannya mengemukakan, penggantian nama jalan tersebut telah melalui proses yang mengedepankan hakekat Jakarta sebagai kota kolaborasi.

Penamaan jalan di Jakarta dengan nama tokoh Betawi, itu sudah melalui koordinasi dengan pihak Kepolisian, Badan Pertanahan Nasional (BPN), Direktorat Jendral Kependudukan dan Catatan Sipil, dan instansi lainnya.

Perubahan nama jalan dengan nama tokoh Betawi, itu menurut Anies, bagian dari ikhtiar kita pada saat ini untuk bisa sama-sama membuat perubahan ini tidak menyulitkan. Untuk itu, Anies berterima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam proses penggantian nama jalan tersebut, yang tidak sederhana dan dikerjakan selama berbulan-bulan.

Kali ini, 23 nama tokoh Betawi yang dipilih menjadi nama jalan di Jakarta, yang sebelumnya didiseminasikan oleh Dinas Kebudayaan melalui akun instagramnya. Yaitu : Bang Pitung, Rama Ratu Jaya, Raden Ismail, Syeikh Junaid al Batawi, Syeikh Abdul Karim bin Asfan, Habib Ali bin Ahmad, Kyai Mursalin, Guru Ma'mun, Mualim Teko, Haji Darip, KH Ahmad Suhaimi, KH Guru Anin, Abdullah Ali,  H. Imam Sape'i, HM Saleh Ishak, H. Mahbub Djunaedi, Hj. Tutty Alawiyah, H. Mashabi, Entong Gendut, H. Hamid Arief, H. Tino Sidin, Mpok Nori, Haji Bokir bin Dji'un.

Selain pembelajaran sejarah, pemberian nama jalan (odonyms) juga penting dalam konteks studi akademis dan penelitian onomastik, yang menurut studi Mihai S. Rusu, tak bisa dilepaskan dengan dinamika temporal produksi pengetahuan dan hotspot geografis dalam kajian toponomastik.

Pun bermakna dalam studi tentang pengaturan geopolitik dan konteks historis studi dan penelitian tentang odonyms terkait dengan streetonomics.

Di balik setiap nama yang ditabalkan sebagai nama jalan, ada kisah,  informasi, dan refleksi nilai masa lalu, yang terhubung dengan realitas sosial hari ini, dan bila ditelaah lebih mendalam, ada energi dan inspirasi yang punya daya motivasi pergerakan melintasi proses perubahan ke masa depan.

Tak hanya dalam konteks semangat dan daya hidup, perjuangan menjawab tantangan (antara lain kolonialisma dan imperialisma masa lalu - kini dan nanti dengan format dan tekniknya yang berubah), juga refleksi dan ekspresi kecendekiaan, kreativitas, dan inovasi.

Dari 23 nama yang dipilih sebagai nama jalan yang kali ini ditabalkan, misalnya, generasi baru kaum Betawi dapat mengambil pembelajaran tentang bagaimana melakukan reaktualisasi siyasah, kiah, dan konsistensi dalam mengelola strategi (way of solution).

Pun,  kecendekiaan dan kreativitas dalam mengelola - memberi manfaat atas peluang untuk eksis dan berperan di tengah arus perubahan, sembari mengenali dengan baik realitas kelemahan saat ini, sehingga mampu merumuskan kekuatan (daya) dalam mengarungi proses transformasi ke masa depan.

Saya menyerap esensi keberanian hidup sebagai watak kaum, kecerdasan dan kearifan budaya, tak terkecuali pemahaman tentang posisi konstelatif kaum Betawi di tengah lanskap dan ideologi ruang. Lebih jauh dari hanya penghormataan, dignitasi kaum, dan identifikasi tempat atau ruang semata.

Pusat Kajian Betawi di beberapa universitas di Jakarta, dapat merancang berbagai rencana penelitian terkait dengan risk and care for the existence of people bagi kaum Betawi sebagai masyarakat inti Jakarta.

Di sisi lain, di luar fungsi primer, pragmatis, dan denotatif, penamaan secara simbolis dan konotatif juga dapat dikaji lebih mendalam, terkait dengan makna politik pada lanskap, ideologisasi ruang, ikon identitas, dan renjana ghirah - gairah kaum Betawi yang tersimpan dalam memori sejarah. Ini salah satu 'modal berfikir' kaum Betawi untuk menjemput proses transformasi Jakarta ke depan. |
 

Editor : delanova | Sumber : beberapa foto beritajakartaid dan FJB
 
Budaya
28 Okt 22, 07:08 WIB | Dilihat : 186
Demokrasi, Musyawarah dan Mufakat
02 Agt 22, 10:32 WIB | Dilihat : 282
Merawat Negeri Terindah di Dunia
07 Jul 22, 22:03 WIB | Dilihat : 359
Anies Bicara tentang Perpustakaan dan Pustakawan
Selanjutnya
Energi & Tambang
27 Sep 22, 12:58 WIB | Dilihat : 170
Rachmat Gobel : Indonesia Mesti Bisa Swasembada Aspal
29 Mar 21, 20:15 WIB | Dilihat : 761
Pertamina Jamin Pasokan BBM Aman
28 Jan 20, 13:31 WIB | Dilihat : 1614
Komitmen Budaya pada Reklamasi Pertambangan
22 Okt 19, 12:46 WIB | Dilihat : 1815
Sinergi PHM dengan Elnusa Garap Jasa Cementing di Rawa
Selanjutnya