Membuka Lembaran Kearifan Lokal

Melawan Virus dengan Lembu Akalang

| dilihat 422

Bang Sèm

Ancaman makhluk supermikro corona virus, yang hanya bisa diputus matarantai penyebarannya dengan jarak fisik - jarak sosial, pola hidup bersih lahir batin, termasuk cuci tangan dan berbagai hal baik lagi, sebenarnya sedang mengingatkan kita tentang apa sesuatu yang hilang dan kita abaikan selama ini.

Penjelasan ahli virus, Indro Tjahjono yang gamblang tentang penyebaran virus ini melalui dahak dan cairan yang keluar dari mulut dan hidung orang yang terpapar atau menjadi carrier - penyebar, tiba-tiba menghentak kita. Karenanya, kita memerlukan masker.

Bila hendak direnungkan lebih dalam, dengan sudut pandang budaya dalam kaitannya dengan interaksi sosial, virus yang sedang menghantarkan maut ke gerbang rumah ini, tiba-tiba mengingatkan kita tentang tatakrama dan pola hidup sehat.

Tata krama yang mengingatkan kita untuk mengelola nalar yang cerdas untuk memandu kepekaan naluri, sehingga sensitifitas rasa dapat dikelola dengan baik.

Ujungnya adalah supaya indria berjalan sesuai dengan fungsinya secara proporsional. Keseimbangan itu yang akan menjadi daya perekat antara kecerdasan intelektual, spiritual, dan emosional dalam berperilaku sehat di tengah interaksi sosial kita sebagai makhluk sosial.

Dalam kearifan lokal Sunda, misalnya, menurutnya berlaku semacam etika berperilaku, seperti bagaimana merespon orang batuk, berdehem, membuang ludah dan dahak, sesuai dengan standar etika sosial. Termasuk bagaimana menyiapkan tempolong sebelum makan sirih di kalangan orang-orang tua di masa lalu. Terakomodasi dalam konsep pamali.

Para leluhur Sunda, seperti tersurat dan tersirat dalam Sanghyang Siksakanda Karesian, secara eksplisit, mengatur etika sosial semacam itu. Antara lain, “Nembalan nu batuk, nu ngadehem, nu ngareuhak, maka nguni embuing; kalih ngawih, ya lembu akalang ngaranya. Nyanda di (u)rut sanghyang kalih deuuk di tihang, di kayu, di batu, nyeueung inya anggeus diri disilihan nyanda, ngara(n)na lembu anggasin. Itu kehna ingetkeuneun lamun dek luput ti naraka.”  

Kalimat di atas bermakna: Merespon orang batuk, berdehem, membuang dahak, dan menyahut ibu-ibu yang menyanyi, ibarat lembu masuk gelanggang (lembu akalang).

Begitu pula bersandar pada tiang bekas sandaran orang suci, duduk pada bekas duduk orang suci (di kayu dan batu) disebut lembu menantang. (Untuk) itu semua perlu diingat (tata krama) agar tak menimbulkan bencana atau petaka.

Lembu masuk gelanggang dan lembu menantang bermakna, jangan mengambil risiko melakukan sesuatu, yang salah-salah akan menyebabkan tibanya petaka.

Serangan corona virus, membuka mata kita, bahwa bersama ludah dan dahak, ternyata tersembur begitu banyak virus yang membahayakan keselamatan manusia. Karenanya, tidak boleh sembarangan. Dan di situ jarak fisik antar manusia menjadi sesuatu yang penting.

Begitu pula tatakrama dalam belajar melalui  beragam medium budaya, dari menonton wayang sampai membaca, untuk menambah pengetahuan dan wawasan.

Dalam kitab aturan hidup Sanghyang Siksakandang Karesian tertulis : “Aya ta deui. Lamun urang nyeueung nu ngawayang, ngadenge-keun nu ma(n)tun, nemu siksaan tina carita, ya kangken guru panggung ngara(n)na. Lamun urang nemu siksaan rampes ti nu maca ya kangken guru tangtu ngara(n)na. Lamun mireungeuh beunang nu kuriak ma: ukir-ukiran, paparahatan, papadungan, tutulisan, sui nanya ka nu diguna, temu ku rasa sorangan ku beunangna ilik di guna sakalih ya kangken guru wreti ngara(n)na. Nemu agama ti anak, ya kangken guru rare ngara(n)na. Nemu darma ti aki ma ya kangken guru kaki ngara(n)na. Nemu darma ti lanceuk ma ya kangken guru kakang ngara(n)na. Nemu darma ti toa ma ya kangken guru ua ngara(n)na.”  

Maksudnya antara lain : Ada lagi. Bila kita menonton wayang, mendengar juru pantun, ambillah pelajaran dari kisah yang disajikan. Itulah yang kita sebut guru panggung. Bila kita memperoleh pelajaran atau pengetahuan yang baik dari membaca, itulah yang disebut guru tangtu. Bila mendapat pengetahuan dengan menyaksikan karya profesional dan ahli, itulah guru wreti. Pengetahuan yang kita dapat dari anak, disebut guru rare. Pengetahuan dari kakek dan kakak yang disebut guru kaki dan guru kakang. Pengetahuan dari orang-orang tua yang disebut guru ua.

Saya ingin menyebut virus corona Covid-19 sebagai guru lembu akalang. Terutama, karena virus ini memberi pengetahuan kepada kita tentang bakteri atau wabah yang boleh jadi tercipta karena kita tidak peduli dengan etika yang termasuk dalam konsep pamali. Terutama etika tentang batuk, bersin, membuang dahak atau ludah.

Dalam suatu penelitian yang dilakukan Abhishek Singh, Vipin Goyal, dan Shwetank Goel tentang praktik pembuangan dahak di antara pasien tuberkulosis (tbc) paru-pari di India Utara (2016) menunjukkan, di negara berkembang, etika tentang bagaimana membuang ludah dan dahak, dianggap sesuatu yang penting dan bukan prioritas.

Padahal penularas bakteri atau virus tbc atau lainnya yang masuk ke dalam hidung dan mulut, kemudian merusak saluran tenggorokan, saluran pernafasan, paru-paru dan organ vital lainnya.

TBC misalnya, ditularkan terutama oleh infeksi tetesan dan inti tetesan yang berada di dalam dahak, seperti virus Covid-19 ini. Batuk menghasilkan tetesan dalam jumlah terbesar dari semua ukuran.

Batuk berdahak atau pembuangan dahak secara serampangan - membabi buta, menyebar ribuan bakteri atau virus. Itu sebabnya, jarak fisik dengan penderita penyakit tbc atau penyakit paru lainnya, atau mereka yang sedang mengalami flu (selesma) supaya tidak terjadi kontak fisik. Bahkan, di lingkungan rumah sakit yang sangat rawan menyebarkan infeksi nosokomial, perlu diketahui, bagaimana dan di mana dahak dan ludah pasien dibuang. Karena dahak, dalam penelitian itu, berpotensi menular.

Mikrobateri pengidap TBC, misalnya, menurut penelitian itu, dapat bertahan hidup selama berbulan-bulan di permukaan benda mati dan kering. Ada bakteri tau virus yang dapat bertahan hidup di permukaan kering pada suhu 4 ° C. Mikrobateri TBC, bahkan dapat bertahan hidup dalam kotoran kecoa selama delapan minggu, dahak di atas karpet (19 hari) dan kayu (lebih dari 88 hari), tanah basah dan kering (empat minggu), dan di lingkungan selama lebih dari 74 hari jika terlindung dari cahaya.

Sebuah penelitian dari Benggala Barat - India, mengamati bahwa hanya 33 persen kalangan masyarakat awam yang  membuang dahak secara benar.

Pembuangan dahak yang aman memberikan ukuran yang efektif untuk meminimalkan penyebaran penyakit dan upaya pendidikan kesehatan bagi masyarakat, perlu diperkuat untuk menciptakan kesadaran yang lebih baik tentang aspek penting dari pengendalian virus ini.  

Tidak keliru, kita menggunakan kearifan dan kecerdasan lokal dari lingkungan budaya kita masing-masing, yang mengatur tentang cara batuk, bersin, membuang ludah dan dahak di tempatnya seolah lembu akalang. Melawan virus ke sumber masalahnya. Bukan berkutat pada bagaimana menyembuhkan mereka yang terpapar dan menderita sebagai korban.

Untuk itu, momentum saat ini, bisa mengusik kita untuk melakukan gerakan nasional tidak batuk, membuang ludah, atau membuang dahak di sembarang tempat. Kalau perlu harus ada sanksi badan dan sanksi sosial.. |

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Sporta
22 Okt 19, 13:15 WIB | Dilihat : 1156
Pertamax Turbo Ajak Konsumen ke Sirkuit F2 Abu Dabi
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 2004
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 1684
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
Selanjutnya
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1357
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 1752
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 930
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 1345
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
Selanjutnya