Mari Menanam Kebajikan di Donggilu

| dilihat 404

Renungan N. Syamsuddin Ch. Haesy

Tak ada yel-yel politik dan seruan-seruan bodoh seperti yang selama ini mengemuka di berbagai laman dan akun media sosial, ketika gempa bumi dan tsunami menghampiri Sulawesi Tengah, Jum’at petang (28/9/18) lalu.

Kalaupun ada, hanya satu dua saja ekspresi orang-orang dungu berotak cekak, yang mengekspresikan performa dirinya sebagai kaum dehumanis tak punya akal sehat.

Yang terdengar hanyalah takbir, istighfar, salawat, dan getar cinta yang mengalir lewat puji-pujian kepada Allah, Tuhan Maha Kuasa. Suara kesadaran yang menyeruak di antara teriak kekuatiran dan kepanikan yang menandai, betapa manusia tidaklah hebat. Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

Manusia itu dhaif, siapapun dia, apapun jabatannya. Hanya Allah saja yang Maha Kuasa, yang Maha Perkasa, Maha Kuat dari segala yang kuat.

Bagi insan yang sadar, terutama di negeri kepulauan yang berada di zona cincin api Pasifik, yang sangat rawan gempa, tsunami, dan gunung meletus, mestinya paham, semua bencana alam itu hanyalah sapa lembut Allah. Sapa halus, agar manusia tersedar untuk menempatkan kekuasaan manusia secara proporsional. Hanya bagian teramat kecil saja dari kekuasaan yang sesungguh-Nya. Kekuasaan yang nyata, tapi tak pernah terjangkau alam pikiran manusia.

Khasnya, karena ada dimensi makrokosmis di luar empirisma manusia, yang menegaskan, betapa dunia dan alam semesta, hanyalah mikrokosmis belaka.

Segala bencana yang datang menghampiri, hanya bisikan lembut Ilahi, untuk menyadarkan kita agar tidak berlebih-lebihan (lebai) dalam menempatkan kekuasaan duniawiah. Sekaligus tidak mempertontonkan kepongahan kita bermain-main dan mempermainkan apa yang sudah jelas dan terang benderang digariskan Allah.

Tieque, seorang ilmuwan asal Bordeux – Perancis Selatan, mengingatkan saya, kadar guncangan gempa bumi yang terjadi di Donggala – Sigi – Palu (Donggilu) yang mempapar guncangan kuat sangat terasa di Mamuju, tak lebih dari 170 kali guncangan bom atom yang pernah melantakkan Hiroshima dan Nagasaki. Guncangan yang sempat membuat para ilmuwan frustrasi. Tapi, tak sampai seperseratus guncangan gempa, yang pernah memicu big bang ke enam, akhir era es, beribu tahun lalu.

Apalagi, guncangan itu tak disertai dengan letusan gunung sebagaimana dulu Tambora, Krakatoa, Toba, dan inti Verbek tua meletus. Diikuti letusan berbagai gunung berapi lain di belahan bumi lain, sehingga Atlantis raib, dan peradaban manusia berubah.

Suara takbir, istighfar, salawat, dan getar cinta seketika dan spontan, mengiringi deru suara gemuruh halus lumpur yang bergerak di bawah permukaan bumi, menyambut gelombang laut yang menghempas dan berkejaran melumat apa saja, mengusik mulut insan menggumamkan kidung pujian.

Jangan takut dan jangan bersedih. La tahouf wa laa tahzan. Bukankah di balik kesulitan akan selalu ada inspirasi. Bukankah Allah telah mengisyaratkan kita lewat firman-firman-Nya yang terkompilasi dalam kitab suci (QS al Insirah (94:1-8):

Alam nasyrah laka shadrak. Wawadha'naa'anka wizrak. Alladzii anqadha zhahrak. Warafa'naa laka dzikrak. Fa inna ma'al'usri yusraa, inna ma'al'usri yusraa. Fa idzaa faraghta fanshab, wa-ilaa rabbika farghab.

(Bukankah Kami telah melapangkan dadamu, dan Kami telah menghilangkan bebanmu, yang memberatkan punggungmu. Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. Sesungguhnyalah, sesudah kesulitan itu ada inspirasi (kemudahan). Maka bila telah selesai (sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusab) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.

Bencana demi bencana yang kita alami, semestinya menyadarkan kita, betapa Allah sedang menghentikan bencana yang sesungguhnya? Yakni, bencana sosial, ditimbulkan oleh silang-sengketa begitu banyak kalangan di antara kita, yang sibuk memperdebatkan sesuatu yang tak perlu diperdebatkan. Bencana sosial yang ditimbulkan oleh perginya akalbudi dan kecerdasan kultural, kecerdasan adab, yang dirampas oleh kebodohan untuk mengingkari kebenaran.

Allah memilih saudara-saudara kita di berbagai penjuru negeri, dari Aceh, Yogyakarta, Lombok, sampai Donggilu, sebagai para syuhada, martir kemanusiaan, para pahlawan hati yang telah ditakdirkan menjadi penghuni surga idaman. Para syuhada yang dipilih Allah sebagai penerima takdir untuk melunakkan hati yang beku membatu, cair untuk menerima kebesaran-Nya, menerima rahman dan rahim-Nya, untuk memulai kehidupan dengan cinta.

Apa yang terjadi di Donggilu (Donggala, Sigi, dan Palu) saat ini, mengisyaratkan sekali lagi, betapa rakyat tak pernah henti menjadi cermin keadaban dan peradaban, tempat kita bercermin untuk beroleh sebersih-bersih tauhid, tak pernah henti meniti jalan ilmu-Nya sebagai puncak ketinggian ilmu pengetahuan yang tak tertandingi. Dari pengorbanan mereka, kita dipandu untuk memahami hakikat cara yang harus selalu didahulukan, karena manusia cenderung selalu mendahulukan alasan. Khasnya dalam menegakkan kebenaran dan keadilan.

Saudara-saudara kita, korban gempa dan tsunami, tak terkecuali yang kini terjadi di Donggilu, sesungguhnya tidak mati dalam hakikat dan maknawi.

Allah berjelas-jelas dalam firman-Nya (Q.S aLI IMRAN: 169-171) : “Janganlah kalian kira mereka yang syahid di jalan Allah itu, mati. (Bahkan) mereka hidup di sisi Tuhan-nya, dengan beroleh rizq. Mereka dalam keadaan bersukacita, disebabkan karunia Allah yang diberikan kepada mereka, dan mereka bersenang hati terhadap orang-orang yang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tak ada kekuatiran terhadap mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati. Mereka bersenang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala bagi orang-orang yang beriman..”

Saya meyakini firman Allah ini. Saya yakin, sebelum ajal menghampiri mereka lewat guncangan dahsyat gempa bumi dan lidah gelombang laut yang dihempas tsunami, hati mereka berseru, bibir mereka bergetar, mengucapkan takbir, istighfar, salawat, dan getar cintanya kepada Allah, Al Malik. Allah yang Mahaperkasa.

Pahamilah, saat ini, Allah kembali memberi peluang, termasuk untuk mereka yang sedang menyandang amanah dari rakyat, untuk berbuat kebajikan yang lebih baik, setelah sebelumnya diberi peluang berbuat kebajikan di Lombok. (baca : Bangun Solidaritas Sosial Bantu Korban Gempa Sulteng)

Jangan sia-siakan. Jangan berfikir untung rugi. Jangan melakukan transaksi atau berdagang dengan Allah, ketika Dia kembali memberi peluang untuk membayar lunas utang imani kita. Allah tak pernah alpa dan mengabaikan janji-Nya.

Donggilu memanggil, ayo berlomba berbuat kebajikan. Kesampingkan dulu urusan sepele, kekuasaan dunia yang tak pernah abadi, yang kapan saja bisa diambil oleh-Nya, ketika Dia menghendaki…

Benar yang dikatakan Anies Baswedan ketika melepas 83 personil terbaik Pemprov DKI Jakarta, yang terlatih di bidang penyelamatan: “…Jangan sesekali menganggap keberangkatan ini sebagai pengorbanan… Saudara-saudara (men)dapat kehormatan mewakili kita (semua) untuk berada di garis depan menyelamatkan saudara sebangsa…

Mari bergerak. Menghemat kata-kata, menabung kesabaran, menanam kebajikan. |

Editor : Web Administrator
 
Seni & Hiburan
24 Nov 18, 19:07 WIB | Dilihat : 268
AJP2018 dan Kaus Kaki Hesti
29 Okt 18, 22:01 WIB | Dilihat : 373
Hujan dan Emak Emak Suburkan Spirit Melayu di JMF 2018
29 Okt 18, 15:57 WIB | Dilihat : 289
Ibu Ajari Aku Menangis
Selanjutnya
Lingkungan
03 Okt 18, 15:25 WIB | Dilihat : 543
Gunung Soputan Minahasa Tenggara Meletus
01 Okt 18, 17:02 WIB | Dilihat : 405
Mari Menanam Kebajikan di Donggilu
29 Sep 18, 09:58 WIB | Dilihat : 351
Bangun Solidaritas Sosial Bantu Korban Gempa Sulteng
Selanjutnya