Isyarat Krakatoa dan Tunggang Laya Banten Selatan

| dilihat 478

DESEMBER di penghujung tahun adalah bulan tempat merenung. Sejak 2004, alam -- yang mestinya merupakan guru kehidupan itu -- selalu memberi isyarat untuk merenung. Mengulang kaji diri sendiri dan mengulang kaji realitas kehidupan yang kita rasakan secara kolektif.

Senin (23/12/18) - sehari setelah hempasan Tsunami di Selat Sunda, sahabat saya Barbara, mengirim pesan dari negerinya, Frankfurt - Jerman. Dia menanyakan kabar saya, sekaligus mengirim ucapan belasungkawa.

Barbara mengaku, dia kuatir, ketika beroleh kabar tentang longsoran Anak Krakatoa dan tsunami yang menghempas Lampung Selatan, dan Anyer sampai Ujung Kulon, itu.

Sebagai insan yang hidup di kawasan Cincin Api Pasifik. Sejak masa silam -- sejak awal abad ke 19 -- alam yang kita huni, selalu memberi isyarat untuk memahami fakta, bahwa sebagai manusia, kita bukanlah apa-apa.

150 gunung berapi yang tersebar di seluruh kepulauan Indonesia, bukanlah gunung api yang diam membisu, melainkan gunung api yang terus bergelora. Kapan saja bisa meletus.

Letusan Gunung Tambora di Sunda Kecil (Nusa Tenggara Barat) yang meletus pada tahun 1813 dan Gunung Krakatoa di Paparan Sunda (Banten) -- yang biasa kita sebut sebagai Gunung Krakatau -- yang meletus 27 Agustus 1883, di dunia internasional, disebut sebagai gunung yang paling berbahaya di planet ini.

Letusan Krakatoa (1883) merupakan letusan amat bersejarah dalam kehidupan umat manusia yang tak pernah terdeskripsikan dengan tepat. Yang pasti, letusan itu tak sertamerta melenyapkan krakatoa, karena letusan, itu masih menyisakan empat pulau: Anak Krakatau, Krakatoa, Krakatau Kecil (Rakata), dan Sertung.

Krakatoa terus mengalami proses perubahan geologis secara konsisten, meski telah meletus dengan dahsyat. Beberapa letusannya membentuk kaldera berdiametr 7 kilometer, juga kerucut gunung api.

Letusan Krakatoa, dicatat sejarah sebagai peristiwa vulkanik paling kelam dan menghancurkan dalam sejarah peradaban manusia.

Sebelum meletus di tahun 1883, itu -- seperti catatan geolog Verbeck -- terdengar suara gemuruh paling keras yang pernah didengar manusia. Suara ledakannya terdengar hingga 3000 kilometer.

Ledakannya sendiri menghancurkan dua pertiga pulau, sehingga bentuk fisik ujung barat Pulau Jawa (kini berada di Provinsi Banten) dan ujung Selatan Sumatera (kini berada di Provinsi Lampung) berbentuk seperti sekarang ini.

Ketika meledak, kekuatan ledakan Krakatoa diperkirakan 10.000 kali ledakan yang ditimbulkan Bom Hiroshima.

Awan hitam yang ditimbulkannya, berarak sampai jauh, menghantarkan debu pekat sampai Sri Langka dan Perth di Australia. Gelombang tsunami yang ditimbulkan melantakkan kehidupan. Tak kurang dari 36.000 nyawa, menurut laporan resmi.

Bencana ini diklasifikasikan pada level 6 pada skala VEI (Volcanic Explosivity Index dengan 8 level). Ini dianggap sebagai letusan terbesar kedua di Indonesia, menjadikan Krakatau salah satu gunung berapi paling mematikan di dunia.

Setelah 1883, gunung berapi itu tetap tidak aktif selama setengah abad sebelum bangun lagi. Letusan berikutnya terjadi pada tahun 1927 dan menyebabkan penciptaan pulau kecil bernama Anak Krakatau di mana mayoritas letusan saat ini terjadi.

Sejak 1920-an, gunung berapi telah mengalami sekitar 40 letusan yang pada dasarnya diklasifikasikan tingkat 1 atau 2. Yang terakhir adalah pada Mei 2014.

Krakatoa membentuk pulau vulkanik yang terletak di Selat Sunda (dalam bahasa Indonesia, Selat Sunda) antara pulau Jawa dan Sumatra. Tingginyaa mencapai 813 meter di atas permukaan laut

Anak Krakatoa dimasukkan dalam kategori stratovolcano sangat aktif dan eksplosif. Letusannya yang dahsyat mengeluarkan awan abu dan bebatuan beberapa kilometer di udara. Tentu dengan efusi lava.

Aktivitas Krakatau diawasi secara ketat oleh Badan Geologi - Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral, dan lembaga Survei Vulkanologi Indonesia.

Dari berbagai laporannya, dalam beberapa tahun terakhir, beberapa kali gunung ini telah dinyatakan berada pada  tingkat siaga dan karenanya batas evakuasi juga sering ditetapkan. Terutama, karena lebih dari 8.000 orang tinggal dalam jarak 30 kilometer dari kerucut gunung berapi, itu.

Adalah takdir, erupsi yang berlangsung sejak Oktober 2018, tak sempat terbayang, akan mengalami longsoran yang kemudian membentuk gelombang tsunami, sehingga banyak korban tak terhindarkan pada peristiwa Sabtu (12/12/18) malam, itu.

Seperti ketika letusan dahsyat yang terjadi pada 27 Agustus, selepas subuh, yang berlangsung selama 4,5 jam, peristiwa erupsi beberapa hari lalu, itu juga didahului dengan berbagai isyarat alamiah.

Sebagai anak gunung yang telah aktif diperkirakan dua abad atau 200 tahun, gunung api ini, seperti pernah dilaporkan oleh kapten kapal perang Jerman (20 Mei 1883) memberi isyarat alam ketika akan meletus.

Gelombang laut akan pasang sampai tinggi, hingga 9 meter, sebagaimana dilaporkan The Atlantic. Kejadian pekan lalu, menurut keterangan seorang nelayan yang menjadi saksi hidup di lepas pantai anak Krakatoa, gelombang itu -- sesuai alat pengukur permukaan gelombang -- naik sampai 12 meter, setelah terjadi longsoran.

Ironisnya, sampai Sabtu (12/12/18) tengah malam, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geosifika (BMKG) hanya menduga pasang naik biasa karena fenomena bulan pernama.

Baru dinihari mereka yakin, sudah terjadi tsunami, beberapa jam setelah tsunami memporak-perandakan berbagai bangunan, dan menyeret ratusan korban. Termasuk musisi dan kru Grup Band Seventeen. Termasuk juga penyanyi, musisi, dan penonton musik dangdut di kawasan Tanjung Lesung.

Isyarat alam erupsi Krakatoa terabaikan. Inilah penyebab utama, korban sedemikian besar. Celakanya, para petinggi negeri tak hendak mengambil amsal dari peristiwa itu.

Kunjungan ke daerah terdampak tsunami, malah dimanfaatkan menjadi tempat selfie seorang petinggi negeri. Gambar-gambar selfie itu boleh jadi hendak dieksplorasi oleh para produser citra untuk beroleh empathy branding. Tapi keliru.

Karena kesan yang kita peroleh dari foto-foto yang dipublikasi di berbagai portal berita, itu justru hal yang sebaliknya: Seorang petinggi yang tinggal dalam ratapan, sendirian, setelah bencana menghempas.

Padahal, untuk beroleh empathy branding, kalaupun hendak direkayasa, bisa dibuat adegan sang petinggi sedang menggendong korban seorang bocah melangkah di antara puing dan sisa reruntuhan bangunan yang dihempas tsunami.

Itu tak penting. Karena yang utama saat ini adalah menyelamatkan korban melalui perawatan medis dan pemulihan psikis korban melalui proses rehabilitasi cepat.

Langkah Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki serta Gubernur Banten, Wahidin Halim, sudah tepat dan benar. Berfikir tentang pemulihan, yang tentu memakan waktu. Termasuk, penataan menyeluruh kawasan pantai Banten dan Lampung Selatan yang sesuai dengan prinsip dasar planologi dan lingkungan.

Kalau perlu, segera selenggarakan dialog scenario plan dalam konteks Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dalam keseluruhan konteks Tata Ruang Jawa dan Sumatera yang lebih responsif terhadap kemungkinan terburuk yang ditimbulkan bencana alam.

Relief kawasan pantai Lampung Selatan, Banten Selatan, dan Jawa Barat Selatan memungkinkan kawasan itu tetap menjadi kawasan wisata andalan. Tapi, tetap dengan mempertimbangkan kearifan dan kecerdasan lokal, seperti konsep planologi yang tertera dalam Warugan Lemah yang masih relevan hingga kini.

Umpamanya tentang Tunggang Laya, jenis topografi yang berbanjar pada dataran rendah dari Anyer sampai Pangandaran, yang kurang baik untuk permukiman dan community centrum, karena mudah dihempas bencana.

Artinya, permukiman -- termasuk hotel dan sejenisnya, lebih bagus dibangun di punggung bukitnya. Tetap menghadap laut - tetap dapat menikmati keindahan Samudera Indonesia. Tentu dengan menggunakan teknologi tahan gempa. | Ki Sabrang

Editor : Web Administrator | Sumber : volcanodiscovery, bbc.com, berbagai sumber
 
Sporta
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 1220
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 924
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
15 Jul 18, 07:53 WIB | Dilihat : 922
Perancis vs Kroasia Berebut Keajaiban Piala Dunia 2018
Selanjutnya
Seni & Hiburan
12 Jun 19, 23:33 WIB | Dilihat : 220
Hafez dalam Abadi Cinta
10 Jun 19, 10:45 WIB | Dilihat : 247
Perempuan di Makam Ibu
29 Mei 19, 10:25 WIB | Dilihat : 472
Rumah yang Rapuh
19 Mei 19, 23:20 WIB | Dilihat : 288
Peter Seeger Suara Lirih Di Tepian Sungai Hudson
Selanjutnya