Buruk Akhlak Manusia Penyebab Air Murka

| dilihat 146

Bang Sém

Apa hikmah di balik banjir yang datang berulang di berbagai kota?

Kaum yang berakalbudi akan menjawab pertanyaan itu dengan cepat. Ubah sikap menjadi manusia yang tahu diri, sehingga rahmat tak berubah menjadi laknat!

Air adalah rahmat dan keberadaannya sangat diperlukan semesta, termasuk manusia yang hanya atom saja di dalamnya. Kehidupan manusia dikelilingi air. Bahkan di dalam tubuh manusia, air merupakan anasir utama.

Tanpa air tak kan pernah ada kehidupan. Celakanya, manusia tak pernah memperlakukan air semestinya. Air selalu diperlakukan manusia dengan cara yang buruk.

Beberapa tahun lalu, saya menulis puisi prosais bertajuk Air, seperti ini:

Kami, air / Bermula dari laut.  / Kami membubung ke udara sebagai uap / Ketika mentari memanaskannya / Kami bersekutu dengan sesama uap / Menggumpal menjadi awan // Angin mendorongku ke wilayah-wilayah pergunungan  / Bahkan kadang hanya sampai di atas pantai / Pada kelembaban suhu tertentu / Aku berubah turun ke bumi / Hujan, kata manusia //

Kami turun serempak dan serentak / Jatuh ke gunung-gunung / Bahkan ada juga yang jatuh langsung ke laut dan pantai / Di pegunungan aku bersemayam di pepohonan / Perlahan aku turun ke bumi / Menyerap masuk ke dalamnya / Itulah rumah pertama kami //

Tuhan mengirim kami sebagai berkah dan rahmat / Tapi, kalian rampas hakku / Kalian hancurkan rumah tempat persemaianku / Kalian robohkan gunung-gunung / Kalian tebangi pohon-pohon / Kalian binasakan hutan / Atas nama keserakahan, kalian pasak beton di atas lahan tempat persemaian kami / /

Maka mengalirlah kami / Dari hulu ke hilir / Dari atas ke bawah / Kami bergerak bersama / Menuju dataran rendah / Memasuki sungai-sungai / Itulah jalan utama kami kembali ke pantai / Tapi, sungai-sungai kalian ganggu / Kalian hambat jalan kami dengan sampah peradaban dan sampah kebodohan / Jalur jalan kami menyempit //

Tapi kalian belum pernah puas / Dinding-dinding sungai kalian beton / Bantaran sungai kalian aspal / Kami sulit masuk menyerap ke dalam tanah / Untuk dan atas nama kebodohan yang tak tersadari / Kalian hambat kami //

Para pendahulu kalian mengganti rampasan dengan tempat persemaian baru kami /  Waduk, embung, setu, dan kanal-kanal mereka bangun / Dan kalian mengikutinya, tanpa mengikuti alasan dan tujuan mereka membangun itu semua / Karenanya kalian enggan merawatnya / Bahkan, kalian abai / Kalian tak pernah mengingat / Bagaimana kami menggerakkan turbin untuk menghasilkan listrik / Bagaimana kami mengaliri sawah-sawah kalian //

Oii.. sungai-sungai kalian tempatkan di belakang pemukiman kalian / Kalian biarkan semua sampah peradaban dan kebodohan menghambat jalan kami //

Dalam gerakan arus besar / Dengan tenaga yang tak pernah kalian bayangkan / Kami harus mendapatkan jalan menuju pantai / Kami tak peduli dengan kalian / Seperti kalian tak peduli pada kami //

Karena kalian rampas tempat persemayaman kami / Karena sungai-sungai kalian timbun dengan sampah / Karena bantaran sungai-sungai kalian rusak / Kalian ubah menjadi rumah-rumah kalian / Maka kini, kami menerobos masuk ke dalam rumah kalian / Kami genangi kota-kota dan desa-desa kalian //

Aha... ketika kami ganti ambil kembali hak kami yang kalian rampas / Biarkan kami bersukacita, kala laina berteriak://

Banjir.. Banjir.. Banjir//

Biarkan kami bersukacita menyaksikan kebodohan kalian / Ketika kalian sibuk menghitung angka-angka kerugian / Lantas sibuk mencari ketiak ular / Saling tuding sesama kalian / Ditingkah kedunguan semesta pada berudu yang memanfaatkan banjir untuk kepentingan politik mereka //

Kami terus bergerak dan akan selalu bergerak / Menghanyutkan apa saja dan siapa yang menghalangi //

Aha..  kami dengar kalian berdo’a / Agar Tuhan menghentikan hujan / Kalian meminta supaya kami tetap berada di angkasa / Karena kalian sebut kami pembawa musibah / Padahal kalian selalu lupa / Manusialah yang selalu mengubah rahmat menjadi laknat //

Kami bukan musibah / Kami datang bukan sebagai bencana / Musibah dan bencana atas kalian, kalian ciptakan sendiri / Musibah dan bencana yang kalian derita, datang dari ulah kalian sendiri //

Perbaikilah cara hidup kalian / Berikan dengan sukacita hak kami yang kalian rampas / Tanami kembali bukit-bukit dan gunung-gunung, hingga lebat kembali hutan-hutan //

Sediakan kami tempat persemaian: / Waduk, embung, setu, dan danau / Supaya kami tetap menjadi berkah / Silakan kalian bangun bendungan / Manfaat kami untuk peradaban mulia / Tapi ingat, kami tak akan memberi hati //

Siapa dan apa saja yang menghambat kami / Pasti akan kami hempaskan / Kami Air, rahmat dicipta Ilahi / Jangan ubah kami jadi laknat / Yang kapan saja mudah melumat hidup kalian / Kami air pembawa sukacita / Perlakukan kami dengan cara yang baik // (Air, N. Syamsuddin Ch. Haesy)

Puisi ini saya tulis, terinspirasi dari kearifan lokal masyarakat Kajang di Bulukumba, dan Baduy di Banten, serta masyarakat adat di berbagai daerah lainnya. 

Seorang tetua Adat Kajang, beberapa waktu selepas terjadi bencana longsor yang menyertai hujan deras, kala itu bicara pada saya, “Sekarang orang Kajang tak lagi punya tanah air, hanya mempunyai air, karena tanah sudah dibagi-bagikan dalam berbagai konsesi kepada orang-orang kota. Bila terjadi bencana, yang bersalah bukan alam, tetapi manusia, karena mereka tidak mempunyai akhlak terhadap alam.”

Masyarakat Baduy sering mengamsalkan, air dengan menggunakan kata ganti 'kami,' dan berseru: “Kami moal ngelehan, kami moal ngelehkeun, tapi pasti nepi ka tujuan. Ngan hampura, bisi aya nu kalabrak, kasered kabawa palid, kabanjiran, jeung kakeueum, da bongan ngahalangan jeung aya dina jajalaneun kami.” Air tak terkalahkan dan tidak mengalahkan, tapi pasti bergerak ke tujuan (muara). Tapi maaf, kalau (pergerakan kami menuju ke muara akibat volume yang lebih) ada yang tertabrak, terseret terbawa hanyut, kebanjiran, dan tenggelam. Sebab, kalian menghalangi dan berada di jalan kami mencapai tujuan.

Setiap bencana terjadi, masyarakat adat segera me­lakukan evaluasi dan introspeksi diri. Mencari dan menemukan pangkal sebab terjadinya bencana.

Dan umumnya, ke­simpulan yang diperoleh selalu saja: penyebab utama bencana alam adalah buruk­nya akhlak manusia terhadap alam. Termasuk ketidak-jujuran manusia dalam melakukan eks­plorasi dan eksploitasi atas alam yang kelewat batas kewajaran.

Meski dari aspek ilmu pengetahuan, penye­bab bencana itu, bisa terjadi karena berlangsung pergeseran komposisi lapisan tanah dan bebatuan. Namun, ketika hendak ditelusuri lebih jauh, lagi-lagi ditemukan, pangkal sebabnya adalah ulah manusia. Antara lain, melakukan proses penam­bangan secara serampangan.

Kini, ketika bencana alam yang ditimbulkan oleh buruknya akhlak manusia memperlakukan sumberdaya alam, akankah muncul kesadaran dan aksi nyata untuk memberi perhatian ekstra terhadap ekosistem dan ekologi?

Pemerintah, untuk dan atas nama negara, secara politis formal memang selalu berusaha  memulih­kan keadaan lingkung­an dan mencegah terjadinya ke­rusakan lingkungan yang lebih parah.

Pemerintah berusaha melakukan pemulihan lahan melalui gerakan reha­bili­tasi lahan kritis, yang disinergikan dengan program gerakan nasional re­habilitasi hutan, melalui re­boisasi. Termasuk program one man one tree di masa lalu. Setiap orang menanam satu pohon.

Lalu, secara serentak mendistribusi­kan berjuta-juta bibit pohon, tapi seringkali kita kita dengar, selalu ada penyelewengan. Di masa lampau, bahkan kita dengar dana reboisasi hutan, dikorupsi. Tapi, hukuman bagi pelakunya, seperti hukuman bagi para pembakar lahan dan hutan, tak seimbang dengan kerusakan alam yang mereka lakukan.

Pemulihan lahan mungkin sudah jutaan hektar, tapi belum ada keberanian menerbitkan ke­bijakan moratorium yang terpadu, se­bagai bagian dari pemulihan hutan. Belum sampai ke titik zero tolerance terhadap aksi penebangan hutan dan alih fungsi lahan.

Berbagai upaya mengatasi pencemaran dan kerusakan lingkungan, seperti pemeliharaan sungai - sungai juga masih belum mengembalikan alam ke kondisi semula jadi.

Semua pe­mangku kepenting­an, mestinya mempunyai kesadaran kolektif: Tak akan ada izin bagi siapa saja menebang pohon tanpa pernah menunjukkan telah menanami bukit dan gunung.  siapa yang menebangi hutan, wajib bagi mereka menanamnya kembali.

Siapa saja yang mencemari sungai, wajib membersihkan sungai-sungai, dan tak ada hak bagi mereka sebelum memenuhi kewajibannya.

Kuncinya adalah membuktikan kemauan dan kemampuan memper­lakukan air secara berakhlak. Tidak menghambur-hamburkan, tidak men­cemari, dan tidak menyia-siakannya. Buruk akhlak manusia, penyebab air murka..|

Editor : Web Administrator
 
Sporta
22 Okt 19, 13:15 WIB | Dilihat : 784
Pertamax Turbo Ajak Konsumen ke Sirkuit F2 Abu Dabi
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 1621
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 1329
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
Selanjutnya
Energi & Tambang
22 Okt 19, 12:46 WIB | Dilihat : 441
Sinergi PHM dengan Elnusa Garap Jasa Cementing di Rawa
03 Okt 19, 12:21 WIB | Dilihat : 178
Pertamina Bersinergi dengan PLN di Bisnis Kelistrikan
04 Okt 19, 12:21 WIB | Dilihat : 196
Sekolah Percaya Diri Pertamina
Selanjutnya