Aromaterapi dan Parfum Pernah Dipakai Melawan Wabah

| dilihat 205

Annick le Guerrer, sejarawan parfum, berkisah, ihwal aromaterapi dan parfum.  Mulanya adalah wabah Black Death (Wabah Hitam) yang menjadi tulah bagi manusia yang terjadi di paruh pertama abad ke 14.

Wabah Hitam yang berubah dari epidemis menjadi pandemis, merayap meninggalkan Laut Kaspia pada 1346. Lantas masuk ke Prancis pada 1348. Wabah Hitam yang diperkirakan telah menewaskan antara 30 dan 50 persen dari populasi Eropa selama lima tahun, itu menyebabkan sekitar dua puluh lima juta korban meninggal dunia. (baca: Sejarah Wabah Black Death Berulang).

Epidemi ini menimbulkan petaka pada peradaban Eropa, terutama sejak setelah gelombang pertama ini, penyakit ini kemudian secara teratur muncul kembali di berbagai negara yang terkena: antara 1353 dan 1355 di Prancis, dan antara 1360 dan 1369 di Inggris.

Wabah telah meninggalkan dan memperkenalkan manusia di Eropa mengenal kata "empester" atau bau. Istilah ini kian dikenal luas, pada abad ke 16, yang selalu lekat dan berkonotasi pada kematian, meski kemudian terkorealsi dengan apa saja yang mengacu pada bau busuk.

Para korban wabah jelas berbau. Bau busuk selalu dihubungkan dengan wabah. Obat harus ditemukan untuk tulah kemanusiaan ini. Tapi, manusia yang berikan Tuhan perangkat nalar, naluri, rasa, dan dria mengembangkan ikhtiar mereka, dan akhirnya menemukan serta mengembangkan aromaterapi.

Adalah Hippocrates - dokter Yunani, yang dianggap sebagai "bapak kedokteran," yang menyarankan agar penduduk membakar parfum atau dupa di tiang pancang untuk membersihkan udara.

Dikisahkan, Wabah Hitam datang dari uap bau yang naik dari tanah. Udara yang terinfeksi memasuki tubuh dan merusak organ-organ.

Para dokter Prancis menetapkan pemandian sebagai salah satu faktor utama terjadinya kontaminasi, khususnya pemandian air panas yang membuka pori-pori kulit, tempat bau tak sedap bisa masuk ke dalam tubuh.

Mereka kemudian memutuskan, lebih baik menghentikan mandi di kolam uap bersama. Tindakan itu dilakukan pada abad ke 16, bersamaan dengan datangnya peringatan para dokter. 27 oven yang ada di Paris ditutup saat itu.

Tulah Wabah Hitam, ini kemudian diperangi oleh aromaterapi, yang dikembangkan dari pengetahuan para bhikkhu karena mereka memiliki taman dengan tanaman aromatik di biara-biara mereka. Para biarawan juga menulis buku tentang aromaterapi.

Beberapa esens dikenal karena manfaatnya. Seperti bunga bakung, Le Souchet (semacam papirus) kayu, kemiri, jahe, iris, dan lain-lain.  Maria Comnena - Ratu Hongaria (1370) menginisiasi wewangian dengan produk penyulingan dengan menggunakan alkohol.

Maria mencontohkan rakyatnya menggosok seluruh tubuhnya dengan air yang sudah diteteskan aroma hasil penyulingan untuk menangkal wabah. Mereka meyakini, air beraroma itu akan memulihkan kesehatan, kecantikan, dan bikin awet muda. Masyarakat menyebutnya, Air Comnena.

Penghujung abad ke 14, ketika Raja Charles V di Perancis (1379) -- yang membangun monumen Louvre -- jatuh sakit dan menderita gangguan paru-paru (tuberculoses - TBC), ia diobati dengan menggunakan air Carmine, yang diolah dari lemon balm, adas manis, marjoram, thyme, sage, juniper berry, kapulaga, dan kayu manis.  Ramuan ini diolah kembali dan dijual luas melalui berbagai apotek pada abad ke-17.

Apoteker sendiri, dikenal pada abad ke 13 (1221), ketika Dominikan pertama menetap di Florence. Mereka membangun kompleks biara dan sebuah basilika Santa Maria Novella di atas reruntuhan sebuah gereja kecil, Santa Maria alle Vigne.

Komunitas ini dengan cepat tumbuh dan, sesuai aturan, apoteker dididik dan berperan untuk kepentingan para biarawan, yang disebut Speziale. Tapi, dalam waktu yang sangat cepatm apotek tidak puas dengan aktivitas internalnya.

Ketika Wabah Hitam meruyak dan menghancurkan Eropa pada tahun 1348, para apoteker mengabdikan pengetahuan mereka untuk melayani masyarakat luas di Florence. Di masa inilah, pembuatan air mawar dan bunga rampai berasal dari waktu ini dikenal untuk pertama kali. Di masa ini juga thèriac diproduksi.

Thériac adalah formula yang melawan bau busuk wabah, itu.  Mengandung 120 bahan aromatik. Pada masa ini juga diproduksi cuka aromatik dari rosemary, absinth, mint, kapur barus, rue -- dari semak-semak rutaceae, yang dibudidayakan --, dan daunnya diolah menjadi aromatik berkualitas dan obat-obatan.

Para apoteker memproduksi cuka baik untuk minum (dalam bentuk lkohol), disemprotkan sebagai desinfektan, dan memerangi wabah.

Di paruh kedua abad ke-14, para pangeran juga akan memiliki kebun obat sendiri karena mereka juga ingin melindungi diri dari wabah. Pada masa itu juga (1348) mereka karib dengan terapi parfum. Mereka berseru, ingin melepas kematian dengan parfum. Kendati parfum, di masanya, merupakan salah satu cara langka untuk melawan wabah.

Pada tahun 1365, Charles V pun menanam kebunnya dengan tanaman obat, seperti salvare, hisop lacender, mawar, iris dan violet. Juga ubi jalar yang bibitnya datang dari Timur (dan dikenal pada abad pertengahan) untuk melawan wabah. Semua bahan itu diolah dan  cukup dipakai di hidung untuk bernafas. Yang menarik, di lingkungan istana, perangkat untuk mengolah bahan-bahan itu menjadi obat, terbuat dari emas.

Dengan peralatan itu, aneka campuran tanaman aromatik dan binatang diolah, seperti musk, amber, castoreum, musang dan apel. Kontraksi apel kuning (pommanders) diolah dari beberapa kompartemen terpisah dengan amber, sastoreum, dan musang.

Pada awal abad ke 16 (1520) Wabah Hitam kembali muncul (meski tak seganas di abad ke 14) saat Renaissanse berawal.  Pergerakan wabah tak seganas masa sebelumnya, karena penguasa sudah berusaha membatasi penyebaran wabah. Sekaligus memisah-misah lokasi konsentrasi masyarakat berdasar profesi masing-masing.

Para pekerja kasar yang berkembang bersamaan dengan perkembangan awal era industri  bekerja di luar kota. Mereka disebut juga sebagai kaum yang berbau (karena keringat mereka, lantaran awal era industri, digerakkan oleh mesin bertenaga uap).

Sejumlah komunitas yang dianggap sebagai kalangan yang mudah menjadi wahana penularan wabah, sepeerti pelacur diisolasi dan tempat-tempat prostitusi, serta berbagai tempat pesta pora, ditutup. Termasuk tempat mandi sauna, yang terakhir dihancurkan di Dijon, 1566.

Ketika kemudian air bersih juga terbatas di toilet, terutama di Perancis, Raja Louis XIV menggunakan cuka toilet untuk membersihkan tangan. Di Austria, air tersedia cukup pada masa Marie Antoinette. Karenanya, sebagaimana halnya dengan Jerman, Austria tidak terpengaruh oleh penutupan tempat mandi sauna.

Mereka bahkan menggunakan benzoin Siam dan Sumatra ke dalam komposisi aroma tertentu untuk mandi sauna. Produk-produk aroma ini kemudian ditambahkan ke berbagai sentra pemberantasan wabah, dan masuk dalam persiapan yang matang untuk melawan wabah.

Pada awal abad 16 (1521), burung-burung birdies muncul di Siprus. Burung-burung wangi ini, dimasukkan ke dalam kandang yang kemudian dibakar untuk melawan wabah.

Di Siprus, kaum perempuan wajib mandi ramuan oak moss, pinus, iris, storax, almond, yang mempunyai struktur chypre, seperti yang ditemukan François Coty adalah penemu struktur chypre. Sebelumnya,  Coty, mengolah lumut ek sudah untuk membumbui birdie yang dibakar.

Selama masa Rainassance berkembang ritus melawan wabah dengan meramu apa yang disebut sebagai 'air malaikat,' yang terdiri dari benzoin, storax, cengkeh, kayu manis, calamus, dan lemon untuk melindungi diri dari wabah. Aur Cordoba yang merupakan campuran 'air malaikat' dengan air mawar, pada masa itu direkomendasikan sebagai salah satu cairan untuk memerangi epidemi.

Bila semula ramuan itu diolah di wajan tembaga, pada masa Renaissance diganti dengan wadah terbuat dari glass. Di wadah itulah, resep André de Fournier yang terkenal, berupa ramuan Benzoin, Rose, Storax, Clove, Aloe, Musk, dan Camphor diolah.

Pada awal abad ke 18 (1720), berlangsung lagi epidemi wabah Marseille (datang dari Timur yang dibawa oleh kapal-kapal besar), karena Santo Antoine tidak melarang pendaratan barang. Banyak juga korban yang jatuh pada masa ini.  

Sejumlah ramuan kembali diolah dan diproduksi untuk melindungi diri dari wabah, yang dikenal sebagai 'air kekaisaran,' disertai dengan masker (topeng) yang mengandung zat aromatik untuk menyaring udara.

Selain itu, juga dikembangkan serbuk fumigasi untuk melindungi diri dari wabah. Ada beberapa jenis serbuk yang dikenal masa itu, seperti kaustik sdari belerang untuk membunuh racun. Juga serbuk-serbuk medium untuk mensterilkan orang dewasa, serta serbuk lembut untuk melindungi anak-anak.

Penggunaan aroma atau parfum yang digunakan untuk menghadapi wabah Marseilles, dipertanyakan ketika tiba epidemi wabah Moskow pada tahun 1771.  Terutama, karena pada periode ini, kimia sebagai produk hasil olahan pengetahuan dan teknologi baru, mulai muncul.

Di penghujung abad ke 19 (1894), Dokter Alexandre Yercin mengisolasi bacillus wabah. Tiga tahun kemudian, selama setahun (1897-1898) Dokter Paul Louis Simon dikirim ke Hindia Inggris oleh Institut Pasteur. Ia melanjutkan kampanye vaksinasi anti-wabah.

Pada akhir 1897, karena terlalu banyak bekerja, kelelahan, Simon menjadi korban malaria dan harus beristirahat di Agra. Kemudian, dia segera dipanggil ke Karachi pada Februari 1898, karena wabah mengamuk.

Selain penerapan seroterapi anti-wabah kepada korban epidemi, Simon mengemukakan hasil penelitiannya, bahwa wabah dapat ditularkan oleh serangga. Ia kemudian melanjutkan penelitian ke arah ini. Penelitiannya berakhir pada 2 Juni 1898, ketika dalam sebuah eksperimen ia mempresentasikan temuannya, bahwa penyebaran wabah oleh kutu dari tikus ke tikus dan dengan deduksi dari tikus ke manusia. Sejak saat itu, tikus selalu dipergunakan untuk uji laboratorium penelitian obat penangkal virus.. |tique.

Editor : bungsem | Sumber : berbagai sumber
 
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1047
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 1457
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 646
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 1071
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
Selanjutnya
Sporta
22 Okt 19, 13:15 WIB | Dilihat : 878
Pertamax Turbo Ajak Konsumen ke Sirkuit F2 Abu Dabi
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 1716
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 1412
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
Selanjutnya