Sup al-Jreesha Santapan Ramadan

Walid al Hattab Chef untuk Kaum Miskin Gaza

| dilihat 285

Walid al Hattab nama lelaki baya Palestina, penduduk kota Gaza yang tak usai dirundung derita karena serangan zalim pasukan Zionis Israel, itu.  Kota yang selama 13 tahun mengalami blokade ekonomi oleh zionis Israel.

Sepintas, tak ada yang istimewa dari lelaki berusia 55 tahun ini. Tapi, dia melakukan sesuatu yang jarang dilakukan orang banyak.

Sepanjang Ramadan 1442 Hijriah, al Hattab menghabiskan waktu petang-nya untuk memasak sup. Tidak untuk dirinya dan keluarganya. Tapi, untuk kaum miskin di kota itu.

Hattab tak hirau lagi dengan bayangan pandemi nanomonster virus corona. Ia konsisten memasak sup sepanjang Ramadan, seperti apa yang sudah dia lakukan setiap sore, sejak beberapa tahun terakhir.

Wajah anak-anak Palestina di Gaza bersukacita setiap kali mencium asap dengan aroma sup masakan Hattab. Bahkan, keluarga miskin yang tak sempat mendatanginya, akan mendapatkan haknya. Sup akan datang dan diletakkan di pintu-pintu rumah keluarga miskin.

Walid al-Hattab memasak sup tradisional Palestina yang disebut "al-Jreesha" dan mengirimkannya secara gratis kepada keluarga miskin yang berada dalam kemiskinan di lingkungan berpenduduk padat kotra Gaza, al-Shujaeya.

Olahan supnya khas, berisi daging dengan bawang bombay, bumbu rempah, yang dimasak dengan air dalam wajan besar. Untuk kegiatannya memasak, Hattab menggunakan tungku kayu bakar, di depan rumahnya pada lingkungan sekitar bagian timur kota.

Setelah sup siap, Hattab membagikannya kepada anak-anak yang datang dengan membawa mangkuk, dan bahkan mengantarkannya ke keluarga miskin sesaat sebelum berbuka puasa ketika petang merambat menyambut maghrib tiba.

Sejak tahun lalu (2020), Hattab mengambil tindakan pencegahan khusus yang diperlukan untuk mengurangi kerumunan, terutma anak-anak.

"Saya lakukan ini bertahun-tahun untuk membantu keluarga-keluarga yang terpukul oleh situasi ekonomi yang memburuk di daerah kantong Palestina yang telah menderita," ungkap Hattab.

Dia bercerita, tindakan zalim zionis Israel melakukan blokade Israel untuk mematikan telah menyebabkan, meningkatnya jumlah keluarga miskin di lingkungan tempat tinggalnya.

Terutama, keluarga para pekerja dengan upah harian.  Kepada sejumlah jurnalis dari jaringan media internasional, yang datang mewawancarainya,  Hattab menjelaskan, tingkat kemiskinan di wilayah tempat tinggalnya sudah parah.

"Banyak orang di sini tidak mendapatkan makanan sehari-hari, mereka kelaparan," ujarnya.

Kondisi itulah yang memotivasinya melakukan ikhtiar sebaik-sebaiknya, menyiapkan dan menawarkan sup masakannya, itu kepada kaum miskin," kata al-Hattab.

 Hattab yang kemudian berjuluk 'chef untuk kaum miskin' itu juga mengemukakan, merebaknya pandemi virus Corona (Covid-19) di Palestina menambah berat derita kaum miskin papa di sekitarnya.

Otoritas Hamas yang menguasai Jalur Gaza telah memberlakukan serangkaian tindakan pencegahan yang ketat, termasuk penutupan restoran, kafe, hotel, masjid, dan aula pernikahan untuk mencegah penyebaran virus Covid 19.

Pandemi nanomonster Covid 19 amat berdampak dan telah membuat perekonomian kian memburuk dan kian menambah miskin 2 (dua) juta penduduk di Jalur Gaza, itu.

Al-Hattab memakai masker dan sarung tangan saat memasak sup al-Jreesha, yang sepanjang proses dia memasak, disaksikan oleh anak-anak di lingkungan itu yang siap antri untuk mendapatkan bagian mereka.

Hattab sudah menghidupkan kembali tradisi lama masyarakat Palestina, memask di muka umum, di ruang terbuka. Dia senang menyaksikan semua orang datang untuk menikmati hasil olahannya secara gratis.

Bagi Hattab, ini bagian dari aksi sadaqah ramadan. Sejumlah petugas dari Hamas mengawasi dan membantunya melaksanakan protokol kesehatan.

Dia mengikuti aturan untuk menjalankan protokol kesehatan, itu. Dia mematuhinya, karena dia tak mau terjadi pelanggaran, yang selain menyebabkan penyebaran virus. Juga bisa membuat rakyat miskin lebih menderita.

Hamas tak akan mengambil risiko penyebaran virus nanomonster, itu. Hamas akan menghentikan dfan melarang kegiatannya memasak untuk kepentingan sosial, itu.

Sup Al-Jreesah olahan Hattab, sangat disukai penduduk di sekitarnya, karena enak. Selain daging kambing dan daging sapi dengan bumbu rempah sangat terasa, gandum tumbuh yang dicampurkan ke dalamnya, juga terasa.

Sup ini merupakan warisan sejarah di Palestina , biasanya menjadi makanan utama pada pesta pernikahan dan kenduri, atau kegiatan komunitas di lingkungan desa dan pinggiran kota.

Kalangan berpunya, yang tak berapa banyak jumlahnya, mendukung aksi memasak sup Al-Jreesah. Mereka menyumbangkan kambing dan sapi, bumbu rempah, dan menutupi sisa kekurangan belanja bahan dan distribusi sup. Terutama karena sup olahan Hattab dikonsumsi sampai lebih dari 40 orang miskin. Kontribusi atas ikhtiar Hattab merupakan sadaqah ramadan yang nyata.

Kaum miskin yang menjadi sasaran kegiatan memasak, mendistribusikan dan menyantap sup al - Jreesha itu tidak hanya terpenuhi keperluan pokok asupan pangan mereka selama Ramadan. Jauh dari itu, menambah pasokan energi tubuh, menyehatkan dan menambah imunitas mereka selama berpuasa. 

Tak hanya anak-anak, kalangan penduduk belia dan lansia juga datang mengunjungi Hattab, untuk merasakan suasana dan khas Ramadan. Selebihnya, adalah karena santapan gratis itu memberikan harapan kelangsungan hidup.

Apalagi, sejak beberapa bulan terakhir setelah pandemi, perekonomina kian sulit dan bantuan sosial bagi masyarakat miskin di Jalur Gaza juga menurun drastis. | delanova, sumber: Rizek Abdeljawad.- Mohammed Omer

Editor : eCatri | Sumber : ArabNews, WashingtonReport,NewsCN, XinHua dan sumberlain
 
Energi & Tambang
29 Mar 21, 20:15 WIB | Dilihat : 401
Pertamina Jamin Pasokan BBM Aman
28 Jan 20, 13:31 WIB | Dilihat : 1287
Komitmen Budaya pada Reklamasi Pertambangan
22 Okt 19, 12:46 WIB | Dilihat : 1496
Sinergi PHM dengan Elnusa Garap Jasa Cementing di Rawa
Selanjutnya
Humaniora
04 Nov 21, 07:24 WIB | Dilihat : 336
Tolak Toleransi Zina di Kampus
13 Okt 21, 09:25 WIB | Dilihat : 624
Pendekar Mabuk di Tengah Coronastrope
05 Okt 21, 16:00 WIB | Dilihat : 412
Penista Nabi Muhammad Mati Dilahap Truk
03 Sep 21, 12:31 WIB | Dilihat : 259
Membaca Tantangan Abad 21 dan Hegemoni Pendidikan Global
Selanjutnya