Utak Atik Kabinet

| dilihat 748

Bang Sém


Sejak tiga bulan ini, saya sangat sibuk dengan berbagai program 'perjalanan.' Ada kesempatan beberapa hari untuk bersibuk diri urusan lain. Utak-atik kabinet.

Pertengahan September 2019 saya berkunjung ke Banda Aceh selama beberapa hari. Tiba di Jakarta, adik (perempuan) kandung saya wafat. Saya kehilangan adik yang secara pribadi sangat dekat dengan saya.

Ketika di Aceh saya banyak beroleh informasi tentang penerapan prinsip-prinsip syariah sesuai dengan Undang Undang yang berkaitan dengan otonomi khusus Nangroe Aceh Darussalam.

Saya mengikuti dengan seksama, bagaimana Pemerintah Aceh mengelola penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, dan pemberdayaan masyarakat berbasis Syariah.

Saya pelajari dengan seksama (dan dalam tempo yang singkat) ihwal Majelis Adat, Mahkamah Syariah, Dinas Pendidikan Dayah, Pemerintahan berasas Resam Budaya Aceh - seperti pemerintahan gampöng, desa, mukim, dan kecamatan. Tak terkecuali Majelis Pemusyawaratan Ulama (MPU) Aceh.

Saya juga mempelajari dengan seksama fungsi lembaga-lembaga tersebut dan konstelasi Ketua Majelis Adat dan Ketua MPU sebagai anggota forum pimpinan daerah bersama Panglima Kodam, Kapolda, Jaksa Tinggi, Ketua Pengadilan Tinggi, dan anasir lain di bawah koordinasi Gubernur Aceh.

Saya juga beroleh informasi matang tentang berbagai qanun (Peraturan Daerah) terkait dengan penerapan ekonomi syariah -- tahun 2020, di Aceh hanya akan ada perbankan syariah sebagaimana diatur oleh qanun yang melandasinya. Pun, demikian halnya dengan qanun tentang poligami.

Di Aceh, sangat jelas, prinsip-prinsip dan nilai dasar islam kompatibel dengan modernitas. Yang menarik adalah penerapan prinsip-prinsip dan nilai dasar islam (akidah, syariah, muamalah, dan akhlak) tidak mengganggu arus penanaman modal.

Penanaman modal atau investasi di Aceh, terhambat hanya oleh hal-hal teknis, sepeerti jaminan pasokan listrik, air bersih, dan infrastruktur. Karenanya, pembangunan jalan tol Banda Aceh - Sigli, misalnya terlihat sebagai salah satu solusi yang memberi daya bagi pengembangan ekonomi.

Selepas dari Aceh, selama beberapa hari saya berkunjung ke Bali. Berjumpa dan berdiskusi dengan beberapa kalangan dan kolega -- termasuk Pemerintah Provinsi Bali.

Meski bukan daerah istimewa dan daerah khusus yang tidak diatur dengan undang-undang khusus, Provinsi Bali justru nampak kreatif dalam menerjemahkan otonomi daerah.

Di Bali, urusan kebudayaan -- termasuk seni dan tradisi --  dikelola oleh Dinas Kebudayaan yang terpisah dengan Dinas Pariwisata, tetapi dua institusi itu saling menguatkan satu dengan lainnya. Bali juga mempersiapkan sebuah instansi baru, yakni Dinas Pemajuan Masyarakat Adat.

Saya berkunjung ke beberapa desa adat, termasuk Desa Adat Penglipur yang tertata apik dengan tata ruang fungsional, yang menarik sebagai tujuan destinasi wisata. Tak hanya itu, desa adat ini juga menarik, karena dalam pandangan saya, berhasil menjadi model pencapaian lingkungan sehat, lingkungan cerdas, dan lingkungan mampu secara ekonomi. Relevan dengan prinsip pembangunan yang berorientasi pada pencapaian indeks pembangunan manusia. Termasuk kaidah-kaidah asasi dari sustainable development goals (SDGs), sebagai kelanjutan dari pelaksanaan millenium development goals (MDGs).

Sebagaimana halnya Aceh, Bali memberikan pelajaran berharga tentang harmonitas resam budaya dan agama dalam satu tarikan nafas.

Di Aceh, nilai-nilai dasar Islam yang bermuara pada pencapaian kualitas insaniah (insan kamil) dengan pilar islam - iman - ikhsan (muslim, mukmin, mukhsin) menjadi ruh resam dan tradisi sebagai anasir inti budaya dan kebudayaan.

Di Bali, nilai-nilai dasar Hindu yang bermuara pada pencapaian taksu (spiritual vibration) yang ditopang oleh pilar utama trihita karana  sebagai soko utama - sumbu harmoni hubungan manusia dengan semesta dan Tuhan.

Trihita karana padupadan dan berkorelasi kuat dengan filosofi Trimurti, Trikahyangan, dan Trikayaparisudha. Khasnya, untuk mencapai kesejahteraan hidup jasmani dan ruhani. Trihita Karana memandu manusia pada pencapaian harmoni dalam hubungannya dengan semesta dan Tuhan.

Pulang dari Bali, saya menikmati hari-hari sibuk dengan aneka pemikiran di Bandung. Berdiskusi dengan sejumlah inohong -- termasuk Kang Tjetje Hidayat Padmadinata, Prof. Ganjar Kurnia, Prof. Jakob Sumardjo dan lainnya ihwal hakikat Sunda dalam keseluruhan konteks budaya dan peradabannya.

Saya juga terlibat dalam diskusi tentang dimensi makrokosmik dan mikrokosmik budaya dan peradaban Sunda (di luar rambahan paparan Sunda dalam konteks geogologi dan geografi). Terutama dalam melihat korelasi prinsip dasar filosofi Tri Tangtu untuk beroleh pemahaman rasa terkait spiritual vibration sebagai bagian tak terpisahkan dari keseluruhan konteks transformasi.

Terutama, karena di wilayah budaya Sunda juga berkembang berbagai nilai dasar terkait dengan laku kehidupan sehari-hari atau dharma, seperti yang tersimpan dalam dharma çiksa dan sanghyang çiksakanda ing karesian.

Kemarin saya sempatkan hadir memenuhi undangan Lembaga Kebudayaan Betawi untuk bicara ihwal Betawi di Universitas Islam AsSyafi'iyah - Jatiwaringin, di batas Jakarta dan Jawa Barat.

Banyak hal menarik tentang Indonesia dalam dimensi kenusantaraan, juga tentang jejak panjang kemelayuan yang berbanjar di jazirat al mulq, dari Melaka hingga Maluku, yang belum sempat saya susun ulang. Antara lain, menyusun kembali pumpunan informasi dan hasil penelitian budaya tentang Melayu (Riau dan Kepulauan Riau, termasuk Bangka), Sriwijaya, Banten, Banjar, Bugis, Maluku, Alor - Pantar, dan lainnya.

Anak bungsu saya mengingatkan, supaya saya membenahi berbagai dokumen di perpustakaan keluarga. Inilah yang membuat saya sibuk beberapa hari terakhir mengutak-atik kabinet untuk menyimpan beragam dokumen ke dalam berbagai file. Termasuk memindahkannya ke 'bagasi data.'

Utak-atik kabinet menjadi penting buat saya, supaya tatanan file dengan substansi kontennya pas dan sesuai dengan kecepatan kerja, yang lebih efektif dan efisien.

Utak-atik kabinet juga penting, sebelum kelak bermigrasi ke sistem penyimpanan data komputatif yang selama ini tertunda, karena jadual yang relatif padat. Termasuk berkemah ke Tanakita.

Di hari tua, selain berbagi pengetahuan dan ilmu, konsentrasi saya lebih banyak menulis dan belajar menggunakan ragam aplikasi untuk memenuhi keperluan aktivitas sehari-hari. Kelak, mungkin saya tak perlu lagi kabinet, karena arus cepat informasi digital dengan segala fiturnya. Meskipun teknologi masa depan, seperti super komputer dan nano teknologi tak sepenuhnya dapat memisahkan manusia dengan habitusnya. |

Editor : Web Administrator
 
Polhukam
20 Nov 19, 11:24 WIB | Dilihat : 142
Fokuslah Kepada Nasib Korban
02 Nov 19, 10:19 WIB | Dilihat : 618
Anies Baswedan versus Orang Separo
22 Okt 19, 12:18 WIB | Dilihat : 159
Tetty Paruntu dan Perencanaan Karir Partai Golkar
Selanjutnya
Budaya
28 Okt 19, 11:57 WIB | Dilihat : 458
Sumpah (Serapah) Pemuda
29 Agt 19, 14:19 WIB | Dilihat : 630
Mitra Binaan Pertamina Semarakkan Pameran Warisan
24 Agt 19, 17:24 WIB | Dilihat : 468
Kongko Bersama Kaum Muda Kreatif Betawi
Selanjutnya