Kekejaman China di Uyghur

Ungkapan Hati Seorang Gadis Muslimah Uyghur

| dilihat 444

Gulnaz Uyghur, seorang muslimah Uyghur, seorang gadis yang melarikan diri dari tindakan brutal China, mengungkap lewat media Independent, Inggris, September 2018 lalu.

Dia mengatakan, "Inilah saatnya dunia menunjukkan kepada kami beberapa dukungan."

Selanjutnya Gulnaz menulis, "Pejabat China telah menargetkan kelompok etnis kami selama beberapa dekade. Selain memenjarakan kami di kamp interniran. Mereka melakukan pelanggaran hak asasi manusia, seperti meningkatkan pelacakan muslim Uyghurs dengan kode QR (quick response)."

Selengkapnya, inilah jeritan hati Gulnaz:

Menjadi seorang ibu atau ayah sering digambarkan sebagai salah satu perasaan terbaik di dunia. Seperti memulai babak baru - sukacita membawa pulang si kecil, membesarkan mereka dan mengawasi mereka mencapai tujuan mereka.

Sekarang bayangkan, jika suatu hari Anda dibawa pergi, dipisahkan dari anak-anak Anda dan dijebloskan ke kamp interniran, tanpa tahu mengapa Anda ada di sana, tanpa tahu apakah Anda akan dapat melihat anak-anak Anda lagi.

Bayangkan, penjelasan yang diberikan kepada Anda, bahwa kejahatan Anda adalah mengamalkan agama Anda, Islam), dan karena itu Anda akan tersiksa.

Bagaimana perasaan Anda? Takut? Yah, itulah tepatnya yang dirasakan jutaan orang Uyghur sekarang di China.

Jika Anda masih belum mendengar tangisan kami, maka di sini saya berteriak lebih keras dari sebelumnya, untuk memberitahu Anda bahwa orang-orang Uyghur adalah komunitas Muslim yang cantik.

Kami memiliki bahasa, budaya, dan musik kami sendiri. Kami bahkan mendesain pola pakaian tradisional kami sendiri. Kami mengamalkan agama yang kami yakini, Islam, dan itulah penyebab utama mengapa China menganiaya kami.

Saat ini, lebih dari 1 juta Muslim Uyghur terkunci di kamp-kamp (yang mereka sebut) "re-education" yang mengerikan, di mana mereka (kaum muslim) dipaksa melupakan identitas dan (harus) mencela Islam.

Belakangan hari, The Independent mempublikasi laporan Human Rights Watch tentang meningkatnya pelanggaran hak asasi manusia di wilayah Uyghur. Laporan itu mengungkapkan tingkat penganiayaan yang mengerikan terhadap komunitas Uyghur oleh pemerintah China.

Hari ini, ribuan anak-anak dengan orang tua yang dikurung di kamp-kamp dikirim ke panti asuhan.

Jalan-jalan di wilayah Xinjiang kosong, dengan rumah-rumah yang terkunci dan toko-toko yang ditutup karena pemiliknya ditangkap.

Karena saya melarikan diri dari China dengan keluarga saya sendiri, situasinya semakin memburuk.

Saya seorang wanita muda yang sekarang hidup "aman" di London bersama orang tua saya, tetapi gagasan China menghilangkan mereka (muslim Uyghur) masih membuat saya terjaga di malam hari.

Sebagai seorang gadis tahun yang tinggal di China, saya selalu merasa takut dan tahu bahwa jika ada yang salah, orang tua saya tidak akan dapat menyelamatkan saya.

Kami meninggalkan Tiongkok setelah salah satu tetangga kami, Patime, melakukan aborsi saat dia hamil enam bulan.

Dia tidak selamat dari operasi itu dan kekejaman pihak berwenang adalah 'seruan' yang mendorong keluarga saya meninggalkan China.

Pemerintah mengumumkan rencana untuk mengakhiri Kebijakan Satu Anak, tetapi keluarga Uyghur selalu diawasi, dan aborsi paksa merupakan hal yang umum terjadi.

Perasaan takut itu masih hidup dalam diriku, dan membuatku enggan membagikan identitasku dengan orang lain.

Lolos ke luar negeri, kami pergi ke Uni Emirat Arab, tapi keadaan kami tidak banyak berubah. Kedutaan China mengawasi muslim Uyghurs yang tinggal di negara-negara asing, dan terus menekan pemerintah (negara tujuan kami) untuk mendeportasi Uyghurs kembali.

Mereka bahkan memeras siswa dengan menahan sandera keluarga mereka di China.

Kami tidak dapat mengatakan bahwa negara tertentu aman bagi kami. Bahkan negara-negara seperti Swedia telah menjunjung perintah deportasi.

Uyghurs harus mencermati hubungan negara tempat mereka (mengungsi) saat ini dengan China; jika pengaruh meningkat, begitu juga bahaya - akan meningkat.

Ini seperti menonton berita untuk menentukan apakah Anda akan aman setiap hari.

Setelah aneksasi Turkestan Timur oleh Republik Rakyat China pada tahun 1949, tindakan keras terhadap Muslim Uyghur mulai berlangsung secara perlahan.

Pertama, anak-anak berhenti belajar tentang Al-Quran, kemudian dilarang pergi ke masjid. Itu diikuti dengan larangan beribadah puasa ramadan, memelihara jenggot, memberi nama Islam untuk bayi Anda, dan lain-lain.

Kemudian bahasa kami diserang dan harus dilupakan. Kami tidak (akan) mendapatkan pekerjaan, jika kami tidak tahu bahasa Mandarin.

Paspor kami dikumpulkan, kami diarahkan untuk memata-matai satu sama lain, tahanan Uyghur yang tidak bersalah dibunuh untuk diambil organnya, dan daftar itu terus meningkat, membuat kawasan Uyghur terasa seperti penjara terbuka.

Saat ini, ada kamera pengenalan wajah di mana-mana. Kode QR dipasang di dinding luar rumah serta di dalam peralatan dapur milik Muslim Uyghur.

Perempuan dipaksa menikahi suku Han China. Setiap saat, Uyghur dapat dihentikan oleh polisi dan dikirim ke kamp - tampaknya  semua orang tidak diizinkan untuk berpikir tanpa izin dari China.

Terlepas dari kekejaman kekejaman yang ditebar pada Muslim Uyghur oleh pemerintah China, negara ini masih duduk dengan bangga sebagai anggota tetap PBB, dan menyangkal semua kenyataan itu.  

Terlepas dari semua bukti, China bahkan tidak mengizinkan PBB untuk melakukan investigasi bebas di wilayah tersebut. Para wartawan telah ditahan atau diekor oleh polisi, yang selamat hanyalah yang berusaha menutupi situasi.

Dunia harus menghentikan pelanggaran hak asasi manusia yang mengerikan ini, sehingga kita tidak mengikuti jejak China, di mana mempraktekkan agama Anda mereka nyatakan sebagai kejahatan. | fathima

Editor : Web Administrator | Sumber : The Independent - UK
 
Sainstek
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 671
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
19 Jul 18, 09:52 WIB | Dilihat : 1495
Volante Vision, Visi Kendaraan Udara Aston Martin
20 Feb 18, 12:07 WIB | Dilihat : 2411
Tragedi Archimides di Tangan Serdadu
10 Jan 17, 15:25 WIB | Dilihat : 1125
Honda Kembangkan Teknologi Motor Pintar
Selanjutnya
Seni & Hiburan
04 Jul 19, 13:22 WIB | Dilihat : 688
Jakarta Melayu Festival 2019 Merengkuh Keadilan
19 Jun 19, 12:59 WIB | Dilihat : 963
Kejujuran
12 Jun 19, 14:16 WIB | Dilihat : 303
Hafez dalam Abadi Cinta
10 Jun 19, 10:45 WIB | Dilihat : 313
Perempuan di Makam Ibu
Selanjutnya