Tujuh Siyasah Forhati Hadapi Tantangan Kebangsaan

| dilihat 437

PERJUANGAN para pejuang perempuan di masa lampau, merupakan sumber inspirasi dan aspirasi bagi perjuangan kaum perempuan kini dan di masa depan.

Pernyataan Koordinator Presidium Majelis Nasional FORHATI (Forum Alumni HMI-wati) Hanifah Hussein, ini mengemuka merespon ragam ekspresi peringatan Hari Kartini 2021, Rabu (21.04.21) lalu.

Hanifah menegaskan, peringatan atas perjuangan kaum perempuan yang diteladankan oleh Tjoet Nja' Dhien, Tjoet Meuthia, Laksmana Malahayati, Kartini, Rahmah el Yunusiah, Rohana Kudus, Nyi Ageng Serang, Rasunah Said, Opu Daeng Risaju, Christina Marthatiahahu, Dewi Sartika, dan banyak lagi, bukanlah untuk mengulang kenangan belaka.

Hal senada dikemukakannya juga ketika melakukan iftar (buka puasa) dengan sejumlah pengurus Korps HMI-wati (KOHATI) PB HMI, pimpinan Umiroh Fauziah, pada hari yang sama.

Menurut Hanifah, bagi FORHATI, memperingati Hari Kartini setiap 21 April dan perjuangan kaum perempuan Indonesia lainnya, merupakan cara memelihara keinsafan tentang kontribusi, serta partisipasi aktif dan kritis dalam menjaga konsistensi, sekaligus dan konsekuensi penyelenggara negara dan pemerintahan melaksanakan amanat para ibu pertiwi. Terutama yang tersirat dan tersurat dalam Pembukaan Undang Undang Dasar 1945 yang disahkan pada 18 Agustus 1945 sebagai nilai dasar perjuangan kebangsaan kita, bara abadi nasionalisme dan patriotisme yang luas, nyata, dan penuh tanggung jawab.

Esensi perjuangan kebangsaan itu, tegasnya, adalah kemerdekaan Sejati yang ditegakkan oleh nilai-nilai dasar religiusitas - Ketuhanan Yang Maha Esa; Kemanusiaan yang adil dan beradab; Persatuan Indonesia yang dihidupkan oleh persaudaraan kebangsaan; Demokrasi berasaskan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan; dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Kata kuncinya, tegas Hanifah, adalah kemerdekaan sebagai manifestasi hak peri kemanusiaan dan peri keadilan, serta wujud kongkret kedaulatan bangsa,  harus ditegakkan. Selaras dengan itu, penjajahan - apapun bentuk, format dan formulanya harus dihapuskan.

FORHATI mengingatkan, Penyelenggara Negara dan Pemerintahan dimanatkan untuk mewujudkan kehidupan kebangsaan yang bebas dalam naungan rakhmat Allah Yang Maha Kuasa,  serta melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, serta untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

"Oleh karena itu, kita, FORHATI di seluruh Indonesia, menyelenggarakan peringatan Hari Kartini dengan kesungguhan hati berkontribusi kepada bangsa secara nyata, dilandasi Persatuan Indonesia yang dihidupkan oleh persaudaraan kebangsaan, melalui kolaborasi dan sinergi baik dengan seluruh komponen dan eksponen bangsa, maupun dengan seluruh kalangan alumni HMI,"  ungkapnya.

Lancang Kuning

Hanifah mengemukakan, di tengah pandemi Covid-19 yang telah menyebabkan bangsa kita -- sebagaimana bangsa-bangsa lain di dunia -- ibarat perahu besar yang sedang berlayar malam menuju lautan dalam. Apabila nahkoda tidaklah paham, alamat kapal akan tenggelam.

"Perumpamaan ini sudah kita dengar sejak kita kanak-kanak, melalui lagu Lancang Kuning. Dalam situasi yang semacam itu, kapal terhempas badai ketika haluan menuju Utara, dipukul ombak dari Selatan. Patah kemudinya. Bila nahkoda tahu pedoman, para mualim dan anak buah kapal paham berkhidmat, bahtera akan selamat," ungkap perempuan pengusaha asal Medan, Sumatera Utara itu.

Dikemukakannya pula, "Badai pandemi Covid-19 membawa serta dampak besar dalam kehidupan kita sehari-hari. Mulai dari krisis kesehatan, resesi ekonomi, dan dinamika anomali politik.  Badai ini tidak ringan dan tidak mudah."

Menurut Hanifah, sebagai insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta'ala, FORHATI akan berjuang dengan tujuh fokus "Siyasah Forhati."

Pertama, Family Resilience Plan. Perencanaan ketahanan keluarga, meliputi: Pangan, nutrisi keluarga, kesehatan lingkungan, dan peningkatan imunitas diri melalui perubahan mindset tentang pangan dan kesehatan; Pendidikan seluruh anggota keluarga yang berorientasi pada keseimbangan skill - keterampilan dan kearifan - akhlak berbasis pendidikan agama dalam keseimbangan kecerdasan intelektual, spiritual, emosional dan budaya; Reorientasi kehidupan sosial yang bertumpu pada kesadaran dan antusiasme untuk menghidupkan simpati, empati, apresiasi, respek dan kasih sayang sebagai bagian dari hubungan manusia dengan Tuhan - sesama insan dan semesta (Hablum minallah, Hablum minannaas, Hablum minal alam) secara harmonis;

Kedua, Optimism Develop. Membangun sekaligus mengembangkan optimisme dengan meningkatkan kualitas kebersihan tauhid, ilmu pengetahuan dan cara hidup yang realistis dan bersyukur (qana'ah) disertai semangat ikhtiar dan mewujudkan cita-cita kehidupan keluarga yang tenteram - tanpa keraguan, damai dan penuh cinta (saqinah, mawaddah dan rahmah). Ditopang oleh kemauan dan kemampuan mengelola perbedaan untuk mencapai harmoni kehidupan, sehingga mampu menghidupkan sikap inklusif dan tidak mudah digoyahkan oleh hasad, hasud, iri, dengki, dengan segala bentuk media yang kini mengepung kehidupan sosial kita;

Ketiga, Result Oriented. Berorientasi pada pencapaian kualitas  hidup "bahagia," sebagai hasil ikhtiar optimum dengan semangat "yakin usaha sampai" melalui "jalan keselamatan," sesuai tuntunan Al Qur'an, Hadits, peraturan dan perundang-undangan negara. Orientasi hasil yang diwujudkan melalui proses yang terancang, terkelola dan terevaluasi dengan baik, serta menapak dalam kehidupan nyata, tidak terkungkung dalam ilusi, fantasi, dan obsesi semata-mata;

Keempat, Human Investment Based. Menggagas pemikiran, sikap dan langkah strategis transformasi sesuai dengan tantangan dan dinamika kehidupan peradaban baru, untuk dikontribusikan kepada pemerintah dan negara sebagai bagian dari policy design dalam merespon dinamika kehidupan selama dan sesudah masa pandemi, berbasis investasi manusia atau modal insan. Tidak hanya dalam konteks perencanaan pembangunan manusia yang terukur dan relevan dengan berbagai standar parameter dunia, seperti Sustainability Development Goals (SDG's), melainkan juga dalam konteks kaderisasi dan pendidikan kepemimpinan di seluruh aspek dan lapangan kehidupan, seperti sosial, ekonomi, politik, pertahanan dan keamanan nasional, agama, dan lainnya;

Kelima, Action Program. Mengembangkan paradigma pelaksanaan aksi pengabdiaan, khususnya di lapangan pengabdian masyarakat yang terkait dengan prinsip "amal ilmiah - ilmu amaliah"  dengan mengembangkan paradigma program aksi dari "program oriented" ke "peoples oriented," dengan mengenali dan memahami secara jernih dan fokus tentang umat - rakyat dengan berbagai persoalan yang dihadapi, serta aspirasinya. Dengan demikian seluruh program aksi yang berkaitan dengan pengabdian masyarakat secara konotatif dan denotatif sesuai dengan kondisi obyektif;

Keenam, Trust and Truth. Kini perjuangan kita juga merupakan pergerakan perjuangan membawa umat dan bangsa ini, keluar dari kegelapan menuju kondisi yang terang benderang, "minadz dzulumaat ilan nuur" seperti yang pernah dialami para perempuan pejuang di masa lalu, di era sebelum dan sesudah RA Kartini. Kini kita dihadapkan oleh kondisi zaman "post truth era" - era pencitraan yang membuat kita berjarak dengan kebenaran dan menggoyahkan kepercayaan terhadap siapa saja dan apa saja. Karena itulah, perjuangan terberat kita adalah menempa ketahanan keluarga untuk menghidupkan kembali kepercayaan dan perjuangan kebenaran dari hal-hal sederhana di lingkungan sosial terkecil, keluarga. Termasuk dalam melakukan perlawanan sosio budaya terhadap ghibah (rumors), buhtan (hoax), dan fithan (fitnah). Kepercayaan dan kebenaran harus dimulai dari lingkungan domestik keluarga;

Ketujuh, Integrity. Dari keseluruhan konteks perjuangan kini dan esok di lapangan sosial, ekonomi, politik, budaya, agama, dan berbagai aspek kehidupan lainnya adalah kita harus menyadari, sedang berada di tengah gelombang kehidupan yang diterjang angin dan badai (storm und drang) yang sangat dahsyat, yang dikenal sebagai VUCA. Yaitu Volatilitas, percepatan perubahan dalam industri, pasar, atau dunia secara umum, akibat dari fluktuasi, turbulensi, singkatnya ruang waktu, termasuk perubahan orientasi budaya dari realitas pertama ke realitas kedua (virtual); Uncertainty - Ketidakpastian, yang menyebabkan tidak seorang ahli pun mampu memprediksi masa depan dengan keyakinan penuh dan percaya diri, karena lingkungan (alam dan sosial) yang tidak pasti; Complexity - Kini kita menghadapi kompleksitas masalah di berbagai lapangan kehidupan politik, sosial, ekonomi, bisnis, bencana alam, bahkan ancaman bencana sosial yang menyergap kehidupan kita berbarengan; kemudian, Ambiguitas atau kemenduaan karena ketidak-jelasan, bagaimana mesti memahami dan menafsirkan sesuatu. Termasuk memahami dan menafsirkan kebijakan negara dan peraturan perundang-undangan, karena kita dihadapkan oleh zaman yang tidak lagi jelas membedakan antara ide dan terminologi. Akibatnya, banyak kalangan mengalami ambivalensia atau keterbelahan atau disorientasi.

Hanifah mengemukakan, kini, sedang mengemuka kecenderungan ambivalensia. Yaitu, ketika merasa gagal menghadapi realitas kehidupan saat ini, bukan mencari solusi tetapi menghibur diri dengan nostalgia kebesaran dan kejayaan masa lalu. "Untuk itulah bagi FORHATI, menghidupkan dan menempat integritas diri menjadi penting dan utama. Karena integritas merupakan soko guru ketahanan diri manusia, yang bersumber dari tauhid dan kemampuan mengendalikan diri atau taqwa. Tanpa integritas, kita hanya akan menambah bilangan buih di punggung ombak lautan. Ada tapi tanpa makna," tegasnya.

Hanifah mengajak seluruh kaum perempuan bersama-sama menyatukan visi perjuangan. Perbedaan dan keragaman adalah realitas yang niscaya. Karena itu, menyatukan kesamaan cita-cita menjadi penting. Semboyan negara, Bhinneka Tunggal Ika adalah kesatuan utuh dalam satu tarikan nafas, jangan direduksi dan dipilah-pilah. | delanova

Editor : eCatri
 
Polhukam
24 Sep 21, 09:17 WIB | Dilihat : 174
Pembangkang dalam Pusaran Transformasi Politik Malaysia
19 Sep 21, 16:48 WIB | Dilihat : 331
Cermin Buram Kekuasaan dan Luka Rakyat
31 Agt 21, 21:38 WIB | Dilihat : 230
Milisi Houthi Serang Lagi Bandara Abha Saudi
Selanjutnya
Sainstek
27 Okt 21, 17:41 WIB | Dilihat : 255
Waspadai Kabar Palsu Artis Meninggal di Media Sosial
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1970
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
Selanjutnya