Tekad Perkumpulan UMA Merawat Indonesia dengan Cinta

| dilihat 1238

RUANG tamu khas Kantor Wakil Presiden RI, Kompleks Istana Merdeka, Jakarta, Senin (30/10/17) Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla, terasa ‘gayeng.’ Beberapa kali terdengar tawa senda. Pukul 10.00 pagi itu, Wapres menerima pendiri dan pengurus Perkumpulan UMA (Usaha Memajukan Anakbangsa) dipimpin Ferry Mursidan Baldan, salah seorang pendiri.

Bersama Ferry terlihat Sofhian Mile – Ketua Badan Pengawas dan Ketua Umum Tigor Sihite. Para anggota Badan Pengawas yang menyertai, nampak Afni Achmad, Ade Adam Noch, dan N. Syamsuddin Ch. Haesy. Dari Badan Pengurus, tampak Jumrana Salikki, Ambia B. Boestam, Liliek Muflichun, Abdullah Hafid, Syahril Lantoni, dan Mohammad Bahri.

Dalam suasana yang hangat, itu Pimpinan dan pengurus Perkumpulan UMA datang berkunjung kepada Wapres untuk silaturrahmi. Sekaligus menjelaskan hal ihwal organisasi yang menyandang sesanti, “Merawat Indonesia dengan Cinta,” ini.

Sesanti ini menjadi tekad perkumpulan ini, khususnya dalam mengubah minda (mindset) tentang demokrasi berbasis musyawarah, yang tak lagi hanya sebagai cara mencapai kekuasaan, melainkan cara mewujudkan harmoni kebangsaan.

Ferry Mursyidan Baldan menjelaskan, Perkumpulan UMA merupakan perkumpulan non politik praktis, suatu komunitas yang memilih jalan sebagai wadah masyarakat yang hendak berkontribusi kepada bangsa dan negara ini. Khasnya untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi Generasi D (Digital Generation) yang biasa disebut generasi millenial, dan kalangan masyarakat luas yang menghendaki kemajuan bangsa ini ke depan.

Bagi pimpinan dan pengurus UMA, masalah toleransi dan bhinneka tunggal ika bukan sesuatu yang harus menjadi isu utama, karena dalam kehidupan sehari-hari masyarakat tidak bermasalah dengan hal itu. Tentu, tanpa menafikan ada segelintir orang yang suka memainkan isu-isu tersebut sebagai isu nasional.

Bagi UMA, fokus aktivitas yang harus dilakukan kini, adalah bagaimana memberikan kontribusi nyata kepada bangsa dan negara, mulai dari hal-hal kecil dan sederhana, tetapi berdampak luas.

UMA yang didirikan oleh mantan aktivis mahasiswa yang kemudian menjadi mantan politisi, penyelenggara negara dan pemerintahan, eksekutif profesional, dosen, budayawan, jurnalis, pengusaha, dan penggiat kemasyarakatan dalam beragam profesi.

Mitra Kritis Konstruktif

Perkumpulan UMA memilih peran sebagai mitra kritis dan konstruktif bagi pemerintah. “Untuk hal-hal tertentu, kami membuka ruang dialog untuk mencapai titik temu,”ungkap Ferry. “Terutama isu-isu aktual terkait kebijakan pemerintah yang kemudian kami himpun dan menjadi beragam konsep bagi pemerintah dan masyarakat,”jelas Sofhian Mile.

“Kita melakukan hal-hal kecil berdampak besar untuk kebaikan negeri ini, karena  perubahan negeri ini dapat dimulai dari  hal-hal yang kecil,” ungkap Ferry. “Termasuk jalan sehat secara rutin setiap hari Selasa dan Kamis di Kebun Binatang Ragunan,”jelas Ferry.

Afni menambahkan, pada hari-hari lain, terutama hari Sabtu, individu-individu pimpinan dan pengurus UMA bergabung dengan para pehobi dan komunitas jalan sehat lain di Monas, dan berbagai tempat lain di Indonesia.

Tigor Sihite memberikan gambaran umum tentang Perkumpulan UMA yang berkhidmat dalam bidang energi baru terbarukan melalui UMA Energi Lestari, studi kebijakan strategis dan diskusi publik melalui UMA Parameter Indonesia, dan media melalui UMA Media Prima.

Wapres JK mengapresiasi kegiatan Perkumpulan UMA yang ditujukan untuk kebaikan bersama, apalagi mendorong pola hidup sehat. “Saya juga melakukannya. Biasanya pada hari Sabtu,”ungkap Wapres yang biasa jalan sehat di Taman Surapati dekat rumah jabatan Wapres. “Terima kasih atas silaturahim kita hari ini,”ungkap Wapres.

Menurut Wapres, setiap warga negara memiliki hak untuk menyampaikan pendapat dan masukannya,  diharapkan masukan yang bermanfaat untuk masyarakat dan pemerintah. Seperti mendorong masyarakat untuk hidup sehat. Termasuk menggerakkan perubahan.

Wapres memberi contoh tentang hal-hal kecil yang dapat menggerakkan perubahan, misalnnya penggunaan AC (air conditioning) yang berdampak luas. Antara lain, menyedot anggaran untuk membayar listrik, perubahan pola berpakaian dalam menjalankan tugas sehar-hari, dan mengubah cara hidup. Mulai dari menjaga kondisi dengan selalu bergerak, mengatur pola makan dan pola tidur, sampai konversi penggunaan bahan bakar.

Wapres juga mengingatkan kebiasaan yang diajarkan orang tua untuk tidak melakukan kehidupan yang mubazir, termasuk dalam hal makan. “Mungkin perlu juga mengubah ukuran piring sesuai dengan pola dan tradisi makan di berbagai daerah,”ujarnya.

“Makan tak perlu berlebihan. Ambil yang cukup, kalau kurang, tambah,”ujar Wapres, sehingga hidup menjadi tak mubazir. Akan halnya pola hidup sehat akan mendorong cara berfikir yang juga sehat : positif dalam memandang sesuatu.

Wapres menganjurkan, agar pimpinan dan pengurus perkumpulan UMA juga bisa melakukan jalan sehat di perkampungan, sambil menyerap informasi aktual kondisi masyarakat. Kemudian berdiskusi dengan masyarakat untuk memperoleh solusi.

Wapres yang didampingi Kasetwapres Mohamad Oemar, Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Pembangunan Manusia dan Pemerataan Pembangunan Bambang Widianto, Staf Khusus Wakil Presiden Bidang Penanggulangan Kemiskinan dan Otonomi Daerah Syahrul Udjud, Tim Ahli Wakil Presiden Sofyan Wanandi, dan Staf Khusus bidang infrastruktur dan investasi Muhammad Abduh.

Perbincangan terasa hangat dan intim, ketika beberapa pimpinan dan pengurus UMA menyampaikan beberapa pemikiran yang sudah disampaikan kepada berbagai kalangan, termasuk pemikiran terkait banjir, pemanfaatan sampah dan limbah, dan lainnya. Umpamanya tentang tabung air hujan untuk gedung-gedung tinggi, tata kelola sampah, gerakan kesadaran untuk memelihara fasilitas umum (antara lain toilet) yang bersih, nyaman, aman dan sehat.

Ketika Tigor Sihite mengomentari langkah bergegas Wapres, saat mendampingi Presiden Jokowi menjelang pelantikan Gubernur DKI jakarta Anies Baswedan dan Wakil Presiden Sandiaga Uno, Wapres tersenyum.

Langkah Panjang Langkah Pendek

Lantas Wapres cerita. “Langkah kaki Pak Jokowi itu panjang, sedangkan langkah kaki saya pendek. Jadi untuk mengimbangin langkah kaki Presiden, saya harus jalan bergegas, bahkan rasanya mau melompat..,”ujar Wapres disambut gelak.

Ferry, kemudian, mengundang Wapres untuk hadir dalam beberapa rencana kegiatan Perkumpulan UMA, khususnya di penghujung tahun 2017 dan awal 2018, seperti Unity Golf Tournament 2017, jalan sehat, grand launching Perkumpulan UMA.

Kepada akarpadinews, Tigor menjelaskan, Perkumpulan UMA telah menyusun rencana tahunan. Antara lain melaksanakan program community college, religiopreneur, diskusi publik reguler, penghutanan hulu sungai berbasis kearifan dan kecerdasan lokal, penguatan program kerjasama dengan BUMN dan korporasi, ekstensi assesment, creative college, dan berbagai program lainnya, yang akan diusung para pendiri, pimpinan, dan pengurus Perkumpulan UMA sesuai dengan latar profesi dan keahlian.

Perkumpulan UMA, menurut Afni adalah komunitas gerakan perubahan kongkret, bukan organisasi kangen-kangenan, apalagi organisasi klangenan. Seluruh kegiatan perkumpulan ini digerakkan dari sekretariat UMA di bilangan segitiga emas kuningan – Jakarta, dan tempat kongko-kongko di Warönk Uma’- Lenteng Agung. | nina

Editor : sem haesy | Sumber : KIP/WapresRI
 
Energi & Tambang
19 Des 16, 10:43 WIB | Dilihat : 615
Perlu Kesadaran Kolektif untuk Efisiensi Energi
15 Des 16, 21:23 WIB | Dilihat : 837
Pertamina Serius Investasi di Hulu
Selanjutnya
Budaya
17 Nov 17, 06:56 WIB | Dilihat : 484
Masjid Raya Al Mashun Sisa Digjaya Kesultanan Deli
21 Okt 17, 09:27 WIB | Dilihat : 1083
Ruh Budaya Betawi dalam Lukisan Sarnadi Adam
06 Okt 17, 17:21 WIB | Dilihat : 1471
Choreopainting Revki dan Daya Magis Biola
13 Jan 17, 23:30 WIB | Dilihat : 207
Diplomasi Lewat Seni Budaya
Selanjutnya