Renungan Ramadan di Tengah Teror COVID-19

Tantangan Cendekiawan Muslim Sejati

| dilihat 254

Bang Sèm

Kemanusiaan sedang diuji dan dipertaruhkan. Allah, melalui serangan pandemi global nanoreknologi COVID 19, sedang menghadapkan umat manusia di depan cermin teramat besar: kemanusiaan, yang di dalamnya mengalir cinta dan kasih sayang Ilahiah. Sekaligus mengingatkan sekali lagi tentang hakekat hubungan manusia dengan sesamanya, manusia dengan semesta, dan manusia dengan diri-Nya, sebagai al Khalik, Maha Pencipta yang sekaligus juga sebagai Rabb, Maha Pemelihara.

Dalam konteks islam, saat ini, seperti pernah dialami oleh umat manusia di abad ke 14, ketika wabah black death - sampar menyerang, Allah sedang memberi isyarat hamba-Nya yang beriman untuk kembali sepenuhnya pada pemahaman syahadat yang utuh. Khasnya tentang tauhid yang jelas membedakan Allah dengan ilah, dan menegaskan eksistensi Muhammad sebagai Rasul-Nya, yang diikuti dan dipelihara oleh ahlul baith - anak keturunannya, sahabatnya, dan para ulama (yang benar dan lurus) sebagai pewaris dan penerus ajaran-Nya. Para penerus yang menjamin ajaran Islam yang universal, yang sekurang-kurangnya berorientasi pada keadilan (human equity and equality), peradaban yang terus bergerak ke masa depan, dan kemanusiaan yang memberi makna hakiki atas cinta dan kasih sayang, yang memungkinkan umat-Nya sungguh menjadi rahmat atas semesta.

Setarikan nafas, perjuangan besar dan luas tentang aqidah (tauhid), sains dan teknologi, serta cara hidup (ad dien) untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan dunia dan ukhrawi, sehat jasmani dan ruhani, di seluruh muka bumi menjadi perjuangan masa depan, yang dimulai dari abad ke 21 saat ini dengan segala tantangannya.

Saya sepakat dengan pandangan segar Rachid Benzine, bahwa sebagai muslim, kita harus lebih memanusiawikan aqidah, sekaligus menempatkan Islam pada zaman manusia yang bersifat kontiniti dan berkelanjutan, sejak ayat pertama firman Allah (Iqra') disampaikan Malaikat Jibril di gua hira pada abad ke 7 Masehi.

Perintah kepada Rasulullah Muhammad sebagai ummi, empu, yang mesti membaca ayat-ayat Allah berupa semesta, baik yang tersurat maupun tersirat -- yang kemudian dihimpun secara literatif ke dalam mushaf Utsmani dengan menggunakan bahasa Arab sastrawi. Narasi yang hanya mungkin dan harus dipahami melalui pemahaman yang kompleks, berbasis pengetahuan, ilmu, dan pengalaman (empirisma) hidup, baik spiritual maupun non spiritual.

Narasi yang luas tak terbatas, tak terjebak oleh dikotomi dan polarisasi: mukmin versus kafir, karena Islam adalah cara hidup bagi semua umat manusia, tanpa kecuali. Oleh karenanya, Islam mesti dipahami sebagai cahaya pencerah dalam kehidupan manusia secara luas.

Islam mesti dipahami sebagai peradaban dengan dimensi budaya yang luas, yang mengharmonisasi kemampuan nalar, naluri, rasa, dan indria dalam satu tarikan nafas kehidupan. Bukan partikel-partikel yang satu dengan lainnya saling berhadapan, dan banyak menimbulkan kontroversi.

Serangan virus COVID-19 mengirimkan kepada kita hikmah besar untuk menggerakkan seluruh dimensi ajaran Islam (aqidah, syari'ah, muamalah, dan akhlak), yang mesti tertampak pada ibadah (ubudiyah) multidimensional. Ibadah yang tak hanya berdampak baik secara individual dan sosial, melainkan ibadah yang mesti berkembang menjadi energizer - penggerak untuk mengutamakan kemanusiaan, sekaligus mendahulukan penyelamatan umat manusia.

Artinya, ibadah multidimensi umat Islam ke depan tidak lagi boleh lagi terjebak pada rumusan-rumusan wacana kontra teologis yang kerap kali menimbulkan perpecahan di kalangan umat Islam di seantero dunia. Ibadah multidimensi -- mulai dari praktik nyata amaliah rukun Islam --, penguatan nilai keyakinan -- mulai dari manifestasi nyata rukun iman -- yang jauh melampaui mistisisme. Karena ajaran Islam sesungguhnya menempatkan relasi korelasi manusia - semesta - Allah dalam satu kesatuan hubungan integral yang bersifat universal. Inklusif dan terbebas dan eksklusivitas dan eksklusivisme. Karena Islam tidak mentolerir pengelompokan manusia -- firqah-firqah yang hanya akan menimbulkan ashobiyah - keberpihakan golongan, sekte, mazhab, yang dalam banyak hal menyempitkan pandangan tentang islam.

Islam kini dan di masa depan, akan harus digali lebih dalam dan dipelajari lebih luas oleh umatnya, melalui panduan para ulama - intelektual yang mumpuni, yang sudah selesai dengan dirinya -- dan meyakini, Allah akan melayani seluruh keperluan hidupnya. Ulama - intelektual yang tak mudah tergoda oleh urusan-urusan praktis - pragmatis duniawiah (status, pangkat, jabatan dan segala atribut sosial yang tak pernah dibawa ketika beralih dari kefanaan ke keabadian). Terutama, karena urusan-urusan duniawiyah yang fana, yang terkontaminasi oleh pragmatisme, kerap menjadi pemicu perang ideologis yang dimainkan atas nama transmisi agama, yang seringkali parsial atau terfragmentasi.

COVID-19 membuktikan lemahnya sistem tatanan hidup global kapitalistik yang menawarkan pragmatisme yang merendahkan hakekat manusia, karena diatur oleh perkembangan sains dan teknologi buatan manusia yang justru membelenggu manusia. Filosofi globalisme kapitalistik, kini terbukti bukan suatu sistem kehidupan yang memuliakan manusia, karena lebih menempatkan manusia sebagai obyek atas mesin. Terutama mesin riba' yang melantakkan kehidupan ekonomi dan membenamkan manusia ke dalam kuburan global kemiskinan.

Setarikan nafas serangan COVID-19 mestinya juga menyadarkan seluruh intelektual dan kaum terdidik muslim, untuk tidak terlena dengan intelektualisme. Mereka harus segera melakukan konvergensi nalar, lantas bermigrasi sungguh menjadi cendekiawan, yang di dalam dirinya melekat tanggungjawab moral untuk menjadi manusia berkualitas, ya'lu walaa yu'la alaih. Manusia utama, insan kamil yang amanah, shiddiq, fathonah, dan tabligh, sekaligus mampu menjadi subyek atas sains dan teknologi di seluruh aspek kehidupan manusia.

Kita memerlukan cendekiawan muslim yang jernih dan fokus membaca tantangan abad ke 21, antara lain yang diisyaratkan oleh James Martin (baca: Meaning of the 21st Century: Vital Blueprints to Ensure Our Future). Cendekiawan muslim berkualitas - bukan formalistik, yang mampu memainkan peran strategisnya menjadi telangkai untuk menjembatani kesenjangan antara kualitas keterampilan - skill dengan kearifan dalam melihat manusia sebagai subyek dalam kehidupan semesta. Memberi nilai atas kemajuan cepat sains dan teknologi dengan menghidupkan kembali kekuatan atau daya budaya, termasuk kearifan dan kecerdasan lokal yang tersebar di setiap bangsa dalam seluruh aspek kehidupan. Menjembatani dahaga otak yang selama ini dipenuhi oleh isu-isu aktual praktis dengan perenungan visioner untuk melihat konsekuensi atas tindakan dan perilaku manusia ke masa depan.

Realitas yang dihadapkan oleh krisis akibat serangan virus COVID-19, saat ini mestinya, menggugah para cendekiawan muslim sesungguhnya -- bukan sekadar sarjana penyandang jabatan akademik -- untuk bergerak menemukan sistem yang lebih baik bagi kehidupan manusia di masa depan. Khasnya, untuk membalik kemiskinan, terutama karena fakta di depan mata menunjukkan rapuhnya sistem sosial ekonomi kapitalistik telah menyebabkan terjadinya peningkatan kemiskinan ekstrim saat ini. Sebagian terbesar dialami dan terjadi di negara-negara berpenduduk muslim.

Saat ini, kita disadarkan oleh tantangan nyata, memperluas potensi manusia, dengan mengembangkan kemampuan laten setiap orang untuk memanfaatkan teknologi canggih yang mempercepat potensi belajar di kalangan generasi baru, terutama anak cucu kita.

Krisis global kali ini, juga menantang para cendekiawan muslim di seluruh dunia untuk mengolah kemampuan tangguh menaklukkan penyakit, menggagalkan penyebaran penyakit menular yang cepat yang dapat membunuh jutaan orang. Paling tidak menemukan sistem sensor yang mampu mendeteksi keberadaan virus berbahaya dan membuat prosedur medis untuk mencegah penyebaran penyakit.  Sekaligus menyelamatkan bumi, dengan berbagai pemodelan melalui nano teknologi untuk merespon perubahan iklim dan pemulihan lingkungan.

Kita juga memerlukan cendekiawan muslim yang mampu menggelorakan budaya kreatif dan inovatif berbasis teknologi, untuk pengendalian era kreativitas prima. Termasuk budaya entrepreneur yang dicontohkan Rasulullah Muhammad SAW di masa lampau, sebagai profesi menyenangkan, yang secara islami akan memanifestasikan prinsip 'ta'awwanu alal birri wat taqwa,' sehingga terjadi kolaborasi, negara-negara kaya membantu orang-orang muda di seluruh dunia untuk menjadi wirausahawan, tak terkecuali pelaku budaya.

Tak terkecuali mengelola singularitas, sebagai respon tibanya era Society 5.0 yang menghadirkan budaya baru kehidupan manusia deengan tawaran IoT (internet on think) dan AI (artificial intelligent). Lantas menjadikan internet sebagai masa depan Islam. Singularitas sebagai reaksi berantai IoT dan AI, kini menantang kita menemukan cara perubahan yang berbudaya dan beradab. Termasuk membersihkan atau mengurangi pemanfaatan media sosial sebagai saluran menebar virus ghibah, buhtan (hoax), dan  fithan yang sekaligus menebar virus cileupeung - kepandiran. Pengendalian singularitas juga penting untuk menahan perkembangan teknologi tidak bergerak liar.

Kemampuan mengelola singularitas, akan menguatkan umat menjelajahi Transhumanisme yang dapat mengubah manusia secara radikal. Terutama, karena pengendalian singularitas akan menempatkan manusia sebagai subyek dalam pengendalian teknologi untuk kepentingan kemaslahatan umat manusia. Penjelajahan transhumanisme penting, agar kita tidak terjebak dalam kontroversi dalam meningkatkan argumen etika utama, untuk tetap menjadikan kita sebagai manusia berdimensi muslim, mukmin, dan mukhsin. Termasuk mengatasi kesenjangan budaya antar masyarakat dan bangsa.

 Muaranya adalah merencanakan Peradaban lanjutan (sustainable civilization), untuk menentukan peradaban macam bagaimana yang relevan dengan kriterium hasanah di dunia dan di akhirat dan terbebas dari petaka.   Termasuk untuk menghadapi Risiko Eksistensial yang dapat  menghentikan realitas manusia sebagai homo sapiens, termasuk kemungkinan-kemungkinan seperti pelepasan patogen yang dimodifikasi secara genetik dan berbahaya.  

Perencanaan peradaban baru itu, termasuk menghentikan terorisme akibat kejumudan - stagnansi dan keputusasaan melihat sistem kehidupan dan menentukan cara efektif dan efisien menghadapi mondialisme baru.

Dari mana mulainya? "Ibda' bi nafsik," dari diri sendiri. Melalui proses 'ngaji diri,' supaya 'tahu diri.'  Suatu kesadaran diri untuk selalu optimistis melangkah di jalan yang lurus, shirathal mustaqim. Dengan keyakinan, cinta dan kasih sayang Allah tak akan sirna. Sepanjang manusia, konsisten dan teliti mengenali dirinya, sebagai pengemban misi rahmat atas semesta.. |

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Humaniora
22 Mei 20, 08:48 WIB | Dilihat : 421
Prof. Dr. Hj. T. Fatimah Djajasudarma dalam Kenangan
21 Mei 20, 00:28 WIB | Dilihat : 85
Ke Mana Nalar Keadaban
15 Mei 20, 04:27 WIB | Dilihat : 82
Khalwat
09 Mei 20, 09:06 WIB | Dilihat : 255
Tantangan Cendekiawan Muslim Sejati
Selanjutnya
Energi & Tambang