Sudut Malaysia

Tan Sri Johan Jaafar Wartawan Negara

| dilihat 489

Catatan Lepas Bang Sém

Penghujung April 2019 lalu, persisnya 26/4/2019, Malaysia Press Institute (MPI)  - Petronas, yang dipimpin Dr. Datuk Chamil Waria, mengukuhkan Tan Sri Johan Jaafar sebagai Wartawan Negara. Sebelumnya, Malaysia sudah punya Biduan Negara, Profesor Negara, Sastrawan Negara, dan lainnya sebagai penghormatan atas prestasi profesional warga negaranya.

Menteri Pendidikan Kerajaan Malaysia, Mazlee Malik, hadir dan memberikan penghormatan dalam acara yang digelar dalam Malam Kewartawanan Malaysia 2019 di Berjaya Times Square.

Dalam kesempatan itu MPI - Petronas memberikan bea siswa bagi wartawan untuk melanjutkan pendidikan tertinggi.

Mazlee Malik mengemukakan, kini, Kerajaan (Pemerintah) yang dikelola koalisi Pakatan Harapan (PH) pimpinan Perdana Menteri Tun Dr. Mahathir Mohammad berkomitmen kuat terhadap kebebasan pers di negeri jiran, Malaysia itu.

Dalam konteks itu, pemerintahan Mahathir sedang mendalami dan mengkaji rancangan undang-undang yang (selama ini) mengungkung dan mengekang kebebasan pers.

Pernyataan Mazlee senafas dengan pernyataan Perdana Menteri Tun Mahathir, ketika di awal Maret lalu berdialog dengan sejumlah pemimpin redaksi berbagai media arus utama dari Indonesia di kantor Perdana Menteri, Putrajaya.

Tan Sri Johan Jaafaar yang biasa dipanggil Tan Sri JJ, memang pantas ditabalkan sebagai Wartawan Negara. Mantan Chairman Media Prima Bhd, perusahaan media terbesar Malaysia, itu sangat konsisten dan tak pernah lelah memperjuangkan kebebasan pers.

Tan Sri JJ yang mantan aktivis mahasiswa, yang pernah memimpin surat kabar Utusan Melayu, Dewan Bahasa dan Pustaka, serta menjadi salah satu tokoh koalisi masyarakat anti rasuah (korupsi) di Malaysia itu juga seorang sastrawan.

Dia menulis banyak buku selain menulis naskah drama (yang terkenal adalah Rumah Kedai Jalan Seladang dan Pokok). Dia juga aktor teater yang mengawali karir sebagai penarik layar panggung Sandiwara Bangsawan.

Lelaki hensem yang murah senyum ini, selain terus menulis kolom berbahasa Inggris di The Star, juga menulis untuk Harian Sinar. Selain itu menjadi host dalam acara talkshow khas, dialog bertajuk Bicara Minda di Sinar Harian.

Johan kelahiran 9 November 1953, di Kampung Sungai Balang Besar - Muar, Johor. Johan datang dari keluarga sederhana penyadap getah karet. Ia memulai pendidikaannya di Sekolah Rendah Perserian, Semerah, kemudia ke sekolah menengah aliran Inggris di Semerah. Selepas itu dia masuk Sekolah Tinggi Muar untuk kemudian melanjutkan studi di Universiti Malaya, jurusan Sastera. Di Universiti Malaya ini, tan Sri JJ mendirikan Kumpulan Kesenian Universiti Malaya (KESUMA). Universiti Kebangsaan Malaysia memberinya gelar Doktor (Kehormat) alias Doctor Honoris Causa bidang Komunikasi dan Pengurusan Kesenian Kreatif.

Perjalanan karirnya di dunia pers menakjubkan banyak kalangan yang menghormatinya sebagai veteran wartawan dan korporat. Ia meniti karir sebagai staf di Dewan Bahasa dan Pustaka, kemudian mengakhiri masa pengabdiannya sebagai Ketua Bahagian Penerbitan Am.

Sejak 1992 sampai 1998 tan Sri JJ menjadi Pemimpin Redaksi (Ketua Pengarang) Utusan Melayu, kemudian memimpin Lembaga Pengarah Syarikat Metrovision Sdn. Bhd. Lantas menjadi anggota Multimedia Development Council yang bertanggungjawab menentukan arah Koridor Raya Multimedia, sekaligus sebagai anggota Majelis Perniagaan Malaysia (Malaysia Business Council).

Di bidang ekonomi, Tan Sri JJ pernah mengemban amanah sebagai anggota Jawatan Kuasa Perserikatan Malaysia (Malaysia Inc). Dia juga pendiri bersama Jawatan Kuasa Sikap dan Nilai di bawah pelaksanaan Agenda Ekonomi Bumiputera, Majelis Tindakan Ekonomi Negara (MTEN), serta anggota Jawatan Kuasa National Brain Trust on National Education yang mengurusi akal sehat kebangsaan dalam pendidikan nasional Malaysia.

Tahun 2005, Tan Sri JJ menjadi Ketua Dewan Juri Festival Film Asia Pasifik di Kuala Lumpur. Dia juga dilantik sebagai pendiri Majelis Seni Budaya Malaysia (Arts Council of Malaysia). Pernah juga menjadi anggota Lembaga Pengarah ASWARA (Akademi Seni dan Warisan Negara) Kebangsaan.

Dalam pemberantasan korupsi di Malaysia, Tan Sri JJ menjadi pendiri Panel Perundingan dan Pencegahan Rasuah - Suruhanjaya Pencegahan rasuah Malaysia (SPRM), anggota Jawatankuasa Induk Anugerak Akademik Negara, Jawatankuasa Pelan Transformasi Pihak Berkuasa Tempatan - Kementerian Kesejahteraan Banda, Perumahan dan Kerajaan Tempatan, selain sebagai anggota Majelis Penasihat Pendidikan Kebangsaan, anggota Majelis Penasihat Pendidikan Kebangsaan, dan anggota Lembaga Pengurusan Perbadanan Tabung Pendidikan Tinggi Nasional (PTPTN).

Dalam kegiatan sosial, tan Sri JJ juga anggota Anggota Lembaga Pemegang Amanah MERCY Malaysia, anggota Majelis Teknologi Maklumat Negara (NITC), anggota Jawatankuasa MAMPU Search Committee Anugerah Inovasi Perdana Menteri; Ahli Majlis Konsultasi Perpaduan Negara (National Unity Consultative Council - NUCC) dan anggota  Jawatankuasa Konsultasi Pembiyaan Politik (Committee on Political Funding) 2015.

Wajahnya karib di mata masyarakar Malaysia, karena kerap tampil di layar televisi. Dia mengelola program “Isu Semasa” dan “Debat Perdana” untuk TV1 dan “Soal Jawab” untuk TV3. Tan Sri JJ tak pernah berhenti menulis, memandu dialog, dan tak mengabaikan aktivitasnya perkebun di kampungnya.

Dalam konteks hubungan Malaysia - Indonesia, tan Sri JJ yang hidup dalam kesederhanaan dan selalu tampil bersahaja dengan baju khas 'orang kampung' berwarna hitam, itu merupakan pendiri ISWAMI (Ikatan Setia Kawan Wartawan Malaysia Indonesia).

Tan Sri JJ mempunyai kemampuan retorika yang menarik. Jalan pikirannya runtut dan sistematik setiap kali menjelaskan apapun dalam ceramah umum maupun ketika 'mengajar' dalam program khas di berbagai lembaga pendidikan tinggi di Malaysia. Termasuk program motivasional.

Sebagai seorang wartawan, selain memperjuangkan kebebasan pers, Tan Sri JJ sangat peduli dengan perkembangan media yang terus berkembang secara multichannel, multimedia, dan multiplatform. Dia memberikan perhatian khas pada perkembangan sosial media dan cara generasi milenial berkomunikasi tanpa sekat negara.

Bersahabat dengan Tan Sri JJ sangat menyenangkan. Dia sangat peduli pada kemesraan hubungan Indonesia - Malaysia, dan sangat mendalami pemikiran dan perkembangan sastra Indonesia. Mulai dari era Pujangga Lama sampai yang paling mutrakhir. Termasuk mendalami esensi nilai filosofi yang kaya dari beragam suku dan etnis di Nusantara, tak terkecuali filosofi hidup Bugis dan Mandar. (Baca juga: Jejak Seni, Kreatografi Johan Jaafar)

Beberapa waktu berselang dalam suatu acara perhelatan di Jakarta, dia berbincang hangat dengan para jurnalis senior Indonesia: Ilham Bintang, Karni Ilyas, dan lain-lain. Pun begitu dalam pertemuan ISWAMI Indonesia dengan ISWAMI Malaysia di Putrajaya, beberapa waktu berselang.

Sebagai wartawan negara, Tan Sri JJ pantas disebut sebagai telangkai hubungan dua negara, satu asal usul. Rumahnya di Petaling Jaya, selalu terbuka untuk 'saudara-saudara'-nya dari Indonesia.

Belakangan hari, ketika meninggalkan Jakarta, pulang ke Malaysia, dia terkesan dengan kemacetan Jakarta yang berimbas positif soal angkutan umum, ojek, yang akhirnya memicu inovasi berkembangnya ojek online.

Tan Sri JJ juga tertarik dengan perpolitikan Indonesia. Tak jarang dia kedatangan tamu, politisi (mantan menteri, mantan anggota DPR, dan pengurus pusat partai politik) untuk berdialog dan bertukar fikiran tentang politik Malaysia, karena Johan Jaafar tak bisa dilepaskan kaitannya dengan perkembangan mutakhir dinamika di negara jiran. |

Editor : Web Administrator
 
Seni & Hiburan
19 Mei 19, 23:20 WIB | Dilihat : 209
Peter Seeger Suara Lirih Di Tepian Sungai Hudson
25 Mar 19, 17:31 WIB | Dilihat : 636
Dangdut dan Betawi dalam Minda Musika Chrisye
12 Mar 19, 13:09 WIB | Dilihat : 493
Mengenang Chrisye Merawat Cinta di Ancol
Selanjutnya
Budaya
18 Mei 19, 01:58 WIB | Dilihat : 344
Gubernur Anies di Sela Ifthar Bamus Betawi
24 Mar 19, 21:09 WIB | Dilihat : 387
Sepercik Ihwal Kelembagaan Kebudayaan
11 Mar 19, 08:08 WIB | Dilihat : 368
Hermawan Kertajaya Memandang Betawi sebagai Peradaban
Selanjutnya