
Haèdar
Mic atau pelantang suara yang disiapkan di mimbar pada forum-forum resmi regional dan internasional -- apalagi yang dihadiri kepala negara dan kepala pemerintahan merupakan perangkat yang sudah ready untuk dimanfaatkan.
Sound engineer sudah menatanya sesuai dengan keperluan. Itu sebabnya selalu ada momen check sound sehari dan beberapa jam sebelum dimulai.
Itu sebabnya, pada setiap general rehearshal selalu ada staf teknis protokoler yang datang memeriksa. Staf itu yang akan memberitahu sound engineer, karakter (termasuk karakter vokal), tinggi badan, jarak pandang mata (dengan atau tanpa kacamata) sosok Kepala Negara / Kepala Pemerintahan (tokoh) yang akan menggunakan mimbar atau podium tersebut.
Dari informasi staf itulah sound engineer akan memilihkan jenis, model, daya teknik, dan hal-hal teknis -- antara lain jarak mic dengan mulut dan teleprompter transparan, agar sang tokoh leluasa dan selesa (nyaman) ketika berpidato di belakang mimbar.
Sang tokoh tak perlu lagi mengetuk-ketuk mic dengan jarinya. Lantaran mengetuk-ketukan jari di mic menandai banyak hal. Mulai dari ketidakyakinan sang tokoh pada perangkat dan sound engineer yang bertanggung jawab menjamin kelayakan perangkat sound system -- tak terkecuali monitor loudspeaker -- yang disiapkan di atas mimbar, sampai kesan, sang tokoh nervous saat akan mulai bicara.
Kalau sang tokoh punya kebiasaan mengetuk-ketuk mic -- termasuk berulang-ulang memegang tangkai mic, maka tugas stafnya yang kudu memberitahu agar kebiasaan tersebut terbawa-bawa.
Boleh jadi hal sedemikian dianggap sepele dan biasa-biasa saja. Kebiasaan sedemikian dapat menimbulkan kesan yang beragam dari khalayak.

Empat Kesan
Kesan pertama menggambarkan sang tokoh kerap mengalami masalah dengan sistem tata suara dan di tempat asalnya tak didukung oleh sound engineer yang mumpuni dan piawai.
Kesan kedua sang tokoh di tempat asalnya tak mempunyai perangkat teknologi sistem suara yang berkualitas atau sebaliknya menganggap sistem suara di negeri orang tak berkualitas.
Kesan ketiga, sang tokoh merupakan sosok yang tak begitu percaya dengan 'orang lapangan' yang bertugas mengurusi sistem tata suara.
Kesan keempat, sang tokoh 'bermasalah' dengan public speaking dan berbagai hal yang menyertainya.
Beberapa negara, seperti Amerika Serikat sangat peduli dengan hal-hal teknis dan teknik sistem tata suara. Badan Komunikasi (Kepresidenan) Gedung Putih secara khusus menyiapkan perangkat sistem tata suara kelas profesional. Bahkan secara khas memesan kepada produsen tata suara terkemuka.
Terutama karena Badan Komunikasi Kepresidenan Gedung Putih memastikan standar kelayakan dan kepatutan untuk memastikan perekaman dan transmisi audio berkualitas tinggi.

Mic Gedung Putih
Untuk pelantang suara (mikrofon, misalnya badan ini menggunakan beragam jenis, seperti dynamic microphone, condensor microphone, wireless microphone, podium microphone, yang tak hanya untuk memenuhi keperluan melantangkan suara.
Gedung Putih menggunakan mikrofon dan sistem suara kelas profesional untuk berbagai acara dan komunikasi. Meskipun model spesifiknya mungkin berbeda-beda, Badan Komunikasi Gedung Putih bertanggung jawab untuk memastikan perekaman dan transmisi audio berkualitas tinggi, sering kali menggunakan sistem dari produsen terkemuka.
Pertimbangan utamanya adalah keandalan dalam reproduksi audio yang jelas sehingga menjauhkan kesalahan sesedikit mungkin, mulai dari pelafadzan sampai -- aksentuasi -- nada dalam konteks diksi dan narasi.
Kualitas suara juga menjadi pertimbangan utama. Karenanya perangkat tata suara harus memberikan reproduksi audio yang jernih, akurat, meminimalkan distorsi dan noise.
Pertimbangan utama lainnya dan sangat penting adalah keamanan. Perangkat tata suara tidak mudah disusupi, terutama saat merekam percakapan sensitif.
Belakangan hari, Badan Komunikasi Kepresidenan Gedung Putih menerima pengiriman 50 pengeras suara dari produsen penyedia perangkan tata suara. 50 jenis tersebut sangat portabel, dapat dipasang sendiri. Perangkat ini digunakan, terutama, untuk acara-acara publik Presiden dan atau Wakil Presiden Amerika Serikat.

Basmalah
50 mic itu, meliputi 26 mic primo dan 24 mic omaha atau pismoloud. 4 mic omaha atau kombinasi keduanya - digunakan untuk sepuluh kali atau lebih penampilan publik per hari, selama kunjungan Presiden. Pelantang suara tersebut digunakan untuk memperkuat suara bagi khalayak yang besar, termasuk amplifier.
Berbagai negara dan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), Uni Eropa, negara-negara maju seperti Rusia, bahkan negara-negara teluk dan Tiongkok, serta badan internasional lainnya, memberikan perhatian khas terkait perangkat sistem suara resmi ini. Itu sebabnya para tokoh yang bicara di mimbar tak lagi mesti mengetukkan jari pada mic.
Bila sang tokoh sempat ragu, mereka biasanya melakukan improvasi ringan di awal bicara, sesuai dengan format acara. Untuk komunikasi publik dengan jumlah khalayak yang sangat besar, mereka test, misalnya dengan mengucapkan agak lantang: "Hello every body.. Good Afternoon.. Good Morning.. dan sejenisnya."
Presiden Bill Clinton, Presiden Barack Obama, Wakil Presiden Kamala Harris, Presiden Emmanuel Macron, misalnya, biasa melakukan hal itu. Di Asia Tenggara, PMX Malaysia Anwar Ibrahim, sekali sekala melakukannya.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terbilang teliti soal ini. Biasanya ketika mengucapkan basmalah, kapasitas dan kualitas mic sudah terduga melalui sound monitor. Bagi SBY ucapan basmalah sekaligus mengisyaratkan, keberadaannya sebagai Presiden RI (kala itu) merupakan representasi dari rakyat, negara, bangsa berpenduduk muslim terbesar.
Menghilangkan kebiasaan-kebiasaan mengetukkan jari pada mic dan memegang tangkai mic di tengah-tengah pidato nampak sepele tapi penting dilakukan. Khasnya sebagai bagian dari penyempurnaan sikap yang menunjukkan, bahwa sosok di balik podium dalam acara resmi, seorang Presiden, Wakil Presiden, tidak sedang hadir sebagai pribadinya. Melain sebagai institusi (yang merepresentasikan jutaan manusia), negara dan bangsa. Dengan format dan tata letak gedung yang teateral, ia menjadi fokus bagi ratusan atau ribuan pasang mata khalayak. |