Dengan Ilmu Padi Memberi Solusi

Sultan Abdullah Bertahta di Hati Rakyat

| dilihat 303

Catatan Bang Sém

Raja Adil Raja disembah, Raja degil raja disanggah.

Ini bukan pantun lama. Pantun baru pun tidak. Sebut sajalah pantun modifikasi. Sengaja saya tulis untuk mewakili pikiran saya tentang Sultan Abdullah Ri’ayatuddin Al-Mustafa Billah Shah - Raja Malaysia (Yang Dipertuan Agong) ke-16 dari Pahang.

Raja yang dilantik pada Selasa, 30 Juli 2019, persis di hari kelahiran (keputraan)-nya yang ke 60 tahun, itu berbeda dengan dengan kebanyakan raja atau sultan di berbagai belahan dunia lainnya.

Seolah sudah ditakdirkan Allah, Raja Abdullah memerintah untuk bersama rakyat Malaysia hadapi musibah nanomonster Covid-19. Sekaligus mendamaikan Malaysia dari pikiran pelik dan degil politisi berebut kuasa.

Suami bagi Raja Permaisuri Tunku Azizah Aminah Maimunah Iskandariah, itu sosok raja yang konsisten dan konsekuen dengan sumpahnya, ketika dilantik sebagai Yang Dipertuan Agong Malaysia di Istana Negara, dihadiri sekitar 200 undangan khas, termasuk Pangeran Abu Dhabi Sheikh Mohamed Zayed al Nahyan dan Sultan Brunei Darussalam, Hassanal Bolkiah.

Sultan Abdullah sungguh menunjukkan kepada rakyat Malaysia, amanah dan kekuasaan yang disandangnya diperuntukkan bagi seluruh rakyat Malaysia, sesuai dengan prinsip-prinsip perlembagaan (konstitusi) Malaysia, yang menganut sistem monarki konstitusional.

Setahun lebih sebulan memangku amanah sebagai Yang Dipertuan Agong, Sultan Abdullah menunjukkan sosoknya sebagai pribadi yang sungguh mau dan mampu menggunakan kekuasaannya untuk mengutamakan rakyat, menghormati yang tua dan menghargai yang muda. Sekaligus bersikap rendah hati dalam memerintah.

Sultan Abdullah dan permaisuri Tunku Azizah telah membuktikan, bahwa Malaysia mampu menjadi negara modern yang merdeka, berdaulat dengan sistem demokrasi yang dianutnya, tanpa kehilangan nilai, adat, resam dan budaya Melayu.

Sultan -- diikuti Permaisuri -- menegaskan hakekat Malaysia sebagai negara bebas yang memandang pentingt persatuan dan harmoni kebangsaan sebagai pilar utama yang memperkuat Malaysia sebagai satu negara.

Persatuan Malaysia adalah kata kunci yang dipegang Sultan, agar rakyat terhindar dari hasutan yang dapat merusak ketentraman bangsa dan negara itu. Karena stabilitas Malaysia dalam banyak hal akan berpengaruh pada stabilitas kawasan, rantauan Asia Tenggara.

Sultan berjuang agar Malaysia lebih banyak dikelola oleh negarawan dan sangat luwes  -- elegan -- memainkan peran demokrasi dalam menyikapi para politisi yang senang berdegil-degil untuk kepentingannya masing-masing.

Ucapan pertama ketika dilantik, yang terus terngiang di telinga rakyat amah Malaysia adalah peringatan yang diberikannya -- terutama kepada poara politisi dan aktivis politik -- jangan bermain api.

"Bermin api tidak hanya akan membakar satu orang, tapi bisa membakar seluruh negeri," katanya, usai dilantik.

Sultan Abdullah juga membuktikan, dirinya mampu menunaikan janji, melakukan yang terbaik demi menjaga persatuan dan toleransi seluruh warga berbilang kaum -- ras, agama, suku, antar golongan.

Kepiawaian Sultan Abdullah dalam mempraktikan kepemimpinan demokratis dengan orientasi kekuasaan yang populis modes, dibuktikannya ketika Malaysia menghadapi hari-hari pelik secara sosial, ekonomi, dan politik.

Adu siasat politisi yang memperebutkan kekuasaan, kala Pakatan Harapan (Partai Keadilan Rakyat - Anwar Ibrahim, Democratic Action Party - Lim Kit Siang, Partai Bersatu - Mahathir Mohammad, dan Partai Amanat Nasional - Mat Sabu) yang memenangkan Pilihan Raya Umum (Pemilihan Umum) ke 14 dan berkuasa selama 22 bulan, adalah ujian pertama Sultan.

Adu siasat itu, tidak hanya berpotensi memecah belah rakyat Malaysia ke dalam berbagai firqah dan dan gaduh yang melelahkan dan kian jauh dari perkhidmatan kepada rakyat. Terutama karena ambisi besar tentang sukses kepemimpinan nasional, karena ambisi sangat besar dari Anwar Ibrahim hendak berkuasa sebagai Perdana Menteri Malaysia dan bertahta di Putrajaya.

Puncaknya adalah mundurnya Tun Dr. Mahathir Mohammad (sebagai Perdana Menteri ke 7) pada 24 Februari 2020, yang menimbulkan kegaduhan dan ketidakpastian berhari-hari.

Pada saat itu, berbagai kalangan politisi yang bergaduh mondar-mandir ke Istana Negara, menghadap Sultan Abdullah, menunjukkan diri sebagai pihak yang paling pantas dan patut memerintah.

Sultan Abdullah memilih jalan khas yang tak terduga, setelah gagal membujuk agar Tun Dr. Mahathir sebagai Perdana Menteri tidak mengundurkan diri, akhirnya Sultan menunjuk Tun Dr. Mahathir sebagai Perdana Menteri interim -- pertama kali dalam sejarah politik Malaysia.

Lantas memanggil seluruh anggota parlemen, baik dari kalangan yang memerintah (Pakatan Harapan), maupun kalangan pembangkang (Muafakat Nasional - Ahmad Zahid Hamidi / Barisan Nasional dan Hadi Awang / PAS), dan kalangan yang melepaskan diri dari Pakatan Harapan (Bersatu - Muhyiddin Yassin, Azmin Ali, dan kawan-kawan).

Sultan menghabiskan waktu dua hari (25 - 26 Februari 2020) untuk melakukan wawancara dengan seluruh anggota parlemen, tanpa kecuali, sehingga Istana Negara menjadi tempat mangkal juruwarta dalam dan luar negeri.

Di tengah konsentrasi penuh mengambil solusi politik menyelamatkan Malaysia, Sultan Abdullah dan Permaisuri  masih membagi waktu untuk menjumpai para wartawan, memberikan mereka paket makan dan bersenda.

Dari dialognya dengan seluruh anggota parlemen, Sultan Abdullah melantik Tan Sri Muhyiddin Yassin yang didukung Muafakat Nasional dan politisi bebas (independen) memangku jabatan sebagai Perdana Menteri Malaysia ke 8. Ketika itu, Sultan mengingatkan Muhyiddin untuk melaksanakan amanah dengan jujur dan tidak mengabaikan kepentingan kesejahteraan rakyat.

Berbeda dengan Yang Dipertuan Agong sebelum-sebelumnya, untuk mengawal perintahnya, Raja Abdullah menjalankan fungsinya sebagai Kepala Negara secara langsung, dan memastikan pemerintahan yang dipimpin oleh Perdana Menteri Muhyiddin dan para menterinya sejalan dengan asas negara dan tidak keluar dari platform pelayanan optimum kepada rakyat.

Sultan Abdullah juga mewujudkan pidatonya saat pertabalan sebagai Yang Dipertuan Agong ke 16, menegaskan keberadaan Sultan sebagai Raja Malaysia, bukan sebagai lambang. Melainkan sebagai penyatu seluruh rakyat negara dan bangsa. Mengutip pidato ayahandanya, Sultan Haji Ahmad Syah al Musta'in Billah saat ditabalkan sebagai Yang Dipertuan Agong ke 7, Sultan Abdullah menegaskan, dirinya akan memainkan peran sebagai solusi bagi setiap masalah yang muncul dalam penyelenggaraan negara. Meskipun jalan mencari solusi bukan jalan yang mudah.

Sultan dan penyelenggara negara, menurutnya, tidak boleh menimbulkan kesan buruk bagi seluruh rakyat. Bai'ah yang disampaikannya, itu kini mewujud nyata, ketika banyak masalah menerjang Malaysia.

Ketika menyampaikan pidato dalam istiadat pembukaan parlimen penggal ketiga (17 Mei 2020) di depan sidang Dewan Rakyat Malaysia, Sultan mengingatkan seluruh anggora parlemen - politisi untuk tahu diri dalam melihat realitas yang dihadapi rakyat, negara dan bangsa akibat pandemi Covis-19.

Tegas Sultan Abdullah menyatakan kepada seluruh anggota parlemen di Dewan Rakyat untuk mencegah segala bentuk provokasi yang dapat menjadi bara yang akan membakar persatuan rakyat Malaysia. Setarikan nafas, Sultan juga mnengingatkan berbagai agenda utama: Mengamalkan Islam sebagai agama persekutuan dengan maqasid syariah dengan menjamin hak-hak penganut agama yang lain untuk bebas mengamalkan ajaran agama dan keyakinannya.

Sultan juga memberikan perhatian utama bagi keselamatan negara dengan sistem pertahanan negara dan situasi mutakhir di Laut China Selatan dan peka dengan domain maritim negara. Ke luar, Sultan memberikan perhatian khas bagi aksi-aksi diplomasi sesuai perkembangan geopolitik internasional mutakhir.]

Di sisi sosial ekonomi, Sultan mengingatkan kepedulian dan konsistensinya tentang Wawasan Kemakmuran 2030 berbasis kemakmuran dan keadilan. Titik beratnya adalah peningkatan pendapatan rakyat didukung oleh ekosistem infrastruktur, termasuk budaya dan teknologi baru internet on think dan artificial intelligent, kewirausahaan yang berorientasi kepada pencapaian Malaysia sebagai captain of industry di berbagai sektor yang mampu menyangga gagasan tentang trader nation. Kesemuanya bertegak di atas kesadaran budaya sebagai jati diri bangsa.

Kesemua itu dilakoni dengan mendahulukan kaum perempuan, anak-anak, lansia, dan kaum 'kurang upaya' (dissabel), melalui penguatan akses terhadap kesehatan, pendidikan, lapangan kerja, peluang usaha, baik terhadap modal, informasi, dan pasar.

Setiap pekan, menjelang sidang Kabinet, Perdana Menteri Muhyiddin wajib bertemu Sultan. Para menteri -- sesuai wilayah tugasnya -- kapan saja dipanggil ke Istana, ketika Sultan Abdullah memerlukan konfirmasi atas berbagai persoalan aktual yang berhubungan langsung dengan kondisi rakyat.

Dalam konteks itu, prinsip perang kepada korupsi mesti dialirkan ke seluruh rakyat, termasuk melalui penguatannya dalam sistem pendidikan.

Sultan mengingatkan seluruh anggota parlemen untuk sungguh menjadi pemimpin, memberikan keteladanan yang nyata, tidak mengakhiri perbedaan pendapat dengan caci mencaci, perbedaan pendapat mesti dikelola untuk melahirkan gagasan-gagasan baru. Terutama dalam menunaikan janji merespon aspirasi dan membela rakyat.

Tegas Sultan menyatakan, setiap politisi untuk dewasa - matang dalam berpolitik, politik bersih, dan tidak mempolitisasi isu-isu sensitif agama, bangsa, kedudukan dan kedaulatan raja-raja Melayu. Jangan menyeret negara ke kancah politik yang tidak menentu.

Intinya adalah politisi mesti bersikap tahu diri, bahwa kondisi kini dan masa depan rakyat tidak lagi mudah, akibat pandemi nanomonster Covid-19.

Sultan Abdullah dan Permaisuri Tunku Azizah menciptakan situasi dan kondisi tenang dan damai bagi rakyat Malaysia, tanpa perlu menggunakan influencer. Kunjungan keduanya, secara informal dan non formal ke lapangan, menjumpai rakyat -- sehingga seorang tukang durian, rakyat biasa di Pahang sempat memanggil permaisuri dengan sebutan 'kak,' -- dan memastikan sekaligus merasakan bagaimana kondisi rakyat yang sesungguhnya.

Ketika pandemi nanomonster Covid-19, bersama Perdana Menteri dan para menterinya, serta para Sultan Negeri, Menteri Besar, dan Ketua Menteri di seluruh negeri, tanpa terkecuali Sarawak dan Sabah, Sultan Abdullah menggalang sinergi untuk mengutamakan menyelamatkan rakyat.

Sultan Abdullah bersama Perdana Menteri, para menteri, termasuk para petinggi negara Malaysia, memprioritaskan aksi memutus matarantai penyebaran virus, kemudian melakukan rehabilitasi dan pemulihan masalah sosial dan ekonomi.

Selama beberapa bulan konsentrasi seluruh kalangan di Malaysia berjuang menghadapi 'musuh yang tak nampak,' yang menyeret Malaysia ke dalam krisis kesehatan, dan mencegah krisis itu tidak merembet ke mana-mana, tetapi berterus terang menyatakan, bahwa negeri jiran itu berada dalam kepungan krisis ekonomi.

Sultan Abdullah yang gemar (dan bahkan memimpin klub) sepakbola Malaysia, tanpa kepentingan pencitraan justru menunjukkan dirinya sebagai sosok pemimpin negara dengan sistem monarki yang demokratis.

Sultan dan Permaisuri Agung tidak memilih jalan menggunakan aparat kekuasaan untuk menghalangi rakyat bersikap kritis. Bahkan, Raja Permaisuri Agung Azizah, marah ketika tahu, polisi menangkap orang yang mencercanya. Sultan Abdullah juga tidak menumpahkan amarah, ketika mural wajahnya dan para petinggi negara menjadi korban vandalisme kalangan yang berusaha melakukan provokasi.

Sultan Abdullah dan Raja Permaisuri Agung, agaknya tak suka berdegil-degil hal yang tidak perlu. Keduanya senang menjumpai langsung rakyatnya dengan kunjungan wajar, bahkan ke keluarga rakyat miskin. Termasuk makan di kedai nasi kandar dan jongko kuih muih.. 

Sultan Abdullah mengamalkan nasihat ilmu padi dari ayahandanya, Sultan Pahang Almarhum Sultan Haji Ahmad Syah al Musta'in Billah seorang sultan yang sangat merakyat, yang dilantik sebagai Yang Dipertuan Agong ke 7 sekitar 40 tahun yang lalu. Semakin banyak ilmu dan luas kuasa, semakin merunduk.  |

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Seni & Hiburan
03 Sep 20, 21:13 WIB | Dilihat : 284
Cerita Seputar Alterasi Seni Rupa - Seni Tari
26 Agt 20, 09:04 WIB | Dilihat : 332
Tilik Indonesia Gaya Bu Tedjo
25 Jul 20, 17:36 WIB | Dilihat : 573
Butong Tak Bisa Pisah dengan Akordeon
22 Mei 20, 05:26 WIB | Dilihat : 1102
Refleksi Lagu Kanyaah Indung Bapak
Selanjutnya
Humaniora
26 Sep 20, 06:38 WIB | Dilihat : 105
Memelihara Harapan
22 Sep 20, 14:32 WIB | Dilihat : 83
Monopoli Pikiran
10 Sep 20, 19:31 WIB | Dilihat : 298
Getar Good Voice Rasil
Selanjutnya