Setop Perilaku Pongah untuk Keselamatan Manusia

| dilihat 551

Bang Sèm

 

kita hanya manusia hanya makhluk, tak lebih

kita dimuliakan Tuhan

dengan diberi nalar, naluri, rasa dan indria

untuk mengatasi masalah kehidupan

tidak untuk menjadi bagian dari masalah

tapi.. selalu banyak manusia membuat dirinya rendah

lantas jelma jadi khayawan an nathiiq

sekadar hewan yang berakal

 

Saat ini, Tuhan sedang menunjukkan kepada kita, umat manusia, yang sungguh tak berkuasa, meski sudah diberikan perangkat paling canggih untuk menjalani kehidupan: nalar, naluri, rasa, dan indria, yang memungkinkan kita menyadari, bahwa yang absolut, distink, dan unique hanya Allah semata.

Jutaan makhluk supermicro yang tak nampak kasad mata, yang kita sebut virus corona, sekarang sedang mengabarkan kepada kita, tak ada superpower itu. Dan, kita sebagai manusia selalu rentan dengan impuissance humaine, impotensi kemanusiaan. Lantaran kita lebih banyak menggunakan kekuatan akal, tidak untuk memikirkan kebajikan sebagai insan mulia (insan kamil).

Silippo Mignini, ilmuan filsafat dari Universitaires de France (1999), mengingatkan kita tentang tiga hal dalam doktrin ontologis (kekuatan merupakan esensi Allah), gnoseologis, etis, dan politis. Sesuatu yang tak bisa dilepaskan dengan etika -- kebaikan individu dan masyarakat diidentifikasi dengan kekuatan dan tindakan --, dan sikap kritis karena kekuatan ontologis dan etis sebagai kontrol agar manusia tidak terhanyut oleh nafsu yang membuat mereka ke lembah paling hina, bernama kepongahan. 

Terutama, karena manusia lebih suka bermain di wilayah permainan kekuasaan yang paling rendah dan primitif (meski selalu cenderung dianggap paling moderen), yakni politik dan politicking, sehingga menjadikan manusia menjadi kawanan khayawan an nathiq (hewan berakal) yang saling tikam satu dengan lainnya, dan menjadi bagian dari gelombang besar pusaran dehumanitas.

Dengan kekuasaan yang primitif, manusia merendahkan dirinya, melakukan berbagai aksi memperkosa semesta : gunung-gunung dibarubuh (bad mining practise), tatangkalan dituaran (deforestasi), alih fungsi lahan, pencemaran udara - darat - laut, tanpa memperhitungkan tibanya fenomena peradaban yang mengerikan: kawung mabur carulukna (lenyapnya generasi dan terhambatnya regenerasi manusia ditandai dengan serangan wabah -- mulai dari black death di abad ke 14, kolera, ebola dan coronavirus  saat ini --, gizi dan sanitasi buruk, narkoba, dan sejenisnya); gula leungiteun ganduan (kehilangan standar dan parameter kinerja kemanusiaan), samak tingaleun pandanna ( manipulatif dengan berbagai rekayasa - termasuk dalam praktik demokrasi), cai herang kari kiruhna (kerusakan lingkungan), cai amis kantun paitna (kekayaan sumberdaya alam - tinggal bengkalai dan bencana sosial yang tersisa), tersebab kyai leungiteun aji (krisis kualitas pemuka agama, lenyapnya elite - khashshas - dan orang bijak), pandita leungiteun komara (akademisi dan petinggi kehilangan wibawanya karena inkonsisten - lebih mementingkan cangkang daripada isi); kahuruan ku napsuna - terbakar oleh nafsu ( mulai dari syahwat politik sampai syahwat birahi) mereka.

Lihatlah, bagaimana petinggi-petinggi berbagai negara di seluruh dunia bersikap dan mempertontonkan dirinya menghadapi situasi krisis kemanusiaan saat ini.

Cermati dan teliti dengan seksama, mana sungguh pemimpin yang berkualitas, dan paham eksistensi kepemimpinannya untuk memelihara eksistensi umat manusia keseluruhan. Pemimpin-pemimpin dengan kekuatan kepemimpinan (leadership power and authority) yang menunjukkan cara (way) mengatasi masalah. Manapula pemimpin-pemimpin cipeung - pandir - yang sibuk dengan alasan (reason), karena lebih memilih cangkang dan beuteung (perut) katimbang menyelamatkan jiwa manusia. Karenanya, sibuk berputar-putar mencari 'ketiak ular,' dan mengabaikan prinsip-prinsip ekuitas dan ekualitas.

Serangan wabah Black Death di abad ke 14 yang megguncang Eurasia bermula dan menyerang pertama negeri yang sama, lantas menjalar ke seluruh dunia. Terutama wilayah-wilayah negeri yang terlena oleh gemerlap - fatmorgana dunia, terjebak dalam jebakan fantasi. Abai dengan prinsip-prinsip asasi tentang perawatan kemanusiaan.

Kemanusiaan terselamatkan, ketika para pemimpin yang sungguh pemimpin, berhasil menggerakkan para ilmuwan tangguh yang tak terjebak pragmatisme politik yang diracuni politicking, memanifestasikan jalan humanisasi perawatan, sejak pencegahan sampai rehabilitasi medis.

Jalan mengatasi keadaan darurat kemanusiaan untuk mencegah terjadinya penghentian akses ke layanan kesehatan, karena berbagai keterbatasan infrastruktur dan suprastruktur kesehatan. Khasnya, untuk melihat dengan jernih tentang  konsekuensi krisis terhadap penduduk, dalam kolaborasi erat dengan masyarakat sipil. Khasnya untuk mengembalikan akses ke perawatan ketika sistem kesehatan dilemahkan oleh petaka.

Humanisasi perawatan melibatkan berbagai disiplin ilmu, untuk merumuskan beragam kebijakan kemanusiaan, untuk memungkinkan melakukan intervensi mewujudkan keadilan. Mencegah wabah bergerak, merawat korban, sekaligus memuliakan para petugas media yang kewalahan, sehingga tak menjadi korban.

Proses humanisasi menghadapi petaka, seperti yang sedang berlangsung saat ini, memerlukan keandalan berbagai cabang ilmu dan profesi, termasuk kebencanaan dan humaniora yang sesungguhnya. Karena keputusan paling sulit yang harus diambil adalah mengharmonisasi efisiensi dan humanisme.

Penggunaan istilah ini mungkin tampak paradoks, obat yang seharusnya menggabungkan efisiensi dan humanisme, etika medis seperti hukum kesehatan telah secara eksplisit menandai bentuk hubungan yang dapat diterima secara moral dari hubungan petugas media dan korban.

Istilah humanisasi, yang lebih umum di bidang filsafat daripada antropologi atau kesehatan masyarakat, merespons keganasan penyakit atau intervensi kesehatan, dalam situasi lain selain epidemi dan pandemi (Gaille dan Foureur, 2010). Dalam konteks pandemi (apalagi pandemi global saat ini), intervensi kebijakan mesti ditempuh, walaupun kadang menentang keunggulan logika perjuangan anti-infeksi melawan virus atas logika perawatan untuk orang sakit (Anoko, Epelboin dan Formenty, 2014).

Gagasan humanisasi perawatan, berasal dari bidang perawatan konseptual, atau berhati-hati, yang didefinisikan dalam antropologi dengan cara yang cukup luas seperti seperangkat nilai dan repertoar tindakan yang berpusat pada kebutuhan orang tersebut, dimobilisasi secara paralel atau di samping pendekatan pengobatan yang ditujukan untuk efektivitas bioklinis (Helman, 2007).

Analisis etnografi dari adaptasi sistem kesehatan terhadap risiko pandemi melibatkan pertimbangan produksi sosial dari bentuk perawatan oleh para pelaku itu sendiri. Bentuk perawatan yang dilakukan para aktor garis depan (tenaga medis) secara spontan dalam menghadapi pandemi,  mesti diperkuat dengan perluasan pengetahuan masyarakat tentang virus yang tiba-tiba sudah merayap di dalam tubuh siapa dan menjatuhkan korban.

Wabah Black Death di masa lalu dan Covid-19 saat ini mengingatkan manusia sebagai sungguh bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Virus ini tak memilih tukang parkir di terminal bis, kuli pelabuhan, atau Menteri Perhubungan. Virus ini tak memilih penggali kubur atau guru besar alam gaib. Virus ini tak memilih drafter pembangunan riool kota atau Menteri Perencanaan Nasional. Virus ini tak memilih rakyat jelata, Walikota, Gubernur, atau Perdana Menteri. Virus ini pun tak peduli, korbannya seorang atheis atau kardinal, mufti, bikhu atau pedande. Siapa saja bisa kena. Karenanya, penyelamatan jiwa manusia, menjadi lebih penting.

Menghambat penjalaran virus lebih utama dan mestinya menjadi prioritas yang tak bisa ditawar dibandingkan prioritas apapun. Harga saham yang ambruk, bisa dipulihkan. Mata uang yang sempoyongan di pasar valuta, bisa dihidupkan kembali. Bahkan, bangkrutnya sebuah bangsa, bisa dibangkitkan kembali, seperti tercatat dalam sejarah. Meskipun, sejarah juga mencatat, bangsa-bangsa yang merasa mulia dan pongah, dapat dilumatkan kemuliaannya hanya sekejap.

Tak ada kata lain menghadapi wabah dan virus: hindari, turunkan kurva penyebarannya, dengan kesadaran personal dan individual manusia untuk tidak membiarkan dirinya menjadi penebar apalagi transformer virus. Di sini, disiplin pribadi dan ketaatan kepada Allah al Khaliq, Tuhan Mahakreator menjadi utama dari segala utama.

Kita tak boleh pandir, supaya tak menjadi hewan yang berakal. Kita mesti menggunakan perangkat hidup yang Allah berikan, dimulai dari memilih prioritas utama. Mawas diri. Tahu diri. Kita hanya manusia, yang berhak mengelola kedaulatan pribadi kita untuk menyelamatkan diri, keluarga, masyarakat, negara, dan bangsa dari petaka berkepanjangan. Setop perilaku pongah dan mendulang alasan, meski merupakan intuitive reason. |

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Humaniora
09 Agt 20, 14:49 WIB | Dilihat : 285
Meminjam Taji Dato Jalil Ali
29 Jul 20, 14:08 WIB | Dilihat : 130
Mencandai Masa Depan
Selanjutnya
Polhukam