Serat Pernikahan

| dilihat 273

N. Syamsuddin Ch. Haesy

(SEORANG ayah berkaca-kaca matanya, saat menjelang pernikahan putera pertamanya. Ia pandangi sang putera. Bibirnya bergetar, lalu meluncurkan rangkaian nasihat, yang ia sebut serat pernikahan. Begini bunyinya: )

Nak, anakku.

Waktu melintas. Sendiri aku duduk di teras rumah. Memandangi bulan bintang bersinar. Di hampar langit kelam. Selepas runduk dalam sujud. Di detak dinihari beringsut. Kubaca do’a yang diajarkan Rasulullah Muhammad SAW: “Rabbanaa hablanaa min adzwaajiina. Wazurriyaatina qurrata a’yuun. Waj’alna lil muttaqiina imaama.

Do’a sukma pengantar asa. Agar kita dan keturunan kita menjadi cahaya mata. Dalam asuhan para muttaqiin.

Nak, anakku.

Belum sempurna kubimbing engkau. Aku terhenyak, ketika ibumu menyampaikan hasratmu: meminang perempuan pilihan sendiri. Dan ketika hasratmu kau ungkapkan sendiri, aku ragu !. Hatiku galau. Aku bertanya: sudah cukupkah bekalmu, melarung hidup di jaman tak berpagu. Resah gelisah risau galau menyergapku. Bayangan gelap menyertai imajiku.

Pikiranku menerawang. Ahhh... bagaimana mungkin kubisa memahami pikiranmu. Inikah makna realita isyarat Kahlil Gibran: “Anakmu bukanlah anakmu? Dia anak kehidupannya sendiri.”  Benar kata ibumu: “Para orang tua cenderung selalu meragu,  saat tiba di ujung waktu, melepas anak-anaknya tumbuh sebagai dirinya sendiri.”

Nak, anakku.

Sekarang, di sisa galau sukmaku. Kuikhlaskan kau melangkah menjadi dirimu. Menjadi lelaki yang menentukan jalan hidupnya sendiri. Menyunting perempuan kekasih hati, yang ‘kan mendampingimu mengarungi samodera. Bersama dalam bahtera. Yang kau siapkan sendiri di sisi dermaga.

Tak banyak yang bisa kukatakan. Diamku lebih banyak menyimpan makna. Sunyiku lebih banyak menyimpan cerita.

Melangkahlah tenang penuh keyakinan menuju bahteramu. Gandeng perempuan yang menjadi isterimu, dengan erat jemari yang mengalirkan kasih sayang. Bukan nafsu yang jelma jadi asmara.

Semaikan cinta yang jelma menjadi tanggung jawab. Karena pernikahan yang kau masuki adalah peristiwa historis, bagaimana kau mengambil tanggung jawab mencintai, mengasihi, menyayangi, dan memelihara istrimu dari ayah dan keluarganya.

Nak, anakku.

Pahamilah, bahteramu pasti akan melintasi aneka peristiwa. Suka duka akan datang menghadang ganti berganti, tak malam tak siang, tak pagi tak petang.

Kala suka cita bertandang, duka cita menjelang. Kala duka cita menghadang, suka cita menanti giliran.

Bersyukurlah dalam ikhlas, meniti hidup dengan sabar. Cari cara yang tenang, agar kau bisa menari di atas gelombang. Saat surut ingatlah pasang. Saat pasang, surut menantang

Perempuan yang kau sunting sebagai isterimu adalah insan yang sejak lahir beroleh kasih sayang. Ketika menjadi isterimu, tambahkan lagi berbilang-bilang. Bila gelap menghadang, rumah tangga centang perenang, selesaikan dengan cara yang tenang. Jangan kau tinggal pulang.

Jangan pernah kau membawa cerita buruk tentang isterimu kepada kami: ayah ibumu. Bawakan saja kami kabar tentang kebaikan dirinya.

Berusahalah mengerti: pada setiap kali kau bercerita tentang keburukan isteri, pada ketika itu, keburukanmu mungkin melebihi. Biarkan keburukan itu, menjadi rahasia rumah tangga kalian sendiri

Bimbing isteri dan anak-anakmu kelak dengan cinta. Didik mereka dengan akhlak kariimah yang engkau lakukan. Karena keteladanan yang mengalir melalui perilakumu, jauh lebih bermakna dari jutaan kata-kata yang keluar dari celah bibirmu. Berkomunikasilah secara terbuka sejak dini, agar kau selalu mendapatkan cara mengatasi aneka masalah dengan gembira.

Bila suatu ketika isterimu menderita sakit dan tak berdaya, temani dia. Jangan pernah abaikan dirinya. Bukankah ketika akad nikah kelak berlangsung, yang kamu ambil dari ayahnya adalah tanggungjawab dan cinta orangtuanya kepadanya.

Temani isterimu dalam keadaan menderita, sampai Allah menghantarkan ke batas cintanya menuju cinta-Nya nan abadi. Jangan sekali sekala meninggalkan istrimu dalam kondisi dia sedang menderita dan tak berdaya. Seburuk-buruknya lelaki adalah dia yang meninggalkan istrinya dalam keadaan menderita dan tak berdaya.

Kunasehatkan ini kepadamu, karena ayah ibumu belum sempurna menjadi teladan hidupmu. Silakan ambil seluruh kebaikan kami, jangan ambil sedikitpun keburukan kami.

(Lelaki itu, memeluk puteranya. Ia tak kuasa lagi berkata-kata... )|

 

Editor : Web Administrator | Sumber : dari buku Zuwad - N. Syamsuddin Ch. Haesy
 
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1047
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 1457
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 646
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 1071
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
Selanjutnya
Lingkungan
22 Mar 20, 20:46 WIB | Dilihat : 79
Konferensi Virtual Bahas Covid 19
22 Mar 20, 19:06 WIB | Dilihat : 205
Aromaterapi dan Parfum Pernah Dipakai Melawan Wabah
17 Mar 20, 11:00 WIB | Dilihat : 134
Darurat Corona untuk Keselamatan Rakyat
Selanjutnya