Titik Momentum Kekebalan Kawanan

Senyum Kembali Tampak di New York

| dilihat 264

Jeanny

Sejak Selasa (15/6/21) warga New York Amerika Serikat, mulai menemukan sennyumnya kembali. Suasana mencekam, suara gaduh demonstrasi, kabar pengganasan atas warga keturunan Asia, khasnya China, dan sirine meraung-raung yang menjadi atmosfir sejal Juli 2020, perlahan mulai hilang.

trauma, tentu belum sepenuhnya hilang dari benak dan batin sebagian terbesar warga yang masih bisa bernafas hingga hari ini. Kawasan Manhattan sampai Battery Park, Central Park, WallStreet, dan TimeSquare belum sepenuhnya pulih seperti sediakala.

Masih ada beberapa spot kota yang 'lengang,' bahkan kawasan Bronx di pinggiran kota hingga ke Batavia dan Queen, belum menampakkan sosoknya.

Hari Selasa, itu menjadi 'hari momentum' bagi New York untuk lebih percaya diri menghadapi nanomonster Covid-19 dengan aneka variannya yang baru. Herd immunity, sudah di depan mata.

Andrew Quomo, Gubernur New York, pada awal pekan itu mulai melonggarkan pembatasan COVID di seluruh negara bagian. Pengumuman yang menggembirakan warga kota, itu menjanjikan eras kehidupan baru dengan norma dan nilai baru,  setelah ibukota keuangan dunia, itu berhasil mencapai titik strategis herd immunity alias imunitas kawanan.

New York berhasil mecapai lebih dari 70% orang dewasa yang menerima (setidaknya satu dosis) vaksin, dari gerak cepat vaksinasi. Inilah adalah momentum titik balik, dari sebelumnya, bahwa New York merupakan negara bagian dengan tingkat infeksi tertinggi di Amerika Serikat. Kini, menjadi yang terendah di negara itu.

Cuomo menyatakan, capaian populasi warga yang menerima vaksin, itu merupakan capaian tercepat dari jadual dalam mencapai kondisi kekebalan kawanan warga.

Sukacita Cuomo menyatakan,“Kita sekarang dapat hidup kembali seperti yang pernah kita alami. Amanat negara terbukti benar,  dan mulai hari ini kita melakukan pelonggaran dalam menghadapi pandemi." Yang dimaksudkan Cuomo adalah mobilitas warga.

Tapi, protokol kesehatan tetap diberlakukan sesuai dengan standar kesehatan lingkungan sosial. Pembenahan sanitasi lingkungan kota, gaya hidup sehat, dan perilaku yang lebih peduli terhadap ancaman virus tetap dikembangkan.

Maknanya, persyaratan jarak sosial, pembatasan kapasitas, pemeriksaan kesehatan, dan protokol pembersihan tidak lagi diamanatkan oleh negara untuk kegiatan bisnis ritel, layanan makanan, kantor, pusat kebugaran, dan salon, tetapi mungkin diperlukan oleh bisnis individu. Tetapi belum berlaku untuk untuk sekolah, transportasi umum dan pengaturan perawatan kesehatan.

Dikabarkan oleh sejumlah media, pada hari Selasa, itu sekelompok orang tua di seluruh negara bagian mengirim surat ke Cuomo, memintanya untuk menghapus kewajiban mengenakan pelitup (masker) untuk anak di bawah umur. Andrea Grymes, dari CBS2 mengabarkan, para orang tua, itu menulis,  tidak ada lagi alasan yang dapat dibenarkan untuk menutup sekolah, sehingga anak-anak di sekolah umum bisa mengikuti proses pembelajaran tatap muka.

Grymes melansir pendapat Natalya Murakhver, salah satu orang tua sisa di sekolah negeri New York City. “Guru divaksinasi. Aman bagi anak-anak untuk melepas pelitup[ mereka. Transmisi virus juga melandai, dan sekolah telah menjadi tempat teraman. Gubernur telah mengatakannya, walikota telah mengatakannya. Orang tua bingung, ketika proses belajar tatap muka belum diberlakukan,” kata Murakhver. "Ini tidak adil."

“Kami mengikuti panduan federal tentang itu. Centre for Deases Control and Prevention (CDC) yang menetapkan aturan untuk semua sekolah di semua negara bagian, ” balas Cuomo, menanggapi.

Cuomo secara khusus telah bertanya pada CDC, apakah di negara bagian ini dengan fakta ini pemerintah negara bagian New York dapat mengisikan peniadaan penggunaan pelitup di sekolah dan di luar sekolah.

CDC merespon dan menyatakan, meniadakan kewajiban penggunaan pelitup di sekolah, akan menjadi kesalahan. "Tetapi mereka mengatakan kami dapat mencabut mandat itu dari sekolah, itulah yang kami lakukan, ”kata Cuomo.

Momentum awal herd immunity di New York, itu juga tampak lewat kembang api yang menghiasi langit malam kawasan Amerika Serikat yang paling riuh di dunia itu. Senyum akan segera kembali tampak di New York, dan kemudian di seluruh Amerika Serikat

Vaksinasi yang telah menjangkau 70 persen populasi penduduk New York, itu tak tercapai begitu saja. Banyak tantangan yang harus dihadapi Cuomo, pemerintah Negara Bagian dan Walikota New York City. Setidaknya pada enam bulan pertama, ketika nanomonster Covid-19 merebak.

Kesadaran personal untuk mengubah kebiasaan dan gaya hidup di kota yang tak pernah tidur, itu perlahan tumbuh, dan meningkat, selepas pro kontra tentang pelitup berakhir dengan pengumuman Gedung Putih, bahwa Donald Trump dan Melani (kala itu Presiden dan Ibu Negara AS) tersengat nanomonster Covid-19.

Raungan sirine melintas permukiman dan kota New York di hening malam dan tewasnya beberpa tokoh gerakan komunitas penentang pelitup, kewalahannya rumah sakit yang sampai di titik kritis menghadapi peningkatan korban Covid, menyadarkan warga.

Strategi komunikasi satu arah yang menjelaskan perkembangan mutakhir situasi penyebaran virus, kurva korban meninggal akibat terpapar virus, kesunyian tanpa upcara pemakaman korban Covid di berbagai pemakaman, kian membangkitkan kesadaran warga.

Gerakan Cuomo dan aparatur pemerintah negara bagian New York, termasuk para petugas kesehatan di garis depan berbagi fungsi, mulai dari memberikan informasi satu pintu, membangunkan kesadaran warga untuk mengabaikan informasi sampah (hoax), serta tumbuhnya simpati dan empati sosial, mempercepat terciptanya situasi 'sadar Covid,' termasuk pemberlakuan lock down.

Perdebatan tentang vaksin yang terseret perdebatan politik, terlokalisasi di ruang-ruang politik, khasnya parlemen. Penyelenggara siaran televisi, memberlakukan kategori ketat dalam mengangkat isu seputar Covid-19 dengan kriteria narasumber yang pantas dan patut tampil di media massa.

Riuh rendah politik praktis nasional, terutama yang terjadi di Capitol Hill, Washington DC hanya mempengaruhi kalangan pendukung Donald Trump yang radikal. Tercatat hanya ada dua aksi besar yang tak bisa dibendung, yakni aksi yang terpantik oleh George Floyd di Minnesota yang menimbulkan aksi anarkis di New York, serta aksi solidaritas bangsa Palestina yang dizalimi Israel. |

Editor : eCatri | Sumber : berbagai sumber, CBS2
 
Seni & Hiburan
31 Jul 21, 04:03 WIB | Dilihat : 452
Mata Maut
Selanjutnya
Sainstek
27 Okt 21, 17:41 WIB | Dilihat : 516
Waspadai Kabar Palsu Artis Meninggal di Media Sosial
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 2338
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
Selanjutnya