Sendiri

| dilihat 1415

Pernahkah kau menyusuri hidup yang perih?

Karena ragamu letih, hatimu pedih, dan

Tertatih kau dalam perjalanan panjang

mencari terminal hidup yang kau sebut

“bahagia.” Dan kau marah karena alam

mengejekmu bulat-bulat, bagai

menghantammu, ombak ganas

menghempaskan-mu, dan terdampar kau

di karang kering, di tengah malam yang sunyi

 

SEKUPLET puisi karya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bertajuk “Jagadmu yang Kembar,” ini saya dapatkan dari kumpulan puisi bertajuk Taman Kehidupan. Boleh jadi pengalaman batin yang tersimpan di balik rangkaian lirik puisi itu pernah kita alami.

Ada kalanya kira merasa sendiri dan sepi.  Perasaan itu sangat manusiawi. Tapi, apa makna sendiri dan sepi yang sesungguhnya, sehingga begawan Al Ghazali sampai pada kesimpulan, bahwa puncak kepiawaian insani dalam mengelola daya kepemimpinannya, justru ketika ia ‘merasa ramai dalam kesendirian dan sunyi, serta merasa sendiri dan sunyi di tengah gebalau kehidupan.”

Secara alamiah, hampir setiap manusia dilatih Tuhan untuk sendiri dan berteman sepi. Siklus kehidupan mendidik kita memahami, pada mulanya kita lahir ke dunia ini sendiri. Bilapun kita terlahir kembar, kita hadir ke dunia dari rahim ibu, sendiri-sendiri.

Sebagian terbesar manusia, berada sendiri di dalam rahim ibunya, sejak dari zigot sampai akhirnya menjadi bayi. Setelah itu, barulah manusia memasuki tahapan – tahapan hidup bersama. Berinteraksi dengan sesamanya, lalu membentuk komunal dan puak dalam beragam komunitas.

Sebagai makhluk individual, kemudian kita menjadi makhluk sosial, homo socius. Dengan karakter alamiah itulah kita menjalankan otoritas sebagai pemimpin, sesuai dengan derajat yang diberikan Tuhan.

Untuk sampai ke tahap kualifikasi diri sebagai pemimpin dengan beragam otoritas dan dearajatnya, itulah kita diberikan tantangan, ujian, dan cobaan yang tidak ringan, termasuk merasa sendiri dan sunyi. Lalu, ketika usia mengantarkan kita pada masa fase kehidupan yang disebut tua, kita akan kembali merasa sendiri dan sunyi. Bahkan, ketika jasad jenazah kita dibaringkan di lubang kubur.

Filosof eksistensialis, Friedrich Nietzsche mengatakan, “the individual has always had to struggle to keep from being overwhelmed by the tribe. If you try it, you will be lonely often, and sometimes frightened. But no price is too high to pay for the privilege of owning yourself.”

Ya. Setiap individu harus selalu berjuang menjaga agar tidak kewalahan menghadapi dinamika puak dan komunitas, bahkan keluarga dan lingkungan sosial formal. Siapa saja yang berjuang untuk itu, ia akan sering merasa kesepian, dan kadang-kadang ketakutan (dalam kesendirian).

Tapi, tidak ada harga yang terlalu tinggi untuk membayar hak istimewa memiliki diri sendiri. Karena itulah setiap manusia dalam mengemban tugas dan tanggung jawab kehidupannya perlu mengenal dan mempraktikan ikhlas dan keikhlasan dalam hidup.

Puncak keikhlasan adalah tidak lagi merasakan hidup sebagai kesendirian atau bagian dari kebersamaan, tidak lagi peduli terhadap sepi atau ramai.  Imam Ghazali mengatakan kepada puteranya, “ikhlas adalah keadaan ketika setiap individu manusia menjadikan segala amalan (kerja dan karya kehidupan)-nya sebagai ibadah untuk Tuhan, dan hatimu tidak merasa senang dengan pujian dan tidak pula peduli dengan kecaman.”

Keikhlasan, menafikan kemarahan terhadap apapun yang menghantam diri, dan tak membuat kita merasa terhempas dan terdampar di manapun juga, tak lagi membedakan siang dan malam.

Keikhlasan membuat setiap manusia merasakan khidmatnya konsentrasi dan keseriusan kerja, fokus pada amanah yang tersandang di dalam hari di tengah dinamika kehidupan kerja di siang hari, dan ramai dengan segala gairah ketika merunduk sujud atau hening bersimpuh di hadapan Tuhan saat malam menjadi gelombang kecintaan kepada Tuhan.

Ikhlas menjalankan amanah dan membiarkan diri menerima imbalan otomatis dari kerja profesional berkualitas adalah keindahan hidup yang memungkinkan setiap manusia tak lagi merasa sendiri dan sepi.

Pada titik itu, manusia tidak lagi bekerja dan berkarya untuk memenuhi hasrat dan keperluan bagi eksistensi dirinya. Tidak lagi untuk menciptakan kondisi ‘every body happy’ dengan hasil kerja kita. Melainkan bagaimana menggerakkan seluruh manusia di sekitar kita, bekerja dan berkarya untuk melayani manusia lebih luas lagi.

Anda, saya yakini, termasuk di antara manusia, pemimpin, yang sedang bekerja menggerakkan diri sendiri dan lingkungan kerja untuk melayani begitu banyak manusia yang kemudian kita sebut bangsa. | Bang Sem

Editor : sem haesy
 
Seni & Hiburan
03 Apr 18, 17:16 WIB | Dilihat : 2848
Koes 2nd Gen Merawat Eksistensi Koes Bersaudara Plus
28 Mar 18, 18:53 WIB | Dilihat : 1444
Ayah yang Kini Tak Hadir
12 Mar 18, 10:45 WIB | Dilihat : 1418
Perempuan di Tanggal Dua Puluh Enam
05 Mar 18, 21:50 WIB | Dilihat : 1229
Kisah Kaos Kaki
Selanjutnya
Budaya
04 Apr 18, 14:35 WIB | Dilihat : 2489
Budaya Tanding dari Wine ke Bir Pletok
06 Mar 18, 09:59 WIB | Dilihat : 1607
Jangan Sembarangan Nyomot Betawi
23 Feb 18, 17:28 WIB | Dilihat : 1565
Bang Udin Raje Pantun Betawi
Selanjutnya