Majelis Nasional Forhati Siap Terjun ke Lokasi

Sekjend PBB Guterres Mobilisasi Bantuan untuk Bencana Sulteng

| dilihat 422

SEKRETARIS Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antõnio Guterres, menyatakan dirinya mengikuti terus perkembangan situasi pasca gempa dan tsunami di Palu – Sigi – Donggala dan berimbas ke Mamuju. Hal itu diungkapnya dalam cuitan di akun twitternya, Senin (1/10/18).

Selain mengucapkan belasungkawa dan kesedihan yang mendalam, Guterres mengungkapkan, PBB – melalui sistemnya – sedang memobilisasi dukungan untuk upaya penyelamatan dan bantuan yang diperlukan, melalui pemerintah.

Guterres menyebut, gempa yang terjadi di Sulteng dan Sulbar ini, sebagai tragedi.

Dalam situs PBB, diungkapkan, PBB memberikan dukungan dan bantuan kepada pemerintah Indonesia untuk menanggulangi masalah selepas bencana itu terjadi.

Dikemukakannya, para staf PBB yang berada di Indonesia, terus berusaha tiba di lokasi bencana. Kantor PBB yang mengkoordinasi urusan kemanusiaan, OCHA memprakirakan, lebih dari 48 ribu orang berlindung di 200 tempat pengungsian di pusat dan sekitar lokasi bencana.

“Kami bersama ke semua orang yang terkena dampak gempabumi dan tsunami, itu” ungkap Guteres.

Keprihatinan mendalam itu dikemukakan Guterres, karena sebelum bencana Palu – Sigi dan Donggala ini terjadi, sebelumnya, terjadi pula gempa di Lombok – Nusa Tenggara Barat yang cukup parah.

Dikemukakan, pemerintah Indonesia melalui BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) sudah menerima baik uluran tangan dari kantor urusan kemanusiaan PBB, termasuk bantuan kemanusiaan internasional sesuai dengan keperluan di lapangan. Termasuk makanan, bangunan penampungan korban, bahan bakar dan generator, air bersih, dan bantuan medis.

Akan halnya OCHA menyatakan, “Komunitas kemanusiaan yang bekerja di Indonesia sangat sedih dengan hilangnya nyawa dan korban luka-luka akibat gempa dan tsunami di Sulawesi ini."

OCHA menegaskan, “Lembaga kemanusiaan telah berkomunikasi erat dengan pemerintah untuk lebih memahami situasi di daerah yang terkena bencana dan siap mendukung, sesuai dengan keperluan.”

Dijelaskannya, pengiriman bantuan sedang berlangsung, meski terhambat oleh longsir dan kerusakan infrastruktur yang menghambat akses ke lokasi utama. Tak terkecuali, kerusakan landasan pacu di bandara Mutiara – SIS Al Jufrie, sehingga memperlambat pergerakan peralatan dan personil.

Mami Mizutori, wakil khusus Serkjend PBB untuk pengurangan risiko bencana mengemukakan, “Gempa dan tsunami adalah pengingat bahwa Cincin Api Pasifik merupakan zona seismik paling aktif di planet ini dan memerlukan perhatian khusus. Terutama manajemen risiko bencana, ketika musibah datang.”

Dijelaskannya, “Sekitar 90 persen gempa bumi dunia dan risiko tsunami yang terkait sangat tinggi, terjadi di zona ini. Itulah sebabnya peringatan dini sangat penting, sekaligus upaya-upaya peningkatan kesadaran masyarakat dan latihan evakuasi.”

Dalam kasus tsunami di Palu ini, sistem peringatan dini, tidak berfungsi.

Menurut Kantor PBB untuk Pengurangan Resiko Bencana, UNISDR, dibandingkan negara lain, Indonesia telah lebih banyak menderita, khasnya terkait dengan kematian akibat tsunami.

Dikemukakannya, tsunami yang menimpa Palu, Jum’at (28/9/18) merupakan tsunami fatal yang keenam, yang menyerang Indonesia, sejak tsunami Lautan Hindia 2004 merenggut sekitar 226.000 jiwa di 12 negara, sebagian besar di Indonesia.

Gempa bumi dan tsunami banyak menimbulkan kematian daripada kejadian cuaca ekstrim. Selama dua dasawarsa terakhir, menurut laporan UNIDR terbaru, tercatat merenggut 747.234 jiwa. Data itu, disertai dengan data mutakhir tentang tsunami Palu, akan dilansir luas, bertepatan dengan Hari Internasional untuk untuk Pengurangan Bencana pada 13 Oktober mendatang.

Setarikan nafas, World Vision mencatat gempa pada Jum’at (28/9) yang berpusat di 17 mil timur laut Donggala, Sulawesi Tengah, itu telah memicu tsunami yang merusak. Namun demikian, berbeda dengan kejadian tsunami lainnya, kondisi di Palu diperparah oleh terjadinya pergerakan lumpur di lapisan bawah permukaan tanah.

Gerakan dahsyat inilah yang membongkar permukaan lapisan tanah, sekaligus menimbulkan longsor dan pergeseran tanah yang tak terkirakan sebelumnya.

Gerakan itu juga yang menurut World Vision, membedakan peristiwa gempa di Palu dengan gempa di Lombok (5/8/18).

Menurut World Vision yang harus dilakukan kini adalah memobilisasi bantaun kepada masyarakat yang terkena dampak secara aman dan nyaman. Semua pihak mesti bahu membahu dan mencegah terjadinya kondisi chaos di lapangan.

Pendapat lain dikemukakan Said Didu, mantan staf khusus Menteri ESDM (Energi Sumberdaya Mineral), perlu segera memberlakukan pengiriman bantuan dengan cara darurat untuk menyelamatkan masyarakat yang sudah dihadang kelaparan dan tidak mendapatkan air bersih.

Selebihnya adalah fokus pada perlindungan anak, perempuan, lansia, air, sanitasi, dan kebersihan, berbarengan dengan penanggulangan jenazah korban.

Bersamaan dengan penanggulangan fisik zona bencana, berbagai kalangan saling bersinergi untuk mengatasi upaya penanggulangan trauma yang akan dihadapi anak-anak. Membangkitkan kembali semangat dan optimisme mereka.

Koordinator Presidium Majelis Nasional Forhati (Forum Alumni HMI-wati), Hanifah Husein, menegaskan, pihaknya sudah membentuk tim satuan tugas yang akan terjun ke lokasi. Hanifah menyatakan, datang ke lokasi untuk sepenuhnya memberikan bantuan dan menyelesaikan masalah, bukan justru menimbulkan masalah baru. Majelis Nasional FORHATI sudah membentuk tim dipimpin Elwa Alkatiri. Sekjend MN FORHATI, Jumrana Salikki berusaha mencari Posko, agar tidak merepotkan pihak setempat yang menjadi korban.

Palang Merah Indonesia (PMI), Merci, Aksi Cepat Tanggap, Front Pembela Islam (FPI), Muhammadiyah, dan sejumlah lembaga swadaya masyarakat dan organisasi kemasyarakatan | beranti

Editor : Web Administrator | Sumber : UNnews dan lain-lain
 
Polhukam
18 Okt 18, 21:22 WIB | Dilihat : 185
Zahid Hamidi Ditangkap, UMNO Marah
16 Okt 18, 13:49 WIB | Dilihat : 371
Rima Politik Malaysia Selepas Anwar Kembali ke Parlemen
04 Okt 18, 13:17 WIB | Dilihat : 470
Memulai Percakapan Penguasa dengan Rakyat
01 Okt 18, 22:27 WIB | Dilihat : 412
Menjadi Pemilih Berdaulat
Selanjutnya
Lingkungan
03 Okt 18, 15:25 WIB | Dilihat : 411
Gunung Soputan Minahasa Tenggara Meletus
01 Okt 18, 17:02 WIB | Dilihat : 317
Mari Menanam Kebajikan di Donggilu
29 Sep 18, 09:58 WIB | Dilihat : 248
Bangun Solidaritas Sosial Bantu Korban Gempa Sulteng
Selanjutnya